
Abel dan Defan sampai ke tempat yang mereka tuju, sebuah pemukiman yang terletak di pinggiran kota Jakarta. Rumah yang mereka cari lumayan jauh dari pusat kota, sudah begitu Abel dan Defan perlu berjalan kaki sekitar 150 meter untuk sampai ke tempat tujuan mereka karena mobil tidak bisa masuk ke komplek rumah itu. Untuk sampai ke rumah itu akses jalan hanya sebuah Gang sempit.
“Kamu yakin ini rumahnya?” Abel melepas kaca mata hitamnya, dan memasangnya di atas kepala hingga membuat rambut nya tertarik kebelakang.
“Yakin, orang suruhan Defan sudah lebih dulu sampai, kak.”
“Yakin kita diterima?” Defan mengangguk mengiyakan.
Abel dan Defan pun masuk ke rumah itu, mereka di sambut oleh wanita dan pria tua, yang sudah cukup umur.
***
Sekitar pukul 20:00 WIB, mobil mewah berwarna merah metalik terlihat memasuki pekarangan rumah papa Damar. Sang pengemudi nampak memarkir mobilnya dengan rapi di parkiran. Lalu, dua orang lelaki tampan turun dari mobil itu dengan gagahnya. Mereka adalah Daniel dan Mike. Mike mengantar Daniel pulang dari kantor polisi dan sekalian mampir untuk silaturahmi dengan mertua Daniel.
“Ma, Pa, Daniel pulang.” Sapa Daniel pada kedua mertuanya yang berada di ruang keluarga.
“Akhirnya kamu pulang.” Sahut Papa Damar.
“Cepat duduk, ceritakan sama mama apa yang terjadi sebenenarnya!” Titah mama Lila.
“Sabar, ma. Ada tamu juga, mama buat teh atau apa kek.” Sentil papa Damar sambil menyenggol istrinya.
“Oh, iya hehe. Duduk nak Mike, maaf ya tante tu excited Daniel pulang sampai nggak nyadar ada nak Mike juga.”
“Nggak papa, tante.”
“Tante ke belakang dulu, ya.” Mike menangguk.
Daniel dan Mike duduk di sofa yang sama. Ada yang kurang sepertinya, Daniel merasa tidak disambut.
“Kamu cari Abel?”
“Iya pa, aneh dia nggak nyambut suaminya pulang. Apa mungkin nggak tau?Padahal Daniel sudah kirim pesan saat di perjalanan pulang.” Ucap Daniel heran. Apa istrinya itu marah?
“Abel belum pulang.”
“Hah?Memang kemana, pa?” Daniel dan Mike saling lirik.
“Kata mama jemput adik kamu di bandara, tapi nggak tau kenapa belum pulang.” Jawab papa Damar yang sudah di beritahu mama Lila jika Abel menjemput Defan.
“Menjemput Defan, papa yakin Abel menjemput Defan? Abel nggak sendiri ‘kan, pa?” Daniel merasa cemas pasalnya Defan tidak memberi kabar akan ke Jakarta.
Papa Damar jadi panik. “Pa-papa nggak tau, Niel. Abel sendiri, soalnya tadi sopir lagi nganter papa.”
Sigap, Daniel langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana, ia menekan angka 1, angka cepat untuk panggilan. Ia pun menempelkan benda pipih itu ke dekat telinganya.
“Gimana?” Tanya Mike.
Mike dan papa Damar serius menatap ke arah Daniel.
“Nggak diangkat.” Daniel mencoba sekali lagi dan hasilnya sama. “Nggak di angkat juga,” Kali ini Daniel mencoba menghubungi Defan, beberapa kali Daniel mencoba menghubungi Defan, sayang nomor telepon adiknya itu tidak bisa dihubungi.
“Defan?”
“Nggak aktif.” Jawab Daniel singkat.
__ADS_1
Daniel kemudian menelepon seseorang, “Haloo, kamu periksa lokasi istri saya lewat informasi yang saya kirim. Sekarang, saya mau hasilnya dalam lima menit!” Kata Daniel dan langsung mengirim pesan ke seseorang.
“Gimana ini, Niel?” Papa Damar tidak bisa untuk tidak cemas, apalagi sudah malam dan Abel belum kembali. Jika, Daniel tidak celingukan mencari Abel, papa Damar bahkan lupa Abel belum pulang.
“Tenang, om. Pasti Abel dan Defan sedang dalam perjalanan pulang.” Tutur Mike menenangkan.
“Iya, pa. Papa jangan cemas, nanti mama curiga. Kalau mama curiga, bisa panjang urusannya.” Ucap Daniel.
Papa Damar menuruti saja apa kata Daniel, ia juga tidak mau mama Lila ikutan cemas.
“Mama datang, pa.” Lirih Daniel.
Papa Damar langsung bersikap biasa saja, begitu juga Daniel dan Mike. Mereka seolah sedang mengobrol dan bergurau.
“Nah, ini teh nya.”
“Terimakasih, tante.” Di jawab dengan senyuman oleh mama Lila.
Baru saja mama Lila hendak duduk di sofa papa Damar mengeluh, “Aduh, pinggang papa kayaknya kumat, ma.” Eluh papa Damar sambil tangan kirinya menyentuh pinggang.
“Aduh, papa ini gimana?Pasti diam-diam makan pantangan dari dokter lagi.” Omel mama Lila.
“Nggak kok, ma.”
“Nggak apa, nggak salah. Sudah ayo, mama kasih balsem urut.” Mama Lila mendekati papa Damar dan membantunya berdiri.
“Maaf ya nak Mike, biasa faktor u jadi sering encok.” Ucap Papa Damar.
“Saya juga sering sakit pinggang kok, om. Cuman kalau saya karena terlalu lama di ruang operasi jadi kelelahan.” Balas Mike.
“Kalau gitu om sama tante tinggal dulu, anggap saja rumah sendiri.”
“Niel, nanti ajak Mike makan malam sekalian, minta mbok yem siapkan.” Tutur mama Lila.
“Oke, ma.”
Papa Damar dan mama Lila pergi ke kamar mereka. Mama Lila sendiri memapah papa Damar, sementara papa Damar menoleh sedikit sambil mengucap “Cari Abel” dengan gerakan bibir tanpa suara. Daniel pun paham dan mengangguk.
“Mertua lo asyik juga kalau akting.”
“Kalau mau lo bisa jadi menantunya, kebetulan kakak ipar gue single.” Daniel berkata sambil melirik Mike.
“Dia susah di tebak.” Keluh Mike.
Drtt.. ponsel Daniel berdering satu panggilan masuk dari nomor tanpa nama yang langsung Daniel angkat.
“Halo!”
‘Nyonya dalam perjalanan pulang tuan, mungkin dalam 5 menit akan tiba.’ Sahut seseorang di seberang telepon.
“Oke, Terimakasih.”
‘Baik, Tuan.’
Menutup teleponnya dan meletakkan ponslenya di atas meja.
__ADS_1
“Anak buah lo?”
“Abel sudah di jalan pulang.”
“Bagus dong.”
“Kita tunggu Abel sekalian terus makan malam.”
“Dengan senang hati.”
***
Defan membantu Abel turun dari mobil, Abel sendiri seakan lemas tidak berdaya.
“Pelan-pelan, kak.”
“Kenapa, Fan?” Suara bariton Daniel terdengar, lelaki itu berjalan mendekati mobil. Daniel memang langsung keluar saat mendengar suara mobil memasuki halaman rumah.
“Ini kak..” Defan mundur beberapa langkah agar Daniel bisa mendekat ke Abel.
“Kamu kenapa sayang?” Menunduk sambil menatap Abel.
Kaki Abel sudah menapak di tanah namun ia masih berada di dalam mobil dengan posisi miring.
“Gendong..” merentangkan kedua tangannya manja.
Daniel pun langsung merengkuh Abel dan mengangkat tubuh Abel ke dala gendongannya. Sementara Abel langsung menyilangkan kakinya di pinggang Daniel dan menyenderkan kepalanya di bahu Daniel.
“Tas kakak, Fan.” Kata Abel sebelum masuk rumah.
Defan pun mengikuti Abel dan Daniel masuk ke dalam rumah sambil membawa tas Abel dan kopernya.
“Loh, kok gendongan kayak bayi.” Ledek Mike.
“Kok ada dokter-dokter an di rumah kita, Bee?” Sindir Abel cuek masih dalam posisi malah dengan kepala masih menyender di bahu Daniel. Sementara Daniel terkekeh kecil.
“Dokter-dokter an?” Mike dibuat melongo oleh ucapan Abel.
“Mau ke kamar aja, Bee.” Rengeknya manja.
“Cih, sok manja.”
“Biarin, gue ‘kan punya suami. Nggak kayak seseorang katanya populer dah gitu dokter tapi gak punya pasangan.” Mengejek Mike yang jomblo.
“Gue ke kamar dulu, Mike. Lo sama Defan dulu.”
“Iya, bawa istri lo kekamar sebelum gue darah tinggi.” Keluh Mike.
Daniel membawa Abel ke kamar mereka. Sampai di kamar, Daniel menurunkan Abel di atas tempat tidur.
“Kamu kenapa, hem?”
Abel menggelengkan kepalanya, “Nggak tau, Bee. Rasanya lemas, bantu aku mandi bentar baru turun temui Mike ya. Aku masih agak lemas, takut jatuh di kamar mandi.”
.
__ADS_1
.
.