
Setelah membayar belanjaan Nita, Riko menitipkannya pada tempat penitipan barang. Dia menyusul Nita ke tempat khusus perlengkapan bayi dan ibu hamil. Nita sendiri sedang memilih dress lucu ibu hamil dan juga piyama lucu.
“Loh mas Riko kok kesini, trolinya dimana?” Tanya Nita saat Riko sudah berada di dekatnya.
“Aku titipkan di tempat penitipan barang.” Jawab Riko santai, “Ini kan baju ibu hamil?” Tanya Riko.
Nita memperlihatkan salah satu baju yang sedari tadi digenggamnya. “Iyaa, lihat!Bagus kan?”
“Lucu sih, tapi kamu beli kayak gini buat apa?” Tanya Riko lagi penasaran.
“Ini buat Bila, meskipun harganya enggak seberapa aku yakin Bila pasti suka. Dia tu paling suka kalau di kasih kado yang lucu-lucu.” Ucap Nita semangat, selama ini Nabila selalu membantu Nita saat kesusahan.
“Nabila hamil?”
“Iyaa Mas, aku baru tau kemarin. Tau nggak? Yang hamil kan Nabila, tapi yang histeris si Abel. Dia udah sibuk nyari nama bayi, mana udah mau belanja perlengkapan bayi juga.”
“Wah lucky banged si Adam, udah dapat istri kayak Nabila langsung jadi juga.” Riko mengikuti Nita kesana kemari memilih piyama.
Nita mengangguk, “Tapi mereka emang serasi sih, yang cowok ganteng dan yang cewek cantik. Sama-sama dari keluarga terpadang juga.”
Nita mengambil satu dress lucu ibu hamil dan dua piyama. Kemudian dia berjalan ke kasir. Setelah membayar Nita dan Riko meninggalkan toko itu. “Trolinya dititipin dimana mas?Aku mau bayar.”
Riko dengan cepat mengambil barang belanjaan di tempat penitipan barang dan diikuti Nita. “Loh kok udah plastik an?” Tanya Nita.
“Udah aku bayar Nit.” Jawab Riko.
“Habis berapa mas, aku ganti?”
“Nggak usah. Santai aja, yuk!” Riko mengajak Nita untuk keluar dari toserba.
“Jangan gitu mas, soalnya aku belanja banyak banged. Aku jadi nggak enak.”
Riko memasukan barang belanjaan ke dalam bagasi mobil di ikuti Nita yang sedari tadi merengek ingin mengganti uang belanja yang sudah di bayarkan Riko. “Kamu kenapa sih, udah gak papa. Aku seneng nemenin kamu belanja, santai aja.”
“Tapi mas-.”
“Nggak ada tapi-tapian.” Riko membukakan pintu mobil untuk Nita. Nita masuk kedalam mobil dan diam saja. “Kamu marah karena aku bayarin belanjaan kamu?” Tanya Riko melihat ekspresi Nita tidak secerah tadi.
“Aku nggak enak sama mas Riko.”
__ADS_1
Refleks Riko pun mengelus rambut Nita. “Kenapa nggak enak?Santai aja Nit, aku kan bayarin belanjaan kamu karena keinginan aku sendiri malahan aku maksa. Toh aku juga karena mampu Nit, anggap saja aku kayak Nabila. Kamu nggak pernah nolak kan kalau Nabila kasih apa-apa ke kamu.”
Nita menoleh ke Riko yang fokus pada kemudinya. “Ya beda Mas, Nabila kan sahabat baik aku. Sementara aku sama mas Riko kan nggak ada hubungan apa-apa.”
“Ada hubungan apa-apa aku juga enggak keberatan kok.” Jawab Riko lirih.
“Apa mas?” Tanya Nita.
“Enggak, maksudku kamu bisa anggap aku sahabat baik kamu juga. Udah jangan dibahas lagi.” Riko mengakhiri perdebatan bab bayar membayar uang belanjaan.
“Terimakasih Mas.”
Riko pun tersenyum akhirnya Nita mengalah dan tidak mempermasalahkannya lagi. “Nanti kamu ajak aku belanja bulanan lagi yaa, aku suka nemenin kamu belanja. Asik soalnya.”
“Emang mas Riko belum pernah nemenin belanja bulanan orang?”
“Belum, kamu yang pertama.”
“Hah?masa??” Tanya Nita heran.
Kalau nemenin belanja bulanan dapur kamu yang pertama Nit. Kalau nemenin cewek matre shopping dulu hampir tiap hari. Gumam Riko.
“Maaf, aku lupa mas kan orang kaya mana pernah belanja sendiri hahaha. Nanti aku ajak ke pasar deh, lebih seru dari belanja di supermarket.” Ucap Nita.
Mata Riko menjadi berbinar-binar. “Serius, janji ya?”
“Iya.. Iya janji.”
Riko tidak menyangka akan dapat kesempatan berduaan lagi sama Nita. Dia semakin semangat untuk menjadikan Nita pacarnya, apalagi dengan kepribadian Nita yang baik dan tidak matre itu. Sampai di apartemen Nita, Riko membantu membawa belanjaan ke dalam rumah. Di dalam ibu dan bude sudah menunggu Nita bersiap ke rumah sakit untuk mengecek keadaan rutin ibu. Riko pun menawarkan untuk mengantarkan mereka dengan senang hati. Tapi, karena Nita sudah janjian dengan Abel, Riko mengalah. Setelah Abel datang, Riko pamit untuk pulang ke rumahnya. Bisa menemani Nita belanja hari ini dan makan siang bersama sudah cukup bagi Riko. Dia juga tidak mau melangkah terlalu cepat karena takut Nita malah menjauh.
***Hanggara Grup***
Adam baru saja tiba di kantornya. Setelah rapat wali murid untuk Yoga, Adam melanjutkan pertemuan dengan klien diluar kantor. Dia kembali ke kantornya di ikuti oleh Tio.
Selfi membungkuk saat Adam sampai di depan mejanya.
“Apa ada tamu?” Tanya Adam pada Selfi.
“Tuan Raga dan Nona Diana ada di dalam. Saya sudah menyampaikan pada beliau jika Presdir sedang diluar, tapi Tuan Raga bersikeras mau menunggu di ruangan Presdir.” Selfi menjelaskan.
__ADS_1
“Kebiasaan anak itu, baiklah. Lanjutkan kerjamu!” Ucap Adam masuk keruang kantornya. Dia melihat Raga dan Diana sedang bermesraan . Raga sendiri memunggungi pintu dan selfi tepat dihadapanya.
“Ap kalian tidak punya tempat lain?” Yang Adam melihat sepupunya sedang bermesraan di kantornya.
Raga pun melepaskan ciuman Diana dan langsung menoleh ke Adam. Dengan cepat Raga lari memeluk Adam. “Kakak!”
Adam menghempas pelukan Raga, dia merasa risih dengan sepupunya yang tidak pernah tau malu menempel pada Adam. Raga bahkan tidak malu memeluk Adam di tempat umum. Raga Wijaya adalah sepupu jauh Adam. Dia cucu dari saudara nenek Adam. Selama ini Raga mengurus bisnisnya di Australia, entah apa yang membawa bocah itu kembali ke Indonesia. Sementara Diana adalah pacar Raga, Raga dan Diana sudah pacaran hampir 3 tahun. Tapi Diana belum mau menikah.
“Kamu masih saja seperti anak kecil, menempel padaku. Apa kau tidak malu pada pacarmu?” Adam berjalan melewati Raga mendekat ke Diana.
“Tidak!!Kau tidak ada masalah kan sayang?”
“Sebenarnya aku sangat ilfil padamu, tapi karena aku sangat mencintaimu jadi aku bisa tahan. Kakak apa kabar?” Diana memeluk Adam.
“Baik, kamu sendiri Bagaimana?” Tanya Adam membalas pelukan Diana.
“Baik Kak.”
Adam mengajak Raga dan Diana untuk duduk di sofa ruangannya dan menikmati teh. Mereka mengobrol karena sudah lama sekali tidak bertemu.
Tok..tok..
“Masuk!”
Tio dan Selfi masuk secara bersamaan, raut muka mereka sedikit menegang. “Ada apa?”tanya Adam.
“Maaf, Presdir menggangu waktu anda. Selfi ingin melaporkan sesuatu.” Jawab Tio.
“Katakan!”
Selfi nampak ragu-ragu untuk berbicara, dia melirik kearah Raga dan Diana. “Tidak papa, mereka bukan orang luar. Katakan saja!” Ucap Adam memahami isi Fikiran Selfi.
“Maaf, Presdir. Sepertinya saya tadi melihat Mobil Nona Nabila keluar dari basement perusahaan.” Ucap Selfi dengan tegang.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..