
Adam tengah bersantai dan bermain game pubg sambil menunggu Nabila mandi. Panggilan telepon masuk di ponselnya membuat Adam kesal. Game nya otomatis mati. Adam mengangkat telepon itu dengan kesal.
“Hallo!Kenapa Vin?” Ternyata yang menelepon Adam adalah Kevin salah satu sahabatnya.
‘Lo dirumah nggak, Bro?Gue mau pinjem Ferrari lo.’ Ucap Kevin dari seberang.
“Gue dirumah, ambil aja!” Balas Adam.
‘Oke, gue udah di garasi lo nih. Turun dong, bawain kunci mobilnya.’
“Ok.” Jawab Adam singkat. Adam turun dari ranjangnya dengan kesal, sebelumnya ia meraih kunci mobilnya yang berada di nakas. Pun, Adam keluar dari kamar menuju garasi untuk memberikan kunci mobil pada Kevin.
Sampai di garasi Adam melihat Kevin berdiri disamping mobilnya dengan menatap ponsel ditangannya. Sesekali Kevin cengar-cengkir saat menatap ponselnya. “Lo, udah sampai sini kenapa nggak naik ambil kunci sendiri, b*ngsat!!Gue lagi main pubg afk gara-gara, lo!” Adam mendengus kesal seraya menyerahkan kunci mobilnya pada Kevin.
“Sorry, gue dengar dari pak Bejo istri lo dirumah. Gue kan takut ganggu kalau ke atas.” Kevin menerima kunci mobil itu dengan cengengesan.
“Justru lo yang telepon gue itu sangat menggangu!”
“Sorry, hehe. Gue bawa dulu mobilnya, mungkin lusa baru balik.” Ucap Kevin tanpa sungkan sama sekali.
“Terserah, jangan lupa dicuci pas balik.” Ujar Adam mengingatkan.
Kevin menjulurkan telapak tangannya seakan meminta sesuatu. “Uang saku?”
“B*ngsat!Lo itu CEO, tapi minta uang saku ke gue, jual aja perusahaan lo!Sini gue akusisi!” Adam geram sekali dengan Kevin. Bisa-bisanya minta uang saku.
“Buat beli bensin, gue gak pegang cash. Males lah mampir ke ATM, 500 aja!” Pinta Kevin bersikeras.
Adam meraih dompetnya di saku, pas sekali di dalam dompet Adam ada lima lembar uang seratus ribuan. “Nih!”
“Thankyu, bosqu.” Kevin tersenyum dan langsung masuk kedalam mobil. Laki-laki itu menyalakan mesin mobil untuk memanasinya. Maklum mobil yang jarang di pakai perlu dipanasi sebelum digunakan. Karna, Kevin tau mobil itu jarang dipakai Adam maupun Nabila.
“Lo mau kemana?” Tanya Adam.
“Gue mau kencan, gebetan gue lagi liburan di Jakarta tempat sepupunya.” Jawab Kevin.
“Bukannya dia nggak tau lo orang kaya?” tanya Adam. Kevin pernah bercerita mempunyai gebetan yang cantik. Perempuan itu tidak tau Kevin adalah orang kaya.
“Makanya gue pinjam mobil lo, gue bilang gue pinjem mobil bos gue.” Jawab Kevin.
Adam manggut-manggut. “Ok, have fun!”
Kevin pun melajukan mobil keluar dari garasi Adam dan pergi meninggalkan rumah Adam. Adam kembali ke kamarnya tapi tidak menemukan Nabila. Di kamar mandi tidak ada. Adam sudah mencari Nabila ke setiap sudut ruang kamarnya. Bahkan walk in closet Nabila. Satu-satunya tempat yang bisa dikunjungi Nabila saat ini adalah ruang makan. Karna Adam tau Nabila pasti lapar.
Adam memutuskan menyusul Nabila di ruang makan. Langkahnya terhenti saat ia mendengar istrinya dan adik angkatnya menyebut-nyebut namanya. Adam pun menguping semua pembicaraan Nabila dan Yoga. Termasuk Yoga yang akan memberitahu Nabila tentang rahasia Adam dan Nabila yang akan menyogok Yoga dengan peleg baru agar Yoga membeberkan rahasianya.
‘Benar-benar kedua anak itu.’ Batin Adam menggelengkan kepalanya. Adam masih menganggap Nabila dan Yoga seperti anak-anak jika melihat tingkah keduanya.
‘Perlu di beri pelajaran.’ Adam menyeringai jahat.
“Jadi, kamu menjual rahasia seharga peleg, Ga?Bagus!!” Ucap Adam dengan tangan bersedekap masih berdiri tegap ditempatnya.
Nabila dan Yoga melihat ke arah Adam. Terlihat kedua orang itu seperti menciut nyalinya.
__ADS_1
“Em..Mas Adam dirumah?” Tanya Nabila gugup.
“Iya!Memangnya kamu pikir aku kemana?” Adam berjalan mendekati Nabila. Laki-laki itu meraih kursi paling ujung yang biasa digunakan oleh kepala keluarga dan duduk. Ia mengambil nasi dan lauk sendiri.
“Tapi, kata Yoga mobil mas Adam keluar. Di garasi juga tidak ada.”
“Yang keluar, kan, mobilku. Memang kamu lihat aku juga keluar?” Tanya Adam. Nabila menggeleng.
“Terus yang bawa mobil mas siapa?” Timpal Yoga.
“Kevin!” Jawab Adam singkat. Laki-laki itu mulai menyantap makan malamnya.
“Oh..” Yoga dan Nabila manggut-manggut.
“Lah terus mas Adam kemana?Bila cari mas Adam nggak ada di garasi?Di kamar tadi nggak ada juga.” Ujar Nabila pada suaminya.
“Mungkin pas kamu keruang makan aku pas kembali ke kamar.” Jawab Adam.
“Iya, benar itu kata mas Adam. Mbak sih nggak cek lagi kekamar.” Ucap Yoga. Nabila melotot pada Yoga.
“Jadi, sudah transaksi kalian?” Tanya Adam datar.
Yoga dan Nabila sama-sama menelan salivanya kasar.
‘Kena marah kalau mas Adam tau aku membocorkan rahasianya.’ Batin Yoga.
‘Apa mas Adam tau siapa yang mengirim bunga itu?’ Batin Nabila.
“Bila, Yoga!”
“Sudah transaksi kalian?Jual rahasia dan nyogok pakai pelegnya?” Adam mengunyah makan malamnya santai. Sementara Yoga dan Nabila menghentikan makan malamnya.
“Maaf,” lirih Nabila dan Yoga.
“Memang rahasiaku apa yang kamu jual ke mbakmu?” Adam penasaran karna tidak mendengar apa yang dikatakan Yoga pada Nabila. Tadi Yoga hanya berbisik pada Nabila.
“Em..itu mas.”
“Apa?!Katakan!”
“So..soal mbak Bila dapat kiriman bunga.” Ucap Yoga ragu-ragu.
“Owh.” Ucap Adam. “Padahal aku bisa memberimu satu mobil baru tidak hanya peleg jika saja kamu menjaga rahasia dengan benar. Sayang sekali.” Lanjut Adam seraya menenggak setengah gelas air putih.
‘Hehe nggak dapat mobil baru dari mas Adam gak papa. Toh mobilku dari kakek juga baru, yang penting dapat peleg.’ Batin Yoga.
“Owh aja?” Sahut Nabila.
“Memang aku harus bereaksi bagaimana?” Tanya balik Adam.
“Ya apa gitu kek.” Jawab Nabila.
‘Wah gawat nih, aku harus segera pergi sebelum negara api menyerang.’ Batin Yoga merasakan tanda-tanda perang antara Nabila dan Adam.
__ADS_1
“Aku sudah selesai makan, Yoga keatas duluan ya Mbak, mas.” Yoga bangkit dari duduknya lalu dengan kecepatan kilat berlari menuju kamarnya sebelum mendapat panggilan dari Adam maupun Nabila.
‘Emang bener-bener si Yoga, bisa-bisanya ninggalin aku sendiri. Dengan raja hutan (Read:Singa).’ Karna Adam jika marah menakutkan. Seperti singa.
“Sudah makanmu?”
“Sudah, mas.”
“Ayo ke kamar!” Mas Adam bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya kearah Nabila. Nabila menerimanya. Adam pun menggenggam tangan Nabila lembut. Mereka berjalan meninggalkan ruang makan.
***
“Mas Adam udah nggak marah?”
“Masih!”
Sampai di kamar Adam melepaskan pegangan tangan mereka. “Duduk!” Menujuk ke arah sofa.
Nabila menurut, perempuan itu duduk di sofa. Diikuti Adam yang duduk disebelahnya. “Ceritakan kejadian hari ini, bagaimana kamu bisa pulang diantar Rangga. Ceritakan sedetail mungkin jangan ada yang terlewati!” Ucap Adam. Nabila mengangguk. Perempuan itu pun langsung menceritakan awal mula bertemu Rangga di cafe sampai akhirnya Rangga mengantarnya pulang.
“Kamu langsung pulang atau mampir kemana dulu?” Tanya Adam.
“Setelah mengantar tante Rani, kita ke bengkel dulu. Kak Rangga ambil ban untuk mobil barunya.” Ucap Nabila jujur.
‘Jadi mereka ke bengkel, pantas saja arahnya memutar.’ Batin Adam.
“Oh, terus?”
“Ya udah, setelah dari bengkel langsung pulang.” Jawab Nabila.
“Oke, aku percaya sama kamu.”
“Nggak marah lagi?”
“Masih!”
“Kok masih, harusnya Bila yang marah dong, mas!Kan, mas udah bakar kiriman bunga untuk Nabila. Sementara Bila nggak tau itu bunga dari siapa. Seenggaknya biarin Bila lihat dulu, baru bakar.” Bukan Nabila mau menerima bunga kiriman itu. Nabila hanya penasaran bunganya sama dengan bunga yang biasa Nabila terima di cafe atau bukan. Jika sama bisa dipastikan pengirimnya orang yang sama.
“Kamu mau nyimpen bunganya?”
“Nggak!”
“Terus, untuk apa kamu lihat kalau nggak berniat nyimpen?”
“Bila cuma penasaran, mas. Bunga yang dikirim sama dengan yang sering Bila terima di cafe atau bukan.” Ucap Nabila tanpa sadar keceplosan.
“Kamu sering dapat kiriman bunga?Di cafe?” Tanya Adam memincingkan matanya.
“Ups.” Nabila menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan.
.
.
__ADS_1
.