
Edi menyeka matanya dan akhirnya mengenali Alex, "Kak Alex, ini benar-benar kamu? Ya ampun! Sudah berapa lama kita tidak bertemu. Sekarang sudah tinggi ya, badanmu juga jadi kekar. Kalau aku tahu itu kamu, sudah dari tadi aku panggil buat minum bareng. Siapa ini?"
Alex tersenyum, "Ini istriku."
Edi berkata, "Ternyata kakak ipar toh."
Edi kembali memandang Dicky dan kelompoknya, "Kak Alex, serahkan para bajingan ini padaku. Aku lebih dari cukup untuk membereskan mereka."
Dicky menggertakkan giginya, "Sialan, muncul dari mana kamu, hah? Mau menentangku? Semuanya, hajar dia!"
Salah satu anak buah Dicky yang kuat berteriak dan tiba-tiba turun tangan. Dia menendang ke arah perut Edi.
Edi mengerutkan alisnya, lalu mengangkat kakinya untuk menendang kaki preman itu tanpa melihat. Hanya dengan satu tendangan, tulang kaki preman itu pun patah. Orang itu menjerit kesakitan dan jatuh ke tanah sambil memegangi betisnya.
“Kenapa, mau main keroyokan?” Edi bertanya.
Alex tidak menyangka bahwa ilmu bela diri Edi cukup bagus, dia tersenyum, "Edi, hebat juga kamu."
Edi juga tersenyum pada Alex: "Aku belajar dari kakek pas masih kecil. Aku sering berlatih beberapa tahun belakangan kalau lagi sempat. Orang-orang dari organisasi Kobra ini memang suka menggertak orang di bawah perlindungan Wendy. Aku sudah lama ingin turun tangan. Hei kalian, cepat enyah kalau tahu diri. Jangan membuatku repot. Jika benar-benar ingin bertarung, cari tahu dulu siapa itu Edi Widjaya!"
Begitu Edi menyebutkan namanya, para preman itu tercengang. Perlu diketahui kalau mereka semua adalah anggota organisasi Kobra, yang merupakan organisasi bawah tanah di Jakarta Timur. Bos organisasi Kobra Jakarta Timur adalah Wendy. Anak ini baru saja pergi menyanjung Alex beberapa hari yang lalu, dan meminta Alex untuk datang ke Jakarta Timur untuk berkumpul, tetapi Alex menolaknya dengan alasan ada urusan.
Dicky adalah ketua organisasi Kobra. Edi memiliki bar kecil di Jakarta Timur, dia juga terkenal karena suka berkelahi, jadi dia sama sekali tidak suka dengan organisasi Kobra.
__ADS_1
Dicky tidak begitu akrab dengan Edi. Ketika dia memberi perintah, belasan preman mulai mengepung Edi. Para anak buahnya ini tidak ada yang benar-benar bisa berkelahi. Namun, Edi berbeda, dia telah berlatih sejak masih kecil, terlebih lagi dalam beberapa tahun terakhir.
Sekelompok bajingan ini dipukuli oleh Edi hingga babak belur. Alex bertepuk tangan: "Kerja bagus, Edi."
Setelah mengalahkan Dicky, Edi dan Alex duduk bersama dan bercerita tentang masa sekolah mereka. Edi berkata, "Kak Alex. Beberapa hari yang lalu muncul seorang pahlawan di Jakarta. Aku dengar dia membunuh banyak tentara bayaran dari luar sendirian, juga menekan Rangga. Sekarang, keluarga Buana telah menjadi keluarga kaya nomor satu di Jakarta. Pahlawan hebat itu bahkan punya nama yang sama denganmu."
Alex tersenyum dan berkata, "Edi, sejujurnya, orang itu adalah aku."
Edi sangat terkejut, "Alex, kamu tidak berbohong padaku, kan? Kamu bahkan tidak bisa mengalahkanku saat masih sekolah. Terkadang bahkan aku yang membantumu saat kamu diganggu."
Alex tersenyum, "Aku tidak membohongimu. Kamu adalah saudaraku. Bagaimana mungkin aku berbohong padamu? Sejujurnya, setelah lulus SMP, aku pergi ke luar negeri. Aku tidak sengaja mendapatkan sebuah buku, lalu belajar beberapa jurus."
Edi tiba-tiba tersadar, "Kak Alex, tampaknya menjadi pahlawan juga tergantung pada keberuntungan. Orang-orang sepertiku ini, meskipun sudah berlatih keras juga tidak bisa seperti dirimu."
Setelah selesai makan, Alex merasa kalau Edi tampaknya punya masalah,"Edi, sepertinya kamu punya masalah?"
Edi berkata: "Kak Alex. Aku punya teman bernama Yunita Putri. aku jatuh cinta padanya, dan ingin menikahinya. Tapi ..."
Alex bertanya, "Tapi apa? Dia tidak menyukaimu?"
Edi berkata: "Bukan. Kami saling menyukai, tapi sayangnya Yunita saat ini terikat. Dia menandatangani kontrak dengan perusahaan Wendy. Begitulah..."
Alex tertawa mendengarnya, "Apa sulitnya ini? Aku akan menemanimu ke Klub Phoenix milik Wendy nanti. Jangan khawatir, aku jamin kamu bisa membawa Yunita pergi hari ini."
__ADS_1
Edi sangat gembira, "Terima kasih, kak Alex dan kakak ipar."
Setelah makan malam, mereka bertiga datang ke Klub Phoenix, yang merupakan klub malam terbesar di Jakarta Timur, Alex berkata kepada Erika, "Erika, beli tiga tiket."
Tepat ketika Erika hendak pergi, Edi menghentikannya, "Kakak ipar, Biar aku saja. Aku sangat familiar dengan Klub Phoenix. Dan aku bisa menggesek kartu." Edi mengeluarkan kartu VIP-nya, membeli tiga tiket, dan tiketnya juga bisa diskon 20%.
Kemudian, Edi membawa keduanya langsung menuju aula pertunjukan di lantai 10. Ketika mereka tiba, tempat duduk di aula pertunjukan sudah penuh dengan orang. Mereka mencari tempat yang sesuai dengan tiket mereka dan duduk. Pelayan berjalan mendekat dan bertanya dengan sopan: "Permisi, mau pesan apa ya?"
Edi berkata: "Bawakan kami sepiring buah dan sepoci teh hijau terbaik."
Alex melihat ke panggung, seorang host cantik sedang memperkenalkan sesuatu.
Edi berkata: "Klub Phoenix akan meluncurkan program audisi bulanan. Namanya: Klub Phoenix Show. Tiga pemenang akan dipilih di setiap periode, dan ketiganya adalah wanita cantik dengan keterampilan khusus."
Erika menyela: "Klub Phoenix memperkenalkan beberapa wanita cantik yang dikumpulkan dari segala penjuru, dengan menunjukkan bakat mereka melalui permainan piano, bernyanyi, atau bakat lain dengan tujuan promosi. Banyak orang menjadi terkenal dalam semalam, dan beberapa dari mereka menjadi bintang terkenal. Singkatnya, jika bisa menjadi pemenang di Klub Phoenix Show, maka akan selangkah lebih dekat untuk menjadi konglomerat."
Edi berkata: "Kakak ipar juga tahu banyak tentang tempat ini?”
Erika berkata: "Aku juga mendengarnya dari Friska. Dia tahu sedikit cerita orang dalam di sini."
Pada saat ini, host cantik mengumumkan bahwa pertunjukan akan segera dimulai. Alex, Erika dan Edi berhenti berbicara, dan memfokuskan mata mereka ke atas panggung. Babak final akhirnya dimulai, dan yang pertama adalah wanita cantik yang pandai bela diri.
Si cantik ini menampilkan bakat bela diri, yang ditampilkan adalah jurus tangan kosong. Dengan serangkaian teknik tinjunya, dia langsung memenangkan tepuk tangan meriah dari para penonton. Di akhir pertunjukan, wanita cantik ini turun panggung untuk beristirahat.
__ADS_1