Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
S2 Daniel vs Kakek Han


__ADS_3

Abel menutup pintu apartemennya kembali lalu masuk kedalam apartemen menyusul Daniel. Daniel sendiri masih berdiri menunggu Abel, lelaki itu bingung harus mulai dari mana menjelaskan perihal kepergiannya ke Kanada.


Abel melewati Daniel berjalan menuju sofa, ia pun mendudukkan dirinya di sofa panjang ruang tamu. Daniel mengikuti Abel, ia tidak ikut duduk namun berdiri tepat dihadapan Abel.


“Em..sayang, bisakah kita bicara?” Sambil menunduk menatap Abel. “Aku minta maaf, aku tidak bermaksud membatalkan kencan kita besok, semua nya serba mendadak, sayang.”


Lanjut Daniel menjelaskan. Ia tidak menjelaskan secara detail urusannya pergi ke Kanada, biarlah Abel mengira ia pergi untuk urusan pekerjaan. Belum saat nya Abel tau tentang keluarga Daniel. Melihat Abel hanya diam Daniel mengusap wajahnya kasar.


Apa sesulit ini membujuk pacar yang marah, Huh..


“Sayang...” panggil Daniel lagi lirih masih menatap Abel dengan menunduk.


Abel menengadahkan kepalanya menatap Daniel yang tengah memandanginya dengan tatapan memelas. Ada rasa kasian bercampur lucu melihat Daniel yang seperti itu. Abel pun berdiri, ia langsung memeluk Daniel erat, perempuan itu menyenderkan kepalanya di dada Daniel.


Apa dia sudah tidak marah? Batin Daniel membalas pelukan Abel.


“Aku yang harusnya minta maaf, aku tidak seharunya bersikap kekanak-kanakan, lagi pula kamu pergi untuk urusan pekerjaan bukan untuk bermain-main.” Ucap Abel lirih di pelukan Daniel.


Ada rasa bersalah di dalam diri Daniel saat mendengar Abel meminta maaf padanya, bahkan Abel terlihat memeprcayainya yang akan pergi. Perempuan itu sangat optimis Daniel pergi untuk urusan pekerjaan. Jika saja Abel tau Daniel pergi karena alasan lain apakah Abel akan tetap meminta maaf seperti saat ini. Malah seharusnya Daniel yang meminta maaf jika Abel tau yang sebenarnya.


Cup..cup..cup..Daniel mengecup puncak kepala Abel berulang-ulang. “Aku janji akan segera kembali setelah urusanku selesai.” Ujar Daniel yang di angguki oleh Abel.


Malam ini Daniel menginap di apartemen Abel. Mereka tidur bersama dalam satu ranjang, hanya tidur bukan ena-ena atau yang lainnya. Mereka tidur dengan pakaian yang utuh dan Daniel yang memeluk Abel.


Esok harinya Abel mengantar Daniel sampai di bandara. Setelah drama perpisahan yang sangat lama karna Abel enggan melepas Daniel akhirnya Daniel bisa berangkat.


***


Setelah menempuh perjalanan yang lama Daniel pun sampai di mansion mewah tempat Kakeknya tinggal. Ia di sambut bak pangeran, para maid dan kepala pengurus rumah menyambut kedatangan Daniel dengan berjejer.


“Selamat datang kembali tuan muda.” Sapa mereka pada Daniel. Daniel hanya mengangguk dan memberikan kopernya pada salah satu maid.


“Dimana kakek?” Tanya Daniel to the point.


“Tuan besar ada di ruang kerjannya, Tuan muda.”

__ADS_1


Tanpa menunggu lama Daniel menuju ruang kerja kakeknya. Ia bahkan menerobos masuk ruang kerja kakeknya tanpa mengeruk pintu. Dilihatnya kakek Han sedang fokus pada beberapa berkas, kakek yang melihat kedatangn Daniel pun melepaskan kaca matanya lalu menatap Daniel dengan senyum bahagia.


“Kau sudah datang?” Sapa kakek lembut.


“Berhenti basa-basi, bukankah kakek sedang sakit, lalu apa yang kakek lakukan sekarang?” Gerutu Daniel seraya mendudukkan dirinya di sofa.


Daniel segera mengcansel semua jadwal penting nya termasuk jadwal kencannya dengan Abel karna mendapat informasi kesehatan kakeknya menurutnya status dan segera terbang ke Kanada, namun, apa yang ia dapat?Kakeknya tidak kelihatan sakit sama sekali bahkan terlihat sangat sehat dan bugar.


“Kakek langsung sembuh saat John mengatakan kau akan pulang.” Ucap kakek keluar dari kursi kebesarannya dan berjalan ke arah Daniel.


“Aku datang untuk mengunjungi mu bukan untuk hal lain!” Tegas Daniel pada kakeknya.


Kakek Han menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Lelaki itu kini sudah duduk di sebelah Daniel.


“Kau sudah tau, kan, tujuan Kakek memaksamu pulang-.” Ucapan kakek menggantung saat Daniel langsung memotong ucapan kakek. “Aku tidak peduli dengan perjodohan konyol kakek dengan sahabat kakek itu!” Potong Daniel tidak tertarik dengan apa yang akan kakek bahas.


“Tidak bisa, Niel. Sebagai cucuku satu-satunya kau harus menerima perjodohan itu.” Sahut kakek tegas.


“Kalau begitu kakek adopsi saja anak lain, maka cucu kakek akan bertambah dan jodohkan dia dengan cucu sahabat kakek itu. Simpel.”


“Tidak bisa begitu, kau tau ini juga wasiat nenekmu.”


Daniel bangkit berdiri. “Aku tidak peduli, jika kakek memintaku datang hanya untuk membahas masalah ini lebih baik aku pergi!” Ujarnya kemudian meninggalkan kakek Han.


Sementara kakek hanya bisa menghela nafas kasar. Kakek tau membujuk Daniel untuk menerima perjodohan yang sudah ia atur dengan sahabatnya di masa lalu tidaklah mudah.


***


Daniel keluar dari mansion mewah kakeknya dan berpapasan dengan John asisten kakek yang masih seumuran dengannya.


“Apa kabar tuan muda.” Sapa John. Daniel mengangguk lalu melewati John.


Daniel pun mengambil salah satu mobil di garasi dan melajukannya keluar dari mansion. Ia akan menenangkan diri dari permintaan Kakeknya yang menurut Daniel konyol.


Cih.. perjodohan katanya, tidak mungkin aku menerima perjodohan ini!Tidak akan!

__ADS_1


Sesekali Daniel memukul stir kemudinya karena kesal. Ia menghentikan mobilnya di apartemen miliknya. Daniel pun masuk ke dalam apartemen dan merebahkan dirinya di ranjang. Ia langsung ingat pada Abel, Daniel lupa mengabari Abel jika dirinya sudah sampai.


***


Sepeninggal Daniel, kakek Han merasakan nyeri di dadanya dan jatuh tak sadarkan diri. Beruntung John masuk keruang kerja kakek, John langsung membawa kakek Han ke kamar dan memanggil dokter pribadi untuk datang ke mansion.


***


“Apa?” Sahut Daniel kesal, baru saja ia akan menghubungi Abel namun ponselnya lebih dulu berdering. Ada panggilan masuk dari John.


‘Anda dimana tuan muda?’ Pertanyaan John dari seberang membuat Daniel tambah kesal.


“Mau aku dimanapun bukan urusanmu!” Ketus Daniel hendak mematikan teleponnya.


‘Tuan besar tidak sadarkan diri, tuan muda.’ Ucap John cepat sebelum Daniel menutup telepon John secara sepihak.


“Cih.. kau mau saja di suruh berbohong oleh pak tua itu.” Cibir Daniel mengira John hanya berbohong.


‘Saya tidak berbohong, tuan muda.’


Daniel masih enggan mempercayai John, ia tidak akan tertipu oleh trik kakek lagi kali ini. “Sudahlah John, berhenti menuruti trik konyolnya, aku tidak punya waktu mengikuti permainan kekanak-kanakannya.” Sahut Daniel.


‘Maaf, tuan muda, tapi, kali ini saya tidak berani berbohong. Tuan besar benar-benar tidak sadarkan diri, jika anda tidak percaya anda bisa berbicara langsung pada dokter yang menangani tuan besar.’ John berharap Daniel bisa mempercayai perkataannya.


“Hahaha, kau dan dokter itu adalah orang kakek, untuk apa bertanya bukankah jawabnya sudah bisa ku prediksi.” Sindir Daniel.


‘Saya akan mengirimkan rekaman CCTV ruang kerja tuan besar. Kalau begitu saya tutup dulu, tuan muda.’ John mematikan sepihak panggilan teleponnya tanpa menunggu jawaban Daniel.


.


.


.


.

__ADS_1


Oke done dua bab untuk hari ini.. Terimakasih sudah mampir dan membaca ceritaku guys, see you tomorrow ❤️


__ADS_2