Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Mati Bersama


__ADS_3

Tino yang tersisa bergegas menerkam ke arah Alex. Ketika dia melompat ke depan, dia menemukan bahwa hanya dirinya yag tersisa dari mereka berlima. Perbedaan kekuatan dirinya dan Alex terlalu jauh, bagaimana dia bisa melawannya?


Karena dirinya sudah maju, apa lagi yang bisa dilakukan jika tidak bertarung? Tino mau tidka mau hanya bisa menyerang, “Ah!” Seiring teriakannya, dia meraih bahu Alex dengan kedua tangannya, lalu memutar pinggangnya dan berbalik, dia ingin membanting lawannya ke tanah!


Dia melengkungkan punggungnya dengan kuat, tapi tidak berhasil. Saat mencoba lagi, dia tetap tidak berhasil.


Kaki Alex tidak bergerak sama sekali seolah-olah telah berakar di dalam tanah. Melihat dia begitu berusaha, Alex tersenyum dan berkata, “Bung, simpan saja tenagamu!” Setelah berbicara, dia mengepal tinjunya dan mengetuk bagian belakang kepala Tino.


Tino merasa kepalanya seperti meledak, dia tidak bisa lagi berdiri, dan terjatuh.


Melihat Alex mengalahkan orang terakhir, Friska sangat gembira sehingga dia berseru tanpa mempedulikan rasa sakitnya, "Alex, kamu hebat."


Mata Erika berembun-embun. Dia benar-benar tidak menyangka suatu hari, suaminya yang disebut sampah akan menjadi penyelamat yang begitu kuat. Bahkan seorang nona kaya seperti Friska juga mengagumi suaminya.


Hengky juga menghela nafas lega, dirinya tadi sangat tegang.


Tino terbunuh, dan kelima orang ini tidak lagi sebuah ancaman bagi Alex.


Alex mendengus dingin. Jika lima orang ini mencoba yang terbaik, dia benar-benar tidak akan bisa melawan mereka untuk sesaat. Untungnya, Fabian sebagai orang terhebat di antara mereka telah terluka lebih dulu.


Alex memanfaatkan saat pihak lain menyayangkan Tino untuk menyerang lagi. Dia melangkah maju dan menyusul Winto yang berbadan gemuk. Tangan kanannya menyentuh tulang punggung Winto. Saat jarinya menyentuh tubuh Winto, jarinya langsung masuk ke dalam otot Winto. Dalam sekejap, ibu jari dan jari telunjuk telah mencubit tulang belakang kelima Winto, kemudian menarik keluar dengan kuat!

__ADS_1


Winto baru saja menyaksikan kematian kakak keempatnya Tino. Belum juga dia berhenti bersedih, tiba-tiba Alex bergegas mengejarnya dan memegang tulang punggungnya. Winto tiba-tiba menutup matanya dengan putus asa, karena dia mengerti bahwa tulang belakang tidak bisa diselamatkan lagi. Krak! Seiring dengan jeritan kesakitan, tubuh Winto jatuh ke tanah dan kejang-kejang, "Kak, balas ... dendam!"


Setelah membunuh Winto, Alex bergegas menghampiri Sandi. “Winto?” Mata Sandi berwarna merah darah. Baru saja Tino meninggal, sekarang Winto juga meninggal. Dalam sekejap mata, kedua saudaranya pergi begitu saja. "Bocah sialan, aku akan menghabisimu!"


Sandi adalah yang paling pintar di antara kelimanya. Saat melihat Alex menerkam ke arahnya, dia mengangkat tangannya, dan jarum berwarna biru yang sangat kecil meluncur dengan kecepatan tinggi dari tangan Sandi, lalu ditembakkan ke arah tenggorokan Alex dalam sekejap! Jarum baja ini penuh dengan racun, terkadang senjata tersembunyi semacam ini lebih sulit dihindari daripada peluru.


“Hati-hati, Alex!” Meskipun Friska terluka dan tidak bisa bergerak, tapi dia sangat perhatian dengan keselamatan Alex. Melihat bahwa seseorang menggunakan senjata tersembunyi, dia buru-buru berteriak untuk mengingatkannya.


Teriakan Friska barusan membuat Alex punya persiapan, begitu melihat Sandi mengangkat tangannya, dia langsung menyadari bahwa pihak lain akan menggunakan senjata tersembunyi. Aex langsung mengelakkan badannya, hanya ahli seperti dia yang bisa lolos dari serangan mematikan pada jarak sedekat itu! Jarum baja terbang di atas kepalanya! Menembak seutas rambutnya, Alex berteriak dengan marah dan bergegas menyerang Sandi!


Senjata tersembunyi itu menghambat serangan Alex, melihat Sandi diserang, Veri buru-buru berdiri untuk menyelamatkannya. Dia langsung menendang dada Alex, tanpa berkata apapun, Alex meninju kepala Veri dengan satu pukulan.


Sandi yang berada di sisi lain juga berteriak, kedua tangan bergerak bersama untuk mengeluarkan semua senjata tersembunyi yang bisa digunakan. Tiba-tiba, jarum beracun, pisau terbang, semuanya mengarah ke arah Alex.


Dengan kekuatan pukulan Alex ini, bahkan jika Fabian menghadangnya dengan sekuat tenaga, lengannya juga akan patah.


Tetapi senjata tersembunyi yang diluncurkan oleh Sandi di belakangnya menjadi masalah. Jika dia menyerang dengan gegabah, dia akan terkena beberapa tembakan. Jika dia terkena racun panah, dia akan mendapat masalah. Mau tidak mau, Alex hanya bisa berhenti.


Dengan ini, Fabian dan Veri dapat melarikan diri.


Alex menghindari senjata tersembunyi itu, lalu mengambil inisiatif lagi, dan memukul wajah Fabian.

__ADS_1


Fabian mundur dengan cepat, dan Veri segera menyusul. Dia tahu bahwa jika dia tidak memiliki senjata, dia pasti bukan lawan Alex. Dia mengangkat tangannya, dan ada senjata tambahan di jarinya, sebuah cakar baja segera menyerang ke belakang Alex.


Sandi membungkukkan badannya, dan sebuah panah pendek tiba-tiba ditembakkan dari bagian belakang punggungnya, panah itu juga sangat beracun.


Alex sangat sensitif, tubuhnya condong ke depan untuk menghindari cakar baja itu. Bahkan saat dia mendengar tembakan panah pendek di belakangnya, dia tidak menoleh dan menendang Veri yang menyerang dari belakang. Pada saat ini, panah Sandi sampai, dan menusuk di antara tulang rusuk Veri.


“Ah!” Seiring teriakan, Veri berbalik menatap Sandi, dia tidak menyangka akan mati di tangan adik ketiganya.


“Kakak kedua!” Sandi mendekat untuk memeluk Veri dan ingin memberinya obat penawar. Namun, luka panah itu terlalu dalam, dan ujung anak panah itu telah menembus jantungnya, bahkan jika anak panahnya tidak beracun, dia juga tidak bisa hidup.


Dalam sekejap, Alex membunuh tiga pembunuh berturut-turut. Fabian kehilangan tiga saudara berturut-turut dan berteriak dengan marah: "Sandi, pergi dari sini! Jaga nyawamu untuk membalaskan dendamku." Selesai berteriak, Fabian mengeluarkan sebuah granat dari pinggangnya, membuka cincin granat, dan bergegas menghampiri Alex dengan granat yang sudah mengeluarkan asap.


Sandi mengerti maksud kakaknya, dia mengangguk, lalu berlari ke arah hutan dan menghilang.


Alex tidak mengejarnya karena situasi saat ini sangat mendesak. Fabian telah membuka sumbu granat dan menarik sumbu, granat ini akan segera meledak.


Sebagai kakak tertua, Fabian tidak memainkan peran penting dalam kerja sama lima saudara. Sebaliknya, saudara-saudaranya dibunuh satu per satu. Dia sangat menyalahkan dirinya sendiri.


Melihat ketiga saudaranya mati dan Sandi yang juga hampir kehilangan nyawanya, Fabian menyerahkan nyawanya dan mengeluarkan granat, kemudian berlari ke arah Friska yang terluka parah, Hengky bergegas mendekat, keduanya terluka parah dan tidak bisa bergerak bebas. Fabian ingin menarik mereka berdua untuk mati bersama.


“Haha, aku akan menarik kalian untuk mati bersama!” Fabian dengan cepat mendekat dengan wajah mengerikan.

__ADS_1


__ADS_2