
Lamaran romantis yang Daniel siapkan telah usai. Abel dan Daniel tinggal mempersiapkan pernikahan mereka. Abel sendiri ingin mengurus pernikahan mereka sendiri, ia akan menemui wo dan ikut andil dalam setiap persiapan. Termasuk pemilihan gedung, pemilihan dekorasi dan adat apa yang akan ia kenakan saat resepsi.
Abel bisa fokus mengurusi persiapan pernikahan nya dengan Daniel karena ia mempunyai banyak waktu luang. Abel yang sudah menyelesaikan kuliahnya dan sudah yudisium hanya tinggal menunggu wisuda.
Abel sendiri menginginkan dua resepsi dimana hari pertama saat ijab dilanjut resepsi dengan adat Jogja putri sesuai keinginan kedua orang tuannya dan resepsi lain dengan gaya modern.
Daniel hanya mengikuti semua keinginan Abel, lelaki itu memasrahkan semua persiapan pernikahan mereka pada Abel dan keluarganya. Untuk biaya sendiri di tanggung oleh kedua belah pihak 50:50. Awalnya Daniel ingin menanggung semua biaya pernikahan nya dengan Abel, namun, di tolak oleh keluarga Abel. Bagaimanapun papa Damar selaku papa kandung Abel ingin mengeluarkan biaya saat pernikahan putrinya, karena ini salah satu dari bentuk tanggung jawabnya.
Papa Damar hanya memiliki dua putri, Rebeca Anastasya yang kerap di panggil Caca sebagai putri sulung dan Isabella Anastasya yang biasa di panggil Abel. Tentu saja papa Damar ingin melakukan yang terbaik untuk penikahan kedua putrinya. Sekarang Abel lah yang akan menikah lebih dulu, papa Damar akan memenuhi apapun permintaan Abel termasuk mewujudkan pernikahan impian Abel berapapun biayanya.
Abel menikah lebih dulu dari Caca karena pertunangan Caca dan pacarnya batal.
Caca pun tidak masalah jika Abel mendahului nya. Toh, menikah itu juga tidak mudah. Butuh pertimbangan yang matang, butuh kesiapan, baik secara emosional dan secara finansial. Caca juga tidak mau menikahi orang random hanya karena terpaksa dan terburu-buru. Lebih baik Abel menyalipnya menikah lebih dulu dari pada Caca harus menikah dengan orang random. Caca sendiri saat ini akan fokus pada kariernya sambil menunggu datangnya jodoh yang tepat.
***
Hari ini Abel akan menemani Caca membeli mobil karna mobil Caca remuk saat kecelakaan yang menimpa Abel.
Abel dan Caca masuk ke salah satu shorum mobil yang terkenal di kota Jakarta. Mereka berdua disambut baik oleh pemilik shorum langsung.
“Silahkan dilihat-lihat, nona Caca dan nona Abel.” Menemani Abel dan Caca melihat satu persatu mobil baru yang berada di shorum nya.
“Yang warna merah itu bagus, kak.” Abel menunjuk mobil mini Cooper warna merah yang menurutnya lucu.
Caca menyipitkan matanya melihat mobil pilihan Abel. “Ih gak bagus, terlalu kekanak-kanakan buat Kakak.” Caca menolaknya, ia merasa mobil yang ditunjuk Abel tidak cocok dengannya.
“Padahal bagus.” Abel bergumam sambil cemberut.
Cukup lama Abel dan Caca berada di shorum mobil, sampai Caca memutuskan untuk membeli BMW yang menurutnya lebih cocok untuk dirinya. Mobil pilihan Caca berwarna hitam.
Caca melalukan transaksi pembelian saat itu juga. “Ini alamatnya ya, pak.” Caca menuliskan alamat rumah mama Lila sebagai alamat pengiriman mobil di kertas yang sudah di siapkan oleh pemilik shorum. Transaksi jual beli itu di layani langsung oleh pemilik shorum yang tidak lain kenalan Daniel.
“Baik nona, mobilnya akan dikirim sore ini juga.” Pemilik shorum itu berucap. Caca pun mengangguk.
Usai transaksi, Caca celingukan mencari Abel. Ternyata adik satu-satunya itu masih berdiri di sebelah mini Cooper yang tadi Abel sukai. Abel bahkan nampak mengobrol dengan SPG mobil itu.
__ADS_1
Caca pun menghampiri Abel.
“Bel..”
“Eh, kakak. Udah?” Abel menoleh saat Caca memanggilnya. Caca pun mengangguk.
“Mau pulang sekarang, kak?” Kali ini Caca yang mengangguk, mengiyakan pertanyaan Abel.
Abel belum pernah membawa mobil sendiri sejak peristiwa kecelakaan yang menimpa dirinya. Saat pergi Abel selalu diantar oleh sopir mama Lila, kadang Daniel, kadang sopir yang disiapkan Daniel dan kadang di temani oleh Caca.
Seperti hari ini Caca yang menyetir mobil, dan Abel hanya duduk manis di kursi kemudi. Caca mengantar Abel pulang ke apartemennya. Setelahnya Caca pulang ke apartemennya sendiri.
***
Abel melangkah masuk ke dalam apartemennya setelah ia membuka pintu apartemennya. Ia melihat sepatu laki-laki berada di depan pintu masuk, sepatu yang ia kenali. Ya, sepatu milik Daniel, kekasihnya yang beberapa hari lalu melamarnya dengan romantis.
Padahal Abel sempat kesal saat Daniel mengatakan tidak akan melamar Abel karena buang-buang uang. Ternyata kekasihnya itu hanya bercanda saat mengatakan itu.
“Saaaayang!” Abel berteriak memanggil Daniel setelah melepaskan sepatu ketsnya dan berganti sandal rumahan.
Abel pergi ke dapur dan ke kamarnya tapi tidak menemukan Daniel. Ia juga sudah menuju balkon namun juga tidak menemukan Daniel.
Masa sepatunya jalan sendiri?
Abel begidik ngeri dengan berbagai kemungkinan horor. Ia masih mengingat dengan jelas saat akan menemani Caca membeli mobil tidak ada sepatu Daniel.
Jika, saat pulang ada sepatu Daniel berarti lelaki itu datang. Tapi, sekarang dimana?Abel sudah memeriksa semua ruangan di apartemennya dan tidak menemukan kekasihnya.
Merasa takut, Abel duduk di sofa sambil menelepon Daniel. Tapi, tidak diangkat oleh Daniel. Suara ponsel Daniel juga tidak terdengar di apartemen Abel.
Fiks, dia nggak ada di apartemen.
Abel bangkit bediri, ia berjalan menuju pintu memutuskan untuk keluar dari apartemen namun saat akan membuka pintu, pintu apartemennya sudah lebih dulu terbuka oleh dorongan dari luar.
“Sayang, kamu sudah pulang?” Daniel masuk ke dalam apartemen dengan polosnya sambil mencangking kresek putih di tangan kanannya.
__ADS_1
“Kamu dari mana saja sih?Aku takut tau nggak, sepatu kamu ada, tapi kamu nya nggak ada. Aku udah periksa semua ruangan di apartemen aku.” Abel menggerutu sambil memukul ringan dada Daniel. Daniel langsung menangkap tangan Abel dengan tangan kirinya.
“Memang apa yang kamu takutkan, kamu takut sepatu ku jalan sendiri kesini?” Daniel menggenggam tangan Abel dan menuntunnya untuk duduk di sofa. Lelaki itu meletakan kresek yang dibawanya di atas meja sofa.
Abel mengangguk. “Lagian kamu kenapa bisa keluar tapi sepatu kamu di dalam?”
“Maaf, tadi aku pakai sandal yang kamu belikan waktu itu. Aku keluar sebentar beli nasi Padang di seberang gedung. Aku lapar, tadi hanya sarapan roti tawar.” Pantas saja Daniel lapar memang sudah masuk jam makan siang, bahkan sudah lewat.
“Ya ampun kasian, Yaudah aku ambilkan piring nya.” Abel beranjak berdiri. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil piring, sendok dan air putih.
Abel membuka nasi Padang yang dibeli Daniel dan meletakan nasi beserta lauknya di atas piring. Untuk kuah Padang nya Abel membiarkan Daniel sendiri yang menuangkan karena selera ia dan Daniel berbeda.
“Aku juga beli buat kamu, tapi lauk, lalapan sama kuah aja. Nasinya aku lihat kamu masak di mejicom.” Daniel membelikan rendang dan kuah untuk Abel.
“Makasih, tapi, aku udah makan sama kak Caca. Kamu makan aja, gimana?”
Daniel menggelengkan kepalanya. “Nggak, bisa buat ntar sore. Nggak kok kalau basi.”
Isabella Anastasya
Daniel Alexander
Rebecca Anastasya
Mike Lewis
.
__ADS_1