
Mayor Johan terkejut, dia mengumpat dalam hati: "Alex bahkan tidak takut pada tentara." Ketika Mayor mengangkat tangannya, terdengar sederetan suara tarikan pelatuk. Selusinan senjata berpeluru diarahkan pada Alex. Mayor berkata sambil menyeringai, "Alex, sudah bosan hidup, hah?! Cepat naik ke mobil, kalau tidak akan kubunuh kamu!"
Alex mencibir, "Temperamen kalian sungguh buruk. Aku belum melihat berapa banyak yang telah kalian lakukan dalam urusan militer darurat dan juga pengorbanan berdarah apa yang telah kalian lakukan. Namun, kalian benar-benar hebat dalam hal mempersulit rakyat. Aku tidak percaya kalian berani membunuhku di sini. Coba saja kalau kalian bisa.” Alex membelalakan matanya dan membusungkan dada, dia sama sekali tidak takut.
"Alex, kamu!" Mayor tidak bisa berkata- kata lagi. Dia menarik pelatuk untuk menakuti Alex, dan memang hanya ini saja yang dia bisa. Mana berani dia benar-benar menembak?
Sang Mayor benar-benar dibuat kesal, dia hanya bisa melihat Alex tanpa berbuat apa-apa, akhirnya dia mengeluarkan ponsel dan menelpon, "Pak Ridwan, kurasa Anda harus turun tangan sendiri. Saya benar-benar tidak bisa menangani anak ini."
Alex sangat tahu jelas tentang para pejabat militer ini, temperamen mereka akan jadi sangat buruk setelah terlalu banyak berurusan dengan rakyat.
Mereka tidak punya hak istimewa untuk menangkap orang sesuka hati, jadi senjata mereka semua tak lain hanya untuk menakut-nakuti orang saja. Coba saja menembak di sini, aneh nantinya kalau komandan kalian tidak dikirim ke pengadilan militer. Hanya mengandalkan beberapa dari kalian saja ingin menembakku? Berani sekali, huh? Aku ingin lihat siapa yang berani menembak duluan!
Alex menatap tajam mereka. Para prajurit ini juga sangat tertekan dengan senjata mereka. Tanpa perintah, siapa yang berani menembak? Mereka benar-benar malang hari ini, mana pernah mereka takut pada seseorang? Bisa-bisanya sekarang mereka malah dihentikan oleh seorang konglomerat. Entah bagaimana Mayor Johan akan menyelesaikannya.
Mayor menelpon seorang pria bernama Ridwan. Alex tidak tahu siapa orang itu. Tidak lama kemudian, datang lagi sekelompok orang dari luar hotel. Kali ini tidak banyak, hanya sekitar lima orang. Dan mereka memakai pakaian biasa.
Yang pertama berbicara dengan Mayor terlebih dahulu sebelum menghampiri Alex, dia menunjukkan ID-nya, dan berkata, "Kamu Alex kan, saya Zakri dari Basinas."
Alex melihat ID-nya, dan memang dia berasal dari Basinas, sedangkan jabatannya adalah wakil direktur Divisi Operasi. Alex mengerutkan kening, "Pak Zakri, ada urusan apa Anda kemari?"
__ADS_1
Zakri berkata dengan suara datar: "Alex, kamu terlibat dengan kasus pembunuhan Erwin dan Gery. Pihak Basinas telah mengeluarkan perintah untuk membawamu dan Erika kembali untuk diselidiki. Untuk mencegah agar tidak terjadi kecelakaan lagi, rekan-rekan dari pihak militer akan membantu kami."
Zakri kembali menyapa Mayor itu, kemudian menunjukkan kepada Alex surat perintah penangkapan dari Basinas "Alex, apalagi yang ingin kamu katakan sekarang? Ayo, ikut kami."
Alex tidak punya pilihan lagi, karena Zakri dan orang-orangnya punya hak khusus untuk membawa dirinya pergi untuk penyelidikan. Namun, jika dia ikut dengan mereka, dirinya pasti akan kesulitan lolos dari masalah ini. Dia khawatir pihak lain tidak akan memberinya kesempatan untuk membuktikan diri.
Alex tersenyum tipis sembari berkata, "Pak Zakri, kalau begitu tolong beri aku sedikit waktu, aku perlu mengatur urusan di rumah dulu, boleh?"
Zakri melambaikan tangannya: "Ya."
Lalu, Alex memanggil Hengky dan membisikkan beberapa kata, kemudian menelpon Nova.
Nova ikutan cemas mendengarnya. Dia tahu jelas seperti apa Basinas itu, setiap orang bisa masuk ke sana dengan mudah, tapi sulit jika ingin keluar. Orang biasa tidak perlu berharap untuk bisa keluar dari sana jika sudah berada di dalam. Yang terburuk, mereka mungkin akan membunuh Alex, menyiksanya hingga mati dan tidak ada seorangpun di luar sana yang berani membelanya.
"Jangan takut, aku akan memikirkan solusinya."
Di hari yang sama, Alex dan Erika dibawa ke markas rahasia Basinas. Tempat ini terletak di pinggiran kota. Tempatnya sangat luas, tetapi tidak ada bangunan tinggi. Sebuah gedung kantor yang hanya terdiri dari 3 lantai terlihat cukup menakutkan dari luar.
Saat memasuki markas ini, Alex dan Erika langsung ditahan secara terpisah. Erika dibawa ke sebuah ruang rahasia. Pada saat ini, tiga direktur Basinas, Ridwan Sutiono, Ibnu, dan Chandro, duduk berdampingan di depan ruang interogasi. Zakri membisikkan beberapa kata pada ketiganya, lalu berbalik dan berkata, "Erika, sekarang adalah kesempatan terakhirmu. Katakan dengan jujur kalau ingin hukuman kalian diringankan!"
__ADS_1
Erika berkata dengan kesal: "Ada apa denganku? Kematian Erwin dan putranya sama sekali tidak ada hubungannya dengan kami. Atas dasar apa kalian menangkap kami tanpa bukti?"
Zakri melotot marah, dia melangkah maju, dan berkata dengan kejam, "Erika, jangan pikir aku tidak memahami situasinya. Gery meninggal di Hotel Emperor milikmu, jelas kamu tahu lebih baik daripada orang lain."
Alex berkata dengan datar, "Kami tidak melakukan kejahatan, jadi aku tidak takut sama sekali."
Zakri berkata dengan marah, "Buka matamu dan lihat di mana ini. Kuberitahu ya, ini ruang interogasi khusus Basinas. Kami punya seribu cara untuk membuatmu mengakui kesalahan."
Erika mendengus dan berkata, "Kalau begitu tunjukkan."
Zakri menampar Erika karena marah dengan sikapnya yang masih saja tidak patuh. “Dasar tidak tahu diri.” Namun, tamparan ini tidak mengenai target, karena Erika berhasil menghindarinya. Erika juga tidak mau kalah, "Kenapa kalian ini, hah? Kalian berani menamparku? Aku mau naik banding."
Zakri mencibir: "Kamu jangan harap bisa keluar dari sini kalau sudah masuk. Apa katamu? Naik banding? Tunggu saja hari kematianmu. " Setelah itu, dia kembali turun tangan, kali ini tujuannya adalah dada Erika.
Mana mungkin Alex diam diri melihat istrinya diganggu? Dia menendang ************ Zakri dan tepat mengenai bagian sensitifnya. Zakri menjerit kesakitan sambil memarahi, "Berani kamu menyerang pihak kepolisian?"
Saat Zakri hendak membalas, tiba-tiba seseorang berteriak dari depan pintu ruang interogasi: "Tunggu." Begitu menoleh ke belakang, Zakri melihat seorang polisi wanita berjalan ke arahnya. Orang itu tidak lain adalah Nova. Nova berjalan beberapa langkah lebih dekat dan bertanya, "Pak Zakri, apa Anda sedang melakukan pemaksaan?"
Zakri dan Nova dulunya sempat menjalankan tugas bersama karena kebutuhan kerja. Satunya di bagian kepolisian dan satunya bagian keamanan. Keduanya hanya beda satu tingkat. Jika sebelumnya, Zakri masih akan sedikit menghormatinya dia. Namun, sekarang berbeda, beberapa pejabat setingkat direktur dari markas Basinas ada di sana.
__ADS_1
Ketiga orang itu terus memperhatikan perkembangan situasi tanpa berbicara sepatah katapun. Namun, Zakri tahu jelas kalau mereka bertiga berada di pihaknya. Dulu ketika bekerja sama dengan Nova, wanita ini suka berteriak padanya. dan dia juga dendam akan hal itu. Hari ini, atas dasar apa kamu datang mencampuri urusan yang sudah ditetapkan Basinas?