
Nabila sudah mengirim pesan pada suaminya tapi tidak mendapat tanggapan dari Adam. Dia masih saja duduk termenung tidak beralih dari tempatnya.
Aku hamil?Apakah ini nyata?Aku akan menjadi ibu!
Nabila Air mata menetes dari pelupuk mata Nabila. Sampai pada saat dia merasakan kehadiran orang di depannya. Seorang lelaki tampan lengkap dengan setelah jas ala pengusaha berdiri tepat di depan Nabila duduk. Nabila mendongakan kepalanya melihat siapa yang tengah berdiri di depannya. Dilihatnya Adam tengah menunduk memandanginya. “ Mas Adam?” Nabila lalu berdiri, dan kini dia dan suaminya saling berhadapan. “ Mas a-aku.” Ucap Nabila yang langsung di peluk oleh Adam.
“ Aku bahagia Bil.” Ucap Adam memepererat pelukannya. Tanpa sadar Nabila malah menangis dengan keras di pelukan Adam, “ Kenapa menangis?Apa kamu tidak bahagia?Apa kamu tidak mau hamil sekarang?” Tanya Adam seraya mengusap air mata Nabila dengan kedua tangannya.
“ Aku bahagia mas, aku terharu. Aku tidak menyangka akan menjadi ibu, sungguh-sungguh akan menjadi seorang ibu.” Jawab Nabila.
“ Syukurlah, apa kau sudah periksa pada dokter kandungan?Bagaimana hasilnya?” Tanya Adam semangat.
Nabila menggelengkan kepalanya, “ Belum. Pelayanan bagian obgyn sudah tutup mas. Harus datang lagi besuk.” Jawab Nabila.
“ Berani sekali mereka mengatakan sepeti itu pada istri pemilik rumah sakit.” Adam menggandeng Nabila untuk kembali duduk. Dia kemudian memberi isyarat pada Tio.
“ Maksud mas?” Yang Nabila yang tidak di jawab Adam.
Adam malah balik bertanya pada Nabila seraya mengelus perut Nabila yang masih rata. “ Apa yang kau rasakan?” Tanya Adam.
“ Aku tidak merasakan apapun.”
Beberapa rombongan dokter dan perawat datang menghampiri Nabila dan Adam. “ Maaf, Presdir Adam. Kami tidak tau Nyonya datang.” Ucap salah satu dokter perempuan paruh baya.
“ Lihat baik-baik istriku, lain kali jika dia datang perhatikan dengan baik!” Tegas Adam. Sementara Nabila bingung dengan keadaan.
“ Baik, baik Presdir.”
“ Sudahlah, lalukan pemeriksaan sekarang!” Adam mengajak Nabila menuju ruangan obgyn. Diikuti oleh para dokter, Dokter Maya langsung memeriksa kandungan Nabila dan disaksikan Adam. Setelah selesai di periksa, Adam mengajak Nabila meninggalkan rumah sakit tanpa mengurus apa pun.
“ Mana kunci mobilmu?” Tanya Adam, Nabila merogoh kunci mobil yang ada di dalam tasnya, menyerahkan pada Adam. Mobil Nabila di bawa oleh anak buah Adam, sementara Nabila ikut mobil Adam yang si kemudian oleh Tio, “ Kenapa diam saja?”. Sedari tadi Nabila memang hanya diam bahkan saat di periksa dia tidak banyak bertanya.
“ Mas, Rumah sakit itu?” Tanya Nabila ragu.
“ Iya, milikku. Lain kali kamu tinggal bilang Tio kalau ada urusan yang berkaitan dengan rumah sakit, biar Tio yang urus kamu tidak perlu repot.” Jawab Adam.
__ADS_1
“ Jadi, waktu aku mengirimi pesan tadi mas Adam sedang di rumah sakit ya?”
“ Iya, aku sedang memimpin rapat disana. Kamu tau waktu mendapat pesan darimu aku sangat shock. Aku langsung melacak keberadaanmu, dan ternyata kamu sedang di rumah sakit aku langsung membatalkan rapat dan Menemuimu.”
“ Pantas saja Mas datangnya cepat.”
“ Jadi, waktu kamu mual-mual di Jogja itu kamu sudah hamil Bil.”
“ Iya, Mas. Padahal aku kira masuk angin.” Ucap Nabila seraya bersender di bahu Adam. Nabila sesekali menguap, tidak butuh waktu lama dia langsung tertidur.
Sampai di rumah Adam sengaja tidak membangunkan Nabila, dia merasa kasihan pada Nabila yang kelihatan lelah. Adam membaringkan Nabila di ranjang lalu dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat bangun Nabila menyadari sudah di kamarnya, dia kemudian mencari Adam di setiap sudut kamar tapi tidak menemukan sosok Adam. Akhirnya Nabila memilih untuk membersihkan diri dulu baru mencari Adam lagi. Sesudah mandi, Nabila turun ke bawah untuk mencari Adam.
“ Bik, Bik Sumi.” Panggil Nabila pada Bi Sumi yang baru menyiapkan makan malam.
“ Ya, Non. Ada apa Non?” Tanya Bi Sumi seraya menghampiri Nabila di pintu masuk arah dapur.
“ Bi Sumi, lihat mas mas Adam enggak?”
“ Oh, Tuan ada di ruang tamu Non. Ada Tuan Riko dan Tuan Kevin juga. Mau dipanggilkan non?”.
“ Mau masak apa non?Biar bibik saja yang masak.” Bi Sumi pun mengikuti Nabila kesana kemari menyiapkan bahan yang dibutuhkan.
“ Nggak usah Bik, saya mau masak sendiri. Sudah lama nggak masak sendiri.”
“ Kalau begitu bibik jadi asistennya saja non.”
“ Nggak usah juga bik, bibi istirahat saja.” Ucap Nabila mendorong bibi agar meninggalkan dapur, Bi Sumi menurut pada Nabila. Diam-diam Bi Sumi melapor pada Adam, karena sebelumnya Adam sudah memberitahu semua pekerja tentang kehamilan Nabila. Adam meminta para pekerja untuk mengawasi Nabila saat di rumah, Adam tidak mau Nabila capek.
Saat Nabila tengah sibuk mengiris sayuran, Adam datang menghampirinya. “ Kamu ngapain di dapur Bil?” Tanya Adam.
“ Mas enggak lihat, aku sedang mengiris sayuran.”
“ Aku tau, tapi buat apa?”
__ADS_1
“ Ya, untuk dimasak dong. Memangnya buat apa lagi?”
“ Maksud aku gak gitu sayang, maksudku kenapa kamu masak sendiri?Kan ada bibik, kamu mau dimasakan apa?biar aku bilang ke bibik.”
“ Aku maunya masak sendiri mas.”
Adam mendekat kearah Nabila yang sedang sibuk. “ Bil, aku cuman nggak mau kamu capek. Kamu sedang hamil lho.”
Nabila menghentikan aktivitas memotong sayuran lalu menatap tajam ke Adam. “ Mas, aku tu cuma mau masak sendiri. Nggak mau di masakin, mending mas jangan ganggu deh. Sana mas balik ke ruang tamu, kan lagi ada Mas Riko sama Mas Kevin kan?” Nabila mendorong Adam agar meninggalkan dapur. Bukannya menurut, Adam malah duduk di kursi pantri dekat Nabila.
“ Ya udah, aku nggak ganggu kamu masak. Aku temani kamu saja. Riko sama Kevin sudah pulang jadi aku bebas.”
“ Oke, duduk manis di situ saja.”
Nabila melanjutkan aksi memasaknya, dia ingin masak sayur Lombok Ijo khas daerah Gunungkidul. Dulu waktu di Jogja dia sempat belajar resepnya dari pembatu yang kerja di rumah ibu. Nabila juga masak ATM kecap pedas.
“ Mas?” Nabila menoleh ke arah Adam yang sedari tadi memperhatikannya.
“ Yaa.”
“ Sini.” Nabila melambaikan tangannya, agar Adam mendekat.
Adam langsung berdiri mendekati istrinya. Nabila menyodorkan sendok berisi kuah sayur Lombok Ijo. Dia meminta Adam untuk mencicipinya. “ Enak.” Jawab Adam.
“ Bohong.”
“ Ya ampun Bil. Ini beneran enak, rasanya pas, asin dan pedesnya pas.”
“ Masa sih?Kok aku rasain pahit ya?” Nabila kemudian mencoba mencicipi lagi. Dia menuangkan kuah dari sendok besar khusus sayur ke sendok kecil untuk dicicipi.
“ Gimana?Bener kan kataku?” Tanya Adam.
“ Enggak tuh, masih pahit.” Jawab Nabila, “ Mas bohong kan?Rasanya aja pahit kok dibilang enak.”
“ Tapi beneran enak Bil.”
__ADS_1
“ Nggak, nggak enak. Pahit!”
Bersambung..