Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Penasaran


__ADS_3

Abel dan Daniel makan malam dengan menu seadanya, tumis brokoli dan telur dadar. Meskipun makan malam dengan menu rakyat jelata Daniel nampak menikmati makan malamnya dengan lahap. Bahkan Daniel nambah nasi sampai dua kali.


“Kamu lapar apa nggak makan seminggu?” Abel geleng-geleng kepala melihat nafsu makan Daniel.


“Aku lapar yang, saat di Kalimantan nafsu makan ku turun, karena nggak ada kamu yang nemenin makan.” Gombalnya pada Abel.


“Hilih Lebay.”


Ting tong..ting tong..


“Tumben ada tamu jam segini.”


Abel mengedikan bahunya. “Entahlah, coba aku buka dulu.” Abel turun dari kursi melangkah ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.


Ting..tong.. sepertinya yang bertamu tidak sabaran.


Abel membuka pintu apartemennya. Ternyata sahabat Daniel yang datang.


“Daniel ada, Bel?” Dari raut wajahnya Wu bai memang terlihat tidak sabaran. Abel mengangguk, mengiyakan pertanyaan Wu bai.


“Masuk dulu, mas. Daniel ada di ruang makan, lagi makan. Sekalian mas Wu ikut makan saja, mas Wu pasti belum makan, kan?” Abel mengajak Wu bai untuk masuk ke dalam apartemennya.


“Aku tunggu disini saja, kebetulan sudah makan.” Ucap Wu bai seraya mendudukan dirinya di sofa ruang tamu.


“Baiklah, aku panggilan Daniel.”


Abel kembali ke dapur.


“Siapa?” Daniel baru saja menyelesaikan makannya. Lelaki itu sedang mencuci piring kotor.


“Mas Wu, sepertinya penting. Kamu tinggal saja, biar aku yang pindah ke rak.” Abel mengambil alih piring yang berada di tangan Daniel.


“Oke.” Daniel mencuci tangannya dan mengelapnya dengan tisu lalu menuju ruang tamu untuk menemui Wu bai.


***


“Tumben lo datang nggak ngabarin dulu.” Todong Daniel sambil mendudukan dirinya di sofa.


“Gue nggak tau lo udah pulang, gue tau lo pulang setelah lihat story Abel.”


“Lo mau bahas masalah waktu itu?” Tebak Daniel yang langsung di angguki oleh Wu bai.


“Kita ke Club lo aja. Disini nggak aman, Abel pasti kepo.” Daniel dan Wu bai akan membahas masalah rem mobil Caca yang blong.


“Lo yakin dia ngizinin lo pergi?” Wu bai sedikit sangsi dengan kepercayaan diri Daniel yang mengajaknya pergi ke Club.


“Kita coba aja.” Abel mengangkat bahunya. Lalu lelaki itu berteriak memanggil Abel.


“Yang...sayang, come here!”


Abel datang dari dapur dengan membawa dua gelas teh hangat. Dan cup cake yang tadi ia beli sepulang dari apartemen Caca.


“Apa sih teriak-teriak.” Abel meletakan nampan berisi teh hangat dan camilan itu di atas meja kaca yang menjadi sekat antara sofa yang diduduki Daniel dan Wu bai.

__ADS_1


“Wu mau ngajakin aku keluar bentar, boleh, kan?” Wu bai melongo mendengar ucapan Daniel. Bisa-bisanya Daniel menjadikan Wu sebagai kambing hitam.


“Benar itu mas, Wu?” Abel menatap Wu bai mencari jawaban. Sementara Daniel memberi kode pada Wu bai agar mengiyakan saja pertanyaan Abel. Wu bai terpaksa mengangguk.


“Memang mau kemana?” Abel memangku nampan kosong dan duduk di sebelah Daniel.


“Club.” “Cafe.” Wu bai dan Daniel memberikan jawaban yang berbeda. Yang satu Club yang satu cafe.


“Yang jelas dong, yang bener yang mana?Club atau cafe?” Abel melipat kedua tanganya di depan dada.


“Cafe.” “Club.” Lagi-lagi antara Wu bai dan Daniel tidak kompak.


Ini pasti akal-akalan Daniel.


Terlalu mudah bagi Abel menebak rencana Daniel. Abel melotot pada kekasihnya untuk mencari jawaban yang tepat. Daniel hanya bisa menelan ludahnya kasar mendapati pelototan dari Abel.


“Sayang....mau kemana?” Tanya Abel dengan tatapan mengintimidasi.


“Maaf sayang, aku dan Wu bai mau ke Club.” Jujur dong Daniel dari tadi, biar Abel nggak perlu pakai melotot-melotot segala.


“Oh.”


“Oh, aja?” Daniel mengernyit heran. Begitu juga Wu bai.


“Hu’um, ya sudah habiskan dulu teh kalian baru berangkat.” Abel bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke dapur untuk mengembalikan nampan.


“Hah, udah gitu aja?” Wu bai bingung, Abel benar-benar memberi izin atau hanya pencitraan tapi dalam hatinya kesal.


Setelah mengembalikan nampan ke dapur, Abel masuk kamar nya. Ia langsung masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka.


“Yang, sayang?” Panggil Daniel yang baru saja masuk ke kamar. Daniel mendengar gemericik dari dalam kamar mandi yang berarti Abel sedang berada di kamar mandi.


Daniel duduk di tepi ranjang sambil menunggu Abel keluar dari kamar mandi.


“Loh, kamu ngapain disini?” Abel kaget melihat Daniel di kamar. Abel baru saja keluar dari kamar mandi sambil memegang handuk kecil khusus untuk mengelap wajahnya yang basah.


“Kamu serius ngizinin aku ke bar?” Tanya Daniel.


Abel berjalan ke arah meja rias lalu duduk di bangku. Ia mengambil satu persatu skin care perawatan wajah khusus malam hari dari laci meja rias.


“Iya, pergi aja!Tapi, jangan sampai dini hari.” Abel memakai toner untuk membersihkan wajahnya. Ia tuangkan toner pada kapas dan ia aplikasikan di wajahnya.


“Siap, bos.” Daniel berdiri mendekati Abel hendak mencium Abel.


“Nggak usah cium-cium, aku udah pakai toner!” Tolak Abel dengan mengarahkan telapak tangannya pada Daniel.


“Hm, pelit.”


“Jadi pergi enggak?Atau mau aku tarik izinnya?” Ancam Abel pada Daniel.


“Jangan..iya, iya, aku pergi!” Sambil mengusap lembut rambut Abel. “Jangan tidur malam-malam.” Abel pun mengangguk.


***

__ADS_1


Di Club..


“Apa yang lo dapatkan?” Sambil menyesap rokoknya.


“Dalang di balik blong nya rem mobil Caca.” Wu bai menyodorkan ponselnya pada Wu bai.


Daniel menerima ponsel Wu bai dan melihat foto yang Wu bai yakini dalang di balik penyabotase an mobil Caca.


“Hm, jadi dia.” Tidak jauh dari perkiraan Daniel. “Bukankah dia terlalu berani untuk melakukan hal licik itu.”


“Bingo!Ada pihak lain.” Wu bai membenarkan pernyataan Daniel. Lalu menyerahkan amplop coklat yang sedari tadi ia sembunyikan di balik jas nya pada Daniel.


Ck.. Daniel berdecak.


“Sudah gue duga. Tapi, bukti ini tidaklah cukup. Gue butuh bukti yang lebih akurat.” Ucap Daniel pada wi bai.


“Santai man, lo kayak nggak tau cara kerja gue.” Wu menepuk bahu Mike meyakinkan.


“Gue percayakan semua sama lo, untuk sementara keep dulu semua informasi ini sampai pernikahan gue berlangsung. Gue nggak mau ada masalah yang mengganggu pernikahan gue. Setelah nikah, kita bahas lagi.” Fokus Daniel saat ini adalah pernikahannya sama Abel. Tidak ada yang lebih penting dari pernikahannya dan Abel.


“Yo, man, kalian berdua disini.” Mike baru saja tiba dan langsung bergabung dengan Wu bai dan Daniel.


Cih..Daniel berdecih malas bertemu Mike. Mike pasti datang untuk bersenang-senang dengan wanita malam. Entah mengapa semenjak bersama Abel, Daniel sering kesal pada Mike jika sahabatnya itu bermain dengan perempuan malam.


“Kenapa mula lo?Sensi amat.” Mike mengejek Daniel.


“Lo nggak bosen main sama ja lang terus?” Sindir Daniel. Wu bai mengangguk setuju.


“Untuk sekarang tidak, mungkin nanti saat gue menemukan perempuan seperti Abel atau Renata, gue akan bosan dengan ja lang.” Jawab Mike santai mendudukan dirinya di sofa.


Daniel dan Wu hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Kalian nggak minum?Apa-apaan kopi?” Mike menaikan sebelah alisnya melihat minuman yang ada di atas meja adalah kopi bukan alkohol.


“Gue ada sidang pagi.” Jawab Daniel datar padahal alasannya tidak mau di suruh Abel tidur di sofa.


“Gue takut nggak dapat jatah dari Renata.” Jawab Wu bai jujur.


Ck.. “Kasian sekali.” Mike menatap Wu bai prihatin.


Dini hari Daniel kembali ke apartemen. Lelaki itu langsung membersihkan diri, setelahnya ia merebahkan dirinya di atas kasur tepat di sebelah Abel yang tidur pulas. Daniel merengkuh tubuh Abel perlahan agar masuk ke dalam dekapannya lalu tertidur.


.


.


.


.


.


IG :@nlita.s

__ADS_1


__ADS_2