Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Titik terang


__ADS_3

“Lo yakin?” Pertanyaan serius Daniel lontarkan pada pada sahabatnya, Mike. Setelah lelaki itu mendengarkan cerita penyelidikan kematian Dewi. Mike menjawab pertanyaan Daniel tak kalah serius, “gue mana mungkin kasih tau lo sebelum gue sendiri yakin.” Jawabnya sembari menyesap rokok nya.


“Gue udah curiga, kalau gitu nggak perlu nunggu lama kirim semua buktinya ke pengacara gue. Dengan begitu gue bisa bebas dan pulang ke apartemen.” Ucap Daniel.


“Emang sekarang lo nggak bisa pulang ke apartemen?”


Daniel menggelengkan kepalanya, “Papa minta gue sama Abel tinggal di sana sampe masalah kelar.”


Bukan tidak betah tinggal di rumah mertuanya, hanya saja Daniel lebih nyaman tinggal di udah sendiri. Lagi pula Abel juga sudah merengek mengajak pulang ke apartemen, namun Daniel menghormati permintaan papa Damar.


“Oke. Lo siap-siap juga.”


“Beres.”


***


Kanada.


“Anda di tahan atas penyelewengan dana perusahaan. Silahkan ikut kamu ke kantor!” Beberapa anggota kepolisian setempat datang membawa Robi yang juga kakak dari Santi, mantan ibu tiri Daniel.


“Omong kosong macam apa itu? Apa kalian punya bukti?” Teriak Robi memberontak kala polisi memborgol tangannya secara paksa. Dari awal polisi datang hingga mereka mengeluarkan surat perintah penahanan, Robi dianggap tidak koorperatif, oleh sebabnya polisi memborgol Robi secara paksa.


Di lain kediaman (Read: rumah) Santi nampak cemas mendapat berita laki-laki yang ia sebut kakak di gelandang ke kantor polisi. Perempuan paruh baya itu terlihat menghubungi seseorang beberapa kali dengan benda pipih yang di sebut ponsel. Namun, orang yang di hubunginya tak menjawab panggilan telepon dari Santi.


“Gimana ini?” Mondar-mandir sambil menggigit jari nya cemas. Jika Robi di penjara bagaimana kehidupan Santi nantinya? Selama ini Robi lah yang mengarahkan hidup Santi, bisa di bilang Robi adalah nakhoda bagi hidup Santi. Perempuan itu hanya mengiyakan dan menuruti apa saja yang di ucapkan Robi. Bahkan dalam hal pendidikan Defan pun Santi mengikuti Robi.


“Nyonya, ada tamu yang ingin bertemu nyonya.” Seorang maid datang tergopoh-gopoh menghadap Santi. Santi menoleh panik, siapa tamu yang mau bertemu dengannya si saat kondisi seperti ini? “Si-siapa?” Tanya nya tergagap. Jangan bilang pihak kepolisian, tapi dirinya ‘kan tidak pernah ikut campur urusan Robi.


“Tuan besar, nyonya.”


Tuan besar? Ayah?


Tuan besar adalah sebutan untuk Han, mantan mertua Santi yang tidak lain kakek dari Defan juga Daniel.


“Aku akan menemuinya, seduhkan teh melati untuk ayah.”


“Baik, nyonya.”


Usai mengganti baju yang ia kenakan dengan baju yang lebih sopan, Santi menemui mantan mertuanya di ruang tamu. Lelaki itu yang pernah menjadi mertua nya itu datang dengan di dampingi beberapa Bodyguard. Salah satu nya bediri di samping kanan kakek Han duduk.


“Ayah apa kabar?” Sapa Santi sopan.

__ADS_1


“Ya, kabarku baik.”


“Syukurlah-,”


“Aku tidak akan basa-basi.” Melepaskan map coklat ke hadapan Santi. Kakek Han duduk dengan salah satu kaki di silangkan di atas kaki yang lain. Tatapannya terlihat angkuh dan tidak bersahabat sama sekali.


“A-apa ini ayah?” Santi memegang map coklat itu dengan tangan gemetaran.


“Kau akan tau isinya setelah membukanya.”


Perlahan meskipun dengan tangan gemetaran Santi berhasil membuka map coklat itu.


“Menjijikkan!” Satu kata menyakitkan terlontar begitu saja dari mulut kakek Han.


“Ini?” Santi terkesiap dengan isi map coklat yang di bawa Kakek Han. Dimana map itu berisi informasi mengenai hubungan gelap Santi dan Robi.


“Kau pikir aku tidak akan mengetahui kenyataanya, kau bercerai dengan putraku juga karena hal ini bukan?” Tuduh kakek Han tanpa tedeng aling-aling. “Kau juga menyembunyikan kenyataan bahwa dia bukan kakakmu, lelaki itu hanya orang yang kau temui di jalan juga mantan pacarmu! Kakakmu yang sesungguhnya hilang sampai sekarang tidak ada yang mengetahui keberadaan nya.”


Skak mat! Semua yang kakek Han ucapkan benar adanya. Buliran air mata luruh begitu saja dari pelupuk mata Santi.


“Ayah, maafkan aku. Maafkan aku ayah.”


Santi teringat Defan, bagaimana reaksi Defan jika tau hubungan gelap ibunya dan lelaki yang ia panggil paman.


“A-Yah, Defan? Apakah Defan tau?” Memandang kakek Han penuh sendu. Berharap lelaki tua di hadapanya itu masih mempunyai belas kasihan dan tidak mengungkapkan rahasia besarnya pada putra semata wayangnya.


“Kau beruntung karena aku tidak memberi tahu Defan.”


Ah, syukurlah. Santi bisa sedikit bernafas lega.


“Sebagai balasan atas kebaikanku mulai sekarang Defan akan menjadi tanggung jawabku. Kau tidak berhak ikut campur atas kehidupan Defan lagi.”


Apa? Apa itu artinya Defan di terima sebagai cucu Alexander. Santi tentu tidak akan berani ikut campur lagi apapun yang berkenaan dengan kehidupan Defan. Mendapati kenyataan Defan di terima oleh kakek Han saja dia sudah bahagia.


“Baiklah, ayah. Santi berterima kasih atas kemurahan hati ayah.”


“Juga, alihkan semua sahammu atas nama Defan.”


Bagaimana ini, itu artinya Santi tidak lagi mempunyai hak atas perusahaan. Tapi, jika dia menolak kakek Han pasti tidak akan tinggal diam.


“Ba-baik, ayah.”

__ADS_1


Ternyata semua sudah di rencanakan secara rapi. Robi di penjara dan semua harta serta sahamnya di bekukan. Sementara Santi di ancam oleh kakek Han, dan semua harta juga sahamnya di alihkan atas nama Defan. Dengan begitu semua Harta keluarga Alexander yang sempat Santi dan Robi ambil telah kembali ke keluarga Alexander.


“Juga, serahkan dirimu ke kantor polisi.”


“Mak-maksud ayah apa?”


“Kau kenal Dewi, bukan?”


***


Jakarta, Indonesia.


Abel tebengong saat melihat berita di televisi yang membayangkan kasus pembunuhan seorang perempuan berinisial, D. Dimana pelaku sebenarnya adalah kekasih dari perempuan itu, yakni pria berinisial, I.


“Gilaa, ini bener-bener gila. Nggak nyangka gue, Ilham se dajjal itu.” Caca berucap sambil geleng-geleng kepala. Abel manggut-manggut setuju dengan apa yang di ucapkan Caca.


“Untung mama nggak jadi punya mantu Ilham.” Mama Lila bernafas lega, putri sulungnya berpisah dari Ilham.


“Betul.” Sahut papa Damar.


“Kalau bukan karena kakek, mungkin Caca masih sama Ilham, ma. Caca harus berterima kasih sama kakek.” Lanjut Caca.


Seperti apa yang Caca ucapkan, awal mula runtuhnya hubungannya dengan Ilham adalah saat Kakek Nanto memintanya bertunangan dengan cucu sahabat kakek.


“Betul betul betul.” Ucap papa Damar.


“Makanya, Ca. Kamu harus ingat nggak semua pilihan orang tua itu buruk. Yah, meskipun akhirnya yang nikah Abel.” Mama Lila terkekeh mendapati kenyataan Caca yang bertunangan namun putri bungsunya yang menikah.


“Ih mama, itu ‘kan karena takdir.”


“Iya sayang, mama berdoa semoga kamu juga segera menemukan takdirmu.”


“Aamiin.” Serentak papa Damar, Caca dan Abel.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2