Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Nggak Tahan Dipermalukan


__ADS_3

“Adi sudah mati! Dia bunuh diri di kota AL!”


“Apa?! Mana mungkin Adi Rozelle yang merajalela di kota AL itu bunuh diri?!”


“Memangnya apa yang aneh? Sesuatu seperti itu terjadi kepada Adi karena dia telah menyinggung Tuan Alex.”


“Kenapa Adi bisa begitu buta? Tuan Alex itu sudah menjadi pemimpin nomor satu di Kota Manado!”


“Informasi yang kamu dapatkan pasti terlalu sedikit, kan? Katanya yang Adi singgung adalah temannya Tuan Alex.”


“Oh? Teman apa? Kekasihnya, maksudnya?”


“Aku nggak tahu kalau soal itu! Intinya, keluarga Lucky sendiri yang mengabarkan bahwa Adi bunuh diri.”


Semua orang dari penjuru Provinsi Sulawesi Utara sedang membicarakan berita ini.


Menyinggung seorang Alex berarti sama saja dengan mencari kematian!


Jaz dan seluruh keluarga Lucky juga nggak berani menampakkan wujud mereka lagi setelah pemakaman Adi. Sosok yang dulunya disebut merajalela kini sudah nggak ada lagi.


Sebenarnya, bukan Jaz ataupun empat pengawal terhebat yang menyebarkan berita itu.


Mereka memang merupakan saksi, tapi mereka nggak berani menyebarkan berita semacam itu.


Pelakunya justru adalah mereka yang bekerja untuk keluarga Lucky. Sepertinya mereka mendengar gosip dan menebak-nebak sendiri, lalu menyebarkannya ke penjuru kota.


Para peziarah di sekitar gedung cabang PT. Atish masih belum pergi juga.


Tempat itu masih ramai meski sudah 10 hari berlalu. Polisi pun harus mengirimkan lebih banyak personel untuk mengatur lalu lintas.


Sementara itu di rumah Keluarga Japari, suasana di dalamnya terasa sangat tegang walaupun terlihat biasa saja dari luar.


Di satu sisi, Suseno dan para tentaranya berjaga di sekeliling kediaman Keluarga Japari untuk memantau pergerakan mereka.


Di sisi lain, Stevanus menyuruh bawahannya untuk berjaga melawan kelompok Suseno sekaligus menghalangi serangan dari pihak Dakson.


Wajah Richard langsung nampak belasan tahun lebih tua begitu mendengar kegiatan berziarah orang-orang ini.


Dia dengan tegas melarang semua anggota Keluarga Japari untuk mencari konflik secara terang-terangan dengan Alex!

__ADS_1


Terlebih lagi, Richard merasa nggak bisa menjalani hidupnya dengan tenang setelah mendengar berita bunuh diri yang Adi lakukan. Hal ini dikarenakan dia sudah pernah merasakan sendiri betapa hebatnya Adi.


Tiga tahun yang lalu, saat Gala pergi ke kota AL untuk menyampaikan perintah penaklukkan yang dikeluarkan oleh Richard, dia dan Adi bertarung imbang.


Untung saja ada Dodo, Raja Kaki Utara. Dodo tiba di lokasi pertarungan dan mengalahkan Adi hanya dengan satu gerakan sehingga barulah Adi bersedia membayar upeti kepada Richard.


Akan tetapi, sekarang Adi malah harus meminta maaf dengan nyawanya sendiri karena sudah menyinggung teman Alex! Bisa dibayangkan seberapa hebatnya kemampuan Alex!


Richard merasa situasi saat ini sudah benar-benar nggak ada harapan lagi, jadi dia menyuruh Rafatar untuk mengirimkan semua harta yang telah terkumpul.


Ketika mobil pertama dikirimkan pada malam buta, mobil itu tiba-tiba “lenyap ditelan bumi” di saat belum melaju lebih dari 60 kilometer!


Personel di dalam mobil itu nggak bisa dihubungi dan mobilnya juga nggak bisa ditemukan!


Richard pun menjadi sangat kebingungan. Dia mengirim banyak bawahannya untuk mencari keberadaan mobil itu, tapi tetap saja belum ada perkembangan apa-apa setelah beberapa hari berlalu!


“Kurang ajar! Berani-beraninya membajak mobil kita! Ini pasti bukan perbuatan Dakson, melainkan Alex!” kata Stevanus dengan sangat marah.


“Benar juga! Stevanus, sepertinya baik Dakson maupun Alex sedang memaksa kita untuk bergerak lebih dulu!” sahut Richard dengan ekspresi muram.


“Di Kota Tomohon, Dakson itu bagaikan seekor tikus tanah yang nggak mau muncul ke permukaan. Aku juga nggak bisa tampil di hadapan umum untuk saat ini, jadi sulit kalau harus bergerak lebih dulu,” kata Stevanus.


Stevanus menggertakkan giginya dengan penuh kebencian, “Mereka semua itu bajingan! Nggak tahu diuntung! Kalau sampai aku melihat mereka, akan kubunuh mereka satu per satu tanpa ampun!”


Rafatar tiba-tiba menimpali, “Oh, ya! Tuan Muda Stevanus, akhir-akhir ini semua orang itu berkumpul di Kota Tomohon ...” Dia memutar matanya, “Jangan-jangan mobil berisi harta milik kita yang menghilang itu diperebutkan oleh para kelompok bawah tanah itu?!”


Richard mengangguk dalam-dalam, “Ya, perkataan Rafatar masuk akal juga. Inilah yang disebut dengan ‘semua orang akan menghabisi lawan yang sudah jatuh’. Orang yang menolong tepat pada waktunya memang tidaklah sedikit, tapi jumlah mereka yang menghabisi lawan yang sudah jatuh sebanyak ikan gurame yang melintasi sungai!”


Dor! Dor!


Dua buah suara tembakan tiba-tiba bergema menembus langit malam!


Siiing! Stevanus bergegas keluar dari ruangan dan berseru ke arah alat komunikasi, “Perhatian, semuanya! Siapa yang bisa memberitahu aku dari mana peluru itu berasal?!”


“Lapor, Letnan Kolonel! Nama saya adalah Cars! Menurut penglihatan saya, kedua tembakan itu berasal dari puncak gunung di bagian utara! Saya curiga orang-orang Dakson sedang bersembunyi di daerah tersebut!”


“Apa ada korban yang terluka?”


“Sejauh ini belum ada! Mungkin saja pihak lawan hanya sekedar memperingatkan kita?”

__ADS_1


“Cars, pimpinlah pasukan untuk menyisir gunung dan temukan penembak dari pihak lawan!” perintah Stevanus.


“Siap, laksanakan!” Cars menyanggupi perintah yang dia terima. Dia membawa empat orang prajurit lainnya dan diam-diam menyusuri puncak gunung.


Di sisi lain, Stevanus menyuruh para prajurit yang berjaga di sekitar rumah Keluarga Japari untuk tetap waspada dan bersiap menghadapi pertempuran.


Akan tetapi, Cars tidak berhasil menemukan petunjuk apapun hingga subuh menjelang dan dia pun kembali dengan kekecewaan.


Pasukan Stevanus juga sangat kelelahan karena berjaga dengan penuh kewaspadaan sepanjang malam.


Malam keesokan harinya, Stevanus menyuruh pasukannya untuk berbaris menjadi dua regu dan terus waspada.


Wuuung! Tepat pukul 12 malam, sebuah drone tiba-tiba muncul pada ketinggian lebih dari 20 meter di atas kompleks rumah Keluarga Japari. Terbangnya cepat sekali dan jalur penerbangannya begitu acak-acakkan!


Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Pasukan Stevanus melepaskan tembakan mereka begitu melihat drone itu!


Akan tetapi, siapa pun yang mengendalikan drone itu ternyata sangat berpengalaman. Drone itu menghindari tembakan dengan sangat cepat dan setelah berputar setengah lingkaran, ia terbang kembali ke tempat asalnya dan menghilang dalam sekejap.


“Itu pasti perbuatan musuh yang ingin mengintai formasi kita!” kata Stevanus dengan sangat marah.


“Letnan Kolonel Stevanus, sepertinya ada banyak ahli yang bekerja untuk pihak musuh.” Weling ikut mencibir.


Stevanus mengangguk, “Benar juga! Terlihat jelas sekali Dakson mengeluarkan banyak uang karena dia bisa mempekerjakan seorang penembak jitu seperti Raymond.”


“Lapor, Letnan Kolonel Stevanus! Kita kehilangan kontak dengan Sadam!”


“Apa?! Segera kirimkan posisi terakhir Sadam sebelum kita kehilangan kontak dengannya kepada semua orang! Siapa pun yang berada paling dekat dengannya bergegaslah ke sana! Tetap waspada! Pastikan keselamatan diri sendiri dulu saat bertemu dengan musuh!” Stevanus segera mengeluarkan perintahnya.


“Siap!”


Tidak lama kemudian, semua anggota menerima lokasi keberadaan Sadam barusan. Stevanus juga melihatnya dan dia pun memerintahkan, “Weling, temukan Sadam! Cari tahu apa yang terjadi padanya!”


“Baiklah,” jawab Weling menyetujui. Dia membawa empat orang prajurit untuk ikut serta dan pergi ke arah lokasi Sadam yang terletak di suatu tempat di sisi belakang kediaman Keluarga Japari.


10 menit kemudian, Weling pun melapor, “Lapor, Letnan Kolonel Stevanus. Sadam sudah mati.”


“Weling, bersembunyilah dengan baik dan jangan sampai ketahuan. Amati situasi musuh di situ!” perintah Stevanus sambil menghela napas dalam hati, “Musuh sudah tiba! Semuanya, bersiaplah untuk bertarung!”


Stevanus melakukan berbagai macam persiapan dan perencanaan untuk bertempur, tapi pada akhirnya nggak ada satupun musuh yang datang, seolah-olah pembunuh yang menghabisi nyawa Sadam mendadak lenyap.

__ADS_1


__ADS_2