Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
S2 Pertengkaran hebat


__ADS_3

Setelah makan malam Caca berusaha jujur perihal perjodohan nya dengan Daniel. Perempuan itu mengatakan semuanya dengan menunduk, ia tidak berani menatap Ilham. Ia takut melihat kekecewaan yang terpancar dari wajah Ilham.


“Jadi, pertunangan kita waktu itu hanya dianggap remeh oleh keluargamu?” Tanya Ilham.


“E-enggak seperti itu, Ham. Papa, mama, saat itu merestui kita, papa, mama juga nggak tau akan begini jadinya. Papa bahkan mau menemui kamu langsung untuk minta maaf.” Ujar Caca terisak.


“Apa karena aku yatim piyatu dan bukan berasal dari keluarga terpandang makanya kakek mu tidak merestui hubungan kita?”


Ilham mengepalkan tangannya yang berada di bawah meja makan. Hatinya terasa sesak bahkan tercabik-cabik. Ia terluka dengan penghinaan dari keluarga Caca. Ilham berpikir apa yang dilakukan keluarga Caca penghinaaan yang besar untuknya. Pertama papa dan mama Caca menerima Ilham lalu membuang Ilham dengan mudahnya setelah mendapa calon yang lebih sempurna untuk Caca.


“Bu-bukan seperti itu, Ham. Dengarkan aku dulu..”


Ilham mendorong kursi nya lalu bangkit ia meninggalkan Caca, Caca langsung mengejar Ilham.


“Ham, dengarkan dulu penjelasanku.” Menahan tangan Ilham.


“Aku tau bagaimana membatalkan perjodohanmu.” Smirk Ilham yang langsung menyeret Caca masuk ke dalam kamarnya. Ilham mendorong tubuh Caca dengan keras hingga perempuan itu terlempar di atas tempat tidur.


Ilham sendiri langsung naik ke atas tempat tidur dan menindih Caca.


“A-apa yang mau kamu lakukan, Ham?” Caca menahan tubuh Ilham yang berada di atasnya dengan meletakan kedua tangannya di dada Ilham.


“Aku?Hahaha, aku akan membuatmu hamil, dengan begitu tidak ada alasan bagi keluargamu untuk membatalkan pertunangan kita!” Meraih kedua tangan Caca dengan tangan kanannya lalu meletakannya di atas kepala Caca. Perempuan itu tidak berkutik lagi, Kedua kakinya di apit oleh kaki Ilham.


“Jangan seperti ini, Ham. Aku mohon, kita bicarakan baik-baik.” Pinta Caca lirih.


“Diam!” Bentak Ilham. Sungguh lelaki itu sudah di kuasai oleh setan, ia tidak bisa berpikir jernih kemarahan dan gairah lebih besar dari akal sehatnya.


Ilham mulai mencium bibir Caca dengan rakus dan kasar. Ia mel*matnya jauh dari kata lembut, puas mencium bibir Caca, ciuman Ilham turun ke leher Caca. Lelaki itu bermain-main di leher Caca dengan ganas. Caca sendiri hanya bisa menangis, Ilham pun menyobek blouse Caca hingga terpampang dengan jelas dua gundukan sintal di dada Caca yang hanya tertutupi bra. Ilham menciumi sekitar gundukan itu sesekali ia menyes*p nya membuat tanda kepemilikan di sana.


Hati Caca hancur sehancur-hancurnya, ia merasa harga dirinya di injak-injak oleh perlakuan kasar Ilham saat ini. Ilham yang sekarang seperti bukan Ilham yang Caca kenal.


“Aku dan dia hanya menikah kontrak, kita akan bercerai setelah satu tahun menikah, dia tidak akan menyentuhku selama pernikahan, jamu sudah menandatangani surat perjanjian.” Teriak Caca tidak tahan lagi dengan perlakuan Ilham.

__ADS_1


Ilham yang mendengar menikah kontrak akhirnya menghentikan aksinya. Ia menatap Caca intens mencari kebohongan dari perempuan itu, tidak ada kebohongan di matanya. Apa yang di ucapan perempuan itu tulus, ada kesedihan mendalam dari sorot mata perempuan itu.


Ilham melepaskan tangan Caca, lalu turun dari tubuh Caca. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan memunggungi Caca. “Maaf.” Satu kata itu lolos dari bibir Ilham. Lelaki itu sadar apa yang baru saja ia lakukan adalah salah.


Caca beringsut duduk lalu menarik selimut untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang sudah tidak berbusana. Perempuan itu sudah setengah telanjang.


Ilham berjalan ke arah almari lalu mengambil kemeja miliknya. “Pakai ini, aku akan mengantarmu pulang.” Melempar kemejanya pada Caca. Ia tau Caca tidak mungkin pulang memakai blouse nya yang sudah ia robek. Setelah itu Ilham keluar dari kamarnya.


Caca tak henti-hentinya mengucap syukur, ia masih terselamatkan karena Ilham menghentikan aksinya. Caca pun memakai kemeja Ilham dan menyusul Ilham. Ilham sendiri sudah menunggu di ruang tamu.


“Aku akan mengantarmu.” Ucap Ilham berjalan menghampiri Caca.


“Tidak perlu, aku membawa mobil kesini. Ku harap kita bisa bicara lain waktu dalam keadaan tenang.” Ujar Caca seraya menyambar tasnya dan keluar dari apartemen Ilham.


Sepeninggal Caca, Ilham mengacak-acak rambutnya sendiri dan mengumpat beberapa kali. Ia menyesali perbuatannya beberapa waktu yang lalu. Ia sudah menyakiti hati wanita yang pernah membantu nya bangkit dari keterpurukan. “Dasar bodoh!” Rutuk Ilham pada dirinya sendiri.


***


Abel sendiri sudah mengabaikan Daniel sejak kemarin siang. Perempuan itu membalas pesan Daniel dengan cuek, ia beralasan sedang sibuk dengan skripsinya saat Daniel meneleponnya. Ia juga menolak Daniel yang akan menemaninya di apartemen, bagaimana tidak menolak, Abel sendiri menginap di hotel malam ini di temani oleh Nita. Untung saja Riko mengizinkan Nita menemani Abel. Nabila tidak bisa menemani Abel karena Bila sudah mempunyai dua buntut yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.


Karena Daniel sedang sibuk, lelaki itu menyuruh Abel menemuinya di kantornya. Berbekal share loc dari Daniel, Abel mengendarai mobilnya menuju kantor Daniel.


Kini ia sampai di depan gedung yang menjual lumayan tinggal sebuah bangunan kantor firma hukum yang terkenal di Jakarta. Banyak pengacara-pengacara hebat bekerja di gedung itu.


“Permisi mbak, saya mau bertemu bapak Daniel.” Ucap Abel lembut pada resepsionis.


“Apakah nona sudah ada janji sebelumnya?” Tanya petugas resepsionis. Abel pun mengangguk.


“Sudah, sampaikan saja nama saya Abel.” Balas Abel.


Beberapa saat kemudian seorang perempuan cantik datang menjemput Abel dilobi. Perempuan itu bernama Arin yang tidak lain adalah sekertaris Daniel.


“Silahkan langsung masuk Nona, pak Daniel sudah menunggu kedatangan nona.” Arin membukakan pintu ruangan Daniel.

__ADS_1


Abel masuk ke dalam ruangan Daniel dengan tenang, sebelumnya ia mengatur pernafasannya agar stabil dulu sebelum pastinya meledak-ledak saat berdebat dengan Daniel nanti.


“Sayang...” Daniel berjalan ke arah Abel dan langsung memeluk Abel. Tak lupa dan wajib Daniel lakukan saat bertemu Abel, mencium puncak kepala Abel.


“Aku sudah menunggumu, duduklah.” Daniel menuntun Abel untuk duduk di sofa. Abel hanya mengikuti Daniel tanpa protes. Ia masih merangkai-rangkai kata yang akan di ucapkannya nanti.


“Apa kamu sibuk?” Tanya Abel.


“Tidak, masih bisa di sambi..” bertingkah manja merebahkan kepalanya di paha Abel.


“Em..Kemarin kamu kemana?” Tanya Abel.


“Aku di kantor seharian, kenapa memangnya?” Menengadah sambil mengelus pipi Abel.


Abel menggeleng, “Tidak papa, bagaimana makan siang mu jika kamu seharian di kantor?” Abel mencoba mengetes kejujuran Daniel, seberapa jauh lelaki itu membohongi Abel.


“Arin biasanya mengurus makan siangku, aku makan di kantor.” Jawab Daniel santai tidak merasa curiga pada pertanyaan Abel.


“Oh..” Abel pun manggut-manggut. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas, menghiraukan Daniel yang masih mentoel-toel pipi nya sesekali mengelusnya.


“Bisa jelaskan ini!” Menyerahkan ponselnya pada Daniel.


Daniel menerima ponsel Abel, ia tergelak lalu bangkit dari tidurannya. Daniel menonton video di ponsel Abel dengan durasi tidak lebih dari satu menit. Laki-laki itu berubah menjadi panik.


“Sayang,, aku bisa jelaskan.”


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2