Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Dituduh


__ADS_3

Yang berada di hadapan mereka adalah Nova, ekspresi wajahnya datar dan tangannya sedang diborgol, di belakangnya juga terdapat dua orang pria tangguh dari Basinas yang saat ini sedang menahannya.


  Ridwan berkata sambil tersenyum jahat, “Kapten Ardiansyah, katakanlah, tujuanmu datang sendirian ke Basinas apa untuk menyelamatkan Alex?”


  Nova berkata, “Untuk apa ditanyakan kalau sudah tahu.”


  Ridwan berkata:”Seorang Alex saja sampai melibatkanmu dalam kasus pembunuhan. Ini sama sekali tidak sepadan. Aku tidak mengerti, mengapa kamu bisa bersekongkol dengan Alex? Asal kamu tahu ya, bersekongkol dengan gangster seperti Alex tidak akan membuahkan hal baik untukmu."


  Nova berhenti berbicara menghadapi pertanyaan Ridwan, dia tahu bahwa tidak ada gunanya mengatakan apapun sekarang, dan tidak ada yang bisa mengatasi masalah hari ini. Dirinya hanya punya satu pilihan, yaitu mati. Namun, dia tidak rela jika harus mati begitu saja. Erika dan Alex dibawa ke ruang pertemuan kecil di sebelah, dan diinterogasi oleh orang lain.


  Ridwan pasti sudah merencanakannya sejak awal, dia ingin melibatkan Alex melalui masalah Nova, dan sengaja membesar- besarkan masalah ini. Entah situasi genting seperti apa yang dihadapi Alex sekarang? Sepertinya mereka bertiga tidak akan berakhir dengan baik.


  Melihat Nova tidak bersuara, Ridwan memadamkan puntung rokok sambil berkata, "Nova, aku tahu kamu sangat hebat selama di Jakarta, kamu juga telah melakukan pekerjaan dengan baik, tetapi tidak satupun dari penghargaan- penghargaan ini dapat membuatmu membunuh perwira polisi senior Basinas seenaknya. Kusarankan untuk mengatakan semua perbuatanmu sejujurnya, dengan begitu mungkin saja hukumanmu akan diringankan. Asalkan kamu mengakuinya, maka aku tidak akan mempersulitmu. Kalau tidak, aku punya seribu cara untuk membuatmu mengakuinya."


  Nova mencibir, "Pak Ridwan, aku tidak membunuh, dan juga tidak akan mengaku bersalah. Aku juga tidak berkolusi dengan gangster. Mengapa kamu tidak meminta dokter forensik untuk memeriksa alasan kematian Zakri? Aku curiga kamu yang melakukannya."


  Ibnu yang berada di belakang menepuk meja dan berkata dengan marah: "Nova, kurasa kamu ini memang tidak tahu diri. Kami semua melihatmu memukulnya tadi. Jangan pikir kamu bisa seenaknya membunuh perwira senior kami hanya karena punya sedikit bekingan. Pak Ridwan, biarkan saja dia merasakan hukuman besar kita."

__ADS_1


  Setelah mendengar ini, Nova mengeluh di dalam hatinya, dia juga tahu bahwa kelompok orang ini memiliki banyak jenis hukuman untuk menyiksa para mata-mata asing. Entah hukuman seperti apa yang akan mereka berikan padanya. Ridwan mencibir, "Benar kata Pak Ibnu, kamu memang tidak tahu situasi. Kalian berdua kemarilah." Dua pria besar maju dan meraih bahu Nova. Salah satu dari mereka mengeluarkan botol putih kecil dari saku baju, dan hendak menuangkan obat di dalamnya ke dalam mulut Nova.


  Nova terkejut. Ketika melihat orang itu akan memberi dirinya obat, dia tiba-tiba teringat bahwa divisi hukuman mereka memiliki bubuk obat yang sangat luar biasa. Setelah memakannya, orang itu akan mengalami halusinasi. Jika kesadaran mereka tidak kuat, maka mereka akan melakukan apa saja sesuai niat si pemberi hukuman. Karena cemas, dia akhirnya menendang tulang rusuk pria yang memegang obat. Karena kesakitan, tangan pria itu pun menjatuhkan botol tersebut, dan botol itu hancur berkeping-keping.


  "Aku tidak boleh dikendalikan oleh mereka. Dengan begitu, pembunuhan itu akan menjadi kenyataan, dan aku juga akan menuduh Alex berkolusi denganku, lalu selangkah demi selangkah masuk ke dalam perangkap mereka. Pada akhirnya, tamatlah riwayat kami. "Nova sangat jelas dengan hal itu.


  Melihat dia menolak untuk minum obat, Ridwan sangat marah, "Dasar tidak berguna, kalian bahkan tidak bisa mengatasi seorang wanita? Nova, berani sekali kamu menyerang orang dari divisi hukuman? Hah, kami punya banyak obat itu, aku sendiri yang akan memberikannya padamu."


  Ridwan berdiri dan membawa sebotol obat dan hendak memberikannya sendiri kepada Nova setelah melihat kedua bawahannya tidak berhasil. Ridwan mencengkram lehernya dengan tatapan garang, Nova khawatir jika obat itu dituangkan ke mulutnya, maka dia akan berakhir tragis.


  Melihat Nova tidak mau bekerja sama, Ridwan langsung menahan dagunya tanpa basa- basi untuk memaksa Nova membuka mulut. Namun, Nova tetap menutup mulutnya rapat- rapat. Ridwan berkata dalam hati, "Aku tidak percaya tidak akan bisa menangani mu."


  “Untuk apa dia datang di saat begini?” Ridwan mengernyitkan alisnya dan menarik tangannya kembali. Dia berpikir sejenak. Bagaimanapun, Pak Danu satu tingkat lebih tinggi dari dirinya. Oleh karena itu, Ridwan tidak boleh mengabaikannya. Namun, dia juga tidak bisa menyelamatkan Nova, jadi Ridwan berkata kepada Ibnu dan Chandro: "Lihat dia baik-baik, aku akan keluar sebentar."


  Ridwan berjalan keluar dari ruang interogasi dan datang ke lobi kantor di lantai 1. Beberapa aparat Basinas menghalangi jalan Pak Danu. Ridwan tersenyum sinis, "Kalian pergi dulu. Pak Danu, ada urusan apa kamu kemari?"


  Pak Danu bertanya, "Ridwan, apa Nova ada di sini?"

__ADS_1


  Ridwan berkata: "Ya, dia membunuh seorang petugas di sini siang tadi. Kami telah menangkapnya. Dia sekarang sedang diinterogasi."


  Pak Danu bergumam di dalam hati. Nova membunuh Zakri? Mana mungkin? Meskipun temperamen Nova agak buruk, tetapi dia tidak akan sampai membunuh seorang perwira polisi senior Basinas. Pak Danu mengangguk dan berkata, "Begitu rupanya. Pak Ridwan, aku rasa petugas Ardiansyah tidak melakukannya dengan sengaja. Bisakah kami melihat video cctv di Divisi Interogasi?"


  Ridwan malah berkata, "Pak Danu, aku rasa tidak perlu, karena aku ada di tempat kejadian saat itu. Apa kamu tidak percaya padaku? Masih ada urusan lain? Jika tidak, silakan pergi. Jangan menghalangi kami menangani kasus. ”


  Ridwan mengusirnya tanpa basa- basi, sedangkan Pak Danu kembali berkata, "Pak Ridwan, kami memang seharusnya tidak campur tangan dalam kasus Basinas kalian. Tapi, kamu harus menerima sebuah panggilan sebelum memutuskannya." kemudian Pak Danu menyerahkan ponsel kepadanya.


  Ridwan menjawab telepon dengan cemberut. Dia berpikir Pak Danu pasti mencari seorang pemimpin untuk membantu Nova, hehe, mimpi sana. Bahkan Gubernur juga tidak akan bisa menangani urusan ini. Selain itu, memangnya siapa kamu? Bisa mengundang wakil gubernur saja sudah cukup.


  Tadi, Ridwan sudah menelpon kakak iparnya, Katrine. Katrine bermaksud untuk menutup kasus ini sesegera mungkin dengan membuat bukti konkrit untuk mengeksekusi Alex, Erika, dan Nova sesegera mungkin.


  Ridwan juga punya cara khusus untuk menghukum mereka, Ridwan mengeluarkan obat dengan maksud untuk membius Nova, dan membuatnya mengaku melindungi Alex, dan juga mengakui bahwa keduanya berzinah. Selain itu, juga mengaku kalau mereka berdualah yang bersekongkol membunuh Erwin dan Gery. Pada akhirnya, Alex akan dijatuhi hukuman mati.


  Ridwan menerima telepon dari Pak Danu dengan jijik, dan berkata dengan arogan, "Siapa kamu?"


 

__ADS_1


 


__ADS_2