
“Ukh!” Yudo bangun, tapi pandangannya gelap, kepalanya juga terasa pusing, “Kenapa gue?”
Lemparan kuat tadi membuat Yudo terluka parah! Dia bahkan nggak ingat bagaimana dirinya dilempar.
“Yudo, apa kamu sudah bisa menjawab pertanyaanku sekarang?” Meskipun suara Alex sangat kecil, tapi suara ini membuat semua orang yang berada di ruangan ini merasa sangat tertekan!
Yudo akhirnya mengerti. Rupanya saat dia hendak menggunakan jurus tendangan tiga kalinya, lawan sudah mengalahkannya saat dia baru melancarkannya satu tendangan.
Dia merasa sangat putus asa, dirinya sudah berusia 30 tahun dan telah berlatih seni bela diri dengan tekun hingga bisa mencapai tingkat saat ini. Namun, lawannya yang jelas-jelas hanya seorang pemuda berusia 20 tahunan malah lebih hebat daripada dirinya!
Pemuda di hadapannya terlihat lebih berbakat daripada gurunya saat itu!
Namun, Yudo paling mementingkan kesetiaan, jadi mana mungkin dia mengkhianati temannya?
“Gue nggak akan ngasih tahu sepatah kata pun,” kata Yudo dengan keras kepala.
“Heh!” Alex mencibir, “Nggak mau bilang, ya? Aku pengen lihat seberapa keras tulangmu?!”
Selesai bicara, Alex langsung menginjak tulang betis kanan Yudo!
Krek! Yudo dapat mendengar dengan jelas suara tulang kaki kanannya yang patah!
Aduh! Rasa sakit ini membuat Yudo menjerit histeris! Namun, dia segera menutup mulutnya dengan rapat. Butiran keringat di dahi sudah mengalir ke bawah, tapi dia masih saja mengatupkan giginya dengan rapat.
Alex menginjak tulang betis Yudo yang patah dan sedikit menggerakkan kaki kanannya.
“Em!” Mata Yudo membereng karena sakit dan pingsan.
“Minta air!” Alex mengulurkan tangan pada Elbert.
“Iya, iya iya.” Elbert langsung mengambil sebotol air dan memberikannya pada Alex dengan hati-hati sambil tersenyum ketakutan.
Glur! Sebotol air dituangkan ke atas kepala Yudo. Yudo pun gemetar, lalu membuka mata. Saat ini, dia merasa sedang melihat iblis saat kembali melihat Alex.
__ADS_1
Rasa takut di hatinya nggak bisa disembunyikan lagi sampai-sampai dia menggeser tubuhnya ke belakang tanpa ia sadari. Sekujur tubuhnya gemetar, apa ini karena sakit atau ketakutan?
“Rasa patah tulang nggak sesakit itu, kalau tulang yang patah dipatahkan lagi baru namanya sakit.” Alex memang seorang iblis. Sejak melihat keadaan sengsara Oktavia, Alex pun dapat merasakan kesakitan hati Nova dan bisa merasakan keputusasaan dan perjuangan Oktavia terhadap hidup, oleh karena itu Alex sangat marah!
Awalnya, dia nggak berencana bertindakan kejam pada Richard, tapi sekarang dia sudah dipengaruhi oleh api kemarahan.
Alex kembali mengambil sebotol air yang diserahkan Elbert, kemudian menatap Yudo dan berkata, “Katakan, siapa yang meracuninya?”
Yudo memejamkan mata, “Aku nggak tahu.”
“Akh!” jerit Yudo saat Alex menginjak kakinya yang patah lagi.
“Katakanlah.” Alex tersenyum sambil menatap Yudo yang kesakitan, “Ketahanan seseorang terbatas, ketika batasnya sampai pada tahap tertentu, maka akal sehat seseorang akan runtuh. Sedangkan aku adalah ahli dalam aspek ini.”
Yudo berkata dengan marah, “Kamu bukan manusia!”
Alex menyeringai, “Terima kasih atas pujiannya. Aku selalu menjadi iblis bagi orang-orang yang bukan manusia.”
Siapa yang bisa membayangkan bahwa pria seperti Yudo akan dibuat menangis? Namun, Alex sudah melakukannya.
“Kenapa nangis? Sakit banget ya?” Di mata Yudo, senyuman Alex seperti panggilan dari dewa kematian.
Yudo nggak takut mati, tapi kematian yang nggak dia takutkan adalah memenggal kepalanya dan mati dengan cepat.
Yudo nggak bisa menahan siksaan seperti ini, kemudian dia berkata, “Gue ngomong, gue ngomong, sebenarnya gue yang meracuninya.” Selesai Yudo bicara, dia seolah-olah memberi penjelasan pada diri sendiri, sehingga seluruh tubuh tiba-tiba lemas, lalu terengah-engah dan seolah kehilangan harapan hidup.
“Kamu yakin kamu yang meracuninya, bukan orang lain?” tanya Alex.
“Iya, gue yang meracuninya.” Yudo tersenyum pahit sambil melihat Alex, “Saat itu, gue sendiri yang meracuni Oktavia, lalu gue juga yang memaksanya minum bir beracun itu, sedangkan dia nggak berani membantah.”
“Bajingan!” Nova langsung meledak. Dia mendekat dan menendang kepala Yudo, lalu berkata, “Kamu benar-benar brengsek! Apa kamu nggak tahu betapa sengsaranya Bibi Oktavia karena perbuatanmu? Sekarang suaranya sudah hancur, kehidupannya juga hancur! Ibunya lumpuh di tempat tidur, dia bahkan nggak punya uang buat berobat ke rumah sakit! Yudo, kamu sedang berbuat dosa tahu nggak!”
Bang bang, Nova menendang kepala Yudo sekali demi sekali sampai belasan kali.
__ADS_1
Kepala Yudo sudah bengkak ditendang oleh Nova. Nova pun nggak tega untuk menendangnya lagi, lalu berhenti.
Alex menatap ke arah Nova sambil berkata, “Jika kamu ingin membantu Bibi Oktavia balas dendam, menurutmu cara apa yang tepat untuk menghukumnya?”
“Cara menghukumnya? Mau disayat ribuan kali juga nggak bisa menghilangkan rasa benci di hatiku! Aku benci sampai ingin memakan dagingnya dan meminum darahnya!” Nova nggak bisa mengendalikan emosinya ketika teringat akan kehidupan Bibi Oktavia yang sengsara.
“Makan daging dan minum darahnya? Emang kamu nggak jijik? Tapi, menyayatnya ribuan kali adalah hal yang mudah dilakukan,” kata Alex sambil tersenyum.
Wilson dan Elbert menjadi panik ketika mendengarnya: Apa dia sedang bercanda? Tapi nggak mirip! Ya Tuhan, hal keterlaluan apa lagi yang berani dia lakukan?!
“Kamu bawa mereka keluar dulu gih,” Alex mengangguk pada Nova, “Pemandangan selanjutnya sangat menyeramkan, jadi aku nggak ingin kalian trauma.”
“Namun, aku ingin mengingatkan kalian.” Dia melihat Wilson dan Elbert, serta nona yang disumpal dan berkata, “Nggak terjadi apa-apa di sini hari ini! Aku berharap kalian ingat, ngerti nggak?”
“Ngerti! Ngerti!” Elbert menganggukkan kepala dengan ketakutan seperti sedang menumbuk sesuatu. Sedangkan Wilson segera ikut berlutut. Untuk nona yang satu itu, dia juga tidak bodoh. Dia menganggukkan kepala dengan sekuat tenaga.
“Bagus sekali! Hari ini, kalian juga nggak pernah muncul di tempat ini.” Alex melambai pada Nova dan berpesan, “Kalian pergi dulu.”
“Oke, aku menunggumu di luar.” Ini pertama kalinya Nova tahu Alex mau membunuh orang, tapi dia nggak menghalanginya dengan statusnya sebagai seorang polisi.
Nggak ada yang akan mengira kalau Yudo akan dibunuh dengan siksaan di Klub Bintang miliknya sendiri.
Meskipun para satpam atau anak buah Yudo melakukan pemeriksaan ketat terhadap orang yang masuk dan keluar dari Klub Bintang, tapi mereka nggak menyangka bahwa ada orang yang berani melakukan hal begitu keterlaluan di sini.
Ketika Alex keluar dari Klub Bintang, Wilson dan Elbert merasa Alex seperti kembali setelah selesai makan. Semuanya terlihat begitu tenang.
Mereka nggak tahu apakah Alex benar-benar membunuh Yudo, tapi mereka menebak bahwa Yudo pasti sudah mati.
Keesokan harinya, Elbert membubarkan rombongan teaternya tanpa penjelasan apa pun dan menghilang.
Wilson juga tidak bisa ditemukan, dia seolah-olah menghilang dari dunia ini. Hanya saja dia memberitahu orang tuanya bahwa dia akan pergi bekerja keluar kota, tapi tidak meninggalkan informasi kontak.
Di kota Tomohon ada desas-desus bahwa: Yudo selaku pemilik Klub Bintang terbunuh di dalam Klub Bintang!
__ADS_1