Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Fitting baju


__ADS_3

“Ehemm.” Rangga berdehem melihat kemesraan Adam dan Nabila.


Nabila pun menoleh. “Eh iya, mas Adam kenalin ini kak Rangga, kak Rangga ini suamiku.”


“Rangga.. Adam.” Keduanya saling berjabat tangan.


“Teman kuliah sayang?” Tanya Adam pura-pura tidak tau. Padahal semalam Nabila sudah mengatakan Rangga adalah kembaran alm. Randy pada Adam.


‘Mas Adam lupa atau emang sengaja pura-pura lupa sih.’ Batin Nabila malas menjawabnya.


“Oh, bukan tuan. Saya kembaran mantan pacar Nabila!” Tegas Rangga menjawab pertanyaan Adam.


Adam manggut-manggut. “Sayang,, pulang yuk!Sudah ditunggu ibuk, sama mama.” Ajak Adam beranjak berdiri dari duduknya seraya menggandeng tangan Nabila.


Nabila ikut berdiri. “Iya, bayar dulu, mas!” Ucap Nabila meminta Adam untuk membayarkan buburnya. Adam pun mendekati mang bubur.


“Berapa mang?” Tanya Adam.


“Sudah dibayar, Den. Sama mas ganteng itu!” Menunjuk ke arah Rangga. Setelah mengucapkan Terimakasih pada mang bubur Adam kembali mendekati Nabila.


“Udah dibayar, sayang.” Sampai di tempat Nabila, Rangga sudah meninggalkan Nabila bergabung dengan anggota gowes yang lain.


“Kak Rangga yang bayar?” Tanya Nabila dan Adam mengangguk. “Owh, ya udah!Ayo mas kita pulang!” Nabila bergelanyut manja di lengan Adam. Sekali-kali manja dengan suami di tempat umum tidak papa kan?


***


1 minggu kemudian.


Hari pernikahan Nita hampir tiba. Hanya tinggal menghitung hari. Perut Nabila pun juga sudah lebih kelihatan. Sedikit membuncit.


Hari ini Nabila dan Abel sudah janjian akan fitting baju brides maid di butik Ayu. Nabila mengajak suami beserta adiknya si Yoga.


“Mas, ayok!Cepetan, Abel udah jalan nanti aku telat.” Rengek Nabila.


“Iya, iya!” Adam keluar dari ruang kerjanya. Laki-laki itu baru saja selesai memimpin rapat via video dengan jajaran direktur. Adam berjalan melewati Nabila menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya. “Hih Gemes.” Mencubit gemas pipi Nabila saat melewati perempuan itu. Nabila malah mengerucutkan bibirnya.


“Cepet!”


“Iya, sayang.”


Nabila menunggu dengan kesal di ruang keluarga. Sudah dari setengah jam yang lalu Nabila menunggu suaminya dan Yoga. Suaminya sibuk dengan kerjanya sementara Yoga tidur sepulang sekolah. Yoga sedang ujian uts dan pulang siang.


“Ini si Yoga kenapa belum turun juga sih, padahal udah di panggil dari tadi.” Gerutu Nabila mondar mandir di ruang keluarga.


Ibu putri baru saja datang dari dapur membawa camilan dan teh panas. “Kamu kenapa to Nduk, mondar-mandir dari tadi. Mbok ya duduk, nanti capek kamu.” Ujar Bu putri seraya meletakan toples berisi camilan dan secangkir teh panas di meja kayu berbentuk persegi.


“Ini buk, Mas Adam sama Yoga bikin emosi.” Keluh Nabila.


“Massssss!!” Teriak Nabila memanggil Adam.


“Iyaa, sayanggggg wait.” Adam terburu-buru menuruni anak tangga begitu mendengar teriakan Nabila yang cempreng. Adam tau istrinya itu sudah mulai kesal.


“Yogaaaaaaa!!!” Kali ini Nabila gantian memanggil Yoga. Suaranya menggema memenuhi lantai satu. Ibu putri pun sampai menutup kedua telinganya.


“Bila hitung sampai tiga, kalau mas Adam sama Yoga nggak turun, Bila berangkat sendiri!!” Teriak Nabila.


“Sabar Nduk, sabar.” Tutur Bu putri.


Drap.. Drap.. Yoga berlari dari kamarnya dengan jaket terlampir di lengan begitu juga Adam yang sudah sampai lebih dulu di hadapan Nabila.


“Bila berangkat dulu ya, buk.” Pamitnya pada Bu putri. Bu putri mengangguk. Nabila pun salim pada Bu putri lalu berjalan keluar rumah diikuti dua laki-laki yang sedari tadi membuatnya jengkel.


***


“Mas, aku bawa mobil sendiri, ya.” Ucap Yoga saat mereka sampai di parkiran.


Nabila menoleh sekilas menatap adiknya dari atas sampai bawah. “Mau kemana kamu?” Hardik Nabila.


“Mau fitting baju, kan, mbak?” Jawab Yoga.


“Maksudku setelah fitting baju, kenapa bawa mobil sendiri?” Tanya Nabila menyelidik.


“Sudahlah, sayang. Biarkan saja Yoga bawa mobil sendiri.” Ucap Adam seraya membukakan pintu mobil untuk istrinya.

__ADS_1


“Bila nanya Yoga, mas. Mas Adam diem aja deh.” Ketus Nabila.


‘Lah kok jadi gue yang diketusin?’ Batin Adam.


“Yoga mau basket, mbak.” Ucap Yoga bohong. Padahal remaja laki-laki itu akan menonton balap mobil.


“Bilang dong dari tadi,” balas Nabila lalu masuk ke dalam mobil.


“Ati-ati, mbak mu lagi sensitif.” Bisik Adam pada Yoga. Setelahnya laki-laki itu berjalan memutar dan masuk ke kursi kemudi.


Yoga juga masuk ke mobilnya sendiri. ‘Bahaya musuh wanita hamil.’ Batin Yoga.


“Pakai sabuk pengamanmu, sayang!” Tutur Adam. Nabila mengangguk dan langsung memakai sabuk pengamannya.


Mobil sport merah milik Adam pun melaju keluar dari kediamannya diikuti mobil Yoga.


Setelah menempuh perjalanan perjalanan setengah jam mereka sampai di AA butik pusat. Adam dan Yoga memarkir mobil mereka di basement karna parkiran depan butik penuh.


“Lantai berapa, sayang?” Tanya Adam. Ketiganya berada di lift basement.


“Lantai 2, mas.” Adam menekan tombol nomor dua.


Ting.. pintu lift terbuka. Ketiganya pun langsung keluar dan menuju ruang VVIV yang sebelumnya sudah di pesan Nabila.


“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”


Tanya Customer service yang berdiri dibalik meja resepsionis lantai dua. Setiap lantai di butik Ayu memiliki meja resepsionis sendiri-sendiri.


“Saya sudah reservasi sebelumnya, kak. Atas nama Nabila!” Ucap Nabila lembut pada resepsionis itu.


“Kalau sama orang lain lembut ngomongnya, mas. Kalau sama kita kaya nenek lampir.” Yoga berbisik pada Adam. Adam pun terkekeh sedikit lalu kembali bersikap datar saat menyadari tatapan tajam dari istrinya.


“Jangan ngawur kamu, Ga.” Ucap Adam datar.


“Hilih, bang tigor.” Kekeh Yoga menyadari Adam berubah sikap setelah ditatap tajam oleh Nabila.


“Silahkan, nyonya. Lewat sebelah sini, saya akan mengantar nyonya ke ruang VVIV 5.” Ujar mbak Customer service. Nabila mengikutinya. Juga Adam dan Yoga yang berjalan di belakang Nabila. Kedua laki-laki itu diam setelah mendapat tatapan tajam dari Nabila.


Ceklek.. “Silahkan masuk, nyonya!” Karyawan Customer service itu membukakan pintu ruangan VVIV dan menyuruh Nabila untuk masuk. Ia juga menyiapkan beberapa camilan dan air minum untuk Nabila, Adam dan Yoga.


“Baik, saya permisi nyonya.” Nabila pun mengangguk.


“Mana mbak Abelnya?Katanya mbak Abel sudah jalan, kok duluan kita yang sampai?” Ucap Yoga seraya menyenderkan tubuhnya di sofa panjang.


“Kena macet!” Jawab Nabila asal.


“Sayang, terus kita ngapain?” Tanya Adam duduk disebelah Nabila.


“Mas ngegame aja dulu sambil nunggu Abel sama mbak Ayu. Aku mau baca-baca katalog peoduk baru.” Nabila meraih majalah berisi katalog produk baru AA butik. Perempuan itu membolak balik lembaran-lembaran dari katalog itu dengan serius.


Pun, Adam mengambil ponselnya di saku lalu bermain game sesuai arahan Nabila. Kali ini Adam ngegame mobil legend. “Ayo, Ga!” Ajak Adam pada adiknya.


“Males, mas. Aku mau tidur aja!” Ucap Yoga yang semula duduk sudah merubah posisinya menjadi rebahan.


Nabila melirik sekilas suaminya dan adiknya secara bergantian lalu kembali fokus pada majalahnya. Itu ruangan VVIV jadi mereka bebas mau menunggu dengan tiduran atau apapun tidak akan ada yang menggangu.


Ceklek.. Pintu ruangan terbuka. Terlihat Abel datang dengan ceria. “Holaaa!Sorry gue telat!” Abel menghambur ke pelukan Nabila yang langsung dibalas oleh Nabila. Adam yang melihat kehadiran Abel langsung berpindah tempat duduk di sofa depannya. Laki-laki itu tidak mau menggangu obrolan Nabila dan Abel. Obrolan para wanita.


“Aku udah 10 menitan sampai, kamu kemana aja sih?” Gerutu Nabila.


“Sorry, mobil gue bannya kempes. Emang dasar tu mobil gak ada akhlak. Padahal kemarin pas dibawa kak caca baik-baik aja, kepasan gue yang bawa langsung bocor ban nya.” Cerocos Abel seraya meneguk satu botol air mineral yang tadi sudah disiapkan Customer service.


“Terus gimana tadi?”


“Ya gue tinggal lah. Ya kali gue ganti ban mobil sendirian.” Jawab Abel.


“Naik taksi jadinya?”


“Nggak, dapat tebengan cogan.” Jawab Abel senang.


Nabila penasaran siapa cowok ganteng yang dimaksud Abel. “Siapa?Aku kenal nggak?” Tanya Nabila.


“Bisa kenal, bisa enggak.” Jawab Abel nyengir.

__ADS_1


“Gimana sih?Jadi, kenal apa enggak?” Nabila makin penasaran.


“Ya gue nggak tau. Bisa dibilang lo mungkin tau orangnya, tapi mungkin nggak kenal.” Balas Abel lagi.


“Siapa sih, Bel?Penasaran banged.”


“Ntar deh gue ceritain sekalian pas ada Nita. Biar gue nggak perlu ngulang ceritanya.” Ucap Abel.


Yoga menggeliat pelan. Remaja laki-laki itu memiringkan tubuhnya menghadap sandaran sofa. Tidurnya pun pulas sekali seperti tidur di rumah.


“Tu anak kebo, ya?” Abel melirik Yoga yang tidur pulas seperti tanpa dosa.


Nabila terkekeh. “Semalem belajar SKS kayaknya, dia kan uts. Jadi, ngantuk.” Jawab Nabila. SKS adalah sistem kebut semalam bagi para murid yang malas belajar. Mereka sering belajar mendadak waktu ujian tiba. Contohnya semalam sebelum ujian tiba.


“Kaya gue dong.” Abel tersenyum mengingat kelakuannya saat jadi siswa SMA.


“Ya begitulah.”


Munculah ide untuk mengerjai Yoga di kepala Abel. Abel mendekati Yoga dan menggelitiki telapak kaki Yoga dengan tangannya. Remaja laki-laki itu mengangkat satu kaki nya refleks. Abel tidak mau kalah ia kembali menggelitiki kaki Yoga yang lain.


“Siapa sih?” Kesal Yoga terbangun.


“Bangun, kebo!Lo pikir kita lagi dirumah, enak-enakan tidur.” Ujar Abel.


Yoga pun mendudukkan dirinya. “Pantes mbak Abel gak punya pacar.” Ucap Yoga.


“Memangnya kenapa?”


“Usil sih. Mana ada laki-laki mau sama cewek usil.” Ucap Yoga ngasal. Yoga kesal karna Abel mengganggu jam tidurnya.


“Gue itu jomblo elegan tauk!Gue pilah-pilih makanya gak punya pacar!” Tegas Abel menganggap dirinya jomblo yang berkelas.


“Heleh, mau elegan atau apalah yang namanya jomblo tetap aja jomblo!” Seru Yoga tidak mau kalah.


“Kamu!” Abel kesal.


“Apa?!”


“Sudah-sudah, kalian ini kenapa sih?” Nabila menengahi keributan antara Abel dan Yoga.


“Mbak Abel sih..Yoga sih..” Abel dan Yoga saling menyalahkan.


“Sayang, jadi nggak fitting nya?” Tanya Adam baru selesai ngegame dengan ponselnya.


“Aku udah whatshap mbak Ayu, mas. Katanya sebentar lagi. Mas ada acara?” Tanya Nabila. Adam mengangguk.


“Tio whatshap ada klien minta bertemu.” Jawab Adam.


“Penting banged, nggak?”


“Penting!”


“Ya udah, mas pergi aja.” Jawab Nabila pelan. Yang Adam artikan Nabila sedang marah.


“Nggak jadi, mas temenin kamu sampai selesai.” Adam pun mengirim pesan pada Tio untuk menjadwal ulang pertemuannya dengan klien.


“Nggak papa, mas pergi aja. Aku bisa pulang sama Yoga, kok. Soalnya Abel nggak bawa mobil. Eh, Yoga mau basket. Kalau gitu Nabila pulang naik taksi aja.” Ujarnya dengan wajah memelas. Adam jadi luluh.


“Yah, naik taksi malem-malem sendiri kan bahaya, kamu lagi hamil juga, Bil. Kasian dedek.” Ucap Abel seraya mengelus perut Nabila. “Dedek yang kuat,ya!Gak papa pulang naik taksi soalnya ayah sibuk. Jangan rewel sama bunda ya, sayang!” Lanjut Abel masih mengelus perut Nabila.


“Iya, onty. Dedek pasti jagain bunda.” Sahut Nabila dengan suara meniru anak kecil.


Adam pun menghela nafas kasar. “Sayang, mas nggak jadi ketemu Tio, kok!” Ucap Adam.


“Yakin?” Tanya Nabila.


“Yakin!” Jawab Adam cepat.


‘Hehehe kita menang, dek. Ayah lebih mentingin kita dari pada kerjaannya.’ Batin Nabila bersorak girang.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2