Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Penindasan


__ADS_3

Rega berkata: "Apa yang kamu takutkan? Dengan adanya Kak Alex, kita akan membunuh para pembunuh dari organisasi Pencabut Nyawa satu per satu."


Alex berkata, "organisasi Pencabut Nyawa sangat sulit untuk ditangani, tetapi mereka tidak berani secara terang-terangan melakukan pembunuhan. Selain itu, sejauh yang aku tahu, ada satu cara untuk membatalkan perintah Pencabut Nyawa. Orang yang membeli perintah Pencabut Nyawa harus membayar denda 10 kali lipat untuk menarik kembali perintah itu."


"Kak Alex, orang yang membeli perintah Pencabut Nyawa pasti memiliki dendam pada Presdir Buana, mana mungkin dia rela menghabiskan 10 kali lipat uangnya untuk menarik kembali perintah itu? Ini ... terlalu sulit." Martin menghela nafas.


Alex berkata dengan dingin, "Selama aku tahu siapa yang membeli perintah Pencabut Nyawa, maka aku bisa membuatnya menarik kembali. Kalian bertiga perlu memperhatikan situasi akhir-akhir ini, terutama pergerakan keluarga Utama. Jika ada berita khusus, segera beri tahu aku.


Uang sewa pembunuh elit organisasi Pencabut Nyawa mencapai 10 miliar. Misi pembunuhan mereka gagal dan dua orang pembunuh terbunuh. Berita tersebut membuat Devan Utama sangat marah.


10 miliar uang sewa terbang begitu saja, tak disangka nyawa Erika begitu besar? Dengar-dengar dia kebetulan mempekerjakan tiga pengawal terbaik dari ibu kota provinsi. Tadi malam, ketika dia sedang makan di tepi Danau Runju, ketiga pengawal itu hadir dan melindunginya sekuat tenaga. Barulah dia bisa lolos.


Ide Satriya adalah mencari kakak dan kakak ipar Agus untuk membuat masalah di hotel Emperor, tetapi hasilnya diketahui oleh pihak lain dan sampai saat ini keduanya masih di kantor polisi. Untungnya, pasangan itu tidak mengakui dalangnya.


Sepertinya aku harus bertemu Erika!


Ada satu hal lagi yang membuat Devan sangat khawatir.


Devan punya pacar baru bernama Nia Rahmat. Nia Rahmat adalah empat wanita tercantik di SMA No. 1 kota Jakarta bersama Erika, Nova dan Mega Utama. Saat ini dia bekerja sebagai direktur sebuah bank.


SMA No. 1 Jakarta kaya akan wanita cantik, apalagi empat wanita tercantik di angkatan waktu itu.


Meskipun Devan memiliki latar belakang keluarga yang bagus, namun kondisi keluarga Nia juga tidak kalah, oleh karena itu Devan juga menghabiskan banyak tenaga untuk mendapatkan Nia. Terutama, dia berjanji pada Nia bahwa dia akan mendapatkan Villa Mentari No. 9 di puncak Gunung Runju hari ini.


Devan sudah membuat anggaran terlebih dahulu, dia pikir 368 miliar cukup untuk membeli vila itu, jadi dia menyiapkan dana 1 triliun. Dia berencana untuk mengendarai Bugatti Chiron edisi terbatas itu dan membawa Nia ke KUA untuk mendaftarkan pernikahan setelah membeli villa mewah ini.

__ADS_1


Tapi siapa sangka akan mjncul seorang pemuda asing di lelang pagi ini, tidak peduli berapa banyak tawaran yang diberikan Devan, dia akan selalu menambahkan 1 miliar lebih banyak.


Saat harganya melebihi 433 miliar, Devan sedikit panik.


Pemuda yang menantang dirinya bukanlah anggota dari sepuluh keluarga teratas di Jakarta, jika tidak, dia tidak akan menantangku seperti ini. Aku keponakan Rangga Utama, siapa yang berani merebut sesuatu yang aku inginkan?


Apakah dia dari keluarga Wibowo di ibu kota provinsi? Huh, biarpun itu keluarga Wibowo, kalian juga tetap harus memberi hormat pada keluarga Utama!


Devan memandang Nia yang cemberut, lalu menawar untuk terakhir kalinya: “499 miliar!” Ini sudah merupakan batas kendali keuangan Devan. Jika jumlah ini terlampaui, begitu perusahaan kekurangan dana, dan paman ketiga mengetahuinya, dia pasti akan tamat!


Pemuda satunya sangat tenang, dia mengangkat plat nomornya: “501 miliar.” Dia bahkan tidak berpikir dulu. Ini sudah pasti penindasan finansial.


Devan sangat marah sampai mengertakkan gigi. Saat ini, asisten di sampingnya mengingatkan: "Presdir Utama, kita tidak bisa menambah lagi. Jika tidak, Anda tidak dapat menjelaskannya jika ketahuan oleh tuan ketiga. Selain itu, Anda harus berhati-hati. Pihak lain mungkin adalah orang kepercayaan pemilik rumah ini. "


Diiringi oleh suara ketiga pembawa acara: “501 miliar, tiga kali, deal!” Semuanya sudah diputuskan begitu suara palu terakhir dibunyikan.


Nia berdiri tanpa menyapa Devan, dan meninggalkan tempat pelelangan.


Devan juga sangat marah, lalu berkata pada asistennya: "Erwin, buat janji dengan Erika untukku, aku ingin mengobrol dengannya."


Erika kebetulan berada di lokasi konstruksi. Dia bingung ketika mendengar Devan ingin bertemu dengannya: "Devan adalah keponakan Rangga Utama, Direktur Utama Group, dan juga General Manager departemen real estat Utama Group. Untuk apa dia mencariku? "


Bagaimanapun, Erika harus menemui Devan, keluarga Utama adalah keluarga kaya nomor satu di Jakarta, keluarga Buana tidak bisa menyinggung mereka.


Erika tidak memberitahu Alex, dan bahkan tidak mengganti pakaiannya. Dia langsung pergi ke tempat yang ditentukan oleh Devan dengan pakaian kerja di lokasi konstruksi.

__ADS_1


Setelah Devan dan Erika bertemu, Devan langsung ke intinya, "Presdir Buana, pertama-tama selamat karena telah memenangkan lahan No. 1 Proyek Teluk Indah. Aku sangat iri."


Erika berkata sambil tersenyum: "Presdir Utama terlalu berlebihan. Aku hanya berusaha untuk mencukupi nafkah keluargaku saja."


Devan berkata lagi, "Hari ini aku mengundang Presdir Buana karena satu hal."


"Silakan katakan, Presdir Utama."


Devan mengangguk, "Apa kamu sudah mendengar berita kepindahan keluarga Chandra dari Jakarta beberapa hari yang lalu?"


Erika menjawab: "Iya."


Devan tersenyum, "Tidak ada yang dapat menandingi kekuasaan! Keluarga Chandra telah menghalangi jalur bisnis keluarga Wibowo, mereka sudah ditakdirkan untuk dibasmi."


Tatapan Erika tiba-tiba menjadi tegas, kata-kata Devan penuh dengan makna, dia segera mengerti bahwa dalang yang bersembunyi untuk menyerangnya adalah Devan.


Erika tetap diam, "Mungkinkah hotel Emperor juga menghalangi bisnis Presdir Utama?"


Devan tersenyum dan berkata: “Tidak juga. Namun, seperti yang kamu ketahui, keluarga Utama akan mengembangkan dan membangun dermaga kapal pesiar di Teluk Indah dengan pemerintah.” Devan sengaja mengatakan kata pemerintah dengan nada tinggi.


"Paman ketigaku menyukai hotel Emperor dan tanah di sekitarnya."


"Presdir Buana, aku mengundangmu hari ini untuk membicarakan sesuatu, aku ingin membeli hotel Emperor, katakan saja harganya."


Setelah Devan selesai berbicara, dia memandang Erika dengan penuh kemenangan. Hari ini, dia mengungkapkan semua fakta, dan tidak lagi menyembunyikan apa pun. Aku memang berniat menindasmu. Jika kamu berani meminta harga tinggi, aku akan membuatmu menghilang dari Jakarta seperti keluarga Chandra.

__ADS_1


__ADS_2