
“Aku nggak percaya! Memangnya mereka bisa membangkang?!” Wajah Amel dipenuhi murka.
Alex menghela napas. Dia tahu Amel yang mempunyai sifat impulsif tidak akan bisa mengerti.
Dia sangat jelas akan situasi saat ini. Pihak lawan sudah sepenuhnya tak terkendali, jika mereka menyuruh pasukan Robert kemari, mereka tidak akan terhindar dari baku tembak yang brutal.
Sementara senjata api pihak lawan pasti akan jauh lebih baik daripada senjata api milik pasukan Robert. Lagi pula, jumlah orang pihak lawan juga lebih banyak. Jadi, kedatangan pasukan Robert akan sia-sia.
Alex tentu saja tidak ingin mereka datang untuk mengantar ajal. Lagi pula, dia mempunyai kandidat yang lebih cocok untuk menyelesaikan baku tembak ini.
“Ayo! Kalian beres-beres dulu. Jagalah dokumen-dokumen ini dengan baik. Kita akan segera menerobos keluar.” Alex menatap Friska dan Amel dengan tenang.
Sementara Amel balik menatap Alex dengan terkejut. “Apakah kamu sudah gila? Apakah kamu tahu berapa banyak musuh yang sedang kita hadapi? Lagi pula, aku juga nggak membawa pistol. Kalau kita keluar sekarang, bukankah kita hanya akan cari mati?”
Alex hanya mengangkat bahunya.
Tepat di saat itu, Alex mendengar suara di koridor luar. Ada orang yang sedang mengetuk pintu kamar sebelah.
Alex tahu pintu yang diketuk itu adalah pintu kamarnya. Saat ini, dia mengangkat brankas yang sudah kosong itu, “Ikuti saja aku. Bala bantuanku akan tiba sebentar lagi.”
Amel menatap Alex dengan sedikit kebingungan. “Jadi maksudmu, kita harus bertahan dulu di sini? Kalau begitu, bukankah lebih bagus kalau kita tetap berada di dalam kamar?”
Alex menatap Amel sambil berkata, “Sebentar lagi, mereka akan mengepung kamar ini dan melepaskan tembakan begitu membuka pintu. Apakah kamu rasa kita bisa menghindar dari serangan itu kalau kita tetap berada di sini?”
Amel menggeleng.
Alex berkata dengan serius, “Tapi, kalau kita langsung menyerbu keluar sekarang, kita bisa menggunakan seluruh hotel untuk melawan mereka. Dengan begitu, kita bisa membeli cukup waktu.”
__ADS_1
Jika bukan karena harus membawa Friska dan Amel, Alex sebenarnya bisa langsung menyerang keluar. Preman-preman kecil ini tidak akan bisa menahannya. Namun, karena ada Friska dan Amel, dia harus mempertimbangkan keselamatan mereka.
Bala bantuan Alex baru bisa tiba sebentar lagi, jadi dia harus melindungi kedua wanita ini sebelum Andi tiba.
Saat ini, Alex mendengar bahwa pintu kamar sebelah sudah dibuka. Sepertinya, orang-orang ini sudah mendapatkan kunci cadangan hotel ini.
Alex langsung membuka pintu kamar tanpa ragu dan berjalan keluar. Saat preman-preman yang memegang tongkat baja dan pistol melihat Alex, mereka pun terkejut.
Mereka tidak tahu kenapa Alex bisa keluar dari kamar sebelah. Jangan-jangan mereka sudah salah kamar? Tidak mungkin, ‘kan?!
Namun, saat ini, mereka juga hanya sempat berpikir begitu. Selanjutnya, ada sebuah bayangan besar yang menghalangii pandangan mereka.
Bruk!!!
Ada sekitar lima orang preman yang dihantam oleh brankas yang dilempar Alex dan tidak bisa langsung berdiri. Sementara preman lain yang tidak terhantam diam-diam merasa beruntung dan hendak bertindak.
Sementara preman-preman lain hanya sempat mengangkat senjata di tangan mereka sebelum Alex bertindak. Semua orang pun langsung tumbang dengan hanya satu serangan.
Alex mengepalkan kedua tinjunya bagaikan dewa perang yang turun dari langit. Saat menghadapi dua puluhan preman, Alex terlihat bagaikan serigala yang menyerang kawanan domba. Dalam sekejap, Alex sudah mengalahkan mereka semua.
Saat ini, sekujur tubuh pelayan hotel yang disandera preman-preman itu gemetar karena ketakutan. Saat melihat Alex sudah mengalahkan semua preman itu, pelayan hotel itu juga merasa sangat takjub.
Ini bukanlah film! Bagaimana bisa seseorang mengalahkan puluhan preman sendirian? Lagi pula, tekniknya itu juga sangat enak dipandang mata. Di dalam gerakannya yang kokoh juga terdapat sedikit kelembutan. Gerakannya benar-benar mirip seperti seni bela diri di film-film.
Alex menatap pelayan itu dan berkata sambil tersenyum, “Maaf, aku sudah membuatmu terkejut. Kamu sudah boleh meninggalkan tempat ini, tapi aku sarankan lebih baik kamu berdiam di dalam kamar. Jangan keluar sebelum orang-orang ini meninggalkan Hotel Snow.”
Pelayan itu mengangguk dan langsung meninggalkan tempat itu. Sementara Alex berteriak pada Friska yang berada di dalam kamar, “Kalian sudah boleh keluar. Aku sudah membereskan orang di luar sini.”
__ADS_1
Setelah itu, Friska dan Amel baru berjalan keluar. Saat melihat preman-preman yang dikalahkan oleh Alex, Friska terlihat tenang, seolah-olah itu bukanlah apa-apa. Namun, ini adalah pertama kalinya Amel melihat Alex beraksi. Jadi, wajahnya dipenuhi keterkejutan.
Dia menatap Alex dan berkata, “Bukankah kamu itu direktur PT. Atish? Sejak kapan seorang direktur seperti dirimu bisa seni bela diri?”
Alex tersenyum sambil berkata, “Sebenarnya ini bukan apa-apa. Aku hanya belajar sedikit seni bela diri untuk melindungi diri. Lagi pula, kamu juga tahu, dengan kedudukanku ini, selalu ada orang yang ingin mencelakaiku. Aku juga nggak bisa hanya bergantung pada pengawal seperti orang lain. Bukankah lebih baik untuk bergantung pada diri sendiri daripada orang lain?”
Amel hanya bisa mengangguk. Dia merasa kata-kata Alex juga masuk akal, tetapi kenapa dia merasa ada yang aneh?
Alex menunjuk ke arah tangga, “Ayo ke sana!”
Friska dan Amel langsung melangkah maju. Saat melewati preman-preman yang tergeletak di atas lantai, Amel mengambil pistol yang ada di tangan salah satu preman itu.
Friska juga mengikuti Amel dan mengambil sebuah pistol. Pada dasarnya, dia memang berasal dari perusahaan keamanan, jadi biasanya dia juga sering berhubungan langsung dengan senjata api. Dia juga sering bergabung dengan klub menembak, jadi dia sama sekali tidak asing akan cara penggunaan pistol.
Alex menatap kedua wanita itu dengan sedikit aneh, jadi Amel tersenyum dan berkata, “Aku juga nggak ingin bergantung pada orang lain.”
Friska tersenyum. “Lebih baik bergantung pada diri sendiri daripada orang lain.”
Alex mengangkat bahunya dan membawa kedua wanita itu ke arah tangga. Mereka tentu saja tidak boleh memakai lift karena di dalam lift ada CCTV. Lagi pula, jika mereka berada di dalam ruangan yang begitu kecil, Friska dan Amel pasti tidak akan bisa menahan tembakan dari luar. Jadi, melewati tangga adalah pilihan yang paling aman.
Saat ini, di dalam ruang pemantauan, Morgan dan Trevor sedang melihat pergerakan Alex dan kedua wanita itu dengan wajah yang muram. Fandi memberi perintah kepada bawahannya yang lain menggunakan walkie talkie. Kali ini, mereka memang sudah mengumpulkan seluruh kekuatan mereka untuk datang ke Hotel Snow.
Ada lebih dari dua ratus orang yang sedang mengepung Hotel Snow. Seratus orang sudah memblokir semua pintu keluar, sedangkan seratus orang yang lain sedang berjalan ke atas untuk menghalangi Alex dan yang lain.
Semua penugasan personel terlihat sangat masuk akal. Mereka bisa membuat Alex dan yang lain terjebak di dalam hotel ini, bahkan mereka bisa mengutus banyak orang untuk melakukan aksi besar di dalam hotel.
Mereka sudah mengambil alih ruang pemantauan, jadi mereka bisa mengetahui semua gerak-gerik Alex dan yang lain. Alhasil, mereka sama sekali tidak panik. Hanya saja, mereka sangat kecewa saat melihat preman-preman yang tersungkur di depan kamar Alex.
__ADS_1
“Dasar sampah! Mereka semua memiliki senjata, tapi malah nggak bisa melawan Alex! Dasar nggak berguna!” kata Morgan dengan sangat murka.