
Nova sendiri juga tahu perbedaan kekuatan antara dirinya dengan lawan terlalu jauh, tapi dia tetap berkata, “Jangan membual, angkat kepalamu, helikopter kami juga mengunci posisimu, perahu patroli kami juga akan segera sampai, kamu sudah tidak bisa kabur lagi!”
Olivia tertawa terbahak-bahak, lalu berkata, “Perkataanmu hanya benar separuh, aku memang sulit kabur kalau sendirian, tapi dengan adanya kalian berdua, maka itu akan jadi mudah!”
Saat berbicara, dia tiba-tiba melepaskan Nyonya Ningsih dan bergerak kemari sambil menodongkan pisau ke arah Nova, badan kapal bergoyang, Nova melepaskan 2 tembakan, akan tetapi tidak satupun mengenai lawan, sedangkan Olivia sendiri juga sangat lincah, dalam sekejap mata dia sudah tiba di hadapan Nova, lalu menendang pistolnya ke dalam laut.
Nova mengangkat kaki hendak menendangnya, tapi pergelangan kakinya ditangkap oleh lawan, lalu ditarik ke belakang. Kaki Nova dipaksa melakukan gerakan split di dalam kabin, kemudian Olivia meletakkan pisau di lehernya, “Gimana nak, terima atau tidak?”
Dua unit helikopter militer berputar di atas langit, orang yang berada di atas berteriak, “Dengarkan yang di bawah, segeralah menyerah, kalau tidak, kami akan menembak!”
Olivia berkata dengan santai, “Bodoh, tembak saja kalau berani, ledakkan perahuku kalau bisa!”
Orang yang berada di dalam helikopter juga telah melihat sandera di tangannya, jadi mereka tidak berani sembarangan menembak, dan hanya berputar tak menentu di atas perahunyanya. Olivia sudah mengikat Nova, “Suruh dua lalat menyebalkan itu pergi jauh-jauh, jangan sampai aku kesal dan menebas kalian satu per satu lalu kulempar ke dalam laut.”
Melihat tampangnya yang menyeramkan, Nova juga takut dia akan melukai Nyonya Ningsih karena frustasi, jadi dia berkata dengan tenang, “Kamu yang bodoh! Kamu sama sekali tidak bisa mengancam mereka dengan Nyonya Ningsih.”
Olivia menendang pantatnya dan berkata, “Masih ngeles, katakan, kenapa tidak bisa?”
Nova memarahinya dalam hati, tapi dia tetap berkata dengan tenang, “Kamu pikirkan saja, masih ada berapa banyak pria yang peduli dengan istrinya di zaman sekarang? Apalagi pejabat, mana ada yang tidak ingin terjadi sesuatu dengan istrinya?”
“Apa maksudmu?”
Nova berkata dengan dingin, “Kalau istri sahnya tidak kenapa-napa, gimana pelakor bisa naik status? Ini saja kamu tidak tahu, dasar bodoh.” Memang, di zaman sekarang orang yang sudah menjadi pejabat dan kaya, mana ada yang tidak ingin ganti mobil ataupun ganti istri?
__ADS_1
Namun, ada yang perlu dipertimbangkan juga oleh seorang pejabat, jika bercerai dengan istrinya tanpa alasan, hal itu pasti akan mendatangkan kritikan, bahkan juga akan mempengaruhi karirnya, jadi hal terbaik adalah membuat pasangannya mengidap penyakit kritis, kecelakaan, dan sebagainya.
Nova berkata, “Kamu kira bisa mengancam Pak Harun agar mendengar perintahmu dengan berbekal istrinya? Kamu sudah salah besar. Dia bisa saja meminjam kesempatan untuk membunuhnya, tidak hanya akan dapat penghargaan, dia juga bisa mewujudkan harapannya untuk ganti istri, bukannya kamu ini sedang membantunya?”
“Brengsek, dasar tidak tahu diuntung, aku pasti akan membunuhmu Harun! Berapa banyak kesusahan yang aku hadapi bersamamu dulu, hah? Sekarang kamu malah mendorongku ke dalam jurang demi pelakor? Aku masih mengira kamu mengerahkan begitu banyak orang untuk menyelamatkanku, rupanya kamu ingin membunuhku!” Nyonya Ningsih juga ikut-ikutan marah sambil menangis.
Sebenarnya, dia dengan Pak Harun sangat saling menyayangi, dia juga tahu kalau Pak Harun bukan kacang yang lupa dengan kulitnya, tapi dia sangat cerdas, dia segera mengerti maksud Nova, oleh karena itu dia memarahi Pak Harun dan juga menangis.
Olivia merasa perkataannya masuk akal, tapi dia merasa kesal melihat Nyonya Ningsih yang menangis, jadi dia mendekat dan menamparnya, “Apa ribut-ribut, kubunuh kamu kalau tidak diam!”
Nyonya Ningsih memperburuk suasana, “Aku tidak mau hidup lagi, lagian kalian semua ingin aku mati, bunuh saja aku, jadi hantu pun aku tidak akan mengampuni kalian, kalian para bajingan, dasar biadab!” Setelah mengatakannya, dia langsung berlari ke arah Olivia.
Nova juga ikut bersuara, “Tidak seorangpun dari kita yang bisa melarikan diri kalau begini terus, kita hanya bisa mati bersama!”
“Emang kenapa kalau begitu? Aku tidak takut dengan kalian.” kata Olivia sambil menjalankan perahu sambil mengendalikan Nyonya Ningsih dengan satu tangan, dia juga harus waspada dengan tindakan Nova setiap saat.
Nova berkata sambil tersenyum, “Kami sih tidak masalah, meskipun mati juga gugur untuk negara, menjadi martir adalah kehormatan untuk kami! Tapi beda dengan kamu, seorang komandan tentara bayaran mati di lautan luas, menyedihkan dan pecundang. Gimana kalau aku kasih tahu solusi agar kita semua bisa selamat dari sini?”
“Apa itu? Katakan.”
“Lepaskan Nyonya Ningsih, aku akan ikut denganmu. Dia sudah tidak ada gunanya lagi untukmu, aku bisa jadi sanderamu.”
__ADS_1
Olivia meliriknya sekilas, hatinya sedikit tergerak, “Kamu jadi sandera?” dia berpikir sejenak, lalu memutuskan, “Oke, suruh orang yang ada di atas sana membawa Nyonya Ningsih pergi dan segera kembali, mereka tidak boleh mengikuti kita lagi, kalau tidak, aku akan membunuhnya, lalu membunuhmu!”
Nova menyetujui permintaannya, dia menghubungi orang yang berada di atas helikopter dengan alat komunikasi, lalu sebuah tangga diturunkan untuk membawa pergi Nyonya Ningsih.
“Kalian bawa Nyonya Ningsih kembali dulu, jangan ikuti aku, ini perintah!”
Seperti yang diduga, helikopter terbang menjauh setelah berputar sekali di atas mereka.
Sekarang hanya Nova dan Olivia yang tersisa di atas kapal, Nova diikat di ujung kapal, sedangkan Olivia mengendarai perahu ke lautan di depan. Dalam sekejap hanya ada sebuah perahu kecil dan kedua orang di atasnya yang berada di bawah langit biru dan di atas lautan luas.
Setelah beberapa saat, Olivia menghentikan perahu saat melihat tidak ada lagi yang mengejarnya, dia kemudian mengeluarkan sedikit makanan dan minuman dari dalam kabin, lalu memakannya sedikit sebelum bertanya pada Nova, “Hei, mau minum tidak?”
Nova sudah sangat kehausan sampai bibirnya mengering, dia kemudian mengangguk, “Berikan aku air.”
Olivia mengambilkan botol air untuknya, lalu berkata, “Aku bisa memberimu air, kamu juga harus patuh padaku, dengan begitu aku bisa memberikan apapun yang kamu mau. Kalau tidak, apapun tidak ada! Aku akan membiarkanmu mati kehausan dan kelaparan.”
Tenggorokan Nova sudah kering sehingga suaranya agak serak, “Apa maumu?”
Tatapan Olivia seperti ular berbisa, dia menatap Nova dengan penuh nafsu.
Nova tahu dia adalah iblis mesum, dia juga sudah menebak pikiran kotornya itu, dia merasa jijik, sambil memarahinya dalam hati, dia juga menunjukkan ekspresi ketakutan, “Apa maumu? Jangan sembarangan!”
__ADS_1
Sebenarnya, Olivia sudah punya pikiran untuk melepaskan Nyonya Ningsih dan membuat Nova tetap tinggal, dia ingin membawa Nova kembali ke rumahnya dan menyiksanya seumur hidup untuk memuaskan nafsu mesumnya.