
Senja pun datang menyapa, si kembar yang kelelahan akhirnya tertidur di mobil dalam perjalanan pulang. Abel dan Daniel mengantar kedua bocah itu kerumahnya.
Usai mengantar kedua bocah itu pulang, Abel berniat mengantar Daniel pulang ke apartemennya. Namun, lelaki itu menolak. Lelaki itu justru meminta Abel membawanya pulang ke apartemen Abel. Apa sih maunya Daniel?Dia sudah menjadi pengangguran setengah hari ini, mengikuti Abel dan si kembar kemana-mana. Saat malam pun tidak mau pulang.
Mereka sampai di apartemen Abel tepat pukul 19:00. Abel mengusulkan untuk langsung membersihkan diri, sementara Daniel menunggu di ruang tamu dengan kopi yang dibuatkan Abel sebelum perempuan itu membersihkan diri.
Di kamar mandi Abel tak henti menggerutu karena tingkah Daniel.
Menyebalkan, disuruh pulang nggak mau. Dia nggak sadar apa gue lelah dan pengen istirahat. Kenapa sih ada orang semenyebalkam dia, gue jadi ragu mau pdkt sama dia. Huh.
Selesai membersihkan diri, Abel memakai daster andalannya saat dirumah. Ya, daster berbahan katun rayon viscos selutut dan lengan sebahu. Dengan motif yang berbeda-beda. Kali ini Abel memakai motif monocrome hitam putih.
Abel mengeringkan rambutnya untuk beberapa saat sebelum memutuskan keluar dari kamar menemui tamu yang menyebalkan.
Dilihatnya Daniel nampak sibuk dengan ponselnya. Lelaki itu menatap ponsel miring nya seperti sedang menonton sesuatu, cukup serius sampai ia tidak menyadari kehadiran Abel.
“Ehemm.” Dehem Abel mendekati Daniel. Perempuan itu duduk di sebelah Daniel, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
“Sibuk banged ya?!” Tanya nya dengan datar. Namun terdengar menyelidik.
“Ini kasus baru yang sedang aku tangani, aku sedang melihat rekaman dari saksi.” Menjawab pertanyaan Abel dengan jujur.
Oh, iya. Sejenak aku melupakan jika lelaki disebelah ku ini seorang pengacara handal.
“Apakah itu kasus yang penting?” Tanya Abel lagi.
Daniel mengangguk. “Lumayan.” Menjawab tanpa menatap Abel. Lelaki itu masih fokus pada ponselnya. Abel pun menganggukkan kepalanya.
Hening..
Hening..
Hening..
Daniel masih fokus pada ponselnya sementara Abel juga memainkan ponsel nya. Ia memilih cuek pada lelaki di sebelahnya itu.
Aku juga bisa bermain ponsel tanpa memperdulikan sekitar. Sedikit kesal Abel pada Daniel yang mengacuhkan nya. Ada apa ini?Mengapa Abel merasa kesal?biasnya ia tidak akan peduli pada lelaki yang acuh, tapi mengapa sekarang ia kesal.
__ADS_1
“Ck.” Decak Abel.
Daniel mempause apa yang ia tonton, lalu melirik Abel sekilas. Dilihatnya wajah perempuan itu ditekuk.
Dia kenapa?pikir Daniel.
“Aku lapar.” Ucap Abel lirih saat merasakan lirikan Daniel.
Daniel menyunggingkan bibirnya membentuk senyuman tipis. Lelaki itu kemudian beranjak berdiri. “Ayo!” Menjulurkan tanganya pada Abel.
“Kemana?” Abel mendongak namun meraih juluran tangan Daniel.
“Mencari makan, bukankah kau lapar?” Mengajak Abel keluar dari apartemen nya. Abel membuntuti langkah kaki Daniel, namun ia tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Kau yakin mengajakku keluar dengan penampilan ku yang seperti ini?” Tanya Abel.
Daniel menoleh lalu melihat Abel hanya mengenakan daster. “Ambil jaketmu, kita cari makan disekitar sini saja!” Titah Daniel pada Abel. Perempuan itu mengangguk lalu melepaskan genggaman tangan Abel dan mengambil jaketnya di dalam kamar.
***
“Eh, mbak Abel. Lama nggak kelihatan mbak.” Sapa pak Sajio, penjual pecel lele tempat Abel dan Daniel akan makan.
“Iya pak, sering makan dirumah mama.” Jawab Abel.
“Mau makan disini atau bungkus, mbak?” Yang pak Sajio.
“Disini saja pak,” jawab Abel lali menoleh pada Daniel.
“Mau makan apa?” Tanyanya pada Daniel.
“Ayam bakar.” Jawab Daniel singkat jelas dan padat. Mungkin untuk minumnya menurut apa yang di pesan Abel.
Setelah makan Daniel dan Abel kembali ke apartemen Abel. Tapi, Daniel tidak masuk ke dalam apartemen Abel. Lelaki itu hanya mengantar Abel sampai di depan apartemennya saja.
“Kenapa, tidak masuk?” Tanya Abel heran.
“Aku ada urusan, kau masuklah lalu istirahat.” Ucapnya lembut. Dan Abel pun mengangguk.
__ADS_1
Mau tidur tapi baru saja makan, takut gemuk dan berlemak. Nanti tidak seksi lagi. Akhirnya Abel menggosokan gigi, cuci muka lalu memakai krim malam nya. Setelah itu Abel menonton drama Korea. Setidaknya sampai apa yang baru saja ia makan tercerna.
Sementara Daniel, lelaki itu langsung menuju Club Wu bai untuk menemui beberapa klien nya. Ia akan menyelesaikan seluruh pekerjaanya sebelum liburan dengan Abel di Jogja.
***
Dua hari kemudian, hari yang di sepakati oleh Abel dan Daniel untuk liburan bersama. Mereka pergi ke Jogja hanya menaiki kereta api sesuai permintaan Abel. Abel ingin mencoba bepergian dengan kereta api, perempuan itu bosan jika harus naik pesawat terus.
Abel hanya membawa sling bag kecil yang ia gunakan untuk menyimpan dompet dan ponsel serta ransel mini berisi satu stel baju dan charger serta air mineral.
Sementara Daniel hanya memakai waist bag untuk menyimpan dompet dan ponsel. Dan, Ransel sedang yang ia gunakan untuk membawa satu stel baju. Waist bag dibagaian depan dan ransel ia gendong.
Saat ini mereka berada di dalam kereta eksekutif duduk di satu kursi yang sama, karna Daniel menolak naik kereta ekonomi. Padahal Abel ingin merasakan naik kereta ekonomi. Namun, Daniel kekeuh menolak.
“Perjalannnya masih panjang, lebih baik tidur.” Ujar Abel yang langsung menyenderkan kepalanya di bahu Daniel tanpa sungkan. Diam-diam Daniel tersenyum senang.
Berpergian dengan kereta tidak buruk. Gumam Daniel seraya mengelus-elus kepala Abel lembut.
Saat merasa perempuan yang di sebelahnya telah terbang ke alam mimpi, Daniel memberanikan diri mengcup puncak kepala Abel penuh kasih sayang. Ia pun ikut tertidur beberapa saat kemudian.
Abel dan Daniel sampai di Jogja sekitar jam 04:30 pagi. Setelah turun dari kereta Abel mengajak Daniel untuk mencari masjid terdekat, perempuan itu akan sholat dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Apakah Daniel sholat?Tentu saja tidak!Lelaki itu belum ingat pada Tuhannya!Semoga segera di bukakan pintu hati Daniel agar mengingat dadi mana ia berasal dan siapa Tuhannya.
Setelahnya Daniel mengajak Abel menuju hotel milik Raka. Mereka akan menginap disana selama di Jogja. Daniel hanya memesan satu kamar. Ia bisa tidur di sofa dan Abel tidur di ranjang, begitu pikirnya. Yang jelas ia tidak mau berpisah dadi Abel meskipun hanya sebentar.
“Bel, aku akan tidur sebentar. Bangunkan aku dua jam lagi.” Ucap Daniel begitu mereka sampai di hotel. Abel hanya menangguk. Dan, Daniel langsung merebahkan dirinya di sofa.
Mereka memang tiba di hotel pukul 05:00 masih terlalu pagi untuk jalan-jalan, lebih baik istirahat sebentar.
Selagi menunggu Daniel tidur, Abel memilih untuk berjalan-jalan keliling hotel.
Mau sarapan apa ya?Gudek atau nasi kuning ya? Batin Abel.
.
.
.
__ADS_1