
“Apa tadi berjalan lancar?” Tanya Abel begitu suami dan kakaknya sampai dirumah sepulang dari kantor polisi.
“Semuanya lancar, sayang.”
“Niel. Kamu merasa Ilham aneh nggak sih?” Caca yang semula diam akhirnya angkat bicara.
“Maksud kakak apa?” Tanya Abel penasaran.
“Dia kayak orang yang tertekan banget gitu loh.” Menjawab pertanyaan Abel.
“Wajar lah kak namanya kehilangan pacar ya tertekan ya terpukul pasti kak Ilham sedih banget.” Sahut Abel.
“Koreksi ya, Bel. Pasangan selingkuh bukan pacaran. Dan, nggak usah kak kak segala memang dia kakak kamu?” Sewot Caca.
“Astagfirullah kak. Orang sudah mati kakak masih dendam?” Jika tebakan Abel benar Caca masih menyimpan rasa kesal pada Dewi dan Ilham bagaimana pun kedua orang itu pernah mengkhianati Caca.
Caca semakin sewot karena Abel, “Cih, siapa yang dendam.”
“Sudah sudah, kalian ini hal sepele saja diributkan.” Lerai Daniel.
“Abis nya kak Caca tuh Bee, orang sudah mati masih aja di dendami.”
“Kamu tuh yang ngasal, gue mana ada dendam sama Dewi.”
Hm.. bisa pening kepala Daniel jika masih berada di antara dua perempuan yang sama keras kepalanya. Lebih baik dia pergi saja.
“Tuh kan suami aku ngambek, kakak sih.” Berlalu meninggalkan Caca mengejar Daniel.
“Lah kok aku?” Caca menunjuk dirinya sendiri bingung.
**
Di dalam kamar Daniel langsung membersihkan dirinya, seharian di kantor polisi membuat tubuhnya terasa gerah dan tidak nyaman. Sementara Abel menyiapkan pakaian ganti suaminya. Kaos oblong dan celana kain dengan panjang di bawah lutut yang.
Daniel keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang ia lilitkan di pinggan dan rambut yang masih basah.
“Ih kok malah di kibas-kibas sih rambutnya, airnya kemana-mana dong Bee.” Protes Abel saat suaminya mengiba-ibaskan rambutnya yang basah. Daniel nyengir dengan menampakkan deretan gigi putihnya, lelaki itu sengaja mengibaskan rambutnya yang basah agar Abel kesal. Baginya saat Abel menggerutu sering kali terlihat imut, “ya maaf, tapi aku ganteng ‘kan kalau kaya gini?” Menopang dagunya bersikap sok keren.
Tidak di pungkiri paras Daniel memang sudah tampan di tambah air yang menetes dari rambutnya membasahi sebagian wajahnya membuat lelaki itu nampak maskulin.
__ADS_1
Ganteng bangettt!
Abel hanya membatin gengsi dong jika ia mengatakan Daniel takon saat ini sementara dia sudah mengomel karena Daniel yang mengibas-iban kan rambutnya.
“Ganteng ‘kan?” Ulang Daniel.
“Nggak, sama sekali nggak!” Jawab Abel tegas sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Bisa aja kamu bohongnya.” Mengacak rambut istrinya dengan gemas.
“Tu ‘kan, kebiasaan an berantakan rambut aku.” Memanyunkan bibirnya karena ulah Daniel.
“Hih. Gemas.” Abel yang seperti itu justru membuat Daniel semakin merasa gemas dan ingin memakan istrinya saat itu juga. Naik sayang suara ketukan pintu mengurungkan niat Daniel.
“Suami kamu di cari papa, tuh.” Ternyata Caca yang mengetuk pintu.
“Kenapa?”
“Ya mana aku tau, papa nunggu di ruang kerjanya.” Ucap Caca lalu berlalu begitu saja menuju kamarnya.
Abel kembali menemui suaminya yang sudah selesai berganti pakaian dan sedang duduk di kursi rias Abel mengusap rambutnya dengan handuk kecil.
“Kamu di cari papa, Bee. Papa nunggu di ruang kerjanya.” Kata Abel.
Daniel bangkit berdiri lalu menyerahkan handuk kecilnya pada Abel dan menyisir rambutnya rapi. Ia tidak mau membuat mertuanya menunggu lama.
“Nggak pakai pomade?”
“Nggak usah lagian cuman dirumah aja, kaisan papa nunggu lama. Aku ke papa dulu.”
Abel tidak penasaran kenapa papa Damar memanggil suaminya, mungkin Damae juga ingin tau hasil dari penyidikan hari ini.
Selang tiga puluh menit Daniel sudah kembali ke kamarnya sambil membawa sepiring mangga muda dan garam bubuk.
“Kok cepet?” Melirik piring yang di bawa suaminya.
Daniel menjawab sambil mendudukan dirinya di sofa, tangan kirinya memegang piring dan tangan kanannya mulai menjejalkan sepotong mangga muda yang sudah ia totolkan di garam ke dalam mulut. “Soalnya papa mau pergi ke tempat om kamu, jadi aku cuman bilang garis besarnya dari pertemuan tadi aja.” Daniel memakan mangga muda itu dengan lahap tanpa menawari Abel. Padahal Abel menatapnya dengan iler yang sudah di tahan. Bisa-bisanya Daniel tidak menawari Abel.
“Oooo.” Akhirnya Abel hanya menjawab dengan ber “o” ria.
__ADS_1
Hening. Abel tetap berada di atas kasur dengan punggung bersandar punggung ranjang dan kaki selonjor. Sementara Daniel masih di tempat semula menghabiskan mangga muda nya.
“Kamu mau, sayang?” Pas mangga muda yang ia bawa sudah habis, Daniel baru menawari istrinya.
“Ck.. nggak, nawarin kok udah habis.”
“Eh?” Melihat ke piring yang ada di tangan kirinya dan kosong melompong. “Udah habis ternyata.” Lagi-lagi Daniel nyengir kuda.
Daniel beranjak berdiri, “Kamu mau? Kalau iya aku mau ambil lagi.” Tawar lelaki itu pada istrinya.
Abel menggelengkan kepalanya, “nggak, lihat kamu makan udah kenyang.” Ketusnya kemudian.
“Yakin??”
Abel mengangguk dengan yakin. Namun sejurus kemudian saat Daniel sudah memegang handle pintu dan hendak membual pintu Abel menahannya. “Apa?” Tanya Daniel.
“Aku mau jus alpukat dong, Bee. Minta mbok buat bikinin yaa!” Pinta perempuan itu dan di jawab “oke,” oleh suaminya.
“Eh, nggak jadi ding. Alpukat nya aja di belah dua terus kasih susu di atasnya. Jangan lupa sendok.” Mengganti menu yang di mau.
“Dasar plin plan.” Komentar Daniel sambil berlalu ke dapur.
Di dapur, Daniel bertemu dengan Caca yang sedang menggoreng telur dadar. Caca menoleh pada Daniel saat lelaki itu meminta mbok asisten rumah tangga untuk mengipaskan mangga muda lagi.
“Lagi, Den?”
“Iya mbok, habis enak. Sama Abel minta buah alpukat dibelah dua dikasih susu atasnya mbok.” Mengatakan pesanan sang istri.
“Baik, tunggu sebentar ya, Den.” Mbok Ina sigap menyiapkan mangga muda potong kecil dan alpukat pesanan Daniel.
Caca yang melihat Daniel meminta mangga muda merasakan ngilu di giginya. Gimana rasanya mangga muda pasti sangat masam.
“Mangga muda, Niel?” Caca duduk di hadapan Daniel dengan membawa piring berisi telur dadar yang ia goreng. Satu centong nasi merah perempuan itu tambahkan di atas piringnya juga tumis brokoli ia tambahkan di atas piringnya.
Daniel menjawab dengan menganggukan kepalanya. “Mau? Biar aku suruh mbok Ina buatin sekalian.”
“Hah, enggak lah. Kalau ada yang sudah masak kenapa makan mangga muda yang masih mentah. Lagi pula gue nggak suka yang asam.” Menyuapkan satu sendok suapan nasi dengan toping tumis brokoli dan ke dalam mulutnya.
“Enak padahal.”
__ADS_1
What?? Enak? Dari mana enaknya coba? Caca bertanya-tanya dalam benaknya, ada yang tidak beres dengan adik iparnya. Tapi, apa? Dia tidak menemukan jawaban dari pertanyaannya itu.