
Assalamualaikum Dio. Nita duduk bersimpuh di dekat pusara Dio.
Maaf, aku baru bisa mengunjungimu Dio. Dio apa kamu bahagia di atas sana?Apa kamu mendapat tempat yang terbaik disana?Aku selalu berdoa kamu di tempatkan di tempat terbaik disisi-Nya. Dio banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Dio sepertinya aku menyukai seseorang, dia sangat baik padaku, dia sering mengajakku makan siang, dia tampan dan juga lucu. Tapi dia sama sepertimu, lahir di keluarga yang berbeda denganku. Aku dan dia seperti langit dan bumi, saat kami bersama aku merasa nyaman tapi aku tidak berani merengkuhnya, aku takut, aku takut atas dinding yang membatasi duniaku dan dia. Air mata Nita bercucuran deras.
Nabila dan Abel memegangi bahu Nita, memberi semangat Nita. Setelah menaburkan bunga dan berdoa di pusara Dio. Nita mengajak Nabila dan juga Abel untuk pulang. Tapi langkah mereka terhenti ketika seorang wanita paruh baya datang bersama keluarganya berniat mengunjungi makam Dio juga. Wanita itu tidak asing bagi Nita, wanita yang selalu mencemooh Nita dan Nabila dengan hinaan melalui mulut tajamnya. Nyali Nita menjadi ciut ketika berhadapan dengan wanita tua itu, Nita pun menundukkan kepalanya ada perasaan bersalah dan persaan benci di dalam diri Nita pada wanita itu.
“Kalian?Berani sekali kalian datang kesini?” Kata wanita itu dengan tatapan tajam dan sinis.
“Kamu perempuan miskin tidak tau malu, apa yang ada di dalam otakmu sampai-sampai berani menginjakkan kaki di makam Dio lagi?Bukankah tahun lalu aku sudah peringatkan ke kamu?” Wanita itu mulai memaki-maki Nita sama seperti satu tahun yang lalu.
Nita masih menunduk dengan wajah sembab. “Maaf, tante. Saya hanya ingin mengirim doa untuk Dio.” Jawab Nita lirih.
Abel mulai geram, tapi tangannya di pegangi oleh Nabila. Nabila meminta Abel untuk menyaksikan dulu dengan tenang. Jangan sampai memperkeruh suasana.
“Maaf?Apa maafmu bisa mengembalikan anakku?Apa maafmu bisa membuat Dio hidup kembali?”
“Maaf, maafkan saya tante.” Nita berulangkali mengucapkan kata maaf dengan deraian air mata membasahi pipinya.
Plakk... tamparan keras mendarat di pipi Nita. “Tamparan ini bahkan tidak sepadan dengan nyawa anakku.” Wanita itu menampar Nita tanpa rasa belas kasian, raut kebencian terlihat jelas di wajah wanita tua itu.
“Astagfirullah, Tante kejadian dimasa lalu itu kecelakaan tante. Apa tante tidak bisa menganggap itu takdir?” Nabila yang merasa tidak terima sahabatnya di tampar pun ikut bicara.
“Diam kamu!!Kamu sama saja dengan dia, kamu lupa Randy juga mat* karena kamu!!Memang perempuan-perempuan miskin bisanya hanya menggoda lelaki kaya.” Wanita tua itu kini beralih memaki-maki Nabila.
Nita mendekati wanita tua itu. “Cukup, tante cukup. Kejadian 2 tahun yang lalu memang salah saya, saya minta maaf tante. Jangan salahkan Nabila, saya yang salah. Sayalah penyebab kematian Dio dan Randy.”
__ADS_1
“Ma, sudah ma. Semua sudah berlalu ma, Dio sudah tenang di atas sana ma.” Suami dari wanita tua itu akhirnya maju berusaha menenangkan istrinya.
Bukannya tenang wanita tua itu justru semakin menjadi-jadi. Dia terlibat cek cok dengan Abel yang tidak terima Nabila dan Nita dimaki-maki. Suasana semakin panas saat Abel mengungkit kenyataan dari kejadian 2 tahun yang lalu. Wanita tua itu pun menjadi semakin murka. Nita sudah tidak bisa melihat kekacauan terjadi di depan pusara Dio, hatinya semakin terluka Nita berniat melerai Mama Dio dan Abel tapi ia justru di tampar lagi oleh mama Abel. Nabila pun merasa geram karena mama Dio terus terusan mencari cara untuk menyakiti Nita.
“Cukup Tante!!Apa tante lupa??Sopir yang menabrak Dio itu suruhan siapa?Apa tante lupa???Tante sendiri yang membunuh Dio bukan Nita ataupun saya!” Nabila berteriak dengan keras dan lantang, entah karena bawaan hamil atau apa Nabila lebih mudah sensitif daripada biasanya. Nabila yang biasanya lembut dan bisa mengendalikan emosinya kini sangat murka melihat Nita yang ditampar dua kali oleh mama Dio.
Abel pun ikut tidak percaya Nabila bisa berkata kasar seperti itu.
“Kamu!!Dasar perempuan mur*ahan!” Mama Dio maju lalu mendorong Nabila hingga Nabila tersungkur jatuh menabrak pusara makam orang lain.
“Arg.” Pekik Nabila ketiak terjatuh, Nabila memegangi perutnya.
Nita sempat ingin menahan Nabila tapi langkahnya kalah cepat dengan langkah mama Dio.
“Bila.” Teriak Abel dan Nita secara bersamaan. Abel dan Nita langsung berlari mendekati Nabila.
Dua laki-laki yang tadi memperhatikan dari kejauhan langsung berlari mendekati Nabila, saat tau Nabila terjatuh.
“Sayang, kamu nggak papa?Ada yang sakit nggak?Mana yang sakit?” Adam berjongkok di hadapan Nabila. Ia baru saja tiba setelah berlari.
“Mas, kok bisa disini?” Tanya Nabila. Adam masih fokus memperhatikan keadaan Nabila. Tidak menjawab pertanyaan Nabila.
Riko langsung mendekati Nita. Nita berusaha mengusap air mata yang sedari tadi menetes tanpa henti di kedua pipinya, saat tau Riko menghampirinya.
Bukankah itu pak Adam? Batin Papa Dio.
__ADS_1
“Hahaha, ternyata masih ada laki-laki yang mau sama kalian yaa?” Mamanya Dio tertawa sinis saat melihat Adam membantu Nabila dan Riko yang langsung mendekati Nita. “Lebih baik mas-mas ini jauh-jauh dari kedua perempuan itu, daripada nanti bernasib sama seperti putraku.” Ketus mamanya Dio.
“Apa maksud tante?” Riko sudah maju karena marah melihat pipi Nita yang memar. Riko ingin sekali merobek mulut wanita tua itu, jika bukan karena orang tua dan wanita, Riko pasti sudah menghajar habis wanita tua itu.
“Tahan, Rik.” Kata Adam menahan tangan Riko. Merasa amarah Riko sudah tidak bisa dibendung lagi, Adam pun berdiri memandang ke mama Dio dan juga papanya Dio. Wanita tua itu masih terlihat sinis.
Ternyata benar Pak Adam.
“Terimakasih atas sarannya tante, tante tidak perlu khawatir tentang hubungan saya dan Istri saya, juga hubungan sahabat istri saya dan sahabat saya. Adapun bagaimana nanti hubungan kami berakhir atau bagaimana nanti Tuhan akan memisahkan kami itu bukan urusan tante. Dan untuk Pak Jodi kerjasama kita batal, saya akan menarik semua dana saya di perusahaan bapak!” Tegas Adam penuh dengan penekanan.
Papanya Dio langsung maju ke arah Adam. “Pak Adam, saya minta maaf atas kelakuan istri saya. Kita bisa bicarakan baik-baik, mohon pak Adam tidak membatalkan kerja sama kita.” Ucap Papanya Dio.
“Papa apa-apaan, tidak perlu memohon dengan orang itu. Kita bisa mencari investor lain, memang hanya dia saja investor di negeri ini?” Mamanya Dio tersenyum sinis melihat Adam sebelah mata.
.
.
.
Bersambung..
Kasih tau author saat ada kata yang typo yaa..
Author mohon kumpulkan poin kalian lalu baru vote untuk karya author hehe..
__ADS_1
Netizen: Wah Bos besar diremehkan, bagaimana reaksi Adam thor?
Author: Kayaknya Adam B aja deh guys ...