
Alex tidak akan pernah menyangka bahwa situasinya akan berubah lagi, dia diam-diam mengeluh tentang kecerobohan Riska. Kamu cukup bergegas kemari, kenapa kamu malah melakukan hal yang tidak perlu?
Dia melihat dengan teliti bahwa pisau Kevin memancarkan kilauan cahaya biru di bawah sinar bulan yang redup, terlihat jelas jika pisau itu telah direndam dengan obat sebelumnya. Alex tercegang mengingat situasi saat ini, jika dia bergegas menyelamatkan Riska, Kevin pasti akan langsung melukai Riska dengan pisau beracun.
Dirinya sama sekali tidak mengerti dengan racun di pisau itu. Jarak dari tempat ini ke pusat kota setidaknya satu jam. Sangat tidak memungkinkan untuk ke rumah sakit. Riska kemungkinan besar akan mati keracunan di tengah jalan.
"Sial! Bajingan ini benar-benar licik." Alex tidak berani bertindak gegabah, dia hanya bisa memikirkan solusi dalam hati.
“Alex, kamu sungguh kejam. Namun, jika kamu berjanji untuk melepaskan kami, aku tidak akan menyulitkan gadis ini.” Kevin berencana untuk melarikan diri terlebih dahulu. Namun, Riska tidak terintimidasi oleh Kevin. Dia terkejut ketika Kevin mencengkeram pergelangan kakinya pada awalnya, tetapi dia segera menyadari bahwa Kevin sama sekali tidak punya tenaga, apalagi masih ada darah yang keluar dari mulut Kevin, sepertinya lukanya sangat parah. Bahkan kekuatan genggaman tangannya juga tidak besar, dirinya bisa melarikan diri kapan saja.
Riska sempat mempunyai pertimbangan saat Kevin berkata bahwa pisaunya beracun. Namun, setelah berpikir lagi, mungkin Kevin hanya menakuti dirinya sendiri, dan dia tidak boleh diancam olehnya.
Dia berusaha sekuat tenaga menendang kepala Kevin dengan kaki yang satunya, tendangan ini membuat tangan Kevin terlepas, kemudian Riska lolos.
Kevin dengan reflek membuat gerakan mengayun pisau, kemudian pisau di tangannya menggores kaki Riska dengan ringan. Riska merasakan sedikit kesakitan seperti disengat lebah. Di saat yang sama, Alex berlari ke arah Kevin dan menginjak tangan Kevin yang memegang pisau dengan kuat hingga patah tulang.
Kevin menjerit, lalu pingsan. Alex memapah Riska dan bertanya, "Riska, apa kamu baik-baik saja?"
Wajah Riska pucat, "Aku baik-baik saja, aku hanya digores oleh orang ini..."
Alex kaget, hal yang paling dikhawatirkannya telah terjadi. “Apa, tergores?” Alex buru-buru bertanya, “Di mana yang sakit?
Ada yang salah dengan ekspresi Riska, dia berkata setelah berpikir sejenak, "Tidak ... tidak apa-apa, tidak sakit."
__ADS_1
Alex membantu Riska melepaskan tali yang mengikat tangannya: "Riska, bertahanlah sebentar. Aku akan mengobati lukamu setelah membereskan para bajingan ini." Alex sangat marah sehingga dia mengangkat Kevin yang terkapar di tanah, lalu melemparnya ke samping beberapa orang lainnya, kemudian mengikat ketujuh orang itu dengan tali.
“Alex, apa yang ingin kamu lakukan? Apakah kamu ingin membunuh kami?” Kevin bertanya sambil memberontak.
Alex berkata: “Kalian para bajingan yang tidak menaati hukum, hari ini aku akan menghukum kalian atas nama hukum.” Alex menarik tali itu dan berjalan ke tepi tebing, satu tendangan langsung membuat Indra yang berada di depan bergantungan di tebing, di bawah kakinya adalah jurang yang sangat dalam dan gelap, sama sekali tidak kelihatan dasarnya. Dia sangat ketakutan sampai berteriak: "Alex, apa kamu berani membunuh kami?"
Alex mengikat sekelompok orang itu dengan tali, lalu melemparkannya ke bawah, kemudian mengikat ujung tali yang lain ke pohon besar di tepi tebing, dia mencibir melihat ketujuh orang yang bergantungan di udara. "Aku terlalu malas untuk membunuh kalian secara pribadi. Renungkanlah perbuatan kalian. Namun, jangan mencoba melarikan diri, apalagi sembarangan bergerak. Jika talinya putus, maka tidak ada gunanya juga jika kalian sudah merenungkannya."
Di bawah tebing gelap dan tidak berdasar, yang jatuh ke bawah sana pasti akan hancur tak bersisa. Orang-orang ini menangis ketakutan. Kevin masih bisa bertahan untuk tidak menunjukkan kelemahannya, tapi yang lainnya bahkan sudah mengompol.
Indra yang berada di posisi terbawah berteriak: "Alex, jangan sombong! Selama aku tidak mati hari ini, aku akan membunuhmu ..." Saat sedang marah, Indra tiba-tiba merasakan kepalanya basah dan ada bau tak sedap yang menyelimutinya, "Siapa ini? Bahkan sampai ngompol? Kak Kevin, apa itu kamu?"
Kevin yang berada di atas Indra berkata, "Tidak ada hubungannya denganku, aku juga kena, cih!"
Alex berbalik dan bergegas memeriksa situasi kedua wanita itu. Erika berbaring di tanah dengan mata terpejam, sepertinya dia tertidur lagi, dia hanya mabuk, tidak ada masalah.
Riska meringkuk di tanah, saat melihat Alex datang, dia berusaha untuk duduk, "Aku kedinginan."
Meski dia selalu bermusuhan dengan Alex, namun dalam situasi berbahaya, saat ini Riska hanya bisa menganggap Alex sebagai penyelamat.
Alex mengerutkan kening. Dia tahu bahwa ada racun di pisau itu. Mungkin efek racun itu sedang bereaksi sekarang. Dia mengulurkan tangan ke dahi Riska, dahinya sangat panas.
“Alex, aku kedinginan, mungkin aku keracunan, cepat bawa aku ke rumah sakit.” Riska memohon.
__ADS_1
Alex menghibur dan berkata: "Riska, pisaunya beracun, perjalanan ke rumah sakit terlalu lama, apalagi jalan yang berbelok-belok akan mempercepat penyebaran racun ke jantung."
Riska bertanya dengan suara menangis, "Apakah aku tidak bisa diselamatkan?"
Alex berkata: “Jangan khawatir, ada aku, aku akan mencoba yang terbaik untuk menyelamatkanmu. Cepat lepas celanamu dan biarkan aku melihat lukanya.” Alex mengulurkan tangannya dan membantunya untuk berbaring.
“Aku tidak akan membiarkanmu melihatnya.” Meskipun sifatnya jahat, tapi bagaimanapun Riska masih seorang gadis kecil yang belum menikah, lukanya berada di paha kirinya. Bagaimana mungkin dia membiarkan kakak ipar yang tak berguna ini melihat bagian pribadinya?
Alex berkata: "Kamu sedang terkena racun. Jika kamu menunda lebih lama lagi, nyawamu akan hilang. Apakah kamu pikir aku ingin melihatnya?"
“Kamu, kamu!” Riska tidak berdaya, dia tidak ingin mati, jadi dia harus berbaring sesuai dengan perintah Alex, karena dia tidak memiliki tenaga, badannya gemetaran sampai tidak bisa melepaskan ikat pinggangnya untuk waktu yang lama. Alex tahu bahwa dia harus membantunya mengeluarkan racun itu secepat mungkin, jika tidak, nyawa Riska akan berada dalam bahaya.
“Riska, racun di tubuhmu tidak bisa ditunda, maafkan aku.” Alex melepaskan ikat pinggang Riska, dan menurunkan celananya. Kedua kaki putih dan ramping segera berada dalam pandangan Alex. Ada goresan di paha kaki kiri, meski lukanya tidak terlalu dalam, tapi sudah berwarna hitam kebiruan.
Riska mengertakkan gigi dan berkata, "Alex, aku sangat tidak beruntung ..."
Menyelamatkan nyawa lebih penting bagi Alex sekarang, dia sudah tidak peduli perbedaan gender laki-laki dan perempuan. Dia menundukkan kepalanya, meletakkan mulutnya di atas luka itu, kemudian menghisap darah dengan sekuat tenaga dan memuntahkannya.
Riska menahan rasa sakit, melihat Alex yang menolong dirinya, tiba-tiba muncul rasa terima kasih dalam hatinya.
"Sebelumnya, aku dan kakakku menertawakannya berulang kali. Apakah dia benar-benar tidak membenciku sama sekali?"
"Anggap aja hari ini kakakku yang ada disi, dia pasti akan berharap aku mati keracunan hari ini."
__ADS_1