Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
S2 Kepo


__ADS_3

“Selamat tidur baby.” Mengecup kening Abel lembut. Abel pun masuk ke dalam dekapan Daniel dan membenamkan wajahnya di dada bidang Daniel. Tidak perlu waktu lama perempuan itu terlelap.


“I love you, sayang.” Mengecup puncak kepala Abel dan menyusul Abel ke alam mimpi.


***


Keesokan harinya Daniel terbangun namun tidak menemukan Abel di sebelahnya padahal baru jam tujuh pagi. Kemana Abel sepagi itu?Daniel melakukan peregangan otot ringan lalu mendudukkan dirinya. Ia sempat menguap beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan turun dari tempat tidur.


Daniel keluar dari kamar mencari Abel, dilihatnya Abel tengah berkutat di dapur dengan kompor menyala dan wajan diatas kompor.


Apa yang dia lakukan?Bukankah dia tidak bisa memasak. Batin Daniel.


Karena Abel sibuk Daniel tidak mengganggunya, ia memilih untuk kembali ke kamar dan membersihkan diri.


Abel selesai memasak ia berniat membangunkan Daniel tapi, lelaki itu sudah bangun dan sudah membersihkan diri. Daniel sendang berdiri di depan cermin rias Abel, ia bercermin sambil mengancingkan kancing pergelangan tangan kemejanya.


“Kapan kamu bangun?” Tanya Abel.


“Mungkin sekitar jam 7, aku lihat kau sibuk di dapur jadi aku tidak mengganggumu.” Jawabnya.


“Baiklah, aku akan mandi sebentar. Kamu tunggu aku di meja makan.” Ucap Abel dan Daniel mengangguk. Abel berjalan ke kamar mandi namun ia menoleh sekilas pada Daniel. “Aku sudah membuatkan kopi untukmu.” Ucap Abel berlalu masuk ke kamar mandi.


Sejak kapan dia belajar membuat kopi. Gumam Daniel.


Usai memakai dasinya Daniel berjalan ke ruang makan. Ia pun menyeruput kopi buatkan Abel. “Enak.” Pujinya.


Tatapan Daniel tertuju pada hidangan nasi goreng dan telur mata sapi di atas meja. Ia mengernyit sebentar. “Apa Abel yang masak?” Gumam nya.


“Maaf Aku lama,” Abel menghampiri Daniel dengan handuk yang masih melekat di kepalanya menutupi rambutnya yang basah. Abel keramas di pagi hari karena habis memasak, ia merasa rambutnya bauk asap bukan karna hal lain ya. Lagi pula Daniel sudah berjanji pada Abel tidak akan melewati batas.


“Sayang, apa ini kamu yang memasaknya?” Abel mengangguk.


“Cobalah.” Abel memberi dua centong nasi goreng ke piring Daniel dan menaruh telur mata sapi di atasnya.


Daniel mencoba nasi goreng buatan Abel. Sementara Abel menopang dagu nya dengan kedua tangannya menatap Daniel dengan tatapan was-was. Ini pertama kalinya perempuan itu memasak. Bagaimana hasilnya?Abel bahkan belum mencicipinya karena takut rasanya tidak sesuai ekspektasi. Ia membiarkan Daniel menjadi yang pertama mencoba masakannya.


“Kenapa menatapku seperti itu?” Sambil mengunyah nasi gorengnya.


“Bagaimana rasanya?”

__ADS_1


“Enak.” Jawab Daniel singkat padat dan jelas.


“Serius?” Daniel mengangguk.


Abel pun memberanikan diri mencicipi masakannya sendiri. “Lumayan..” ucap Abel terharu setelah mencicipi masakannya.


“Sejak kapan kamu belajar memasak?” Tanya Daniel.


“Selama kamu di Kanada, aku belajar memasak dari Nabila dan Nita. Bukankah hasilnya lumayan, tidak buruk, kan?” Tentu saja Abel patut berbangga diri dengan hasil masakannya pagi ini. Tidak sia-sia ia bangun lebih awal San berkutat di dapur.


“Good job sayang.” Mengelus kepala Abel.


“Lain kali aku akan memasak menu lain.” Ucap Abel semangat.


“Apa aku perlu menemanimu berbelanja bahan?” Daniel menawarkan diri mengantar Abel berbelanja. Ia sempat membaca sebuah artikel yang mengatakan menemani kekasih berbelanja bahan makanan adalah salah satu hal yang disukai perempuan.


“Apakah kamu ada waktu untuk menemanimu berbelanja?” Tatap Abel penuh harap. Ia tidak akan menyia-nyiakan tawaran Daniel. Kapan lagi berbelanja ditemani pacar.


“Tentu saja, katakan saja kapan kau ingin berbelanja. Aku akan mengosongkan jadwalku.” Jawabnya.


“Bagaimana besok sore?” Daniel setuju.


Drtt...Satu pesan masuk di ponsel Abel. Perempuan itu meraih ponselnya yang berada di meja dekat laptop. Abel sendiri sedang duduk lesehan di atas karpet di ruang tamu.


Temani aku makan Ice Cream. Mas Riko sibuk, aku udah di depan apartemen kamu. [ Nita ]


Satu pesan masuk dari sahabatnya yang tengah hamil muda. Pun, Abel langsung beranjak dari duduknya untuk membuka pintu apartemen, ia tidak mau membiarkan ibu hamil berdiri lama di depan pintu.


“Kenapa nggak langsung masuk aja sih?” Abel membuka pintu dan memepersilahkan sahabatnya untuk masuk. Nita melangkahkan kaki nya masuk ke dalam apartemen Abel dengan tas jinjing di lengannya.


“Nggak enak, siapa tau tuan Daniel didalam. Aku, kan, nggak mau ganggu.” Cibir Nita mendudukkan dirinya di sofa. Ia melihat buku-buku berceceran di sofa.


“Cih, kalaupun dia didalam kenapa?Lo kayak orang asing aja.” Abel memunguti satu persatu bukunya menumpuknya jadi satu dan meletakannya di atas meja. Ia kemudian mematikan laptopnya.


“Mau istirahat dulu atau langsung jalan?” Tanya Abel kemudian.


“Langsung jalan aja, aku dah pengen banged makan es Cream.” Jawab Nita.


“Yau dah, gue ganti baju dulu.”

__ADS_1


Abel mengganti bajunya dengan dress casual yang senada dengan dress yang Nita kenakan. Itu juga sesuai permintaan Nita yang memintanya untuk memakai dress dengan warna sama. Biar mereka terlihat seperti kakak adik kata Nita. Abel sendiri hanya bisa menuruti kemauan Nita, ia mana bisa menolak kemauan wanita hamil.


Abel sampai di salah satu restoran mewah. Ice Cream di restoran itu terkenal enak, ia dan Nita sudah pernah makan es Cream disana bersama Nabila.


“Aku ke toilet sebentar.” Abel bangkit berdiri meninggalkan Nita untuk pergi ke toilet.


Saat di perjalanan Abel melewati ruangan VVIP restoran itu yang sedikit terbuka pintunya. Abel, kan, orangnya kepo, ia pun penasaran seperti apa tampang orang yang menyewa ruang VVIP restoran hanya untuk makan siang. Dengan hati-hati Abel mengintip ke dalam ruangan itu.


Deg..


Deg..


Deg..


Memang benar kata orang, ingin tau urusan orang lain bukanlah hal yang baik. Kata-kata itu terbukti untuk Abel, ia yang semula ingin kepo justru mendapati pemandangan menyesakkan bagi dirinya sendiri.


Perempuan itu melihat kekasihnya, pujaan hatinya, lelaki yang di cintainya tengah makan siang dengan seorang perempuan. Perempuan yang sepertinya cantik jika di lihat dari belakang. Posisi perempuan itu nampak memunggungi Abel sementara Daniel duduk di hadapan perempuan itu menghadap ke arah pintu tempat Abel mengintip, jadi, Abel bisa melihat dengan jelas wajah Daniel.


Dengan tangan gemetaran, Abel mengambil ponselnya di dalam tas. Ia memvideo Daniel dan perempuan itu dengan hati-hati dengan bantuan pintu yang terbuka sedikit. Daniel sendiri tidak menyadari kehadiran Abel, lelaki itu nampak fokus berbicara pada perempuan di hadapannya.


Abel hanya mengambil video tidak sampai satu menit, ia sudah tidak sanggup lagi berada di sana lebih lama. Yang terpenting wajah Daniel terlihat jelas di video itu.


Abel meninggalkan tempat itu dan berbalik arah, ia tidak jadi pergi ke toilet. Abel kembali memasukan ponselnya ke dalam tas lalu menghampiri Nita. Sebelum menghampiri Nita, ia membayar bill nya dulu di kasir.


“Ayo kita pergi.” Ajak Abel pada Nita seraya menarik lengan Nita. Air mata pun sudah membanjiri wajah cantik perempuan itu. Nita tergelak melihat Abel menangis. “Ada apa?” Tanya Nita khawatir.


“Gue mohon, ayo pergi dari sini.” Pintanya memelas masih menarik lengan Nita.


Nita pun mengangguk dan meraih tas jinjingnya, segera Nita bangkit dari duduknya. Perempuan itu tidak menghiraukan lagi es Cream nya yang masih banyak, keadaan Abel lebih penting dari es Cream nya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2