Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Keadaan Nabila


__ADS_3

Nabila tidak tenang karna Abel belum juga memberi informasi tentang penyelidikannya terhadap Adam. Bahkan Abel malah tidak bisa dihubungi semakin membuat Nabila khawatir saja.


Nabila sendiri mencoba baik-baik saja saat video call an bersama Adam. Seolah-olah tidak ada masalah yang terjadi. Nabila masih bersikap manis pada Adam. Ia mau mendengar hasil penyelidikan dulu baru memutuskan akan bagaimana menghadapi Adam.


****


Selama beberapa hari Nabila tidak bisa tidur dengan nyenyak ia juga banyak pikiran. Hal itu mempengaruhi kesehatannya. Pagi ini Nabila pingsan saat akan menuju ruang makan. Untung saja ada Yoga yang berdiri di belakangnya sehingga ia tidak tersungkur ke lantai. Yoga pun mengangkat Nabila dan merebahkan nya disofa ruang keluarga.


Bi Sumi langsung menghubungi dokter saat melihat nyonya nya pingsan.


Dokter hanya mengatakan jika Nabila stres karna banyak pikiran dan kelelahan. Dokter menyarankan agar Nabila menjaga pola makan, pola tidurnya dan agar tidak banyak pikiran.


“Saya nggak lapar, Bik.” Menolak sarapan yang sudah di siapkan oleh Bi Sumi.


“Sedikit saja Non, dua suap saja tidak papa.”


Nabila malah menggelengkan kepalanya. “Saya nggak nafsu, Bi.” Tolaknya lagi.


“Tapi Non, non Bila mungkin bisa tahan nggak makan tapi calon adik bayi gimana Non?” Mengingatkan Nabila jika dirinya sedang hamil.


Nabila tersadar dan mengelus perutnya. Ia tidak boleh menjadi ibu yang egois, hanya karna dirinya tidak nafsu makan sampai menyiksa calon bayinya. Bagaimanapun bayi dalam kandungannya butuh asupan nutrisi.


“Kalau begitu Bila mau makan yang berkuah Bi, Bila mau bakso.” Ucapnya pada Bi Sumi.


“Nah gitu dong non, non tunggu sebentar bibi belikan bakso perempatan ya non.” Bi Sumi membawa kembali sarapan yang tadi ia siapkan untuk Nabila. Sebagai gantinya Bi Sumi membeli bakso di perempatan, untung bakso dekat komplek rumahnya itu sudah buka dari jam 7 pagi.


Sesuai perkataannya Nabila mau sarapan dengan kuah bakso. Ia makan dibantu kuah bakso agar bisa cepat tertelan. Nabila tidak menyentuh gelinding bakso nya hanya kuahnya saja. Ia makan nasi dan kuah bakso saja tanpa sambal tanpa saos.


Seusai sarapan berberapa suap ia pun minum obat dan beristirahat.


***


Pukul 06:00 pagi Abel sampai di Indonesia, ia beristirahat sebentar di hotel dekat bandara karna keadaan Abel tidak baik. Ia muntah-muntah sejak turun dari bandara. Terpaksa Daniel pun mengajak Abel untuk beristirahat di hotel terdekat, ia juga memanggil dokter untuk memeriksa Abel.


“Bagaimana?” Tanya Daniel.


“Hanya kelelahan.” Jawab dokter yang juga sahabat Mike.


“Aku kira kau yang sakit, aku buru-buru kesini setelah mendapat telepon darimu. Kau tau aku bahkan baru tidur satu jam.” Gerutu Mike sambil menuliskan resep obat untuk Abel.


“Jadi maksudmu jika bukan aku, kau tidak akan datang kemari?” Tanya Daniel.


“Cih, kau dokter tidak profesional.” Lanjut Daniel.


“Apa dia wanita yang sedang kau kejar?” Tanya Mike.


“Kau benar, bagaimana menurutmu?” Meminta pendapat pada Mike.


“Sepertinya dia perempuan baik.” Mike bisa menilai meskipun hanya sekilas.

__ADS_1


“Dia memang baik, tapi, berhenti menatapnya, dia milikku.” Menutup mata Mike yang sedang memperhatikan Abel. Abel sedang tidur karena kelelahan.


“Ya..ya.. lepaskan dulu tanganmu.” Pinta Mike.


Daniel melepaskan tangannya dari mata Mike.


“Pergi kau!” Usir Daniel pada Mike.


Mike pun melongo. Habis manis sepah dibuang. “Kau sungguh jahat, aku bahkan tidak mendapat bayaran.” Gerutu Mike seraya melangkah dari kamar hotel. Ia memilih pergi sebelum Daniel mengusirnya lagi.


1 jam kemudian Abel terbangun. Ia langsung muntah-muntah lagi. Semua makanan yang dimakannya saat di pesawat keluar dalam bentuk cairan.


Daniel menepuk nepuk tengkuk Abel dengan lembut. Ia tidak jijik sama sekali melihat muntahan Abel di wastafel.


“Minum dulu!” Memberikan air putih banget setelah Abel keluar dari kamar mandi.


“Terimakasih.” Sahut Abel.


“Kau kenapa, kau tidak hamil, kan?” Tanya Daniel refleks dan langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia takut Abel marah.


Namun, bukan marah Abel malah geleng-geleng kepala.


“Memang bisa hamil tanpa berhubungan intim.” Jawab Abel yang langsung membuat Daniel bernafas lega.


“Lalu kenapa?” Daniel mengajak Abel duduk di sofa.


“Sepertinya aku masuk angin.” Abel membuka tas sling bag nya dan mencari sesuatu. Ia mencari minyak kayu putih yang selalu ia bawa kemana-mana.


“Apa butuh kerokan.” Jawab Abel.


“Apa itu?” Daniel sepertinya baru pertama kali mendengar hal seperti kerokan atau kerikan.


Abel paham Daniel tidak akan tau hal itu. “Lupakan kau tidak akan mengerti, apa kau bisa memijat?” Tanya Abel.


“Mungkin bisa.”


“Kalau begitu tolong, berikan minyak ini di sekitar bahu sampai tengkuk leherku dan tolong pijatkan.” Memberikan minyak kayu putih pada Daniel. Daniel menerima minyak kayu putih itu.


‘Bagiamana caranya.’ Daniel terbengong untuk beberap saat.


“Daniel.” Panggilan Abel.


“I..iya.” Daniel mulai mengoleskan minyak kayu putih itu di sekitar bahu Abel dan memijatnya pelan.


“Apa begini?” Tanya Daniel.


Abel pun mengangguk. “Harusnya tidak di pijat tapi di kerik, minyak kayu putih di bahuku harusnya lalu di kerik pakai koin.”


“Apa tidak sakit jika dikerik?” Tanya Daniel seraya memijat Abel.

__ADS_1


“Tidak, saat masuk angin aku biasa seperti itu.” Jawab Abel.


Daniel pun manggut-manggut. Saat ia akan memijat bagian sekitar tengkuk leher Abel, Daniel bisa melihat dengan jelas leher jenjang Abel yang putih mulus. Ia pun menelan salivanya sendiri. Daniel tidak menyangka hanya bagian leher Abel bisa membuatnya bergairah.


Daniel geleng-geleng untuk menyadarkan dirinya dari pikiran-pikiran kotor.


“Sudah.” Ucap Abel.


“Apa sudah baikan?” Tanya Daniel.


“Sudah mendingan, lebih baik kita pulang. Aku harus segera ke rumah Nabila.” Abel mengingat sejak semalam ia tidak mengabari Nabila. Sahabatnya itu pasti sedang mengkhawatirkannya.


“Baiklah, aku akan mengantarmu kesana.” Daniel memberikan kembali minyak putih Abel lalu setelahnya berkemas.


***


Abel langsung menuju rumah Nabila diantar oleh Daniel.


“Pagi mbak Abel.” Sapa pak Bejo satpam rumah Nabila.


“Pagi menjelang siang pak.” Jawab Abel. Ia turun di depan gerbang Nabila karna Daniel ada urusan mendadak.


“Eh iya ding, mbak Abel dari mana kok bawa koper?” Pak Bejo membantu membawa koper Abel. Ia merasa kasihan pada Abel. Meskipun hanya berjalan dari gerbang sampai ke pintu utama tapi cukup berkeringat.


“Saya dari luar negeri pak.” Jawab Abel.


“Wah, enaknya, liburan ya non?”


“Iya pak, cari jodoh disana.” Jawab Abel.


Abel dan pak Bejo pun sampai pintu utama.


“Makasih pak.” Ucap Abel. Pak Bejo lalu kembali ke pos satpam.


“Eh, ada non Abel.” Sapa Bi Ani.


“Nabila ada Bi?” Tanya Abel.


“Di kamar non, non Bila sakit. Tadi pingsan non, kata pak dokter kelelahan dan banyak pikiran.” Jawab Bi Ani.


“Kalau begitu saya ke kamar Nabila saja Bi.”


“Oh iya, mau minum apa non?” Tanya Bi Ani.


“Teh panas aja Bi.”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2