
Alex mundur dua langkah dan menatap Roni dengan dingin, "Kalian, segera berlutut! Kalau ngak, kalian akan berakhir sama dengan Si Tonggos Budi."
Enam orang di sisi Roni melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Alex dengan mudah mengalahkan keempat anjing besar itu dengan satu gerakan, hal ini membuat mereka kaget hingga tidak bisa berkata-kata.
Mereka juga orang-orang yang telah berlatih bela diri, dan tentu saja mereka mengenal beberapa ahli, tapi para ahli itu berurusan dengan manusia! Takutnya mereka juga akan digigit jika berhadapan dengan 4 ekor anjing besar yang ganas.
Tapi Alex seperti mesin tempur alami, dia dengan rapi membereskan 4 ekor anjing besar tanpa terluka sedikitpun.
Roni merasa 5 bersaudara keluarga Mahari mungkin bisa punya kemampuan seperti ini.
Mereka berenam juga pasti akan babak belur meskipun menyerang bersama.
Mereka membuang bangku di tangan setelah sadar akan situasinya.
Roni memimpin untuk berlutut di depan Alex, "Ampun, Tuan! Katakan apa yang kamu mau, semuanya bisa didiskusikan!"
Alex berkata dengan acuh tak acuh, "Segera hentikan kekacauan terhadap lokasi konstruksi. Jika ada pembuat onar lagi, Roni, kamu bertanggung jawab untuk melindungi lokasi konstruksi. Aku akan memberimu gaji 21 juta per bulan."
“Hah?” Roni gemetaran, “Oke oke, Tuan, kami ngak akan pergi ke lokasi konstruksi untuk membuat masalah lagi, jangan khawatir!”
Berdasarkan watak Roni dulu, jika seseorang berani membunuh empat anjing peliharaannya, dia pasti akan meminta kompensasi setidaknya lebih dari 200 juta!
Tapi hari ini, dia tidak akan memikirkan hal seperti itu sama sekali, asalkan pihak lain bisa mengampuninya, dia sudah merasa sangat bersyukur.
Aura pembunuh yang secara alami terpancar dari tubuh Alex benar-benar menakutkan! Bikin merinding.
Lima saudara Roni ikut berlutut di belakang Roni, mereka juga ketakutan sampai tidak bisa berbicara.
"Bagus! Roni, kali ini aku percaya padamu! Namun, kamu harus membawaku menemui Suprianto," kata Alex dingin.
"Ah? Tuan, Suprianto tidak boleh diprovokasi! Dia memiliki belasan pengawal yang sangat kuat! Kamu ngak boleh pergi ke sana!" Roni bergegas maju untuk memeluk kaki Alex.
Tetapi tepat pada saat ini, Roni tiba-tiba menabrak dada Alex, dan berteriak, "Semuanya, serang!"
Roni terlalu meremehkan Alex.
Meskipun dia memegang kaki kanan Alex, tapi dengan satu putaran saja Alex bisa menjatuhkan Roni ke tanah dengan kuat, lalu menamparnya beberapa kali, "Brengsek! Beraninya kamu bermain trik denganku?"
Lima bersaudara Roni awalnya hendak turun tangan setelah mendengar panggilan Roni, tapi setelah mendengar suara pukulan Roni yang berkelanjutan, mereka berlima langsung menciut, dan tidak berani bergerak.
__ADS_1
Alex meraih kerah baju Roni dan mengangkatnya dengan sekuat tenaga, "Roni, kamu mau mati atau hidup?"
Ketika Alex menanyakan kalimat ini, nadanya sangat dingin.
"Hidup! Kakek, Roni ingin hidup, tolong ampuni nyawaku! Roni hanya bodoh sesaat, beneran." Roni buru-buru menjelaskan.
Alex kembali menamparnya beberapa kali tanpa ampun, "Mau selamat setelah bermain trik seperti itu? Mimpi kamu! Roni, otakmu bermasalah ya?"
Roni memohon, "Ya, ya, Kek, otakku memang bermasalah!"
Alex berkata, "Mau aku tutup mata sekalipun, belasan orang seperti kalian juga akan habis kuhajar."
Dia bukan membual, Alex memang bisa membuat mereka babak belur meskipun tidak melihat.
Roni berulang kali mengiyakan, sedangkan Alex menyeretnya keluar dari teras seperti anjing mati, lalu masuk ke mobil, "Jalan!"
Rega menyetir mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Kelima saudara Roni langsung mulai berargumen ketika melihat mobil itu melaju pergi.
"Kak, ada lihat nomor platnya?"
"Gimana nih? Perlu lapor Tuan Suprianto ngak?"
"Lapor? Mau lapor apa? Bilang kalau Kak Roni membawa orang jahat itu untuk menemuinya?"
"Ya, jika kita melapor begitu, kita pasti ngak akan selamat!"
"Bener! Terus kita harus ngapain sekarang?"
"Bisa gimana lagi? Kak Roni telah dibawa pergi, dan kita tidak bisa menyelamatkannya."
Pada saat ini, Si Tonggos Budi tiba-tiba berkata, "Aku rasa orang yang nangkap Kak Roni terlalu kuat. Jadi, sebaiknya kita mengobati luka dulu."
Dia tersenyum menyanjung kepada beberapa orang itu, "Bro, tolong bantu bawa aku ke rumah sakit, boleh?"
Sebenarnya, Roni juga khawatir, jika saudaranya melaporkan hal ini, maka Alex pasti tidak akan melepaskannya!
Terlebih lagi, dia tidak ingin membawa Alex menemui Suprianto sama sekali, tapi apa dia punya pilihan?
__ADS_1
Alex memintanya untuk menelepon, mana berani dia membantah?
Setelah mengetahui posisi Suprianto, Roni berdoa dalam hati, "Tuan Supri, sebaiknya Anda punya urusan dan pergi. Jika sesuatu terjadi, bagaimana aku harus menjelaskannya kepada Anda?"
Tentu saja, doanya tidak ada gunanya.
“Ini tempat Suprianto menyembunyikan wanita?” Alex melihat rumah di pinggiran selatan ini sebentar, lalu menatap Roni dengan tatapan tegas.
“Ya, ya, Kek, mana berani aku berbohong? Ini pasti kediamannya,” jawab Roni berulang kali.
“Oke, awasi dia.” Alex memberi isyarat kepada Rega, “Aku akan masuk.”
Rega mengangguk, "Oke!"
Ketika Alex sampai di depan pintu kediaman kecil ini, dia melihat 4 orang pengawal sedang bermain kartu di pos penjaga di depan pintu.
Ketika dia hendak masuk, dia ketahuan oleh seorang pengawal, "Berhenti! Ada urusan apa? Mau ngapain tengah malam begini?"
Alex berjalan masuk ke dalam pos penjaga sambil tersenyum, "Aku datang mencari Suprianto."
“Ah? Cari Tuan Suprianto? Sudah punya janji? Siapa kamu? Sini daftar dulu.” Meskipun Alex memanggil Suprianto dengan namanya langsung, tapi para penjaga masih cukup waspada.
Alex menampar wajah pengawal itu, lalu berkata "Aku mau cari Suprianto, bacot banget sih jadi orang?"
Pengawal ini tercengang, dan tiga pengawal lainnya juga ikutan terkejut, mereka menatap Alex dengan kaget, tidak tahu siapa dia.
"Tuan, Anda belum mendaftar, bagaimana saya bisa tahu siapa Anda? Bisakah Anda memberi tahu kami dengan jelas supaya kami juga dapat menelepon dan bertanya kepada Tuan Suprianto, boleh?" Pengawal selalu bertemu dengan banyak tuan muda sombong dari keluarga kaya, oleh karena itu, mereka segera menciut oleh kesombongan Alex.
Wajahnya sangat sakit, tapi ini bukan apa-apa. Jika menyinggung orang yang berkuasa, dia mungkin akan kehilangan pekerjaan, lalu istri dan anak-anaknya juga akan terlibat.
Alex berkata, "Ngak, aku harus segera masuk, aku punya hal penting untuk dibicarakan dengannya."
“Tuan Muda Suprianto tinggal di kamar paling timur di lantai 2.” Pengawal itu menjelaskannya dengan sangat jelas tanpa alasan jelas.
“Oke, makasih.” Alex menendang tepat di jantung pengawal itu sehingga mengakibatkan pengawal itu jatuh ke belakang dan mati tiba-tiba!
Ketika yang lain hendak melangkah ke depan, Alex sudah maju terlebih dahulu dan meninju mereka satu per satu, dan menyelesaikannya dengan mudah.
__ADS_1