
Gosip per gosipan pun bertambah seru saat Nita bergabung dengan mereka. Mereka menggosipkan tas branded yang sedang mereka incar.
“Oh iya, kita jadi beli h*rmes, kan?” Tanya Nabila.
“Kayaknya kemahalan buat aku kalau harga segitu.” Jujur Nita, dirinya masih sungkan menggunakan uang suaminya.
“Kayaknya suami kamu nggak bakalan ke berantakan deh,” tutur Nabila dan Abel mengangguk.
“Kalau kamu, Bel?” Tanya Nita.
“Gue punya sponsor wkwk.” Ujar Abel terkekeh. Siapa lagi sponsornya kalau bukan Daniel, ia juga sudah menerima black card dari Daniel saat mereka pulang dari Jogja. Hanya saja Abel diam.
“Tuh Abel yang belum nikah aja berani pakai duit pacarnya, sementara kamu yang udah nikah malah sungkan-sungkanan.” Sahut Nabila.
“Lagian ya Nit, suami lo kerja susah payah itu buat lo sama anak lo, eman kalau nggak digunain hasil jeri payahnya.” Ucap Abel dan Nabila setuju.
“Iya sih, tapi nggak enak aja.”
Riko masuk ke dalam ruangan rawat Abel. Lelaki itu mendengar semuanya. Ia bersama Daniel dan Adam. Daniel dan Adam langsung duduk di sofa.
“Aku malah seneng kamu habis in duit aku, biar aku nambah semangat kerja cari duit yang banyak.” Riko yang baru saja masuk itu pun ikut menimpali obrolan para perempuan. Ia mendekati Nita yang berdiri di sebelah brankar Abel.
“Tapi tas nya mahal banged.” Lirih Nita.
“Ya udah terserah lo, tapi gue sama Nabila mau kembaran tas nya. Lo yakin nggak mau ikutan beli?” Andalan Abel saat mengancam Nita.
“Ya nggak bisa gitu, aku juga harus ikut kembaran.”
“Okay, gue pesan tiga kalau gitu.” Nabila mengutak-atik ponselnya. Ia menghubungi temannya yang bekerja di h*rmes luar negeri untuk memesan tas.
“Yakin nggak papa?” Nita menoleh pada Riko. Riko pun menarik pinggang Nita mendekat padanya lalu berbisik. “Beli aja apapun yang kamu mau, uangku banyak.” Setelah berbisik pada Nita, Riko bergabung dengan Adam
“Eh, aku kemarin kaya lihat mas Ilham deh Bel.” Nita pun ingat saat dirinya berada di supermarket.
“Tapi sama mba Dewi.” Lanjut Nita. Nita dan Nabila mengenal Caca, juga Dewi yang mereka tau sahabat Caca.
“Mereka ngapain?” Sinis Nabila.
“Belanja, tapi, kayak akrab gitu.” Abel dan Nabila saling pandang.
“Kenapa, ada yang gue nggak tau?” Tanya Nita.
“Mas Ilham kayak nggak tulus gitu sama kak Caca.” Jujur Abel.
“Iyaa, terus Mas Ilham sama mba Dewi kayak pasangan zina, ups.” Nabila langsung menutup mulutnya setelah mengatakan hal itu.
“Gue juga kadang mikir gitu, jangan-jangan mereka selingkuh.” Abel membelalak.
Diam-diam Daniel memasang telinganya mendengar obrolan para perempuan itu.
__ADS_1
“Bisa aja, jangan-jangan mas Ilham alasan kak Caca sampai nekat bunuh diri.” Tebak Nabila, Abel dan Nita ikut kaget. Sahabat Abel, Nabila dan Nita memang sudah tau Caca berusaha bunuh diri hingga masuk rumah sakit, mereka juga sudah menjenguk Caca kemarin.
“Awas aja kalau itu sampai bener, gue akan buat perhitungan sama dia.” Tegas Abel sambil meremas jari jemarinya.
Obrolan ketiga perempuan itu berhenti saat kurir makanan datang. Adam memesan makanan siap saji untuk mereka makan di ruangan Abel. Nabila dan Nita juga tidak mau pulang, mereka mau menemani Nabila seharian ini. Untung saja baby Aksa dan Akra sudah di tinggali stok ASI yang banyak oleh Nabila, kedua bocah itu juga tidak rewel, Nabila sempat menghubungi mama Silfi menanyakan apakah si kembar rewel atau tidak. Ruang rawat inap Abel juga VVIP jadi lebih bebas dari ruangan biasanya meskipun tamu berkunjung seharian.
***
Sore itu kakek Han menjenguk Abel ditemani kakek Nanto.
“Kakek minta maaf ya, bel. Kakek nggak tau kamu pacar Daniel. Kalau kakek tau pasti kamu yang bakalan kakek jodohkan sama Daniel bukan Caca.” Ujar Kakek Nanto.
“Kakek juga minta maaf ya, Bel. Karena kakek memaksa Daniel tanpa tau yang sebenarnya.” Ujar kakek Nanto.
“Nggak papa, kek. Yang penting sekarang kakek bedua udah tau, jadi jangan berani ambil Daniel dari Abel.” Ucap Abel posesif pada Daniel.
“Iya kakek pasti restuin hubungan kalian, kakek senang sekali perjodohan ini terjadi tanpa paksaan.” Ucap kakek Nanto.
Mama Lila dan papa Damar pun bergabung dengan mereka, begitu juga Caca. Ia sudah keluar dari rumah sakit kemarin.
“Jadi, kapan kalian akan melangsungkan pertunangan?” Tanya papa Damar.
Sebelumnya papa Damar, mama Lila dan Caca sudah berembug, tidak masalah jika Abel melangkahi Caca menikah lebih dulu. Caca sendiri juga sudah mengatakan pada kedua orang tuanya jika ia memutuskan untuk berpisah dengan Ilham. Caca tidak mengatakan Ilham selingkuh, perempuan itu hanya mengatakan ia dan Ilham merasa tidak cocok satu sama lain.
“Secepatnya paman, minggu ini juga tidak masalah.” Jawab Daniel.
“Iya, kan, sayang?” Menatap Abel.
Seketika semua mata tertuju pada Abel, tak terkecuali Daniel. Mereka terkejut dengan jawaban Abel.
“Sayang,, kau tidak mau bertunangan denganku?”
“Tidak mau.”
“Kenapa, nak?Kenapa kau tidak mau bertunangan dengan Daniel?” Sela kakek Han.
Mama Lila pun mendekati Abel. “Kamu yakin nggak mau tunangan sama Daniel?” Abel pun mengangguk. “Iya ma, Abel nggak mau tunangan sama Daniel. Abel maunya langsung nikah saja.” Jawab Abel.
Dan, detik selanjutnya semua orang menghela nafas lega.
“Kamu menakutiku, sayang.” Ujar Daniel mengacak rambut Abel gemas. Abel sendiri hanya nyengir.
“Kakek hampir kena serangan jantung lagi.” Sahut kakek Han.
“Iya, hampir saja darah tinggi ku kumat.” Kakek Nanto menimpali. Semua orang pun tertawa, akhirnya suasana menjadi hangat kembali.
Satu Bulan setengah berlalu, Abel sudah di izinkan untuk pulang. Abel memang cukup lama di rumah sakit karena pemulihan pasca operasinya. Ia pulang ke rumah mama Lila sampai kesehatannya pulih total. Caca juga sudah kembali bekerja. Ia sering menggunakan gelang ditangan seperti syal untuk menutupi bekas luka sayatannya.
“Non Abel, ada tuan Daniel di bawah, non.” Ucap mbok Sum asisten rumah tangga dirumah Abel.
__ADS_1
“Suruh naik aja ya, Bi. Saya males turun.”
“Baik, non.”
Daniel pun pergi ke kamar Abel seperti apa yang di katakan Bi Sum.
Tok..tok..Daniel mengetuk pintu kamar Abel lalu masuk tanpa menunggu sahutan dari Abel.
“Aku baru tau kalau ternyata pacar aku itu pemalas.” Sindir Daniel seraya mendudukan dirinya di tepi kasur Abel. Abel sendiri tengah tiduran di kasur sambil bermain ponsel.
“Kamu keberatan?” Abel meletakan ponselnya di nakas.
“Sama sekali nggak, kamu mau dilamar nggak?” Tanya Daniel.
Lah ni laki gimana sih, masa iya nanya mau dilamar apa enggak?Inisiatif dong Bambang.
“Menurut loh?” Rasanya mau marah tapi kok gemas, punya pacar rada-rada kurang. Katanya cassanova, masa nggak tau cara romantis.
Daniel terkekeh. “Nggak usah pake lamaran, langsung nikah aja. Buang-buang duit pakai lamaran segala.”
Edian, ini beneran calon suami gue bukan sih?Kok jadi pengiritan gini, jangan-jangan dia bangkrut, tapi, kakek pasti tau kalau Daniel bangkrut. Kakek nggak ada cerita apa-apa tuh.
“Cih, Dasar pelit.” Cibir Abel. Lagi-lagi Daniel terkekeh mendengar cibiran Abel.
“Jalan yuk!” Ajak Daniel pada Abel.
“Males..” balas Abel acuh.
“Bentar aja beli Mie ayam.”
“Lagi diet.”
“Yakin?”
“Hm.”
“Yaudah, aku beli sendiri aja.” Daniel bangkit berdiri.
“Ikut..” tahan Abel dengan manja. Daniel menunduk dan menangkup kedua pipi Abel. “Makanya ayo, aku tunggu di bawah kamu ganti baju.” Abel mengangguk..
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih ini untuk bab ke empat hari ini, see you tomorrow ya guys..