Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Investigasi Polisi


__ADS_3

Sore hari, Erika menyelesaikan urusannya di perusahaan, kemudian kembali ke hotel Emperor.


Begitu memarkir mobil, dia melihat sebuah mobil polisi yang diparkir di samping mobilnya.


Segera setelah pintu mobil polisi terbuka, empat orang polisi turun dari mobil, yang memimpin adalah seorang polisi wanita cantik yang luar biasa dengan kostum polisinya.


Erika kenal dengan polisi wanita ini, dia adalah Nova Ardiansyah, Komisaris Polisi dari Brigade Polisi Kriminal kota Jakarta. Apalagi Erika dan Nova merupakan teman sekelas saat masih sekolah dulu.


Nova tidak hanya punya postur tubuh yang bagus, tetapi juga wajah yang sangat cantik, wajahnya yang halus layaknya karya paling sukses yang dibuat oleh pemahat paling hebat di dunia. Setiap jengkalnya terdapat keindahan dan aura heroik.


Meskipun mereka teman sekelas, tapi hubungan keduanya tidak begitu dekat, alasan utamanya adalah karena keduanya memiliki prestasi akademik yang sangat baik dan selalu bergilir memimpin ranking kelas. Keduanya memang sudah diam-diam berkompetisi dalam bidang akademik, tetapi malah muncul peringkat 4 idola kampus. Hasilnya, Erika melampaui Nova dengan selisih kecil dan menjadi idola kampus tercantik di kota Jakarta.


Nova yang sombong dan angkuh sangat tidak terima dengan hasil itu, oleh karena itu, meskipun keduanya memiliki hubungan teman sekelas, akan tetapi mereka tidak akur satu sama lain. Setelah lulus dari universitas, Nova memasuki tim polisi kriminal dengan koneksi kuat keluarganya, dengan cepat dipromosikan menjadi Komisaris Polisi. Status setinggi itu membuatnya semakin berjarak.


Nova masih lajang, tetapi dia mendengar bahwa Erika menikah dengan pria yang tidak berguna 1 tahun yang lalu. Saat ini, pejabat terkemuka seperti Nova yang bertemu lagi dengan pesaing utamanya di SMA mengeluarkan aura terkemukanya.


“Komisaris Ardiansyah, ada apa kamu datang ke hotelku?” Tanya Erika.


Nova tersenyum dingin dan berkata: "Presdir Buana, apa kamu tidak tahu jika terjadi kasus pembunuhan di hotelmu?"


Erika terkejut, "Kasus pembunuhan?"


Nova berjalan masuk ke dalam hotel Emperor dengan wajah tegas, "Siapa Alex Gunawan?"


Alex tahu apa yang sedang terjadi saat dia melihat istrinya masuk dengan beberapa polisi.


"Pasti si brengsek Agus meninggal di rumah sakit. Kurasa kedatangan kalian ke sini untuk mencariku akan sia-sia."

__ADS_1


"Aku Alex Gunawan!"


Alex berjalan maju.


Nova melirik Alex dan berkata, "Pada siang hari ini, apakah kamu berkelahi dengan seorang pria paruh baya bernama Agus Saputra di hotel Emperor ini?"


Alex berkata: "Agus membuat masalah di hotel kami. Aku adalah kepala keamanan hotel, jadi aku menghentikannya. Tetapi aku tidak berkelahi dengannya. Tolong jangan menyalahgunakan kata sebelum menyelidiki masalah ini."


“Kamu!” Nova tidak menyangka seorang penjaga keamanan seperti ini akan berani membantahnya? Perlu diketahui bahwa siapapun dan dari kalangan manapun itu, harus memanggilnya dengan sebutan kak Nova saat bertemu.


Erika sangat gelisah, Nova baru saja mengatakan bahwa terjadi kasus pembunuhan di hotel, apakah Agus sudah mati?


"Presdir Buana, Agus meninggal sore ini. Keluarganya melaporkan kasus ini, jadi aku perlu memeriksa rekaman cctv di hotelmu."


Dia benar-benar mati? Bagaimana mungkin? Orang itu sangat kuat, meskipun dia muntah darah siang ini, tapi itu mungkin saja karena dehidrasi atau serangan jantung. Itu adalah karmanya jika meninggal. Tapi jika Alex terlibat, maka Alex akan sangat malang.


"Silakan ikut aku, Komisaris Ardiansyah, ruang keamanan ada di lantai atas."


Nova memerintahkan beberapa anak buahnya, "Kalian perhatikan Alex baik-baik."


Alex berkata, "Aku tidak melakukan kejahatan. Lagi pula ini rumahku, aku tidak akan lari. Kalian terlalu berlebihan."


Erika membawa Nova ke sebuah ruang keamanan di lantai dua.


Nova mulai melihat rekaman cctv di restoran. Erika berdiri di sampingnya dan melihat rekaman itu dengan gelisah.


Video perkelahian Alex dan Agus berdurasi kurang dari tiga menit, Nova terus melihatnya hingga beberapa kali.

__ADS_1


Erika berkata, "Komisaris Ardiansyah, itu juga tidak ada hubungannya dengan kami jika Agus meninggal. Bagaimanapun, kita adalah teman sekelas. Kamu tidak bisa asal menuduh kami tanpa bukti."


Nova berkata: "Aku akan menanganinya sesuai prosedur."


Nova menganalisis kasus ini dengan serius, Agus muntah darah dan pingsan tiba-tiba. Nova tidaklah bodoh. Dia berpikir bahwa Agus tidak mungkin dehidrasi ataupun meninggal karena serangan jantung. Satu-satunya kemungkinan adalah dia dilukai oleh Alex.


Namun, setelah melihat video berkali-kali, yang dipukuli dari awal sampai akhir adalah Alex, bahkan Alex tidak ada kelihatan sama sekali memukul Agus. Satu-satunya kontak fisik antara keduanya adalah ketika Agus menendang Alex, lalu tubuh Alex menabrak dinding, kemudian dia memantul kembali ke arah Agus.


Nova menghentikan video itu! Dia menatap tepat saat mereka berdua melakukan kontak fisik. Alex mengangkat tangannya secara berlebihan seolah sedang mengendalikan keseimbangan tubuhnya. Tapi bahunya menabrak dada Agus dengan kuat.


Kakek Nova adalah seorang guru yang hebat, Nova telah berlatih pencak silat dengan kakeknya sejak kecil, salah satunya termasuk jurus Pulo Kali!


Apakah Alex ini seorang ahli hebat yang sebanding dengan kakek? Hanya tabrakan bahu saja bisa melukai organ dalam Agus separah itu? Lalu membuatnya mati di rumah sakit? "


Nova langsung menepis pemikiran itu.


Mustahil, Agus telah merajalela di kota Jakarta selama lebih dari sepuluh tahun dan hampir tidak memiliki lawan. Bahkan dia saja tidak mungkin bisa melukai orang separah itu hanya dengan menggunakan bahu.


Jika Alex benar-benar begitu hebat, lalu kenapa dia malah menjadi penjaga keamanan di hotelnya Erika? Dia bahkan bisa menjadi pengawal bos besar dengan gaji bulanan 200 jutaan.


Oleh karena itu, Nova menyimpulkan bahwa Alex bukanlah orang yang membunuh Agus.


Tampaknya fokus penyelidikan kasus ini adalah dengan siapa Agus berselisih atau berkelahi sebelum datang ke hotel Emperor.


Setelah memikirkan hal ini, Nova berdiri, "Presdir Buana, aku perlu membuat salinan dari rekaman cctv ini untuk dibawa kembali ke kantor, kamu tidak keberatan, kan?"


Erika berkata: "Kamu sedang menjalankan tugas, tentu saja aku tidak keberatan. Aku hanya ingin bertanya, kematian Agus tidak ada hubungannya dengan hotel kami, kan?"

__ADS_1


__ADS_2