Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Membandingkan Ilmu Bela Diri Denganmu


__ADS_3

“Uh…” Setelah mendengar itu, bos itu pun merasa dirinya jatuh ke pusaran pertarungan antara dewa, seketika keringat dingin muncul di dahinya. Apa dia berani setuju?


Alex menggelengkan kepalanya, “Oke. Karena kamu nggak mau menerima uang ini, maka aku akan menerimanya dulu.”


Setelah itu, Alex memberi tahu nomor rekeningnya ke Jaz, “Transfer saja, aku akan menunggu uangnya masuk.”


Jaz mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar. Begitu dia membuka ponselnya, dia pun mengirimkan uang 3,2 miliar itu dengan tak berdaya.


Ting! Tak lama kemudian, ponsel Alex pun menerima pesan dari bank. Lalu, Alex berdiri, “Jaz, hari ini kamu sangat beruntung karena bertemu denganku. Kalau kamu bertemu dengan saudaraku yang nggak bisa toleransi, maka nyawamu… haha.”


Saat ini, orang-orang yang dipukul babak belur oleh Alex sudah saling membantu untuk berdiri.


Tapi, karena Alex masih ada di dalam restoran, jadi nggak ada yang berani masuk, hanya bisa menunggu di luar.


“Tuan Muda Jaz.”


“Tuan Muda Jaz!” Ketika melihat Jaz keluar dari restoran dengan tampang babak belur, mereka pun segera menyambutnya.


“Tuan Muda Jaz, siapa bocah itu?”


“Iya, siapa dia? Kok hebat sekali?!”


“Kalian memang gak berguna! Ayo pergi!” Jaz sangat marah.


“Tuan Muda Jaz, tapi kami terluka, jadi perlu ke rumah sakit.”


Jaz naik ke mobil sendiri sambil berkata dengan marah, “Pergi sendiri.”


Sebenarnya dia juga kena pukul dan perlu diobati.


Jaz merasa sangat tidak senang, bahkan sengaja memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti Alex dan Nova.


Kemudian, Jaz mengendarai mobil ke Dojo Sky. “Pak, aku dipukuli seseorang! Orang itu orang dari luar kota!”


Pemilik Dojo Sky bernama Eddie Farman, dia termasuk master terhebat di kota AL. Ketika dia mendengar Jaz dipukul, Eddie pun bertanya dengan bingung, “Jaz, siapa yang berani memukulmu di kota AL? Lalu, apa yang terjadi?”


Jaz tidak berani mengatakan dengan rinci bahwa Alex telah mengalahkan enam hingga tujuh orang. Ia hanya berani berkata bahwa ada orang luar kota yang menindasnya, jadi dia terpaksa berkelahi dengan orang itu. Tapi, tak disangka empat pengawal yang di bawa dirinya juga bukan lawan orang itu.

__ADS_1


Eddie pun tersenyum, “Haha, Jaz, kamu! Aku sudah bilang kamu harus berlatih seni bela diri, tapi kamu nggak mau dengar! Lihat, sekarang sudah dipukul orang, kan? Nggak apa-apa, apa kamu tahu orang luar kota itu tinggal di mana? Aku akan mengutus beberapa seniormu ke sana untuk memberinya pelajaran.”


Saat ini, sudah jam 10 malam, jadi nggak bisa memanggil begitu banyak orang. Jaz menggertakkan gigi sambil berkata, "Pak, aku merasa sebaiknya kamu yang pergi melawan orang itu! Selain itu, setiap senior yang pergi ke sana harus diberi 20 juta sebagai imbalan jerih payah mereka. Bagaimanapun juga, harus mematahkan sepasang kaki orang luar kota itu!”


“Mau mematahkan sepasang kakinya?” Eddie pun merasa kesulitan, “Jaz, perbuatan itu sama saja melanggar hukum.”


Jaz menjawab, “Pak, ayahku adalah ketua Konferensi Konsultatif di kota AL! Jadi, kalian tidak perlu takut melanggar hukum! Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Cepat utus beberapa senior untuk ke sana!”


“Baik, aku akan membiarkan Dannie memanggil mereka.” Dannie Farman adalah putra dari Eddie, dia juga master yang terkenal di kota AL. Meskipun di depan Adi, mereka juga akan dihormati.


Jaz pun menjadi semangat, “Bagus sekali! Pak, kalau Kak Dannie yang membawa orang ke sana, maka aku bisa tenang! Tapi, Pak, kalau Anda pergi, aku akan memberimu imbalan tambahan 200 juta.”


“Apa?” Meskipun Eddie selalu bersikap nggak suka uang, mendengar imbalan 200 juta, dia tentu saja tergerak. “Baiklah, asalkan kamu sudah mencari tahu di mana orang itu, aku akan membawa para muridku ke sana!”


Meskipun dia mengira nggak perlu pergi begitu banyak uang, tapi kalau para muridnya ikut, maka mereka bisa mendapatkan uang 20 juta. Sebagai guru, dia tentu saja berharap muridnya mendapatkan keuntungan.


Setelah Jaz pergi, Eddie pun mulai mengumpulkan muridnya dan menunggu kabar Jaz di Dojo Sky.


“Pak, bukankah mereka hanya sepasang kekasih yang datang dari luar kota?! Emang seberapa hebat mereka? Perlukah kita pergi membawa begitu banyak orang?!”


“Benar Pak, Anda nggak usah ikut, biar kami saja yang memberinya pelajaran.”


Eddie sudah mengenakan setelan pelatih yang berwarna hitam, dan juga sudah melakukan pemanasan. Ketika dia mendengar pembahasan mereka, dia pun berkata sambil mengerutkan kening, “Apa sih yang kalian tahu? Jaz bilang kalau setiap orang yang pergi malam ini akan dibayar 20 juta!”


“Wow! 20 juta?” Mata para muridnya pun membelalak.


“Ha?! Banyak sekali! Aku mau pergi!”


“Aku juga mau ikut!”


“Oh ya Pak, meskipun kemampuan bela diri Carven nggak gitu hebat, tapi bisa dapat 20 juta lho! Jadi, sebaiknya ajak dia saja.”


“Iya Pak, masih ada Ben, bocah ini sangat malas sampai sekarang pun belum bangun! Suruh dia ikut saja.”


Eddie mengangguk, “Cepat panggil mereka! Lagi pula keluarga Jaz itu sangat kaya, jadi setiap orang yang pergi pasti dapat uang. Haha!”


Ketika Alex dan Nova kembali ke hotel, mereka masuk ke kamar masing-masing. Alex langsung mandi dan bersiap-siap untuk tidur.

__ADS_1


Begitu dia selesai mandi, dia pun berbaring di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Pada saat ini tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


“Masuk!” jawab Alex.


Klek, pintu pun terbuka, lalu dia melihat Nova yang mengenakan baju tidur dengan rambut basah dan terlihat mempesona masuk ke dalam kamar, “Kamu sudah selesai mandi?”


“Iya, ada apa?” Tatapan Alex kembali fokus pada layar ponselnya.


 Nova memberengnya, lalu berjalan ke tempat tidur dan duduk di sampingnya, “Apa kamu nggak merasa ada sesuatu yang perlu dilakukan denganku?”


“Um.” Alex pun menggeser ke samping tanpa sadar, “Jangan begitu.”


Nova langsung memeluk Alex dan mencium wajahnya.


Aksi panas itu terus berlanjut hingga tak satu helai kain pun yang melekat di tubuh mereka.


Namun, tak disangka pergulatan mereka malah terganggu oleh telepon di kamar yang tiba-tiba berdering.


Nova pun memohon, “Abaikan saja! Kita lanjutkan saja!”


Tapi, Alex menggunakan kesempatan ini untuk mendorongnya, “Sudahlah, aku angkat dulu.”


Nova menatap Alex yang mengangkat telepon dengan marah, tapi Nova nggak memakai baju hanya membiarkan dirinya telanjang, lagi pula di dalam kamar sangat hangat.


Setelah Alex mengangkat telepon, dia pun mendengar orang itu berkata, “Kalau kamu pria, maka keluar dan aku akan menunggumu di sini!”


“Ah? Siapa kamu?” Alex merasa sangat aneh, “Kamu nggak salah telepon?”


“Bukankah kamu sudah memukul orang di restoran? Apa kamu sudah lupa? Kalau kamu merasa hebat, maka keluar karena aku mau bersaing denganmu.”


“Tak waras! Aku nggak tertarik berkelahi di musim dingin seperti ini.” Alex hendak menutup telepon.


“Percaya nggak kalau aku akan menghancurkan pintumu, kalau kamu nggak keluar?” Orang itu sangat keras kepala.


Alex menutup telepon, lalu Nova bertanya, “Kenapa?”


“Ada yang ingin bersaing denganku. Kalau aku nggak pergi, dia akan menghancurkan pintu,” ucap Alex dengan jujur.

__ADS_1


“Abaikan saja deh!” ucap Nova.


__ADS_2