
Devan berkata dengan cemas: "Paman, kamu sudah berjanji untuk mengganti kerugian hotel Emperor. Bagaimana jika mereka menawar harga tinggi?"
Rangga tersenyum tipis, mengambil cangkir teh dan menyesap tehnya, lalu berkata, "Keluarga Utama kita jauh lebih kuat daripada keluarga Buana. Apa mungkin mereka seberani itu? Mereka juga ingin masalah ini segera berakhir."
Devan masih sedikit khawatir, Rangga berkata lagi: "Kamu terlalu muda dan mudah emosi. Kamu tidak akan bisa berhasil jika emosional begitu. Terkadang, kamu emmang harus menerima kekalahan agar bisa lebih baik lagi. Baiklah, kalian berdua pulanglah dulu. Besok siang, masalah ini harus diselesaikan dulu. Masalah balas dendam akan kita bahas lagi setelah keluarga Wibowo tidak lagi melindungi keluarga Buana."
“Oke. Paman, istirahatlah lebih awal.” Devan tertatih-tatih dan meninggalkan rumah Rangga bersama ayahnya.
Setelah Devan masuk ke mobil, dia berkata, "Ayah. Paman ketiga makin lama makin penakut."
Tuan kedua berkata: "Paman ketigamu punya kesulitan, perkataannya masuk akal. Jika kita melawan keluarga Wibowo, tidakkah kita mencari masalah? Lebih baik kita tahan dulu untuk saat ini, dan pikirkan cara untuk menghancurkan hubungan antara keluarga Wibowo dan keluarga Buana. Kemudian bereskan keluarga Buana. "
Devan bertanya: "Bagaimana caranya?"
Tuan kedua berkata: "Paman ketigamu tidak bisa banyak membantu dalam masalah ini, jadi kita harus melakukannya sendiri. Satriya adalah bidak catur terbaik. Keluarga Buana sekarang mengandalkan Erika. Dia pasti tidak senang. Kita bisa mencari kesempatan untuk berbicara dengannya ... "
Pada pukul 11 siang keesokan harinya, Rangga menyiapkan dua puluh meja di ruang perjamuan VIP di Restoran Akira Back. Mereka yang menghadiri jamuan makan ini adalah orang-orang yang cakap di Jakarta.
Sepuluh keluarga konglomerat di Jakarta, satu meja untuk setiap keluarga, termasuk pemimpin keluarga, kerabat kandung, dan eksekutif perusahaan.
Di antara mereka, yang paling terhormat adalah Fauzi Sutiono, Brigjenpol dari kepolisian Jakarta, kakaknya, Herman, wakil walikota Jakarta, dan Rangga adalah teman baik. Dikarena identitasnya, Herman tidak menghadiri jamuan makan hari ini. Dia mengirim Fauzi untuk mengharian perjamuan adalah untuk membantu Rangga mencegah permintaan keterlaluan dari keluarga Buana.
Di sisi keluarga Buana, Lasmi, keluarga Erika, dan keluarga Satriya yang berjumlah 10 orang diitempatkan di kursi VIP.
__ADS_1
Friska, Hengky, Rega, Martin, dan rombongan yang dibawa Friska dari provinsi juga ditempatkan di satu meja.
Dengan kemunculan Rangga, pertemuan kedua keluarga resmi dibuka.
Karena kedua belah pihak telah berkomunikasi tadi malam, maka pertemuan hari ini sangat sederhana. Pertama-tama, Brigjenpol Fauzi mengumumkan masalah kasus ini, Fauzi menyatakan bahwa staf perusahaan keluarga Utama menyerang keluarga Buana karena menerima perintah dari Willy. Ini bukanlah maksud dari Devan. Setelah Devan menerima informasi, dia segera menuju ke lokasi untuk menghentikannya, tetapi sudah terlambat.
Setelah menghilangkan tuduhan terhadap Devan, Brigjenpol Fauzi kembali menyatakan bahwa staf perusahaan keluarga Utama berselisih dengan penjaga keamanan hotel Emperor, dan pada saat yang sama, seorang pria kulit hitam bertubuh besar muncul di tengah perkelahian. Asal orang ini tidak diketahui. Setelah diselidiki oleh pihak kepolisian, orang ini tidak ada hubungannya dengan keluarga Buana. Dapat dianggap bahwa orang ini memiliki dendam pribadi dengan Devan. Karena itu, cedera Devan tidak ada hubungannya dengan keluarga Buana.
Singkatnya, maksud Brigjenpol Fauzi adalah konflik kedua belah pihak adalah suatu kesalahpahaman.
Terakhir, Brigjenpol menambahkan: "Para pemimpin di tingkat provinsi dan kota sangat mementingkan kasus ini karena ada begitu banyak orang yang terlibat dan lebih dari 200 orang terluka. Saat ini, Willy sedang dalam tahap penangkapan nasional. Tentang konflik antara kedua belah pihak, masalah kompensasi ekonomi akan diselesaikan secara pribadi oleh kedua belah pihak. "
Rangga memandang Friska dan berkata, "Nona Friska, Brigjenpol Fauzi baru saja menjelaskannya. Hari ini, nyonya besar dari keluarga Buana juga telah datang, kita akan membahas masalah kompensasi. Pertama-tama, aku meminta maaf kepada nyonya besar dari keluarga Buana atas nama keponakanku. Devan masih muda. Dia gagal mendisiplinkan bawahannya dan menyebabkan kerugian besar bagi hotel Emperor keluarga Buana. Begini saja, katakan saja jumlahnya, aku akan meminta Devan membayarnya langsung di sini. "
Dia dengan cepat berdiri dan berkata, "Tuan Rangga, ini terlalu berlebihan. Brigjenpol Fauzi juga baru saja mengatakan bahwa konflik antara kedua belah pihak disebabkan oleh kesalahpahaman. Aku sudah sangat berterima kasih karena Tuan sudah memberi kami keadilan hari ini. Bagaimana mungkin kami masih menginginkan kompensasi darimu? "
Rangga tersenyum, "Nyonya, meskipun Devan adalah keponakanku, tapi yang melakukan kesalahan pasti harus menerima hukuman. Devan?"
Devan dengan cepat berdiri, "Aku di sini, paman."
Rangga berkata dengan wajah cemberut: "Aku sudah mengatakan yang harus aku katakan. Sekarang giliranmu."
Devan tersenyum dan berkata, "Nyonya besar, aku sangat menyesal atas apa yang terjadi kemarin. Bawahanku Willy sangat menjengkelkan. Tanpa izinku, dia bertindak seenaknya, dan menyebabkan kerugian besar pada kalian. Terutama, beberapa pengawal di pihak Nona Friska juga terluka karena kelalaianku. Sebagai General Manager perusahaan, aku harus bertanggung jawab. "
__ADS_1
Devan mengeluarkan dua kartu bank dari sakunya, "Dalam dua kartu ini, masing-masing ada 4 miliar. Satunya untuk Nona Friska."
Devan mendatangi Friska dan berkata, "Nona Friska. Karena tidak saling mengenal dan salah melukai bawahanmu, kamu harus menerima biaya pengobatan ini."
Friska juga tidak sungkan, dia mengangguk, dan meminta Hengky untuk menerimanya.
Devan mendatangi Lasmi lagi, dan memberikan kartu bank dengan kedua tangannya. Lasmi mengangguk, saat hendak mengambilnya.
Tiba-tiba, Alex berkata: "Tunggu!"
Melihat Alex berdiri dan berbicara, Devan sangat kesal, "Alex, apa yang ingin kamu lakukan?"
Alex berkata, "Devan, aku ingin mengingatkanmu. Meskipun nenek adalah kepala keluarga Buana. Namun, perwakilan hukum dari hotel Emperor adalah istriku, Erika. Kamu mengirim 800 orang untuk merobohkan hotelku dan melukai penjaga keamanan kami. Apa kamu merasa hebat dengan hanya mengeluarkan 4 miliar? "
Devan mengertakkan gigi dan bertanya: "Lalu, berapa yang kamu inginkan?"
Satriya menyela dan berkata: "Alex, hari ini Tuan Rangga dan nenek yang sedang bernegosiasi, apa yang kamu lakukan? Nenek saja tidak mengatakan apa-apa, apakah kamu menganggap Beliau tiada?"
Alex tersenyum tipis, "Jika kamu ingin bertanya begitu, aku juga perlu bertanya apakah Nenek masih mengganggap keberadaanku ini ada?"
Lasmi kaget, "Alex, apa maksudmu?"
Alex berkata, "Nenek, Anda sudah semakin tua. Hotel Emperor adalah milik Erika. Biarkan aku yang bertanggung jawab atas masalah ini."
__ADS_1