Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 473 Dikejar Pembunuh


__ADS_3

Dari tadi Marvel sudah menahan musuh di luar, dia sangat terkejut dan tidak paham sebenarnya siapa di Kota Manado yang begitu hebat sehingga bisa membuat begitu banyak orang menyerang PT. Atish? Apakah ini rencana untuk menghabisi Alex dan yang lainnya secara paksa?


Tapi, pembunuh-pembunuh itu tidak tahu kalau orang Biro Red Shield hanya butuh waktu setengah jam saja untuk ke sini.


Nantinya, semua pembunuh yang ada di sini pasti akan dihabisi.


Nasib orang-orang ini sudah ditentukan, Biro Red Shield tidak akan menunjukkan belas kasihan sama sekali. Anggota Biro Red Shield pasti akan membunuh semua orang dari pihak musuh.


Mereka bahkan tidak akan membiarkan satupun dari mereka hidup, inilah pembantaian yang sebenarnya.


Kekuatan Biro Red Shield di Indonesia sangat besar. Mereka bisa mengabaikan keberadaan sistem pemerintahan dan mereka juga tidak perlu mendengarkan perintah dari siapapun selain pemimpin tertinggi mereka.


Marvel tahu kalau mereka hanya perlu bertahan selama setengah jam, tapi ini pertama kalinya dia melihat pembunuhan skala besar seperti ini. Pembunuh masuk ke dalam secara berbondong-bondong, selain itu, kemampuan mereka juga sangat hebat.


Senjata di tangan mereka juga sangat canggih, bahkan mereka punya senjata berkekuatan tinggi seperti senapan serbu.


“Kita tidak bisa bertahan lama lagi. Pak Alex, kamu dan Bu Erika segeralah pergi dari sini, aku akan membantumu untuk menghadang serangan musuh!” Markus menatap Alex dengan panik.


Sedangkan Alex juga menembakkan senapan mesin di tangannya ke luar dan berhasil membuat beberapa pembunuh bergerak mundur.


Pembunuh bayaran yang bisa datang ke Indonesia untuk menyerang mereka pasti punya kemampuan yang hebat. Di samping itu, juga ada banyak pembunuh berani mati yang menghadang di luar.


Memang benar kemampuan para pembunuh berani mati itu biasa-biasa saja, tapi serangan yang mereka berikan juga sangat gencar dan kerusakan yang didatangkan sangat besar.


Jadi, mereka tidak dapat diabaikan di saat seperti ini.


Alex menarik napas dalam, dia merangkul Erika, sesekali dia menembakkan senapan mesin di tangannya itu ke arah luar. Lalu, dia mulai berjalan keluar di bawah perlindungan banyak orang.


Tapi, ketika Alex tiba di depan pintu, keningnya langsung mengerut, dia menghindar dan bersembunyi di pilar batu di sampingnya sambil merangkul Erika.


Dor!!


Sebuah peluru dari penembak jitu mendarat di tubuh bawahan Alex yang berada di belakangnya. Peluru itu langsung menembus bahu kiri bawahan itu dan meninggalkan sebuah lubang yang besar.


Mata bawahan Alex itu terbelalak, dia mengulurkan tangannya dan mengejang beberapa kali di lantai sebelum mati.

__ADS_1


Raut wajah Marvel dan Markus langsung berubah.


“Penembak jitu!”


Ternyata ada penembak jitu di pihak lawan, mereka sudah menunggu kesempatan dari tadi. Barusan, penembak jitu itu sama sekali tidak menembak ketika Marvel dan Markus bertempur dengan para pembunuh di depan pintu.


Itu artinya, dari tadi penembak jitu itu sudah menunggu kemunculan Alex dan Erika.


Kalau bukan karena Alex yang merasakan adanya ancaman, maka sebutir peluru itu sudah merenggut nyawa Erika.


Erika mendekap di dalam pelukan Alex. Alex menyipitkan matanya, terdapat aura mematikan di dalam matanya, dia sudah marah.


Kini, pembunuh di luar mengambil kesempatan untuk ke sini dan menyerang mereka berdua sebelum Biro Red Shield menutup pintu perbatasan Indonesia sepenuhnya.


Selain itu, pertempuran semacam ini bukan lagi sesuatu yang dapat digerakkan oleh uang sebesar 200 miliar.


Ada orang yang memberikan dorongan dari belakang!


Masalah ini tidak sesederhana itu, tapi saat ini Alex tidak punya waktu untuk memikirkan sebenarnya siapa yang sedang bermain-main di belakang. Dia juga tidak bisa menemukan orang itu.


“Ada berapa anggota Organisasi Wind yang sudah ke sini? Kenapa sampai sekarang hanya ada Ilody seorang diri yang muncul? Gak seharusnya seperti ini! Organisasi Wind nggak pernah lalai dalam melakukan tugas, lho!”


Kini, Alex merasa curiga dengan Organisasi Wind. Kalau bukan karena Organisasi Wind selalu memenuhi komitmennya sejak didirikan sampai sekarang, mungkin Alex sudah curiga apakah Organisasi Wind juga terlibat di dalam pembunuhan ini.


Ilody turun ke bawah, pembunuh di lantai atas sudah dihabisinya. Saat ini dia tiba di sisi Alex, dia mendongak dan menatap ke kejauhan.


“Ada penembak jitu, ya?” tanya Ilody sambil tersenyum.


Alex mengangguk-anggukkan kepala, “Iya, bisakah kamu menanganinya? Tampaknya saat ini penembak jitu itu sedang menungguku dan istriku. Dia juga nggak melakukan apa-apa walaupun kalian berdiri di luar. Tujuannya adalah agar posisinya nggak terbocorkan, jadi dia nggak berniat menembak kalian.”


Ilody tertawa terkekeh, “Tenang saja, orang Organisasi Wind nggak akan membiarkan orang-orang itu bermacam-macam.”


Ilody mengeluarkan ponselnya. Usai membaca informasi di layar ponselnya, dia menunjukkannya kepada Alex, “Sudah bisa pergi, penembak jitu di luar sudah dihabisi.”


Alex menganggukkan kepala. Dia masuk ke dalam mobil sambil merangkul Erika, sopir juga bergegas menjalankan mobil. Peluru tidak henti-hentinya ditembakkan ke mobil, tapi lapisan anti peluru di mobil sangat kuat, hanya ada sedikit bekas berwarna putih pada permukaan mobil.

__ADS_1


Alex memberi tahu lokasi tujuan kepada sopir, lalu dia duduk di samping Erika.


Raut wajahnya sangat tidak enak dipandang, tapi dia juga tahu kalau masalah ini tidak dapat dihindari, apalagi kalau bisa berdiri di posisi yang tinggi, pasti akan ada banyak musuh yang terpancing.


Erika merasa khawatir terhadap orang lain di PT. Atish, “Apakah para pembunuh itu akan membunuh karyawan-karyawan PT. Atish?”


Alex menggeleng-gelengkan kepala, “Mereka adalah pembunuh bayaran, bukan maniak pembunuh. Mereka juga punya etika profesional mereka sendiri. Pada dasarnya mereka nggak akan membunuh orang biasa kalau nggak mengganggu mereka.”


Alex tidak mengatakan satu alasan lainnya, yakni, pembunuh bayaran yang berkualifikasi tidak akan menyia-nyiakan peluru mereka kepada orang yang tidak penting.


Maka dari itu, Erika sama sekali tidak perlu khawatir.


Mobil melesat ke kantor cabang Biro Red Shield dengan cepat. Setelah tiba di jalan tol, ada beberapa mobil Hummer berwarna hitam yang datang mengejar dengan cepat. Alex tahu musuh sudah datang.


Dia berkata kepada sopir dengan serius, “Cepat sedikit, gak peduli bertemu dengan hal apapun, mobil tetap nggak boleh berhenti.”


Sopir mengangguk-anggukkan kepala, dia langsung melaksanakan perintah Alex dan menginjak pedal gas, mobil pun melaju ke depan.


Beberapa mobil Hummer itu sudah tiba di sisi mobil anti peluru. Jendela mobil Hummer dibuka, terlihat sebuah peluncur granat sedang diarahkan ke sisi mobil anti peluru.


Alex tidak menyangka kalau ternyata orang-orang ini bisa mendapatkan peluncur granat di Indonesia. Dia langsung menggertakkan giginya, wajahnya tampak muram.


Dia merangkul Erika dan melindungi kepalanya.


Dor!!


Granat mendarat di sisi mobil anti peluru dan terjadi ledakan, kekuatan yang besar itu membuat mobil anti peluru tergelincir ke sebelah dan bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan.


Sang sopir berusaha keras untuk menjaga mobil agar tetap seimbang, tapi mobil tetap menabrak pembatas tanaman dan terguling.


Sopir itu menabrak roda setir, membuat kantong udara keselamatan mencuat keluar. Kantong udara keselamatan juga mencuat keluar pada kursi belakang, Alex dan Erika menabrak ke permukaan kantong udara keselamatan. Luka yang mereka dapatkan tidak parah, tapi Erika merasa sedikit pusing karena guncangan mobil.


Alex mengambil senapan mesinnya, lalu membuka pintu mobil.


Saat ini, dengan segera ada belasan pembunuh yang keluar dari mobil Hummer, mereka menghampiri mobil anti peluru dengan perlahan. Mereka langsung terkejut ketika pintu mobil dibuka.

__ADS_1


Sebuah senapan mesin menjulur keluar dan menembak ke arah mereka.


__ADS_2