
Adam masuk ke apartemen Rani lalu duduk di sofa panjang tepat di sebelah Riko. Sementara pengawal Adam berdiri disamping Adam.
“Pergilah!” Perintah Adam pada pengawalnya.
Rani membawa nampan berisi teh keruang tamu, menyajikan teh dan sepiring kue kering. “Silahkan diminum Mas.” Ucap Rani melirik Adam. Rani langsung terpikat dengan ketampanan Adam dalam balutan jas kerjanya.
“Terimakasih.” Kata Adam.
Riko menarik tangan Rani agar duduk di sebelahnya. “Sayang, kamu wangi sekali?” Kata Riko mengendus bau Rani.
“A-aku habis mandi Rik.” Jawab Rani gugup.
“Oh, ya kenalin temanku Adam. Pasti kamu udah pernah denger namanya, dia Presdir Hanggara Group.” Riko memperkenalkan Adam pada Rani. Adam hanya tersenyum saat Rani senyum genit seraya memperkenalkan dirinya.
“Diminum Dam. Santai saja, anggap rumah sendiri.” Ujar Riko.
“Hm.” Adam menyeruput teh buatan Rani untuk menghormati Rani.
Enak buatan Nabila. Rasanya hambar.
“Orang-orang yang tadi kemana Rik?” Rani menanyakan keberadaan pengawal Adam.
“Mereka menunggu di luar.” Jawab Riko.
Adam hanya diam tanpa peduli dengan percakapan Rani dan Riko. Sesekali Adam memeriksa ponselnya. Tapi jika Rani tiba-tiba bertanya Adam pun menjawab dengan sopan.
“Kami sudah menemukannya, Tuan.” Ucap salah satu pengawal Adam membawa amplop coklat ditangannya.
“Bawa kesini!” Pengawal Adam menyerahkan amplop coklat itu lalu memeriksa isinya dan tersenyum puas.
“Riko?Apa-apaan ini?Kenapa mereka keluar dari kamarku?” Tanya Rani. Rupanya saat Rani membuat teh, pengawal Adam menyelinap masuk ke kamar Rani.
“Untuk mencari bukti kebusukanmu!” Kata Riko dengan senyum devilnya.
“Apa maksudmu?” Rani masih pura-pura tenang menghadapi Riko.
Dan muncullah pengawal Adam yang lain nampak menyeret seorang laki-laki dari kamar Rani. Rani langsung gemetaran saat tau pengawal Adam membawa keluar laki-laki dari kamarnya. “Kau tanya apa maksudku?Bukankah kau bisa lihat dengan jelas apa maksudku?” Riko bertanya balik ke Rani dengan sinis, sorot mata Riko menajam.
Adam menyerahkan amplop coklat yang tadi di pegangnya pada Riko. “Selesaikan cepat, istriku sudah menunggu untuk makan malam.” Kata Adam.
“Kau tau istriku sedang menungguku bersama Nita.” Bisik Adam sebelum melangkah keluar dari apartemen Rani.
Riko nampak bersemangat mendengar nama Nita. “Tunggu aku 5menit.” Jawab Riko.
Adam meninggalkan pengawalnya bersama Riko di dalam apartemen Rani. Sementara ia menunggu di mobil mewahnya sambil telefon an dengan istrinya. Entah apa yang terjadi, hari ini Nabila terus-terusan menelefon Adam untuk hal-hal yang tidak penting. Tingkah Nabila yang seperti itu tidak membuat Adam jengkel, justru Adam malah merasa Nabila begitu menggemaskan.
__ADS_1
5 menit kemudian Riko nampak keluar dari lift yang menghubungkan basement dengan apartemen Rani. Senyum puas mengembang di wajah Riko. Riko pun segera masuk ke mobil Adam.
“Sudah beres?” Tanya Adam. Riko menganggukkan kepalanya.
“Kalian pulanglah. Kerja bagus untuk hari ini!” Sedikit membuka kaca mobilnya, Adam menyuruh para pengawalnya untuk pulang.
“Baik, Tuan.” Jawab mereka kompak.
“Kemana kita sekarang?” Tanya Riko.
“Kemana lagi, menemui para perempuan cantik.” Kata Adam seraya menghidupkan mesin mobilnya. Adam mengemudikan mobilnya menuju tempat dimana Nabila sedang menunggu.
***
“Mas Adam lama banged sih.” Protes Nabila saat suaminya baru saja sampai. Adam bahkan belum mendudukkan dirinya.
“Maaf, sayang.”
Nabila menepuk tempat kosong di sampingnya agar ada segera duduk. “Coba kalau tadi kita berangkatnya nunggu mas jemput pasti nggak dapat tempat lagi.”
“Iya, iya. Maaf yaa.” Adam mengelus rambut Nabila dengan lembut dan duduk di sebelah Nabila.
Jadi, tadi Nabila bersikeras mau makan bakso paling populer di Jakarta. Pak Bakso hanya jualan di malam hari dengan warung kaki limanya. Bakso urat Pak Sholeh itulah namanya. Bakso urat Pak Sholeh buka jam 5 sore sampai jam 1 pagi. Biasanya memang sangat ramai di jam-jam makan malam, dan tidak sering juga para pelanggan yang datang harus berebut tempat.
“Sini mas, mau minum apa?” Tanya Nita, menepuk tempat duduk di sebelahnya.
“Es jeruk aja Nit.” Riko duduk di samping Nita. “Jadi, ini yang dimaksud dinner romantis?” Tanya Riko.
“He’m. Aku pesan sekarang ya, kamu sama mas Adam mau apa Bil?” Tanya Nita.
“Aku bakso kuah, Mas Adam sama tapi 2 porsi yaa. Terus mas Adam minumnya es teh sama es jeruk.” Kata Nabila. Nita mencatat pesanan Nabila dengan serius.
“Lo mau makan 2 porsi Dam, emang habis?” Riko menyahut, karena tidak biasanya Adam makan banyak.
Adam hanya mengangguk pasrah, ia tau itu keinginan Nabila. Mungkin Nabila ingin makan 2 porsi tapi malu jadi, mengatasnamakan pesanannya dengan nama Adam.
“Bukan mas Adam yang mau makan 2 porsi tapi bumil.” Nita ikut berbicara dengan tersenyum.
“Oh, begitu.” Riko manggut-manggut.
“Bukan aku yang mau makan 2 porsi tapi anak mas Adam.” Nabila mengerucutkan bibirnya. Tampak sekali menggemaskan. “Iya, kan mas?anakmu kan yang mau makan 2 porsi bukan aku kan?”
“Iya sayangku.” Adam mengusap lembut lagi rambut Nabila dengan senyum lebar.
“Iyaa, Iyaa. Bukan kamu itu anakmu iyaaa, paham deh.” Kata Nita tersenyum geli lalu melangkah ke pak penjual bakso.
__ADS_1
Riko juga ikut tersenyum geli, melihat tingkah Nabila. Riko jadi ingin cepat-cepat melamar Nita.
10 menit kemudian bakso tiba, Nabila siap menyantap bakso yang ada di hadapannya. “Mas, tolong potongkan baksoku!”
“Sini aku potongkan.” Sahut Nita, meletakan sendok yang tadi digenggamnya hendak memotongkan bakso Nabila menjadi kecil seukuran satu suapan.
Nabila menggelengkan kepalanya. “Nggak mau, maunya mas Adam.”
“Lah apa bedanya Bil, yang penting kan baksonya jadi kecil bisa di makan. Ribet deh kamu.” Riko ikut nimbrung, entah apa yang salah dengan perkataan Riko, Adam dan Nita langsung melotot tajam ke Riko.
Wah mas Riko nggak paham mood ibu hamil bisa bahaya ini. Gumam Nita.
Dasar Riko, menyulut perang saja. Gumam Adam.
“Ya udah deh aku potong sendiri saja.” Nabila menarik mangkuk yang tadi ia sodorkan di hadapan Adam hendak memotong baksonya sendiri.
“Aku bisa kok motong sendiri.” Kata Nabila lagi.
Lagi-lagi Adam dan Nita kembali melototi Riko.
A*jir salah ngomong gua. Batin Riko. Riko langsung menunduk dan diam. Riko tidak mau bersuara lagi, takut salah ngomong.
Adam menyentuh mangkuk Nabila hendak membatu Nabila memotong baksonya. “Sini sayang, biar aku yang potongkan untukmu.” Ucap Adam penuh kelembutan.
“Nggak usah!Nanti mas Adam ribet.” Ketus Nabila.
.
.
.
.
Bersambung..
Kasih tau author kalau ada yang typo yaa !
Netizen : Thor, up yang banyak dong.
Author : Belum bisa guys, tapi aku usahain deh.
Netizen : Tadi si Riko ngapain Rani thor?
Author : kalian bayangan sendiri aja yaa, kalau ada orang bohong bagusnya diapain.
__ADS_1