
Hari pernikahan Nita dan Riko. Keluarga Adam sudah sampai di hotel tempat Nita dan Riko melaksanakan resepsi. Untuk ijab qobulnya telah dilakukan siang tadi disalah satu masjid terbesar di Jakarta. Nabila langsung menuju kamar tempat Nita di rias. Adam juga langsung menuju kamar tempat Riko dirias. Sementara Yoga, Mama Silfi dan Ibu Putri langsung ke tempat resepsi.
“Bumil, akhirnya datang juga.” Abel berdiri dari duduknya menghampiri Nabila menuntunnya untuk duduk. Abel melihat Nabila menggunakan flatshoes. Memang sejak hamil Nabila sudah tidak pernah memakai heels lagi.
“Kamu udah lama, Bel?”
“Udah, dah habis air mineral sebotol gue.” Jawab Abel seraya menunjuk botol berisi air mineral yang hanya tinggal sedikit.
Nabila melirik ke Nita yang masih dirias. Nita tampak cantik dengan gaun modern berwarna putih. Gaun resepsi yang ia pesan dari Ayu. Nita dan Riko memang menggelar resepsi dengan gaya barat makanya Nita menggunakan gaun modern ala ala princess Disney Lan.
“Pangantin baru cantik banged sih.” Goda Nabila mentoel lengan Nita.
“Apa sih, Bil.” Blush.. pipi Nita memerah karna malu. Tapi, lebih tepatnya merah karna blush on.
“Idih, Lo gak usah sok malu-malu gitu Nit. Kita tau kok seberapa bahagia lo, sampai-sampai lo pengen jingkrak-jingkrak kan?” Tebak Abel.
Nita pun akhirnya terkekeh. “Kamu tau isi hati aku, Bel. Memang, kamu yang terbaik. Si pembaca isi hati.” Ujarnya masih terkekeh.
“Gue emang jago baca isi hati orang. Kalian panggil gue Madam Abel, mulai saat ini!” Tegasnya.
“Hahaha,” Nabila ikut terkekeh. Ia merasa bahagia Nita akhirnya menemukan kebahagiaannya, ya meskipun awalnya karna kesalahan.
“Siap Madam Abel.” Ucap Nita mengangguk telapak tangannya mendekat ke pelipis membentuk hormat.
“Atau gue buka praktek baca isi hati aja, guys?Kali aja ramai, kan gue bisa cepet kaya.” Ujar Abel seraya menopang dagunya dengan tangan kanan.
“Jangan gila deh,” Nabila tidak setuju.
“Emang kamu masih kurang kaya, Bel?” Tanya Nita yang tau Abel juga berasal dari keluarga kaya. Hanya dirinya yang miskin.
“Yang kaya bokap, Nyokap gue. Gue mah aslinya kismin, alias miskin. Tanpa bokap nyokap gue hanyalah gembel.” Jawab Abel santai. Memang kenyataanya begitu. Selama ini Abel masih minta uang ke papa dan mama nya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Abel tidak seperti Nabila yang sudah punya bisnis sendiri.
“Tetep aja kamu ikut kaya, Bel.” Celoteh Nita.
“Nggak, gue hanya nebeng kaya aja.” Balas Abel.
__ADS_1
“Hm, serah kamu aja deh, Bel.” Sahut Nabila.
“Btw, Nabila kan pasangan sama mas Adam. Terus pasangan lo nanti siapa, Bel?” Tanya Nita.
“Gue bisa ajak Yoga nanti, gampang lah.” Jawab Abel santai. Nanti akan ada acara dansa bersama pasangan.
“Memang Yoga mau jadi pasangan kamu, Bel?” Tanya Nabila.
“Mau lah, ntar gue sogok pakai peleg atau apalah gampang.” Percaya diri sekali si Abel. Padahal Yoga baru saja beli peleg baru karna menjual rahasia Adam pada Nabila.
“Adek kamu mempan disogok, Bil?” Tanya Nita serius. Nabila hanya mengangguk.
“Tergantung yang nyogok pakai apa, sama moodnya dia aja.” Jawab Nabila.
“Padahal uang dia kan banyak, Bil. Masa masih terima sogokan?” Tidak habis pikir Nita dengan adik angkat Nabila meskipun sudah banyak uang masih mau disogok.
Nabila mengangkat kedua bahunya pelan. “Nggak tau deh.”
“Masa lo nggak tau, Bil. Lo nggak nanya dikemanain semua uang yang lo dan mas Adam kasih?termasuk uang warisan dia?” Abel jadi ikut-ikutan penasaran. Perempuan itu jadi khawatir. Jangan sampai Yoga menjadi korban pemerasan dari teman-temannya. Apalagi Yoga masih polos saat pindah ke Jakarta. Abel sangat tau keadaan remaja jaman sekarang. Tidak sedikit remaja yang suka memeras temannya yang kaya.
“Sebenarnya dia lagi nabung. Uang warisan dia belum terpakai sedikit pun, uang saku dari aku dan mas Adam juga ditabung sebagian.” Jawab Nabila. “Dia mau buka firma hukumnya dengan uang hasil tabungan itu nanti kalau sudah dewasa.” Lanjut Nabila yang sudah tau rencana Yoga. Adik laki-lakinya itu ingin menjadi pengacara yang sukses dan memiliki firma hukum sendiri.
“Dia emang anak yang baik, Bil.” Timpal Nita. Nabila mengangguk lagi.
***
Diruangan lain tempat Adam, Riko dan Kevin berada.
Kevin mondar mandir didalam ruangan itu. Sudah setengah jam Kevin mondar mandir. Adam dan Riko yang melihatnya pun muak.
“Lo ngapain, Vin. Mondar mandir kaya orang bakal ditagih hutang aja.” Tanya Riko.
“Gue bingung, cewek gue minta putus. Dia blok semua sosmed gue.” Jawab Kevin masih mondar mandir.
“Halah, tinggal cari lagi. Lo kan cassanova.” Balas Riko.
__ADS_1
“Tidak semudah itu ferguso!” Kevin berhenti mondar mandir. Kini ia duduk telat dihadapan Adam dan Riko. Menatap Adam dan Riko secara bergantian, “Masalahnya Dara itu beda dari yang lain, dia udah menuhin isi hati gue. Nggak ada tempat untuk perempuan lain lagi.” Ujar Kevin serius.
“Lebay!” Remeh Riko.
“Palingan seminggu lagi juga berubah pikiran. Dapat cewek baru lagi.” Timpal Adam.
“No, ini yang terakhir. Gue juga mau nyusulin kalian nikah dan punya keluarga.”
“Yayaya, terserah lo aja.” Adam berdiri seraya menepuk-nepuk bahu Kevin. Laki-laki itu seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Kevin si raja Playboy. Riko memang Playboy tapi Kevin lebih parah. Riko pun berhenti menjadi buaya darat semenjak jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Nita.
“Gue serius, Dam.” Ujar Kevin. Adam mengacungkan jempolnya.
“Lo percaya sama gue kan, Rik?” Menatap ke Riko. Riko menggeleng.
“Lo nggak percaya sama gue, Rik?”
Riko mengangguk.
Kevin pun menghela nafas kasar. “Gue serius padahal.” Gumam Kevin yang masih bisa didengar oleh Adam dan Riko. Keduanya tersenyum tipis mendengar gumaman Kevin. Ada perasaan lega dari keduanya. Akhirnya Kevin bisa bertemu sosok yang bisa membuatnya jatuh hati.
“Sudah waktunya, Tuan.” Seorang wo masuk ke dalam ruangan tempat Adam and the genk berada. Ia menyampaikan pada Riko jika sudah waktunya Riko menjemput Nita dan masuk ke tempat resepsi.
***
Semua tamu yang hadir adalah pengusaha dan orang-orang penting. Tidak heran jika tamu undangan yang datang terlihat elegan dan glamor semua.
“Bila!” Salah satu tamu undangan yang juga mengenal Nabila memanggil Nabila. Suara itu adalah seorang laki-laki. Nabila kenal suara ini.
‘Seperti suara kak Rangga.’ Batin Nabila.
Nabila pun menoleh, dan benar sesuai tebakannya yang memanggilnya adalah Rangga. “Kak Rangga!” Kaget tidak menyangka akan bertemu Rangga diacara pernikahan sahabat dekatnya.
“Kakak kok ada disini?” Tanya Nabila. Perempuan itu tengah berdiri sendiri karna Abel sedang ke kamar mandi. Sementara Adam sedang menyapa beberapa rekan bisnisnya yang juga datang ke acara itu.
.
__ADS_1
.
.