
Semua orang menatap pemandangan ini dengan kaget, tetapi tidak ada yang berani bersuara. Tatapan mereka terlihat agak canggung. Sebenarnya mereka tidak akan merasa kaget jika hal ini dilakukan oleh orang dewasa, tapi Tuan Justin ini baru berusia 13 tahun.
Sebenarnya Alex tidak takut pada Tuan Justin, dia bahkan merasa kalau Tuan Justin hanyalah anak kecil yang terlalu dimanjakan.
Alex berendam dengan nyaman di kamar hotel, sedangkan kedua pengawal Tuan Justin berjaga di luar kamarnya dan terkadang akan menjulurkan kepala untuk melihat orang yang mereka panggil.
“Kak Abdul!” Setengah jam kemudian, kedua pengawal akhirnya melihat orang yang mereka tunggu-tunggu.
Kak Abdul sangat gemuk, dia mempunyai kepala yang besar, wajah besar, mulut besar dan mata besar seperti kepiting yang berjalan menyamping.
“Ada apa?” Tanya Kak Abdul dengan suara kasar dan berjalan pelan tapi pasti.
Kedua pengawal itu segera tersenyum dan menjawab, “Kak Abdul, begini, pria ini sok hebat di depan Tuan Justin dan menyinggung Tuan Justin, makanya kami memanggil Anda ke sini untuk memberinya pelajaran.”
Ada dua orang lainnya yang mengikuti Kak Abdul dan mereka terlihat pandai bela diri karena langkah mereka berdua sangat lincah.
Kak Abdul pun menganggukkan kepala setelah mendengarnya, “Bagus, kalau begitu hajar saja.” Dia melirik ke kiri dan kanan, lalu kedua saudara yang dibawanya lekas mengetuk pintu.
“Buka pintu! Buka pintu! Polisi mau mengecek kamar!” Tampaknya mereka bukan pertama kalinya melakukan hal semacam ini.
“Eh, iya iya, sebentar!” Alex merasa ketukan pintu ini amat keras, tapi dia tidak begitu peduli ketika mendengar polisi mau mengecek kamar. Dia segera memakai sendal dan pakaian sebelum pergi membuka pintu.
Tapi dia segera menyadari ada yang tidak beres: Di luar ada lima pria perkasa! Yang paling penting ada dua pengawal Tuan Justin di antara mereka!
“Em, bung, apa kalian ngak salah kamar?” Kedua saudara yang dibawa Kak Abdul langsung mendobrak pintu dan ingin masuk ke dalam dengan paksa ketika Alex hendak menutup pintu.
“Ngak usah banyak ngomong! Kami mau periksa kamar!” Tatapan mereka berdua sangat galak, lalu mereka mengulurkan tangan bersama-sama untuk mencekik Alex.
__ADS_1
Alex mundur beberapa langkah sambil mengerutkan kening. Untungnya ada karpet dan gerakan Alex sangat akurat, “Eh? Kalian ini mau ngapain?”
“Bisa ngapain lagi, tentu saja memukulmu!” Kedua pria itu langsung meninjunya, sedangkan Kak Abdul berdiri di belakang sambil menonton seberapa lama Alex bisa bertahan.
“Eh!”
“Aduh!”
Hal yang membuat Kak Abdul tercengang adalah kedua saudaranya yang sudah belajar bela diri selama kurang lebih enam tahun biasanya bisa mengalahkan tiga sampai lima pria perkasa, tapi mereka langsung jatuh seperti kertas ketika menghadapi Alex.
Sedangkan Alex menatap mereka yang jatuh ke lantai dengan senyuman sombong, tampangnya seperti mereka berdua jatuh sendiri dan tidak ada kaitan dengan dirinya.
“Hebat juga kau! Terima ini!” Tingkat bela diri Kak Abdul sudah mencapai tingkat master, jadi tinjuannya sangat kuat dan akurat. Kali ini dia mencoba yang terbaik untuk menjatuhkan Alex dengan satu pukulan.
Awalnya Kak Abdul mengira dirinya sudah sangat hati-hati, tapi dia benar-benar telah meremehkan Alex.
Alex hanya menegakkan telapak tangannya untuk menghadang tinju Kak Abdul, kemudian lengannya tiba-tiba mengerahkan kekuatan!
Satu gerakan! Lawan hanya menggunakan satu gerakan!
Syut! Syut! Kedua pria perkasa itu dilempar keluar oleh Alex seperti melempar tas sehingga menabrak Kak Abdul dan dua saudaranya lagi.
Bang! Pintu tertutup, sedangkan Kak Abdul dan pengawalnya hanya bisa berbaring di koridor.
Kak Abdul berusaha untuk berdiri, lalu berkata dengan kesal, “Hebat sekali bocah ini! Apa latar belakangnya? Apa dia memang datang untuk mencari masalah dengan Tuan Justin? Kita harus hati-hati, cepat panggil orang!”
Sebenarnya Kak Abdul tidak hanya perlu memanggil orang, tapi dia juga harus memanggil ambulans untuk mengantar kedua saudara yang dibawanya ke rumah sakit karena mereka berdua dipukul hingga pingsan oleh Alex!
__ADS_1
Kedua pengawal Tuan Justin juga babak belur, tapi mereka masih dalam kondisi tercengang, “Kak Abdul, apa yang harus kita lakukan jika dia ingin melawan Tuan Justin?”
“Emangnya bisa gimana lagi? Kota Tomohon adalah wilayah Tuan Richard! Aku ngak percaya bocah yang datang dari luar kota ini bisa melakukan kerusuhan besar di sini! Lapor ke Kak Gala dulu.” Kemudian, Abdul mengeluarkan ponsel dan menelepon Kak Gala.
“Kak Gala, maaf mengganggu. Hari ini kami dihajar oleh bocah dari luar kota…” Kak Abdul berkata dengan kaget saat mendengar nada sibuk sebelum kalimatnya selesai, “Ha? Kak Gala! Mengapa Anda menutup teleponku? Ya Tuhan!”
Sebenarnya Kak Abdul tidak termasuk preman hebat di antara para anak buah Tuan Richard, tapi bagaimanapun dia juga termasuk ketua dari preman tingkat rendah.
Kak Gala benar-benar meremehkan mereka. Dipukul? Ya sudah, balas dendam sendiri! Aku ngak peduli dengan hal sepele kayak gini!
Hal yang membuat Kak Gala marah adalah karena para bajingan ini selalu menyuruhnya turun tangan karena masalah sepele! Bagaimanapun dia juga seorang pria, dan dia sedang bersenang-senang dengan para wanita, tapi bisa-bisanya orang di seberang telepon mengatakan “Maaf” pada saat ini? Biasanya Abdul sangat sombong, tapi setelah dipukul malah menjadi pengecut, dasar banci.
Kedua pengawal Tuan Justin segera menekan filtrum kedua saudara Kak Abdul, akhirnya kedua saudara itu pelan-pelan bangun, “Kenapa aku? Kak Abdul, mengapa aku berbaring di koridor?”
Kak Abdul memarahi mereka, “Kalian berdua sungguh bodoh, bisa-bisanya pingsan karena satu pukulan orang. Benar-benar bikin malu.”
Kedua saudara itu merasa bersalah, “Em, Kak Abdul, apa kamu sudah memukul bocah itu?”
Wajah Kak Abdul memerah, “Ayo pergi!”
“Pergi?” Kedua saudaranya merasa heran, tapi sekujur tubuh mereka terasa sakit! Mereka tidak tahu bahwa mereka berdua telah dilempar oleh Alex ketika pingsan.
Kak Abdul memukul kepala mereka, lalu berkata, “Brengsek, kalian ngak mau pergi? Emangnya mau nunggu dia beri kalian makan?!”
Aldo adalah orang yang bertugas mengawasi Hotel Lestari sekaligus kapten tim satpam. Tapi hari biasanya dia tidak perlu mengawasi keamanan karena tugasnya adalah turun tangan pada orang yang membuat kerusuhan.
Makanya saat ini dia sedang bersenang-senang dengan seorang pelayan di kamar hotel, tapi pintu kamarnya malah diketuk kuat.
__ADS_1
“Sialan! Siapa sih yang berani menggangguku?” Aldo menjadi marah, dia lalu turun dari tubuh pelayan wanita, kemudian membuka pintu sambil berkata dengan mengerutkan kening, “Abdul, ngapain kamu ke sini?”
“Eh? Kak Aldo jangan tutup pintunya! Aku benar-benar ada masalah!” Abdul tersenyum dan berkata dengan suara kecil, “Tahu ngak kak, ada master hebat yang datang ke Hotel Lestari dan ingin melawan Tuan Justin!”