
Setelah berpikir dengan tenang, Alex berpikir lebih baik segera membawa Erika pergi dari tempat berbahaya ini.
Oleh karena itu, dia segera kembali ke ruang makan, Erika telah selesai berdansa dan sedang menunggunya.
Alex memanggil Erika dan membisikkan beberapa kata, dia membawa Erika pergi diam-diam tanpa berpamitan dengan Pramulyo.
Pramulyo menyusul dan bertanya, "Kak Alex, kalian mau kemana?"
Alex tersenyum, "Aku kebanyakan minum tadi, jadi mau cari udara segar."
Pramulyo berpikir sejenak sebelum berkata,“Kalau begitu, kenapa tidak ke balkon saja?” Pramulyo menunjuk ke balkon di lantai dua di sisi kanan koridor.
Alex menjawab, "Kurasa tidak perlu. Balkon terlalu berbahaya, aku khawatir akan ada penembak jitu!"
Pramulyo menatap tajam, "Kak Alex, apa maksudmu? Apa kamu khawatir akan ada pembunuh di rumahku? Aku akan segera membunuhnya kalau dia berani. " kata Pramulyo sembari mengeluarkan pistol.
Seberapa waspadanya si Alex? Dilihat dari gerakan dan sorot matanya, dia tahu bahwa Pramulyo ingin menyerang dirinya.
Mata dan tangan Alex sangat lincah, dia bergegas melangkah maju, dan mematahkan pergelangan tangan Pramulyo, kemudian mengambil pistol itu.
Lalu, Alex membanting tubuh Pramulyo langsung ke balkon.
Pramulyo bangun sambil menahan rasa sakit, seketika dia mendengar suara tembakan.
Sebuah peluru melesat dan langsung menembus tubuh Pramulyo, tubuhnya seketika terjatuh ke lantai.
“Benar saja, ada penembak jitu! Erika, ikut aku.” Alex menarik Erika dan segera berlari ke belakang.
Mendengar suara tembakan, seisi ruang makan langsung menjadi kacau, Shinta serta beberapa tamu datang untuk memeriksa.
__ADS_1
“Ayo pergi, mereka telah memasang bom waktu di gedung ini.” Alex mendengar suara penghitung bom waktu saat melarikan diri ke lantai dua.
Alex tahu bahwa penembak jitu telah memblokir pintu depan dan dia hanya bisa kabur lewat halaman belakang vila, dia menendang jendela hingga terbuka dan melompat turun terlebih dahulu. "Lompat ke bawah, aku akan menangkapmu."
Alex menangkapnya begitu dia melompat ke bawah, dan keduanya dengan cepat bersembunyi di balik tanaman di luar villa. Tepat pada saat ini, sebuah ledakan keras terdengar dari dalam villa.
Daya ledaknya begitu dahsyat sehingga hampir menerbangkan atap bangunan, dan beberapa pengusaha malang yang berada di dalam gedung itu hanya sedikit kemungkinan untuk bertahan hidup. Alex berkata, "Bahkan istri dan teman Pramulyo semuanya terbunuh. Pembunuh di balik ini semua benar-benar kejam. Dia mengorbankan begitu banyak orang hanya demi membunuh kita."
Erika sangat ketakutan sekarang, "Alex, untuk apa Pramulyo repot-repot melakukan ini? Kita tidak punya dendam dengannya."
Alex berkata, "Entahlah. Kita harus meninggalkan tempat berbahaya ini sesegera mungkin. Namun, aku tidak dapat menemukan penembak jitu itu."
Setelah villa meledak, Ridwan melihat dua sosok bersembunyi di balik tanaman di belakang vila dari jangkauan senapan sniper.
"Pintar juga si Alex, bisa-bisanya dia tidak mati."
Ridwan berkata dengan kejam, "Aku benar-benar tidak seharusnya menunggu sampai sekarang. Ini semua salah kakak iparmu yang idiot itu. Kalau dia keluar lebih awal, aku bisa meledakkan bom lebih cepat. Pada akhirnya, Alex tetap saja berhasil kabur."
Dewita berkata dengan marah, "Kakak iparku menyerahkan hak guna padamu, semuanya ada di bawah kendalimu. Tapi kamu malah membunuhnya?"
Dewita berkata sambil mengeluarkan ponselnya untuk menelepon kakaknya, tetapi tidak ada yang menjawab panggilan itu. Jelas, Shinta pasti sudah tewas dalam ledakkan itu.
Dewita tidak habis pikir, ponselnya jatuh ke tanah, "Kakakku sudah mati. Kakak iparku juga mati. Apa yang sudah kamu lakukan, Ridwan? Alex tidak mati, tetapi malah kakak dan kakak iparku yang kamu bunuh?"
Ridwan berkata, "Tenang, Alex belum mati." Ridwan mengeluarkan walkie-talkie dan mengarahkan beberapa pembunuh yang menyergap di luar villa untuk mengepung villa.
Dewita meraih lengan Ridwan, "Ridwan, kamu seorang pembunuh."
Ridwan sedikit kesal, "Dasar wanita gila, pergi sana. Aku akan menjelaskannya setelah membunuh Alex."
__ADS_1
Dewita berkata dengan marah: "Ridwan, sekarang aku curiga kamu membunuh kakak dan iparku atas kesalahan memberi instruksi. Atau, sebenarnya kamu sama sekali tidak peduli dengan hidup mati mereka, jadi kamu mengebom gedung ini. Targetnya adalah Alex, tapi kamu tidak keberatan berapa banyak korbannya, kan?"
Ridwan menjawab, "Benar katamu. Asalkan Alex mati, tidak apa-apa berapa banyak yang berkorban."
“Brengsek, brengsek, kamu membunuh kakakku.” Dewita marah, dia memukuli dan memaki Ridwan.
Ridwan juga sedang berapi-api saat ini, dia mengeluarkan sebuah pisau dari pinggangnya, dan menusuk jantung Dewita sembari berkata, "Dewita, kamu sudah tidak berguna bagiku. Kamu hanya akan membuatku kesulitan, atau mengekspos keberadaanku. Biar kuantar kamu bertemu dengan kakakmu."
Dewita sangat kesal. Meskipun dia marah pada Ridwan, tapi dia tidak menyangka Ridwan akan membunuhnya. Dia dan pria ini baru saja memiliki hubungan spesial. Kenapa dia bisa sekejam ini?
"Ridwan, kamu membunuhku? Binatang berdarah dingin. Aku benar-benar membencimu..."
Ridwan mencibir, "Dewita, aku akan memberitahumu sesuatu. Suamimu Zakri sebenarnya bukan dibunuh oleh Nova dan Alex, tetapi olehku."
Dewita semakin kesal setelah mendengarnya saat akan mati, "Ka, kamu?"
Ridwan melanjutkan: "Aku yang menuduh Nova, pukulan Nova sama sekali tidak membunuh suamimu. Sedangkan suamimu Zakri sengaja berbaring di sana dan tidak bergerak, awalnya dia bekerja sama denganku untuk membesarkan masalah ini. Namun, aku harus benar-benar membuat masalah ini menjadi lebih besar. Jadi, aku menghampirinya dan berpura-pura membantu Zakri. Tapi, sebenarnya aku mengambil kesempatan untuk meremukkan jantungnya. Haha, tujuanku adalah membunuh Alex dan Erika untuk membalaskan dendam kakakku. Dan, suamimu adalah korbannya."
“Brengsek, dasar biadab!” Dewita menghembuskan nafas terakhir setelah memakinya, pada akhirnya dia meninggal sambil menatap Ridwan dengan tatapan penuh dendam.
“Dasar jalang! Kamu kira aku beneran suka padamu, hah? Kamu pikir aku akan menikahi wanita yang sudah menikah sepertimu?” Ridwan menendang mayat Dewita. Lalu mengangkat senapan sniper dan mengepung ke arah belakang villa.
Pada saat yang sama, enam pembunuh berdarah dingin bersenjata yang dibawa oleh Ridwan juga mengepung tempat Alex dan Erika bersembunyi.
Di belakang area tanaman ini adalah sebuah gunung, enam pembunuh mengepung mereka dari segala sisi. Situasinya sangat gawat sekarang. Alex berkata kepada Erika, "Erika, sembunyi di sini dan jangan bergerak. Aku akan membunuh mereka."
__ADS_1