Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 558 Menembak Farraz


__ADS_3

Selain senapan, penembak jitu itu hanya tersisa pistol. Mereka tidak menyangka Alex akan naik ke atas, jadi sangat kaget.


Ada begitu banyak penembak mengepung Alex, tapi mereka tidak berhasil. Jadi, saat ini mereka sangat kaget dengan kemampuan Alex.


Alex menyeringai, senapan di tangannya langsung menembak ke atap pabrik. Meskipun di dalam kegelapan, dia juga bisa melihat dengan jelas posisi para penembak jitu itu. Cahaya yang dipantulkan dari atas itu, membuat semua posisi penembak jitu itu terungkap.


Untuk bisa berkumpul di bawah, penembak jitu itu harus membuka lubang di bagian atap pabrik.


Sedangkan lubang itu adalah tempat mereka berada.


Saat ini, Alex sudah melihat jelas jumlah dan posisi mereka. Alex menembak mereka dengan cepat tanpa jeda sedikitpun.


Dua senapan berisi 60 peluru. Ketika kedua senapan ini menembak di waktu yang sama, pertempuran di atap sana hanya bertahan dua detik.


Ada banyak penembak jitu tidak menembak, meskipun mereka menembak juga hanya asal menembak ke arah Alex, jadi tidak akan bisa menembak dengan akurat.


Setelah membunuh penembak jitu di atas, terdengar suara dari bawah. Sepertinya sudah ada yang naik ke atas. Sebenarnya Alex bisa melawan penembak itu, tapi sekarang dia tidak ada pistol, juga tidak ingin membuang waktu untuk melakukan hal ini.


Dia langsung datang ke lubang yang dibuka penembak jitu tadi. Alex menginjak lubang itu sehingga lubang itu berubah menjadi besar, bahkan muat satu orang untuk turun.


Alex memungut satu pistol, lalu turun ke bawah melalui lubang itu.


Setelah puluhan penembak datang ke atap pabrik, mereka mengamati sekitar dengan hati-hati, tapi mereka dengan cepat memastikan kalau tidak ada orang di atap pabrik ini.


Hanya ada mayat penembak jitu!


“Ada apa ini?” Semua penembak tercengang.


Mereka tahu Alex sudah naik ke atas, tapi ke mana lagi Alex dalam waktu sesingkat ini kalau dia tidak ada di atap pabrik?


Di sisi lain, sekujur tubuh Farraz sudah dibasahi keringat dingin. Dia melihat Alex menarik kursi dan duduk di depannya dengan kaget dan takut.

__ADS_1


Bahkan Farraz menyesal, kenapa tidak menyisakan lebih banyak penembak di sisinya. Penembak yang melindunginya hanya empat orang saja, sedangkan empat orang ini sudah dibunuh oleh Alex secara diam-diam sebelum mereka bisa menembak.


Alex hanya tersenyum dingin tanpa mengatakan apa-apa.


Sementara tubuh Farraz gemetar, dia tahu kondisinya saat ini. Dia dalam hati berpikir, ‘Sampai sekarang Alex belum membunuhnya, mungkin Alex takut dengan keluarga Bazel, jadi hanya duduk di depannya. Tampaknya dia ingin bernegosiasi dengan dirinya.’


Ketika terpikir hal ini, dalam hatinya pun lega. Farraz tersenyum masam, “A ….”


Klik!


Alex mengarahkan pistol ke kepala Farraz. Farraz yang awalnya tenang segera membelalak mata, bahkan sekujur tubuhnya juga ikut gemetar sampai tidak bisa mengatakan nama Alex.


Farraz bercucuran keringat sampai punggungnya basah.


Dia selalu yakin kalau Alex akan memberi muka pada keluarga Bazel, lalu mengampuninya, sehingga di tatapannya ada rasa beruntung bisa selamat.


Dor!


Farraz membelalak mata, kemudian dirinys tergeletak. Dia sampai mati juga tidak tahu kenapa Alex bisa mendadak menembak. Kalau ingin membunuhnya, dia pasti tidak usah menunggu begitu lama!


Alex menyimpan pistol, lalu berjalan ke tempat persembunyian Geya dengan cepat. Setibanya di sana, dia langsung menggendong Geya.


Kondisi Geya semakin memburuk, dia sudah mulai demam. Alex menebak kalau bagian paru-parunya sudah infeksi.


Selain itu, Geya sudah pingsan. Kemungkinan kondisinya menjadi lebih parah sangat tinggi.


Alex berkata, “Geya, kamu harus bertahan. Sekarang, aku akan membawamu ke rumah sakit. Kamu hanya perlu bertahan belasan menit saja, dengan begitu kita sudah sampai rumah sakit. Kamu jangan tidur, apa kamu sudah dengar?”


Geya tidak bisa menjawabnya, tapi Alex percaya dia sudah mendengar.


Alex terus berlari ke depan. Karena suara tembak tadi, orang yang di atas sudah berlari ke arah Farraz. Ketika mereka menyadari Farraz sudah mati di atas kursi, ekspresi mereka pun berubah.

__ADS_1


Mereka tahu kalau mereka sudah dibohongi oleh Alex, selain itu dikalahkan dengan permainan IQ.


“Siapa brengsek ini?” Para penembak tidak mengerti kenapa ada orang yang begitu hebat hingga membuat mereka takut.


Pemimpin penembak, Micky berteriak, “Jangan biarkan dia kabur, sekarang dia pasti masih di dalam pabrik ini. Meskipun Farraz sudah mati, tapi kalau kita berhasil membunuh Alex, maka misi kita termasuk berhasil!”


Para penembak lain setuju dengan kata Micky, jadi mereka di waktu pertama menyerang keluar.


Saat ini, Alex sudah tiba di pintu barat pabrik, tangan dia memegang pistol sambil berlari ke depan. Saat ini, para preman yang menjaga di sana sudah melihat Alex, tadi mereka sudah mendengar suara tembakan sengit dari dalam, jadi mereka menebak kalau Alex sedang melakukan pertarungan sengit dengan para penembak itu.


Tapi, apa yang terjadi saat ini? Kok bisa Alex keluar dari dalam?!


Apa itu berarti tentara bayaran dan Farraz yang di dalam sudah ….


Seketika mereka tidak bisa menerima kenyataan ini. Mereka hanya menunjukkan ekspresi kaget dan tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini.


“Farraz sudah mati. Kalau kalian ingin menemaninya, boleh saja kalian menyerangku!” teriak Alex pada preman di depan.


Kata ini memastikan tebakan mereka semua. Mereka hanya menatap Alex dengan kaget. Mereka juga ingin turun tangan pada Alex, tapi setelah terpikir Farraz yang membawa begitu banyak tentara bayaran saja mati di dalam, jadi bukankah mereka akan mati kalau menyerang Alex?


Jadi, seketika para preman itu tidak berani menyerang Alex.


Mereka bukan hanya tidak berani menyerang, tetapi juga membuka jalan untuknya. Ini membuat Alex berjalan dengan lancar, mereka hanya menatap Alex yang berlari dengan takut.


Yang mereka pikiran di dalam hati adalah kelak kalau bertemu dengan Alex, harus menjaga jarak dengannya, juga tidak boleh menjadi musuh Alex.


Setelah Alex pergi tak lama, sekelompok tentara bayaran itu tiba di pintu barat. Ketika mereka tidak menemukan Alex di pintu barat, mereka pun bingung.


Kalau Alex tidak lari ke depan, jadi Alex ke mana?


Micky menghampiri seorang preman. “Apa kamu melihat Alex pergi ke mana?”

__ADS_1


__ADS_2