
Zakri memelototinya, "Kapten Ardiansyah, wanita ini tidak mau mengakui kesalahannya tadi, dia bahkan menendangku. Apa kamu buta, jadi tidak melihatnya?"
Nova membalasnya, "Zakri, sebagai Direktur Divisi Operasi Basinas, kamu malah ingin menyentuh dadanya. Apa kamu kekurangan ASI pas masih kecil?”
Kata-kata Nova benar-benar kejam. Ekspresi wajah Zakri berubah seketika mendengarnya, "Nova, apa kamu tidak mengerti disiplin? Ini markas interogasi Basinas, apa urusannya dengan kalian? Cepat enyah kalau tahu diri. Jika tidak, aku akan menahanmu atas tuduhan keterlibatan kriminal! " kata Zakri dengan sombong.
Nova tertawa sambil berkata, "Zakri, hebat ya kamu. Seorang pejabat tingkat rendah sepertimu berani berkata begitu padaku? Coba saja kalau berani!”
Zakri menoleh ke arah ketiga orang itu. Mereka bertiga tetap saja berdiam diri. Zakri merasa sedikit malu, "Ja... jangan sombong kamu."
Zakri menoleh untuk melihat Ridwan, Direktur Divisi Intelijen Basinas yang ada di belakangnya. Ekspresi Ridwan sangat tegas, "Siapapun atau apapun yang menghalangi kami melakukan tugas harus ditangkap."
Zakri sangat gembira. Awalnya, identitas Nova membuatnya ragu, jadi dia tidak berani turun tangan seenaknya. Namun, sekarang setelah Ridwan buka mulut, Zakri tampak sangat antusias, lalu ia berteriak, "Tangkap Nova."
Nova tidak menyangka Zakri berani menangkap dirinya. Dia juga jadi marah, "Berani kamu?"
Zakri sudah tidak peduli lagi, dia bergegas berjalan ke hadapan Nova dan turun tangan. Seringai tipis muncul di sudut mulut Ridwan yang berada di belakang Zakri. Identitas Ridwan adalah direktur Divisi Intelijen Basinas, tetapi dia juga memiliki identitas lain, yaitu sepupu Erwin.
Baik Erwin maupun Gery sama-sama dibunuh oleh Alex. Ridwan membencinya sampai mati. Dia telah memikirkan cara balas dendam terhadap Alex beberapa hari ini. Kali ini dia membawa Alex dan Erika kemari juga bagian dari rencananya. Dia akan mencari cara untuk menjatuhkan hukuman mati pada keduanya, kalaupun tidak bisa, dia juga akan membuat mereka dipenjara seumur hidup.
__ADS_1
Zakri juga tidak menunjukkan belas kasihan saat turun tangan karena telah menerima instruksi dari Ridwan. Orang ini juga pandai bela diri. Baru saja, ketika Nova membuatnya marah, Zakri sudah langsung mengarahkan tangannya ke dada Nova. Apa perilaku cabul semacam ini patut dilakukan oleh seorang pejabat Basinas?
Nova juga orang yang emosian. Melihat Zakri benar-benar ingin turun tangan pada dirinya, dia langsung memukul dada Zakri. Ilmu Nova memang lebih tinggi dari Zakri, dan pukulan ini juga sangat tertutup. Zakri yang sama sekali tidak menyangka Nova rupanya bisa bela diri, akhirnya memakan pukulannya. Pukulan Nova ini membuatnya terlempar hingga lima meter jauhnya sebelum jatuh ke lantai...
Ridwan segera berdiri dan berteriak begitu melihatnya, “Kamu membunuhnya.” Dia berjalan cepat ke sisi Zakri.
Zakri awalnya ingin bangun, tetapi dia malah mendengar Ridwan mengatakan Nova telah membunuh orang. Dia sangat pintar, jadi tahu betul kalau Ridwan sedang membesar- besarkan masalah. Oleh karena itu, dia sengaja bekerja sama dengan Ridwan, dirinya tiba-tiba kejang-kejang, lalu tidak bergerak lagi.
Ridwan pura-pura terkejut, lalu membungkuk dan bertanya, "Zakri, gimana keadaanmu?" Dia tampak mengulurkan tangannya untuk membantu Zakri bangun, tetapi nyatanya malah tiba-tiba menekan bagian jantung Zakri. Tubuh Zakri tiba-tiba gemetaran, lalu kepalanya terkulai, ekspresi Ridwan berubah dan dia tiba-tiba berteriak, "Zakri mati dipukuli."
Ridwan adalah seorang ahli juga, jika dia tidak punya keahlian, mana mungkin dia bisa menjadi direktur Divisi Intelijen Basinas? Zakri yang malang malah dimanfaatkan olehnya. Ridwan menyanyikan drama palsu dan diam-diam membunuh Zakri dengan tenaga dalam. Tujuannya adalah untuk menuduh Nova.
Nova keringat dingin karena ketakutan, jika memang seperti itu, maka dia juga tidak bisa membantah. Ada cctv di ruang pengawasan. Jika memeriksa videonya, yang terlihat juga dirinya yang memukul Zakri. Tidak ada yang akan peduli dengan pembunuhan rahasia Ridwan.
Dua direktur Basinas lainnya juga datang memeriksa ketika mendengar ada yang terbunuh. Dan benar saja, Zakri telah meninggal.
Chandro mengerutkan kening, "Petugas Ardiansyah, pukulanmu benar-benar kejam."
Ibnu juga menambahkan, "Kalian benar-benar tidak punya aturan sama sekali. Bisa-bisanya kamu menerobos kantor kami dan bahkan membunuh orang."
__ADS_1
Nova tahu kalau mereka sengaja menuduhnya agar dia tidak bisa berkutik. Kali ini dirinya dalam masalah besar. Bagaimanapun, Zakri adalah perwira senior di Basinas. Dia masih bisa meminta bantuan seseorang untuk meredakan masalah ini jika itu hanya beberapa tamparan. Namun, sehebat apapun dirinya juga akan sulit terbebas dari hukuman karena telah membunuh orang. Lebih buruknya lagi, dia mungkin harus membayar dengan nyawa.
Ridwan berkata, "Petugas Ardiansyah, padahal kami tidak ingin mempersulit mu, tetapi kamu sama sekali tidak memandang hukum, berani-beraninya turun tangan di tempat kami. Kami tidak bisa membiarkanmu begitu saja karena telah membunuh anggota kami. Tangkap dia!"
Dalam keadaan seperti ini, Nova tidak berani lagi melawan. Meskipun dia melawan, dirinya juga bukan tandingan mereka bertiga. Nova menenangkan pikirannya sebelum berkata, "Pak Ridwan, aku tidak membunuhnya. Kalian tidak berhak menangkapku."
Ridwan mencibir, "Petugas Ardiansyah, kamu masuk ke ruang interogasi kami tanpa alasan, dan juga membunuh Pak Zakri. Meskipun direktur kalian turun tangan juga tidak akan bisa melindungimu."
Dua orang lainnya bertindak bersama dan menangkap Nova, Nova juga tidak melawan, dia membiarkan mereka menangkap dan memborgolnya.
Pembunuhan tak disengaja Zakri yang dilakukan Nova di markas Basinas ini bukanlah masalah sepele. Hal ini menggemparkan Basinas. Setelah mendapat berita, Pak Danu segera datang kesana untuk menemui Nova yang ditahan oleh mereka. Namun, penjaga yang berada di pintu sama sekali tidak mengizinkannya masuk, dan dengan jelas mengatakan kepadanya, "Maaf, Pak. Pak Ridwan saat ini sedang menangani kasus di dalam. Jika Anda bersikeras ingin bertemu, Anda harus menunggu Pak Ridwan menyelesaikan tugasnya."
“Sial, kamu berani melarangku?” Ekspresi wajah Pak Danu sangat buruk, tetapi dia juga tidak bisa apa-apa. Meskipun Ridwan dari Basinas satu tingkat lebih rendah dari dirinya, tapi dirinya juga tidak bisa mengapa-apakan dia.
Di dalam ruang interogasi, Ridwan, Ibnu, dan Chandro duduk berdampingan. Mayat Zakri tidak dipindahkan dan masih terbaring di sana. Ridwan menyalakan sebatang rokok dan menyesapnya dengan santai, sedangkan kedua wakil direktur masing-masing duduk di samping kiri dan kanannya.
__ADS_1