Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 479 Hubungan Nggak Jelas


__ADS_3

Alex tidak menyangka kalau ternyata Friska juga mau pergi ke kota Kendari, bukankah itu artinya mereka satu jalan?


Kalau ada Friska, paling tidak ada orang yang menemaninya di perjalanan.


Selain itu, mungkin akan semakin mudah bagi Alex untuk memasuki keluarga Bazel kalau dia bisa memanfaatkan koneksi Friska. Saat ini orang keluarga Bazel masih tidak tahu kalau Alex mau ke sana untuk menangkap ‘Mata Air’, jadi mereka tidak begitu berwaspada terhadapnya.


Di samping itu, Alex juga tahu kalau kenyataannya dia tidak akan membocorkan tujuannya kalau belum sampai akhir.


Yang pasti ada bantuan dari Biro Red Shield dan pihak pemerintah, sehingga sangat mudah bagi PT. Atish untuk membuka pasar di area tetangga.


Setidaknya, beberapa proyek pemerintah bisa langsung diambil alih. Seharusnya bentuk area tetangga tidak sama dengan di sini, semua hal di bawah kendali Richard.


Hanya saja, Alex berencana meminta Erika tinggal di sini, karena situasi sudah stabil dan jauh lebih aman.


Sedangkan kalau di tempat lain, begitu orang keluarga Bazel berseteru dengannya, maka keluarga Bazel pasti akan mengutus pembunuh untuk menghadapinya.


Untuk sebuah keluarga yang sangat berkuasa memiliki kualitas eksternal dan internal, merupakan suatu hal yang lumrah kalau di dalamnya terdapat orang yang hebat. Tapi untuk beberapa hal kotor, tetap saja ada orang yang menanganinya.


Jadi, pasti ada orang di dalam keluarga Bazel yang melakukan hal semacam itu.


Alex berencana ke sana dengan membawa satu tim saja dari PT. Atish.


Tidak perlu banyak orang pada tim ini, tapi persyaratan yang diminta dari setiap orang sangatlah tinggi. Mereka dituntut untuk membuat PT. Atish benar-benar terpancang kuat di area kota Kendari.


Hal semacam itu bukanlah sesuatu yang gampang untuk dilakukan.


Mereka harus memahami perputaran seluruh pasar, juga harus memiliki otak yang cerdas, sehingga bisa membangkitkan PT. Atish di kota Kendari.


Tentu saja, dengan melalui koneksi Biro Red Shield, sebenarnya pihak pemerintah juga akan memberikan perlakuan istimewa.


Beberapa hari kemudian, dengan perwakilan Erika, Alex pun duduk di dalam mobil Friska yang melesat ke kota Kendari.

__ADS_1


Tim dari PT. Atish dipilih oleh Erika secara pribadi. Masing-masing dari mereka adalah anggota elit PT. Atish, juga ada mobil yang mengantar mereka ke tempat yang telah ditentukan di kota Kendari.


Di dalam mobil, Alex merasa sedikit penasaran dan bertanya, “Temanmu itu pasti punya hubungan yang baik denganmu, kan? Apalagi kamu jauh-jauh ke kota Kendari hanya untuk menghadiri pesta pernikahannya.”


Friska mengangguk-anggukkan kepala, “Dia adalah teman sekelasku, tapi situasi dia sangat rumit. Mungkin akan ada sedikit masalah pada pernikahannya, jadi aku harus ke sana karena ada kemungkinan dia akan diganggu orang.”


Alex merasa sedikit penasaran ketika mendengar hal ini.


Friska menggelengkan kepala, “Lupakan saja, nggak jelas kalau aku menceritakannya sekarang, yang pasti, mempelai prianya nggak tulus. Selain itu, karakternya juga nggak begitu baik, aku pernah berjumpa dengannya waktu masih kuliah, dia adalah seorang bajingan.”


Alex bertanya, “Kalau begitu, suruh mereka pisah saja. Teman sekelasmu itu pasti bukan orang bodoh karena bisa satu kampus denganmu.”


Friska pun tidak berdaya, “Kamu juga tahu kalau otak wanita tidak dapat bekerja dengan baik dan tidak rasional lagi saat menjalin cinta, apalagi sekarang dia sudah sepenuhnya menyematkan perasaannya kepada pria itu. Bahkan walaupun hidupnya sangat menderita, dia tetap harus bersikap seolah-olah ....”


Friska tidak melanjutkan kalimatnya, karena dia merasa sedikit kesal saat teringat dengan temannya.


Kekecewaan seperti itu hanya membuatnya ingin memukul temannya itu, kalau saja teman sekelasnya itu bisa sadar setelah dipukul.


Friska menatap Alex dengan sedikit penasaran, “Bagaimana denganmu? Apa tujuanmu ke kota Kendari?”


Alex tersenyum canggung, “Bukan urusan yang penting, karena kini PT. Atish sudah stabil, jadi aku berencana melakukan ekspansi selanjutnya di kota Kendari.”


Friska selalu tahu dengan kondisi PT. Atish. Matanya langsung terbelalak usai mendengar Alex, “PT. Atish baru saja masuk nggak lama yang lalu, kan? Kalian bahkan masih belum mencerna semua industri-industri lokal itu, kan? Tapi sudah mau mulai memasuki kota Kendari?”


“Betul, ada yang aneh?”


Friska malah merasa dirinya sudah tidak paham dengan pasar Indonesia lagi saat mendengar Alex bertanya balik.


Friska kehabisan kata-kata untuk sesaat, memang tidak ada yang aneh. Bagi Alex, kini situasi di Kota Manado sudah terkendali. Berapa banyak yang ingin ditelan oleh PT. Atish, semua itu bergantung kepada Erika dan yang lainnya.


Meskipun begitu, bagaimanapun juga PT. Atish baru saja masuk ke jalur yang benar, tapi tidak lama kemudian mereka sudah ingin membuka pasar di kota Kendari lagi.

__ADS_1


Hal ini bukanlah sebuah lelucon. Setahu Friska, sepertinya tidak banyak perusahaan di Indonesia yang berani berbuat seperti itu.


Mungkin salah satunya adalah PT. Kristal yang segera melakukan ekspansi setelah mendapatkan pendanaan itu, tapi PT. Kristal adalah perusahaan nomor satu di negara ini.


Tapi, saat ini masih ada yang kurang dari PT. Atish kalau dilihat dari sudut pandang Indonesia.


Jadi tidak bisa menggunakan metode dari sebuah perusahaan normal.


Friska merasa kalau Alex juga seharusnya tahu dengan poin itu. Tapi kalau tahu, kenapa dia masih melakukannya? Resiko yang terdapat di dalamnya pasti sangat besar, bukan?


Akhirnya, Friska hanya menggelengkan kepalanya, “Nggak ada yang aneh, mungkin aku yang nggak mengikuti perkembangan zaman saja. Aku selalu beranggapan kalau kamu akan menyelami Kota Manado terlebih dulu setelah menduduki Kota Manado.”


Alex tersenyum tipis, “Sebenarnya, awalnya aku juga berpikir seperti itu, tapi kemudian aku merasa terlalu lambat kalau seperti itu. Itu nggak sejalan dengan ekspansi idealku.”


Friska hanya bisa menerima apa yang dikatakan oleh Alex.


Setibanya di kota Kendari, Friska melihat ponselnya, lalu dia mendongak dan menoleh ke arah Alex, “Ayo, nanti kita makan bersama, mungkin kamu akan mengerti kenapa aku begitu kesal saat di mobil tadi setelah kamu bertemu dengan teman sekelasku.”


Alex juga terlihat sedikit penasaran terhadap teman sekelas Friska itu. Setelah dipikir-pikir, sepertinya hari ini Alex juga nggak punya kerjaan, jadi dia pun menyetujuinya.


Mereka memesan sebuah ruangan privat di Hotel Snow di kota Kendari dan makan di sana. Sesampainya di depan pintu gerbang Hotel Snow, Friska melihat seorang wanita berpakaian tipis sedang berdiri menunggunya.


Friska keluar dari mobil dan Alex ikut di belakangnya, sedangkan wanita berpakaian tipis itu tersenyum riang sambil berjalan menghampiri.


Dia berjalan ke hadapan Friska, lalu memberinya sebuah pelukan hangat.


Kemudian dia menatap Alex dengan sedikit terkejut, “Friska, kamu sudah menemukan tambatan hatimu, ya?”


Wajah Friska memerah, “Sembarangan, ini adalah Pak Alex dari PT. Atish. Kami hanya kebetulan sama-sama ke sini saja, aku mau mentraktirnya makan.”


Wanita itu bergegas mengatakan, “Asalkan temanmu, berapa banyak pun aku akan melayaninya dengan baik.”

__ADS_1


__ADS_2