
“Bob, meskipun nggak ada master di sini, tapi jangan gegabah. Kita sebaiknya segera pergi!”
“Carl, ngapain kita pergi? Kita baru saja menembak seorang, bahkan belum tahu berhasil menembak atau gak?!”
“Benar juga, tapi jangan buru-buru. Jika ada orang dari mereka yang berani keluar, maka kita akan menembaknya.”
“Tapi, aku merasa ada yang aneh.”
Ketika mereka berdua sedang berbicara, Alex pun sudah mendekati atap gedung itu.
Carl terus membujuknya, “Bob, ayo kita pergi!”
“Baiklah! Anggap saja kedatangan kita malam ini sia-sia.”
“Kedatangan kalian nggak sia-sia.” Setelah mendengar suara ini, Carl dan Bob terkejut pada saat yang sama!
Suara mendesing! Keduanya mengarahkan senjata mereka ke arah suara tersebut pada saat yang sama, tapi mereka tidak melihat orangnya.
Kemudian, Bob dan Carl merasa kepala mereka sakit pada saat yang sama, lalu kehilangan kesadaran.
Ketika mereka berdua sadar, mereka merasa cahaya lampu di depan sangat menusuk mata, jadi mengulur tangan untuk menutup mata, “Di mana ini?”
“Ini adalah tempat yang harus kalian kunjungi,” jawab Alex dengan bahasa Inggris karena dia mendengar Carl dan Bob berbicara dengan bahasa Inggris.
“Apa? Siapa kamu?” Ketika Bob dan Carl sedang melawan, mereka juga menyadari kalau dirinya terikat dengan kuat!
Seragam satpam PT. Atish. Lalu mereka dikelilingi oleh orang-orang yang mengenakan seragam seperti itu.
Ada seorang yang nggak mengenakan seragam satpam dan berdiri di depan mereka, dia terlihat sangat muda, tenang dan nggak bisa ditebak oleh orang.
“Bob, Carl, prajurit Korps Marinir. Atasan kalian seharusnya adalah Letnan Stevanus, kan?” Alex tersenyum, tapi senyuman itu di mata Bob dan Carl sangat mengerikan!
Mereka berdua saling melihat, tapi nggak ada yang berbicara.
Alex mulai menjelaskan, “Menurut peraturan prajurit Negara M, jika pihak sendiri nggak memiliki kekuatan untuk melawan, maka itu diperbolehkan untuk ditangkap, bahkan dikhianati.”
__ADS_1
Bob dan Carl menoleh kepala dan nggak menghiraukannya.
Alex berkata, “Menyerah adalah pilihan terbaik kalian. Tentu saja, kalian bisa bertahan sampai akhir, tapi aku merasa kalian nggak akan memiliki kegigihan seperti ini.”
Sebenarnya Bob dan Carl sudah pasrah, tapi mereka masih bertahan.
Alex berjalan perlahan ke depan, “Bob sebagai penembak jitu Korps Marinir reputasimu sudah sangat baik, sayangnya, malam ini kamu bertemu denganku.”
“Gak! Sebenarnya aku lebih hebat darinya!” protes Carl tanpa tak tahu diri.
“Carl, mungkin saja kamu lebih hebat daripadanya, tapi kamu membutuhkan pengakuan orang.” Alex nggak peduli dia akan menyakiti siapa.
Carl segera menutup mulut. Dia tahu jika dirinya berkata semakin banyak, maka semakin banyak informasi yang akan diungkapkannya.
“Baiklah, sekarang kita bahas apakah kalian cukup gigi atau gak.” Alex membentuk bunga di tangannya, tapi benda yang dipegangnya adalah tongkat karet.
Tubuh Bob dan Carl menyusut pada waktu yang sama, lalu melihat tongkat karet di tangan Alex dengan takut.
Mereka tentu saja pernah merasakan kehebatan benda ini, jika dipukul ke tubuh, tidak akan ada bekas luka yang terlihat, tetapi rasa sakitnya tak tertahankan!
Alex berkata dengan senyum, “Aku sedang berpikir siapa yang bisa menahan rasa sakit ini, Bob atau Carl?”
Sebagai seorang prajurit, mati untuk negara tentu tidak menjadi masalah dan hal begini dapat dilakukan semua prajurit.
Tapi, jika disiksa sampai mati, maka rasa rela berkorban akan berkurang 50%, bahkan sisa sepersepuluh ribu.
“Bob, aku suka dengan nama ini.” Setelah Alex berkata begitu, Bob pun merasakan hawa dingin dari atas kepala sampai kaki dalam sekejap!
“Bob, aku ingin mematahkan kakimu, tapi nggak tahu mau mulai dari kaki kanan atau kaki kiri? Sebenarnya aku sedang ragu.” Alex mengeluarkan koin dan menimbang di tangannya.
“Tidak! Jangan!” Bob berteriak dengan pasrah, “Kamu nggak boleh memperlakukanku seperti ini! Kamu harus memperlakukan tahanan dengan baik, bagaimanapun juga aku adalah prajurit Negara M. Aku harus menerima kehormatan, kalau gak negaraku akan balas dendam padamu!”
“Haha.” Alex menyindirnya, “Negaramu? Negaramu itu sangat jauh, selain itu Bob, kamu tiba-tiba muncul di sini dengan identitas begini, aku bisa menganggapmu datang menyerang negaraku.”
“Gak, kami datang ke sini untuk liburan,” balas Bob.
__ADS_1
“Sebagai tentara, kamu nggak ada hak untuk liburan kemari. Selain itu, apakah ada yang membawa senapan berlibur kemari? Apa kamu sedang membodohiku?” Alex nggak ingin omong kosong dengannya, dia langsung mengayunkan tongkat karet di tangannya.
Tiba-tiba suara angin dari tongkat karet itu terdengar!
Plak! Setelah Bob dipukul dengan tongkat karet itu, tubuhnya pun gemetar dan berteriak sakit!
Kaki kirinya terkena pukul oleh tongkat karet, tapi tulangnya tidak patah, hanya saja rasa sakit fisik membuat Bob nggak tahan.
“Jika kamu berani menembak orang, maka kamu harus bersiap untuk dibunuh!” Alex mengayunkan tongkat karetnya!
“Ah!” Bob segera pingsan sebelum tongkat karet itu mengenai tubuhnya!
Alex mengerutkan keningnya, “Begini saja sudah pingsan?” Tongkat karet di tangannya diayunkan ke kaki Bob yang dipukul tadi.
“Ah!” teriak Bob, lalu dia sadar kembali! Kemudian menatap Alex dengan ketakutan, “Jangan! Jangan pukul lagi! Kamu ini sedang menyiksa tahanan! Ini sedang melanggar hukum…” kata dia dengan lemah dan sampai akhirnya kehilangan tenaga.
Jika dipikirkan, mereka berdua awalnya adalah orang yang ingin membunuh Alex. Sekarang mereka telah menjadi tahanan, tetapi mereka meminta Alex memperlakukan mereka dengan sopan, apakah ini mungkin?
Melihat Bob disiksa, Carl juga ketakutan: Tak lama lagi, pasti akan gilirannya.
Plak! Setelah Bob dipukul kali ini, seluruh tubuhnya hanya menggigil, tidak berteriak, seolah-olah daging.
Plak plak… Kecepatan pukulan Alex semakin cepat!
Awalnya, Carl akan menutup matanya setiap kali Alex memukul, tetapi sampai akhir dia hanya bisa menutup matanya dengan erat dan tidak berani membukanya lagi.
“Huarz!” Martin membangunkan Bob dengan air. Begitu Bob membuka matanya, dia melihat kaki kirinya telah dipukul hingga berlumuran darah, juga merasakan rasa sakit yang tak tertahankan!
“Aduh, aduh…” teriak Bob dengan kuat, mungkin dengan begini rasa sakitnya akan berkurang.
Martin nggak sabar lagi, dia langsung berjalan ke depan dan menamparnya puluhan kali, “Sialan! Ketika kamu menembak orang, apa kamu nggak berpikir kalau kamu akan mendapat hukuman begini?”
Bob melihat Alex dengan kasihan, “Ampuni aku…”
Bang! Pintu terbuka, Andi melangkah masuk. Lalu melihat dua tawanan berkulit putih, kemudian Andi tersenyum dingin, “Aku sudah memeriksa bagian luar, saat ini nggak menemukan orang yang mencurigakan dan sudah membentuk pertahanan yang baik.”
__ADS_1
Alex mengangguk, “Iya, bagus. Andi, kamu mengintrogasinya dulu, aku keluar melihat.”
“Ah, ah! Jangan, jangan!” Bob berteriak mati-matian, tapi Andi nggak peduli, dia hanya memutar kaki kiri Bob sehingga mengeluarkan suara krak dan menunjukkan postur yang aneh!