Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Adu Tanding


__ADS_3

"Ukh ..." Ekspresi wajah Ridwan sangat buruk. Saat dia turun tadi, atasannya memang menelpon dan memberitahu dia dengan jelas bahwa Roselline akan mengambil alih kasus ini dan meminta Ridwan untuk bekerja sama. Namun, Ridwan tidak ingin menyerahkan Alex dan lainnya begitu saja.


  Dia berkata sinis: "Komandan Rose, atasan kami memintaku untuk bekerja sama denganmu dalam menangani kasus ini. Akan tetapi, kamu datang terlambat dan tidak memahami kasus ini ..."


  Roselline dengan tegas berkata: "Aku ulangi sekali lagi, aku akan mengambil alih kasus ini, bawa orang mu dan lakukan apa yang seharusnya kalian lakukan."


  Ridwan juga tidak mau kalah, tetapi dia tidak melawan Roselline terang- terangan, melainkan berkata, "Komandan Rose, bagaimanapun, yang meninggal adalah seorang perwira polisi senior kami, dan kasusnya juga ditangani oleh aku pribadi. Jika kami menyerahkan tersangka kepadamu begitu saja, Basinas mungkin akan jadi bahan tertawaan orang. "Alasan Ridwan benar-benar dibuat-buat.


  Roselline bertanya, "Lalu apa yang kamu mau?"


  Ridwan meringkuk mulutnya dan berkata, "Kami juga punya banyak ahli bela diri. Aku sudah lama mendengar bahwa Komandan Rose juga sangat hebat dalam hal ini, dan juga merupakan yang terhebat dalam Red Shield. Sebelumnya kami tidak punya kesempatan untuk mencobanya. Jadi, aku ingin beradu tanding denganmu hari ini. Aku ingin lihat seberapa besar perbedaan antara kita. Jika kamu menang, silakan bawa mereka. Kami juga bisa melaporkannya kepada atasan bahwa tahanan telah diserahkan kepada Komandan Rose yang lebih hebat, sehingga kami tidak akan diejek oleh rekan-rekan nantinya."


  “Hm? Mau menantangku?” Mata Roselline tiba-tiba berbinar, dia mencibir di dalam hati. Tak disangka masih ada orang di Indonesia yang berani menantangku? Dia tersenyum tipis, lalu berkata, "Kalau begitu silakan, aku bisa membawa mereka kalau menang, kan? Lalu kamu bisa menyelesaikan tugas?"


  Ridwan berkata, "Benar. Tapi perlu aku katakan dulu, masalah ini bukan dendam pribadi kita, tetapi konflik antara Basinas dan pihak kepolisian. Kebetulan ada tiga orang di pihak kami dan tiga orang di pihak kalian. Kalau begitu kita buat 3 ronde saja. Aku akan melepaskan mereka dan tidak akan mencampuri urusan Alex lagi jika kalian menang."


  Ridwan cukup licik. Dia baru saja mengamati dua tentara wanita di belakang Roselline. Meskipun mereka tampak gagah dan hebat, tapi kedua rekan di belakangnya juga merupakan ahli, bisa dikatakan ilmu mereka bertiga hampir setara. Heh, biar kulihat seberapa hebat kalian!

__ADS_1


  Meskipun akhirnya dia akan kalah dari Roselline, tetapi itu tidak memalukan, apalagi jika Roselline mengalahkannya, dia juga tidak mungkin memenangkan semua kompetisi. Selain itu, Roselline tampak sangat hebat, entah beneran atau bukan.


  Jika bisa mengalahkan Red Shield, maka nama Ridwan akan terkenal. Dia tampak puas setelah selesai berbicara. Sedangkan Roselline malah mengangguk dan berkata, "Kalau begitu akan ku tunjukan pada kalian apa itu ahli sesungguhnya!" Setelah itu, dia menarik kursi dan duduk. "Sandra, kamu duluan, anggap saja pemanasan."


  Sandra sangat percaya diri dengan timnya, dia menyetujui kompetisi tanpa ragu sedikitpun.


  Roselline telah bertarung selama bertahun-tahun dan memiliki banyak pengalaman. Hanya dengan melihat sekilas saja dia sudah bisa memastikan kalau kemampuan ketiga orang itu seharusnya sebanding dengan Sandra.


  Dia berharap Sandra bisa bersaing dengan lawan sesungguhnya, yang mana akan sangat bermanfaat untuk pengalaman bertempur Sandra.


  Sandra tahu bahwa pertempuran hari ini sangat penting, dan dia mencoba yang terbaik untuk stabil dan tidak menyerang dengan terburu- buru. Setelah puluhan jurus, ia menyadari lawannya juga cukup kuat, kemampuannya sama sekali tidak lebih buruk dari miliknya, dan memang agak sulit untuk mengalahkan lawan seperti ini. Namun, dia juga tidak akan langsung kalah jika bisa bertahan terus. Dibutuhkan setidaknya dua ratus jurus untuk menentukan pemenangnya.


  Gerakan keduanya secepat kilat, dalam sekejap mata sudah lebih dari 50 jurus yang mereka keluarkan. Saat masih bertarung, tiba-tiba Roselline berteriak, "Berhenti."


  Sandra segera berhenti dalam kebingungan, "Komandan, kenapa berhenti?"


  Roselline berkata: "Sandra, performamu tidak buruk. Namun, terlalu tepat dan tidak punya celah, itu sama artinya dengan tidak punya peluang."

__ADS_1


  Ridwan mencibir: "Komandan Rose, apa kamu bermaksud membiarkan orang-orangmu beristirahat sebentar? Kami para lelaki akan mengalah sedikit pada kalian, tidak masalah kok. Kalau tidak cukup, aku bisa meminta orang lain membawakan makanan ringan."


  Roselline berkata dengan dingin, "Tidak. Kami menyerah dalam pertempuran ini. Namun, kalian harus ingat kalau kami mengaku kalah bukan karena tidak bisa mengalahkan kalian, tetapi karena kami sibuk dan tidak punya waktu untuk berurusan dengan kalian. Anggap saja Basinas menang dalam ronde pertama. Pertandingan berikutnya, Lexi, selesaikan dalam waktu lima menit."


  Ridwan tidak menduga Roselline mengaku kalah. Ini agak tidak terduga. Pertandingan berikutnya? Oke kalau gitu. Ridwan menggumamkan beberapa patah kata dengan Chandro, "Dro, harus menang. Jangan gegabah. Tadi aku sudah mengamatinya, ketiga gadis ini tidak mudah dihadapi. Kita mungkin sudah meremehkan musuh. Namun, kita sudah menang 1 ronde. Asal kamu bertahan, kita juga akan dianggap menang meskipun seri."


  Chandro berkata: "Oke, jangan khawatir Pak, memangnya bisa sehebat apa seorang wanita? Tadi saja tanganku sudah gatal sekali saat Ibnu bertarung, dia tampaknya tidak enak turun tangan karena gadis di hadapannya cantik. Huh, aku tidak mesum sepertinya, pasti akan kubunuh dia. Namun, aku takut dia akan jadi cacat nantinya, jangan lupa lindungi aku, Pak."


  Ridwan tertawa sambil berkata, "Jangan khawatir, kamu pasti akan baik-baik saja."


  Di sisi lain, Lexi melangkah maju untuk bertarung. Roselline tidak menyampaikan sepatah kata pun. Lexi memandang Chandro dan berkata, "Ayo."


  Chandro mendengus, dia sedikit tidak terima, mengapa sekali giliranku malah jadi harus selesai dalam 5 menit? Meremehkanku, huh? Apa aku terlihat lebih buruk dari Ibnu? Ibnu bahkan belum pernah menang dariku, dia tidak lain hanya punya postur sedikit lebih besar dariku. Kalian ini sudah agak keterlaluan, kan?


 


 

__ADS_1


__ADS_2