
Yudi telah melakukan yang terbaik sejauh yang dia bisa, setelah menyelidiki tempat kejadian, ditemukan bahwa tidak ada jejak pelaku yang tersisa di tempat kejadian.
Bernard sendiri juga tahu bahwa dirinya telah ikut serta dalam banyak pembunuhan sebelumnya, dan bahkan pernah membunuh pejabat tingkat tertentu, tapi dia melakukannya dengan aman sehingga polisi tidak dapat menemukan bukti kejahatannya sama sekali, jadi dia selamat sampai sekarang.
Sekarang Alex menggunakan cara yang sama untuk membalasnya, dan polisi juga tidak dapat menemukan bukti, jadi Alex tidak bisa diapa-apakan!
Tapi entah Yudi atau Bernard, mereka sangat yakin kalau Alex pasti pembunuhnya! Tidak hanya itu, kemungkinan besar dia sendirilah yang melakukan kasus itu!
Pukul 8 pagi tanggal 29 November, di Bandar Udara Internasional Kualanamu, Kennedy secara pribadi pergi untuk menjemput kedatangan Mr. Brown dengan membawa para pengawalnya.
Ada lebih dari selusin pengawal dan staf yang ikut bersama Mr. Brown. Salah satu di antara mereka yang paling mencolok adalah seorang pemuda berkulit putih yang tampan dengan usia sekitar 30 an tahun. Langkah kakinya ringan saat berjalan, tapi tidak ada senyum di wajahnya. Wajahnya jutek dari awal sampai akhir, seluruh tubuhnya tampak memancarkan hawa dingin yang menakutkan.
Kemanapun Mr. Brown pergi, Cartel pasti akan berada dalam jarak 2 meter darinya, dan perhatiannya hanya tertuju pada Mr. Brown. Dia akan langsung menilai faktor resiko siapapun yang ingin mendekati Mr. Brown.
Sony adalah orang yang dibawa oleh Kennedy. Ketika dia tiba-tiba muncul di depan Mr. Brown, Cartel langsung mendorong Sony hingga 2 meter jauhnya. "Mundur!" Cartel berbicara dalam bahasa Inggris dengan acuh tak acuh.
Sony terkejut, dengan keahliannya, ini adalah pertama kalinya seseorang bisa mendorongnya hingga sejauh ini.
Terlebih lagi, Sony bisa merasakan bahwa lawannya tidak menggunakan semua kekuatannya, dia hanya mendorongnya secara reflek! Tapi Sony malah tidak bisa menghindarinya sama sekali, karena kecepatan dan tenaga lawan terlalu akurat.
“Haha, Tuan Cartel memang luar biasa, hebat.” Tambo tersenyum dan melangkah maju untuk berjabat tangan dengan Cartel.
Cartel mengabaikannya, tapi dia tetap berjaga di depan Mr. Brown.
Mr. Brown tersenyum dan berkata, "Maaf, Cartel memang pengawal yang berkualitas, tapi dia tidak suka diganggu saat bekerja."
Kennedy mengangguk, "Tuan Cartel terlalu berdedikasi."
Cartel berkata, "100 ribu dolar, bayar dulu."
Kennedy tersenyum dan berkata, "Oke! Ton, segera transfer uangnya kepada Mr. Brown."
“Oke!” Ghaston juga bisa melihat dari mata Tambo bahwa Cartel memang kuat!
Karena itu, dia meminta asistennya untuk mentransfer 100 ribu dolar ke rekening Mr. Brown secepat mungkin.
__ADS_1
Setelah Mr. Brown menerima transfer tersebut, dia pun menganggukkan kepala kepada Cartel. Cartel berkata, "Kamu ingin aku menghadapi Alex? Emangnya orang itu sehebat apa? Aku perlu menemuinya segera!"
Kennedy tersenyum pahit, "Tuan Cartel, Anda telah menempuh perjalanan yang jauh, jadi mari istirahat dulu sehari."
Cartel menggelengkan kepalanya dengan arogan, "Ngak, aku mau bertemu orang itu sekarang juga."
Tambo berkata, "Tuan Cartel, ini Medan, ditambah lagi sudah siang."
Cartel berkata, "Aku ingin melawannya dengan adil dan membunuhnya dengan terang-terangan!"
Mata Kennedy berbinar, "Oke! Kalau begitu kita akan langsung ke PT. Atish!"
Tentunya, Kennedy masih harus melakukan beberapa persiapan sebelum langsung menuju PT. Atish.
Keluarga Mahari harus melakukan sesuatu saat bertindak, di satu sisi, mereka harus mengerahkan banyak orang untuk menutup sepenuhnya jalan-jalan di dekat PT. Atish sehingga terlihat oleh orang-orang. Di sisi lain, mereka juga harus menyapa polisi terlebih dahulu, dan juga memberi tahu Yudi, agar pihak kepolisian tidak datang terlalu cepat.
Di mana pun Cartelnya berada, dia akan seperti pedang yang baru saja dihunus, sekujur tubuhnya diselimuti aura yang tajam dan mematikan.
Ketika Cartel menaiki anak tangga kantor pusat PT. Atish, Alex sudah menerima berita itu sebelumnya. Setelah mengetahui tentang kondisi jalan di dekatnya, dia pun merasa ada masalah yang akan terjadi!
Oleh karena itu, Alex membawa Keano, Jasmin, Hengky, Friska dan lainnya untuk menunggu di lobi di lantai dasar.
Tetapi sebaliknya, karena pihak Kennedy punya Tambo dan Cartel sebagai tenaga inti, sedangkan di pihak Alex hanya ada Alex seorang, maka pihaknya akan tampaknya lebih lemah.
Cartel bergegas berjalan memasuki pintu utama, Hengky, Rega, Martin, dan Keano menghalanginya, "Berhenti!"
“Minggir!” Cartel maju selangkah, lalu tiba di hadapan Hengky dalam sekejap dan memukulnya!
“Hentikan!” Begitu Alex memperhatikan gerakan Cartel, dia segera melangkah ke depan Hengky, dan menepis telapak tangan Cartel.
Buk! Ketika telapak tangan kedua orang itu saling bersentuhan, tetap terdengar suara benturan meskipun hanya pukulan biasa.
Suara itu menyebabkan telinga orang-orang di sekitar mereka berdenging.
Hengky tercengang, dia juga bisa melihat bahwa Cartel adalah lawan yang sangat kuat! Jika bukan karena Alex, mungkin dia tidak akan bisa menerima pukulan ini sama sekali!
__ADS_1
Dia cepat-cepat mundur untuk memberi Alex ruang.
Begitu telapak tangan keduanya berpisah, Cartel pun menatap Alex, "Kamu yang namanya Alex?"
Alex menatapnya dengan datar, "Siapa kamu?"
"Cartel." Dia sepertinya mengira namanya sangat berpengaruh.
"Oh." Alex tidak terkejut sama sekali, "Mau ngapain ke sini?"
Cartel berkata, "100 ribu dolar untuk nyawamu."
“Haha! Terlalu banyak orang yang ingin aku mati, pede sekali kamu?” Alex membuka tangannya dan memberi isyarat agar semua orang mundur.
Keano menatapnya, "Tuan Alex, biar aku yang mulai dulu!"
Alex menggelengkan kepalanya, "Ngak perlu, dia datang untuk mencariku."
Kemudian, Alex berdiri di depan Cartel dan mengaitkannya tangannya, "Kalau begitu, ayo maju!"
“Oke.” Cartel perlahan merendahkan tubuhnya dan menatap Alex, “Aku tidak pernah menunjukkan belas kasihan, aku ngak akan berhenti sebelum kamu mati.”
Tambo memandang Alex dengan wajah dingin, dan berkata, "Alex, hari ini adalah tanggal kematianmu!"
Alex mendengus, "Jadi surat perang keluarga Mahari cuma kentut doang?"
Kennedy berkata, "Alex, dendam di antara kita sangat dalam! Surat perang tentu saja berlaku, tapi itu tergantung kamu bisa hidup sampai detik itu atau ngak!"
"Cartel, ayo!" Alex tidak lagi berbasa-basi dengan Kennedy. Sebenarnya, Alex sudah jelas dengan situasinya. Jika dia gagal, maka orang-orang di sisinya mungkin akan ikut binasa!
Jasmin, Friska dan Erika sangat gugup, karena mereka bisa melihat kesungguhan Alex.
Cartel menggenggam kedua tangannya hingga menimbulkan bunyi berderit, dan kemudian tiba-tiba menerjang ke arah Alex secepat kilat!
"Sini!" Alex berteriak, dan menyambutnya dengan tinju. Kedua sosok itu terjerat bersama seperti angin puyuh. Semua orang hanya bisa mendengar suara pukulan tanpa dapat melihat gerakan mereka dengan jelas.
__ADS_1
Dalam waktu kurang dari 2 menit, kedua sosok itu tiba-tiba berpisah 4 meter jauhnya, dan saling memandang.
Alex diam-diam memuji di dalam hatinya: Cartel ini benar-benar, orang Barat, tapi malah melatih dirinya menjadi senjata hidup, keterampilan dan kekuatannya sudah segini hebatnya!