
Ada begitu banyak industri tidak jelas di daerah ini dan semua orang tahu latar belakangnya. Tidak akan ada masalah selama tidak bertindak melewati batas. Dia juga sudah melakukan persiapan yang matang.
Tidak ada satupun orang yang mencarinya, kecuali Nova sebagai orang yang pertama kali melakukannya.
Nova melihat ke arah Raffi dengan tatapan tajam, “Apa kamu kira aku datang mencarimu karena beberapa hal ini?”
Raffi bertanya dengan penasaran, “Jika bukan karena itu, lantas kenapa kamu datang mencariku?”
“Apakah kamu berani untuk mengatakan kalau insiden pembunuhan di jembatan Deli pada tanggal 14 tidak ada hubungannya denganmu?” Nova bertanya dengan ketus.
Raffi sudah mengingatnya. Dia melihat Nova dengan sedikit frustasi, “Kamu salah jika kamu menyalahkanku atas masalah ini, bukan aku yang memberi mereka perintah. Semua yang mereka lakukan adalah berdasarkan keinginan mereka sendiri. Kamu juga tahu, meskipun aku merawat mereka, aku juga tidak membatasi kebebasan mereka. Apapun yang mereka lakukan di luar jam kerja itu tidak ada hubungannya denganku. Semua ini adalah kebebasan mereka.”
Nova tentu saja tidak akan mempercayai hal ini, tetapi semua penjahat itu sudah mati sehingga tidak ada cara untuk membuktikan apakah yang dia katakan itu benar atau tidak.
Nova juga tahu kalau sekarang Raffi mungkin tidak mengatakan yang sebenarnya.
Raffi langsung tersenyum dan berkata, “Tapi, Bu Nova, menurutmu apa yang akan kulakukan padamu? Kamu telah menerobos masuk ke rumah orang tanpa izin, bukankah ini termasuk sebuah tindakan kejahatan? Jika aku melaporkanmu pada polisi, apa kamu tidak akan merasa malu saat melihat rekan kerjamu?”
Figo menjilati bibirnya sebelum berkata, “Kak Raffi, bukankah terlalu menguntungkan baginya untuk dilepaskan begitu saja? Kalau tidak, serahkan dia padaku, aku pasti akan membuatnya menjadi takluk.”
Raffi menganggukkan kepala sebagai bentuk persetujuan, “Benar juga. Figo, aku masih percaya pada kemampuanmu. Karena kamu ingin membawa wanita ini bersamamu, maka bawalah dia pergi.”
Figo berterima kasih padanya dengan gembira, “Kak Raffi, tenang saja. Serahkan wanita ini padaku. Kamu lihatlah besok, aku akan membuatnya melakukan apa pun yang kuinginkan!”
Figo melangkah maju dan meraih Nova. Dia berniat untuk membawanya di atas bahunya.
Nova berteriak dengan suara keras, “Apa yang ingin kamu lakukan? Jangan kemari!”
Sayangnya, Figo sama sekali tidak peduli dengan kata-kata Nova dan terus bertindak sesuai keinginannya.
Tepat pada saat ini, pintu apartemen tiba-tiba terbuka lebar. Dika bergegas masuk ke dalam sembari memegang pistol di tangannya dan menghadap Figo, “Lepaskan wanita itu!”
Figo tersenyum dan melepaskan Nova terlebih dahulu. Bagaimanapun juga, pihak lain memiliki pistol di tangan dan tidak akan mudah untuk bersembunyi di tempat yang sempit ini.
__ADS_1
Selain dirinya, Raffi dan Belen juga berada di dalam ruangan. Tamatlah riwayatnya kalau sampai melukai keduanya dengan tidak disengaja.
Jadi, dia pun melakukan apa yang disuruh oleh Dika tanpa ada rasa takut tersirat di wajahnya. Dia berkata kepada Dika sambil tersenyum, “Saudaraku, sebaiknya kamu berhati-hati dengan pistolmu. Gawat sudah kalau sampai tertembak.”
“Jangan banyak omong kosong, cepat lepaskan Bu Nova!” Dika meraung dengan suara lantang.
Bagaimana dia bisa tidak memikirkan kalau beberapa orang ini begitu berani untuk melakukan hal seperti ini pada Nova? Apakah mereka sudah tidak ingin hidup lagi?
Figo masih menuruti apa yang dikatakan oleh Dika. Sayangnya, meskipun talinya sudah terlepas, Nova masih tidak bisa bangkit dari atas lantai.
Serangan Figo tadi telah membuatnya tidak bisa berdiri sehingga dia terus merasa sangat kesakitan.
Sepertinya Dika juga telah melihatnya. Ekspresinya tiba-tiba berubah dan dia pun bergegas mendekati Nova.
“Jangan!” Nova menjadi cemas dan hendak menyuruh Dika untuk berhenti, tetapi sayangnya sudah terlambat.
Figo langsung meluncurkan serangan saat Dika masih berjarak dua atau tiga meter darinya. Serangan Figo sangat cepat. Sebelum Dika dapat bereaksi dan mengarahkan pistol ke arahnya, dia sudah mengulurkan tangan dan menekan pelatuknya, sehingga Dika tidak bisa menembak.
Dika menyadari dirinya sudah bertindak terlalu ceroboh, tetapi sekarang sudah terlambat untuk menyadarinya. Saat ini dia tidak bisa melakukan apa pun selain berjuang untuk merebut pistolnya kembali.
Akan tetapi, Figo malah memukul siku Dika dengan keras.
Krak!
Terdengar suara tulang yang patah setelah itu dan tulang siku Dika terlihat sudah bergeser dari posisinya sehingga pistol secara otomatis terjatuh ke atas lantai. Dika berteriak kesakitan sembari bergerak mundur.
Figo menerjang ke depan dan menendang Dika ke atas lantai hingga merobohkan pintu bersamanya.
Setelah itu, Figo mengambil pistol yang tergeletak di atas lantai, “Sungguh luar biasa. Merasa hebat dengan adanya pistol di tanganmu, kan? Apa kamu pikir bisa melarikan diri dari kami?”
Dia berjalan ke hadapan Dika, tetapi Dika sudah tidak memiliki kekuatan untuk melawan ataupun menjawabnya saat ini. Beberapa pukulan barusan sudah cukup untuk membuat beberapa tulang rusuknya patah.
Meskipun dia adalah seorang polisi tua, dia itu seperti orang biasa yang pernah berlatih beberapa seni bela diri, sehingga tidak mungkin bisa melawan seorang ahli seni bela diri seperti Figo.
__ADS_1
Yang dilatih oleh Figo juga merupakan seni bela diri asing yang sangat kuat. Setiap serangannya mampu mematahkan tulang orang lain.
Dika hanya bisa berbaring di atas lantai. Dia sudah selamat dari situasi terburuk dan menggertakkan gigi sekuat tenaga, mencoba yang terbaik untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Figo mendekati Dika dan mengarahkan pistolnya ke kepala Dika.
Raffi berdeham sekali. Figo tersenyum dan menyimpan pistolnya, “Kamu cukup beruntung bisa hidup lebih lama. Tidak boleh ada pembunuhan di rumah Kak Raffi. Jadi jika aku ingin membunuhmu, maka aku harus pergi ke luar untuk melakukannya.”
Dia pun berjalan kembali ke sisi Nova dan berniat untuk membawanya di atas bahu.
Akan tetapi, pada saat inilah tiba-tiba terdengar suara lantang di balik pintu apartemen yang tertutup. Figo melihat ke arah pintu apartemen dengan perasaan aneh.
Wajah Raffi terlihat sangat tidak senang, “Ada apa gerangan hari ini? Apakah semua orang ingin berkumpul di rumahku untuk rapat?”
Tepat setelah mengatakannya, pintu apartemen itu langsung dibombardir hingga terbang menerjang masuk yang akhirnya menabrak balkon, membuat jendela yang memisahkan balkon dan ruangan menjadi hancur berkeping-keping.
Seorang pria berdiri di tengah pintu apartemen dan melihat situasi di dalamnya dengan tatapan kelam. Pandangan matanya langsung tertuju pada Nova yang sedang terluka.
“Ternyata benar kamu ada di sini. Tenanglah, aku sudah di sini dan akan membawamu pulang dengan selamat.” Alex perlahan berjalan masuk ke dalam sampai ke sisi Nova sebelum mengangkatnya dari atas lantai.
Figo bertanya dengan sedikit kesal, “Siapa kamu?”
Dia tidak melakukan serangan secara langsung, karena dia tahu kalau Alex pasti adalah seorang master. Orang yang bisa meledakkan semua pintu keamanan pasti sudah pernah dilatih.
Harus diketahui kalau semua pintu keamanan komunitas ini sudah diperkuat dengan baik.
Alex melihat ke arah Figo dengan tatapan dingin. Di rumah ini, orang yang memiliki kemampuan untuk mengalahkan Nova sampai seperti ini hanya Figo seorang.
Dia pastinya tidak akan mengampuni Figo, tetapi yang terpenting sekarang adalah membawa Nova ke rumah sakit terlebih dahulu.
Meskipun Figo tahu Alex memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, dia sama sekali tidak tahu seperti apa kekuatan Alex yang sebenarnya, sehingga dia berniat untuk mengujinya.
Dia pun berjalan maju selangkah. Akan tetapi tepat pada saat ini, Raffi langsung menahan Figo.
__ADS_1