Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Kasus Spesial


__ADS_3

Pak Husman berpikir sejenak sebelum menjawab, “Sebenarnya aku sudah bekerja di sini sejak tamat sekolah, sudah 11 tahun.”


 


 


Alex berkata, “Kalau begitu, saat Bambang jadi Lurah di sini, Anda sudah bekerja di sini?”


 


 


Pak Husman menganggukkan kepala, lalu berkata, “Benar.”


 


 


Alex kembali bertanya, “Apa hubungan kalian sangat dekat?”


 


 


Pak Husman tersenyum pahit dan berkata, “Kami sudah jadi rekan selama beberapa tahun, saat dia menjabat jadi Lurah, aku adalah Sekretaris Lurah.”


 


 


Alex langsung mengatakan poin pentingnya, “Pak, apa Anda bisa menceritakan padaku kasus Gunung Pandani 5 tahun yang lalu?”


 


 


Pak Husman tertegun, dan Alex kembali berkata, “Pak, aku ingin meminta keadilan untuk warga Gunung Pandani, Anda juga tahu akan masalah ini, apa Anda mau membela para koruptor itu?”


 


 


Pak Harun berpikir sejenak, lalu mengangguk dan berkata, “Lima tahun lalu pernah terjadi masalah seperti ini. Ada seorang dokter jenius di Gunung Pandani yang membuka lahan secara pribadi untuk menanam tanaman obat-obatan. Namun, pihak kantor kelurahan malah mengatakan kalau dia menyalahgunakan lahan pertanian, lalu terjadilah konflik. Menantu sang dokter meninggal secara tidak sengaja. Kemudian, putra dokter jenius datang meminta penjelasan Bambang, entah apa penyebabnya dia juga ditangkap dan dijatuhi hukuman berat. Aku hanya tahu sedikit mengenai hal ini, mengenai detailnya seperti apa, aku benar-benar tidak tahu.”


 


 


“Namun, ada dana yang dialokasikan dari tingkat kota untuk membangun jembatan. Tapi sepertinya terjadi sesuatu dengan dana ini dan disalahgunakan. Hasilnya jembatan di desa tersebut juga tidak jadi diperbaiki.”


 


 


Pak Husman memberikan Alex sebatang rokok, kemudian dirinya juga menyalakan satu dan menghisapnya, lalu menghembuskan asap rokok, Alex bertanya, “Lalu bagaimana penyelesaian kasus tersebut?”


 


 


Pak Husman berkata, “Bagaimanapun juga ada nyawa yang melayang karena masalah tersebut. Entah siapa yang benar atau salah, orang tersebut juga harus bertanggung jawab pada rakyat. Setelah kejadian itu, orang yang melakukan hal tersebut dipecat dari jabatannya, dan juga dilakukan penahanan administratif. Pihak kantor kelurahan juga memberikan kompensasi yang sesuai.”


 


 


Alex mendengus, lalu berkata, “Mendorong orang tersebut jatuh ke jurang dan menyebabkan kematian. Lalu akhirnya hanya dilakukan penahanan administratif beberapa hari saja? Tidakkah ini terlalu ceroboh? Terus si Bambang juga, ini semua karena perbuatannya, makanya bisa terjadi kasus pembunuhan. Tapi dia malah tidak bertanggung jawab sama sekali, dan malah naik jabatan?”


 


 


Pak Husman sendiri juga paham dengan situasinya, Ayah mertua Bambang adalah Tuan Besar Utama yang baru saja pensiun, yang tak lain juga Kakak kandung Rangga, 2 tahun yang lalu Tuan Besar Utama masih menjabat sebagai wakil Bupati.


 


 


“Aku hanya bisa memberitahumu itu saja, tidak ada gunanya mengatakan lebih banyak. Karena yang lain hanya tebakanku saja, tidak boleh asal bicara tanpa bukti. Lagipula, dia sekarang adalah atasanku.”


 


 

__ADS_1


“Baiklah. Terima kasih banyak Pak Husman atas informasinya. Aku pamit dulu.” Alex pergi meninggalkan ruang kantor Pak Husman dan berjalan di jalanan dengan penuh pikiran, apa yang harus dilakukannya sekarang?


 


 


Setelah mempertimbangkannya secara matang, Alex memutuskan untuk pergi ke Kabupaten Sriwongso. Dia akan memperjelas situasi Bambang terlebih dahulu dan mengumpulkan bukti kejahatan yang diperbuatnya, kemudian memberitahu Pak Harun untuk mengatasinya.


 


 


Lalu, Alex pergi menuju Kabupaten Sriwongso menggunakan bis. Di dalam perjalanan, Alex berpikir dalam hati, “Kalau mau membalikkan kasus putra dokter jenius, memang tidak mudah. Aku mungkin bisa mencari seorang pengacara dulu. Lalu memahami kasus ini dari awal sampai akhir. Kemudian baru mencari bukti kejahatan Bambang dan mengembalikan keadilan bagi mereka.”


 


 


Setelah sampai di Kabupaten Sriwongso, Alex merasa lapar dan ingin mengisi perutnya. Dia menemukan seorang penjual pangsit kuah di tepi jalan, dan harganya cukup murah setelah ditanyakan, selain itu wanginya juga enak, jadi dia memesannya, “Bos, yang gede satu mangkok ya.”


 


 


Penjual pangsit tersebut bertanya dengan ramah, “Mau yang sayur atau daging ya?”


 


 


Alex berkata, “Yang ayam bawang ya, tadi kucium wanginya enak juga, itu saja.”


 


 


“Oke, duduk dulu ya, bentar lagi siap.”


 


 


Yang digunakan penjual tersebut adalah gerobak mobil yang biasanya sering ditemui di jalanan, di dalamnya ada kompor, jadi tinggal dinyalakan untuk memasak pangsit. Di sisi mobil ada dua buah meja, dan belasan kursi plastik. Alex duduk di salah satu kursi tersebut.


 


 


 


 


Bos pangsit menjawab dengan senyum lebar, “Iya, asli sini dari lahir.”


 


 


Alex bertanya, “Panggilannya siapa ya?”


 


 


Bos pangsit menjawab, “Namaku Rhanu. Biasanya dipanggil ‘si gede’.”


 


 


Alex berkata, “Bos, kulihat postur mu ini tidak terlihat seperti penjual keliling.”


 


 


Rhanu berkata, “Iya, dulu aku pernah jadi tentara, tapi sekarang sudah pensiun. Terus dipekerjakan di sebuah perusahaan, tapi perusahaannya malah bangkrut saat aku baru kerja 2 tahun. Karena tidak ada pekerjaan ya mau tidak mau aku harus melakukan sesuatu untuk bertahan hidup.”


 


 


Rupanya pernah jadi tentara, pantas saja tubuhnya tegap begitu. Lalu, Alex mencari informasi mengenai Bambang dari Rhanu, siapa sangka Rhanu seketika jadi kesal saat mendengar nama Bambang.

__ADS_1


 


 


“Si Bambang bukan orang baik-baik, perusahaan kami bangkrut juga karena ulahnya. Padahal benefit di perusahaan itu lumayan bagus, eh sekali dia campur tangan, pabrik mesin yang setidaknya senilai 44 milyar malah dievaluasi olehnya dengan harga 13 milyar, lalu dijual ke adik iparnya. Atasan baru menerima karyawan tergantung pada yang disukainya. Banyak orang-orang yang memberikan hadiah pada adik iparnya, aku tidak punya uang untuk memberinya hadiah, jadi ya dipecat.”


 


 


Alex mengangguk, “Tampaknya si Bambang ini banyak masalah.”


 


 


Rhanu kembali berkata, “Ayah mertuanya biasa dipanggil Tuan Besar Utama, dia dulunya wakil Bupati di kabupaten kami, saat pensiun dia mempromosikan Bambang untuk mengurus perihal industri.”


 


 


Alex kaget, dia bertanya, “Tuan Besar Utama?”


 


 


Rhanu mengangguk dan berkata, “Kamu tidak pernah dengar? Pamannya lebih hebat lagi, orang terkaya di Jakarta.”


 


 


“Rupanya begitu, jadi si Bambang ini menantu keluarga Utama, heh, makin menarik sekarang.”


 


 


Tiba-tiba, raut wajah Rhanu berubah, “Aduh gawat, satpol pp datang.” sambil berbicara, dia segera berlari keluar dari dalam mobil dan mengemas meja beserta kursi untuk pindah tempat.


 


 


Alex juga tahu kalau gerobak mobil seperti mereka ini merupakan sasaran utama para satpol pp. Dua unit mobil satpol pp segera sampai, Rhanu segera kabur bersama mobilnya begitu melihat kondisi tidak bagus, dia bahkan sudah tidak sempat meminta bayaran atas pesanan Alex.


 


 


Alex sendiri juga sudah cukup memahami Bambang, lalu dia mencari sebuah hotel untuk menginap, kemudian menelpon Pak Harun.


 


 


Pak Harun merasa terkejut dengan telepon dari Alex, “Eh Alex, sudah punya waktu luang ya? Sudah kepikiran mau makan masakan yang kusiapkan ya?”


 


 


Alex malah berkata, “Pak, ada satu hal yang memerlukan bantuanmu.”


 


 


Pak Harun jadi emosi setelah mendengar penjelasan Alex mengenai kasus Bambang, “Ada hal seperti ini? Benar-benar sombong sekali dia. Begini saja, besok aku akan pergi ke Kabupaten Sriwongso secara pribadi. Mengenai Bambang, kita harus menanganinya secara spesial.”


 


 


Alex berkata, “Anda benar-benar pejabat rakyat berhati mulia, aku akan menunggumu di Sriwongso.”


 


 


Pak Harun berpikir sejenak dan berkata, “Lex, gimana kalau kamu pergi ke kantor kepolisian Sriwongso dulu dan cari berkas kasus itu dulu?”

__ADS_1


__ADS_2