Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Karna Banjir


__ADS_3

Setelah mengobrol untuk beberapa saat Rangga memutuskan pamit. Lebih tepatnya lelaki itu kesal melihat kemesraan Adam dan Nabila. Makanya Rangga memutuskan untuk pergi.


Acara pernikahan Nita dan Riko berjalan lancar. Acara di akhiri foto-foto keluarga. Setelah acara selesai Adam dan keluarganya pulang.


“Bila boleh bobok nggak, mas?” Nabila merasa lelah, kedua matanya pun sangat berat untuk terbuka. Sama selali tidak mau berkompromi.


Adam menoleh ke istrinya yang duduk disebelahnya. Tangan kirinya ia angkat lalu arahkan ke puncak kepala Nabila dan mengusap lembut rambut kepala Nabila. Sementara tangan kanannya memegang kemudi. “Tidurlah, sayang. Aku akan membangunkanmu saat kita sampai dirumah.” Ucap Adam.


“Kita pulang ke apartemenku aja yuk, mas.” Ajak Nabila karna tau apartemennya lebih dekat dari hotel tempat acara Nita.


“Oke, sayang.”


***


Beberapa hari berlalu, Ibu Putri sudah pulang ke Jogja, dan mama Silfi pun kembali ke Australia. Rumah Adam dan Nabila pun menjadi sepi lagi.


Nabila menjadi kesepian lagi, Adam akan menghabiskan siang harinya di kantor, Yoga akan menghabiskan siang harinya di sekolah dan lapangan basket. Sementara Nabila, ia hanya kuliah dan menghabiskan sisa waktu siang harinya di cafe.


Nabila menjadi sering bertemu Rangga. Karna Rangga selalu makan siang di cafe miliknya, bahkan tidak jarang Rangga juga menghabiskan sore harinya di cafe Nabila. Lelaki itu nongkrong bersama teman-temannya. Hubungan Nabila dan Rangga pun menjadi semakin akrab.


Hujan deras mengguyur Jakarta sore itu. Nabila masih termenung di cafe menunggu jemputan Adam. Sudah satu jam Nabila menunggu Adam. Tapi, suaminya gak kunjung datang. Adam bahkan tidak memberi kabar pada Nabila.


Nabila tidak terbiasa menghubungi Adam saat lelaki itu sedang di jalan. Ia hanya tidak mau Adam menjadi khawatir dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Adam sering kali terburu-buru saat akan menjemput Nabila.


Tin.. bunyi klakson mobil membuyarkan lamunan Nabila. Ia yang duduk di teras cafe itu pun bisa melihat dengan jelas siapa pemilik mobil yang baru saja mengklasonnya. Meskipun hujan deras, teras cafe milik Nabila tetap aman dari hujan. Itu sebabnya Nabila menunggu Adam disana.


‘Kak Rangga.’ Gumam Nabila.


“Kamu belum di jemput?” Teriak Rangga dari dalam mobil. Mobil Rangga berhenti tepat di tepi jalan, depan cafe milik Nabila.


Nabila hanya menggelengkan kepalanya.


“Aku antar!”

__ADS_1


“Nggak usah kak, mas Adam sudah jalan kesini.”


Rangga turun dari mobilnya dengan membawa payung di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya juga membawa payung yang ia gunakan untuk melindungi dirinya dari hujan. Lelaki itu menghampiri Nabila.


“Sudah malam, aku antar kamu, ya.” Ujar Rangga.


“Nggak usah, kak. Nanti takutnya malah selipan sama mas Adam.” Tolak Nabila sopan.


“Tapi, sudah jam 9 malam ini, Bil. Suami kamu janji jemput jam 8 tadi, kan?” Sebelumnya Rangga, Abel dan Nabila sedang nongkrong. Rangga tau Adam akan menjemput Nabila pukul 20:00 karna ia masih disana saat Adam menelepon Nabila.


“Nggak papa, kak. Mungkin mas Adam terjebak banjir dan lagi cari jalan memutar.” Ucap Nabila mencari kemungkinan alasan Adam telat menjemputnya. Sudah hal biasa terjadi banjir di Jakarta saat musim penghujan. Dan, semua orang tau itu.


“Tapi kan dia bisa ngabarin kamu, Bil!” Seru Rangga.


“Mungkin-.” Nabila tidak meneruskan ucapannya begitu melihat mobil suaminya menepi di sisi barat parkiran depan cafe. “Itu mobil suamiku, kak!” Ucap Nabila penuh penekanan. Seraya menunjuk mobil suaminya yang sudah berhenti di parkiran cafe.


Rangga menoleh ke arah yang ditunjuk Nabila. Terlihat seorang laki-laki turun dari mobilnya dengan memegang payung untuk melindunginya dari hujan. Laki-laki itu hanya membawa satu payung, ia berjalan ke arah Nabila dan Rangga.


“Nggak papa, mas.” Balas Nabila seraya tersenyum. Ia pun menggandeng lengan Adam dengan manja. “Kita duluan ya, kak.” Pamit Nabila pada Rangga. Rangga mengangguk seraya tersenyum kikuk.


“Kita duluan, Bro.” Ucap Adam pamit pada Rangga. Adam dan Nabila meninggalkan Rangga yang masih mematung di tempatnya.


Adam membuka pintu mobil bagian depan dan menyuruh Nabila masuk kedalamnya. Kemudian ia berjalan memutar untuk masuk ke kursi kemudi. Jas Adam sedikit basah karna tadi ia hanya menggunakan satu payung. Adam memprioritaskan payung itu untuk Nabila.


Pun, Adam langsung menghidupkan mesin mobilnya. Ia memacu mobilnya meninggalkan parkiran cafe.


“Sayang, maaf ya!”


“Maaf kenapa mas?” Menoleh ke arah Adam.


“Karna jemput kamu telat.” Balas Adam. Ia melepas jas kantornya saat mobil sedang berhenti karna terkena lampu merah. Pun, ia melemparkan jasnya ke kursi bagian belakang. Kini Adam hanya menggunakan kemeja. Kemeja warna putih yang pas di badan Adam.


“Tapi, bener mas kehalang banjir tadi?” Tanya Nabila penasaran. Adam mengangguk.

__ADS_1


‘Aku harus percaya mas Adam.’


“Loh ini kan bukan jalan kerumah, mas?” Tanya Nabila melihat Adam berbelok ke kiri. Seharunya Adam mengarahkan mobilnya belok kanan jika ingin pulang ke rumah mereka.


“Iya sayang, kita pulang ket apartemen kamu aja ya. Yoga WhatsApp beberapa jalur ke rumah ditutup karna banjir. Yoga saja puter balik tadi.” Ucap Adam masih fokus dengan kemudinya.


“Terus Yoga pulang kemana, mas?” Tanya Nabila. Ia tau mobil Yoga sangat ceper, mana mungkin Yoga mengorbankan mobil cepernya terkena banjir yang mungkin bisa setinggi 1 meter lebih.


“Yoga pulang kerumah kakek.”


“Owh.” Nabila manggut-manggut, “Tapi Bila laper, mas.” Merasa cacing di perutnya sudah menari-nari sejak tadi. Ia mengelus-elus perutnya sendiri. Perempuan itu sengaja tidak makan sore, karna ingin makan malam bersama suaminya.


“Kamu mau makan apa, sayang?” Mengusap lembut perut Nabila dengan tangan kirinya. Tangan kanan Adam fokus memegang kemudi.


“Bila mau soto Lamongan, mas.”


Adam mengernyitkan alisnya heran. “Sayangku, ini sudah hampir jam setengah sepuluh malam. Memang masih ada soto Lamongan jam segini?” Merasa tidak yakin apakah ada warung soto yang masih buka. Adam tau Nabila lebih suka makan soto di kaki lima dari pada di restoran.


“Tapi, adik yang mau mas.” Ujar Nabila cemberut.


Adam hanya bisa menghela nafasnya, jika sudah permintaan adik mau tidak mau harus terpenuhi. Seperti pesan Ibu Putri, Adam harus berusaha memenuhi semua permintaan Nabila selama hamil agar anak mereka kelak tidak ileran. Hm, ya itu menurut kepercayaan orang tua jaman dulu di keluarga Nabila.


“Oke, mas coba carikan, ya.”


Nabila mengangguk senang. “Makasih, mas.” Melepas seatbeltnya lalu memiringkan tubuhnya ke arah Adam dan mencium pipi Adam. Setelahnya duduk ke tempatnya dengan tenang dan memasang kembali seatbeltnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2