Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Bertemu Rangga


__ADS_3

Permintaan Nabila kali ini benar-benar menyusahkan Adam. Ia meminta Adam membawakan oleh-oleh berupa dress musim panas yang bahkan belum launching di toko resminya. Dress musim panas yang diinginkan Nabila baru saja akan di fashion show, kan.


Ia meminta Adam untuk datang ke fashion show seorang designer terkenal di Paris untuk mendapatkan beberapa dress musim panas yang diinginkan Nabila. Dan, itu wajib. Nabila tidak menerima penolakan Adam.


Perempuan itu juga berpesan pada Tio jika Adam tidak pulang dengan membawa salah satu dress musim panas koleksi dari designer itu, ia akan marah dan tidak mau menemui Adam.


Padahal Adam berniat pulang cepat untuk menyelesaikan kesalahpahaman nya dengan Nabila. Jika sesuai perkataan Tasya, Nabila sudah menerima foto dirinya dan Tasya. Apakah ini hanya alasan Nabila karna sedang marah padanya?Nabila tidak mau Adam pulang cepat karna marah?


Adam mengusap wajahnya kasar membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Ia sungguh ingin pulang sekarang juga dan menjelaskan semuanya pada Nabila. Adam juga sangat merindukan calon anaknya. Ia ingin mengusap dan menciumi perut Nabila, juga mengobrol dengan calon anaknya.


“Sekarang bagaimana tuan?”


Tio juga merasa bingung harus bagaimana, ia tidak bisa memberi saran pada bosnya. Jika memberi saran dalam hal berbisnis mungkin Tio bisa, tapi, saran untuk kehidupan rumah tangga Tio tidak bisa. Dirinya yang jomblo dari jaman purba itu minim pengalaman dalam sebuah hubungan.


“Mau bagaimana lagi, terbang ke Paris besok, beli oleh-oleh.” Gerutu Adam.


Ya sudah turuti saja apa mau Nabila daripada ia mendapatkan sambutan kemarahan dari istrinya. Adam yakin Nabila tidak berpikiran sempit dan menelaah begitu saja pesan negatif yang masuk ke ponsel nya. Perempuan itu pasti sabar, menunggu Adam memberikan penjelasan. Yah sekilas Adam berpikiran positif, sebelum akhirnya kembali merasa cemas.


“Baik Tuan. Saya akan mempersiapkan semuanya.” Ucap Tio lalu undur diri dari kamar Adam.


***


Seharian penuh Nabila hanya tiduran di kamar. Ia sangat mematuhi saran dokter untuk beristirahat penuh. Nabila hanya bangun untuk makan dan minum obat.


Abel yang sudah melaporkan hasil penyelidikannya juga langsung tidur di kamar tamu. Perempuan itu langsung tepar setelah makan. Ia bahkan tidak mengindahkan bunyi dering ponselnya.


***


Hari berikutnya Nabila sudah mendingan. Ia memutuskan untuk pergi ke cafe dan toko kue miliknya. Ia merasa bosan jika harus tiduran lagi. Kali ini Nabila pergi diantar oleh Abel dengan mobilnya.


“Hati-hati, kabarin kalau udah sampai.” Melambaikan tangannya pada Abel. Abel pun mengangguk dan membunyikan klakson.


Mobil Abel keluar dari area parkiran cafe milik Nabila. Perempuan itu akan pulang ke rumah orang tuanya.


Nabila pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam cafe. Suasana cafe sudah lumayan ramai padahal masih tergolong pagi. Yah, cafe yang buka 24 jam dan dengan menu yang lengkap pasti akan selalu ramai. Apalagi masakan chef cafe nya tidak bisa diragukan lagi.


“Pagi mbak Rani.” Sapa Nabila pada mba Rani.


Mbak Rani baru saja memberi arahan pada karyawan magang. Ia pun menoleh saat mendengar suara Nabila.


“Pagi, Bil. Sama siapa kesini nya?”


Mbak Rani tidak melihat siapapun di belakang Nabila.

__ADS_1


“Sama Abel, mbak. Dia langsung pulang, semalam nginep dirumah ku. Dilanjut lagi mbak, Bila ke atas dulu.” Pamitnya meninggalkan Rani dengan anak magang tadi.


Mbak Rani memanggil Nabila. Ia lupa menanyakan Nabila mau dibuatkan apa.


“Mau minum atau makan apa?” Tanya mbak Rani.


“Nanti aja mbak.”


Nabila melanjutkan langkahnya menuju ruangan pribadinya.


“Itu tadi yang punya cafe, namanya Nabila.” Tutur mbak Rani pada karyawan magang.


“Masih muda mbak.” Sahut karyawan magang.


“Emang, masih kuliah.”


Semua karyawan tau Nabila masih kuliah. Yah, kampusnya, kan, tepat di seberang cafe miliknya.


“Tapi udah nikah mbak?” Melihat perut Nabila yang buncit.


“Udah, bentar lagi punya baby. Sudah, kok malah bahas bos. Kamu lanjut kerjanya, kalau ada yang kurang paham tanya ke senior jangan malu-malu.”


Tidak salah memang Nabila menjadikan Rani orang kepercayaan untuk mengurus cafenya. Perempuan itu telaten dan bijaksana. Ia tegas namun tidak galak. Bisa memberi contoh yang baik bagi karyawan yang lain.


Untuk minumnya Nabila minta dibuatkan teh tawar panas dan air putih.


“Bila!” Panggil seseorang padanya.


Nabila mendongak melihat siapa yang memanggilnya.


“Kak Rangga!”


Ih, kenapa sih datang di saat tidak tepat. Bikin nggak selera makan. Mana makan siangku belum habis.


“Kamu lagi makan siang?” Tanya Rangga.


Udah tau pake nanya. Emang dia nggak lihat aku lagi ngunyah?


“Iya kak, laper. Maklum lagi berbandan dua, jadinya butuh asupan makanan yang lebih banyak.” Jawab Nabila menekankan kata berbadan dua.


Denger nggak?Aku tuh dah berbadan dua artinya dah punya suami. Masih aja diharapin.


“Aku juga mau makan siang.” Ujar Rangga.

__ADS_1


Makan ya makan aja!Emang aku nanya?


“Owh..Selamat makan siang ya kak!” Ucap Nabila malas.


Nabila enggan mengobrol terlalu lama dengan Rangga. Ia sudah sangat kesal mengingat video yang ditonton nya semalam. Namun, sebisa mungkin Nabila bersikap baik pada Rangga. Agar lelaki itu tidak curiga Nabila sudah tau semua akal busuknya.


“Boleh aku duduk disini?” Pinta Rangga penuh harap.


Nggak!Sana jauh-jauh dari aku. Ingin sekali Nabila berucap itu namun ia masih bisa menahan dirinya.


“Silahkan, kak.” Jawab Nabila seraya tersenyum dengan terpaksa.


Duduk aja sesukamu, aku yang akan pergi.


Nabila mempercepat makannya, ia sudah tidak sabar untuk kembali keruang pribadinya dan meninggalkan si Rangga.


Rangga pun memesan beberapa menu makan dan minuman untuk makan siangnya.


Wah, mayan nih yang di pesan menu mahal semua. Pantesan omset cafe banyak salah satu pelanggannya loyal gini. Dasar ya Nabila, ia seakan lupa kekesalannya pada Rangga hanya karna Rangga makan di cafenya dengan memilih menu yang mahal-malah.


“Gimana hubungan kamu sama suami kamu?” Tanya Rangga dengan datar.


Lelaki itu ingin tau apakah Nabila marah dengan suaminya atau tidak setelah mendapat foto suaminya bersama perempuan lain.


Kepo!


“Baik-baik aja kak, mas Adam lagi di luar negeri ngurus bisnis. Mungkin lusa pulang, aku juga udah kangen banged.” Ucap Nabila sengaja memanas manasi Rangga.


Gimana?Gimana?Kak Rangga pasti kesal, kan?Kakak pasti mengira aku dan mas Adam sedang bertengkar karena foto itu, kan?Haha, tidak semudah itu ferguso. Enak ae.


“Oh, baguslah.” Rangga jelas kecewa dengan jawaban Nabila. Namun, ia tetap positif thinking. Bisa saja Nabila berpura-pura baik-baik saja di depan dirinya padahal hatinya terluka. Ia hanya perlu memojokkan Adam sedikit lagi dan mengetahui yang sebenarnya. Apakah Nabila hanya berpura-pura baik-baik saja atau benar-benar baik-baik saja?


.


.


.


.


Haloo teman-teman, mampir juga ke karya baru aku Yah!


Judul karyanya “Love story:Nice to meet You” dan “Pengacara Tampanku.

__ADS_1


Matur nuwun 🙏


__ADS_2