
Seusai bertelepon dengan suaminya, Nabila menghubungi pak Slamet untuk menjemputnya. Ia akan pergi ke taman dengan mobilnya sendiri di sopiri pak Slamet. Nabila memang sengaja memakai mobilnya sendiri, ia tidak mau naik mobil Rangga apalagi berduaan dengan lelaki itu. Untung saja pak Slamet sudah dalam perjalan menuju cafe saat ia hubungi. Jadi, Nabila tidak perlu menunggu lama.
“Bagaimana?” Tanya Rangga antusias. Terlihat jelas lelaki itu mengharapkan Nabila diizinkan oleh suaminya untuk pergi ke taman.
“Boleh kok kak, mas Adam ngizinin Nabila beli cilok di taman sekalian pulang.” Jawab Nabila kembali duduk di kursinya.
Rangga nampak sedikit kecewa. Ia mengira Nabila mau jalan-jalan ke taman bersamanya ternyata perempuan itu hanya akan membeli cilok saja di taman.
“Kamu cuman mau beli cilok aja?” Tanya Rangga. Nabila pun mengangguk tanpa rasa bersalah.
Ya iyalah aku cuman mau beli cilok aja. Kalau enggak emang mau apa lagi, nemenin kamu jalan?Ogah banged..batin Nabila.*
“Itu sopir aku sudah datang, kak. Kak Rangga jadi mau beli cilok enggak, ayok!”
Nabila melihat pak Slamet berjalan ke arahnya dari pintu masuk cafe.
“Kamu sama sopir?Kan, bisa sama aku aja Bil, aku juga bisa anter kamu pulang sekalian.” Ujar Rangga tambah kecewa mengetahui Nabila yang sudah di jemput sopirnya. Ia mengira Nabila akan naik mobilnya dan menuju taman bersamanya.
Nabila hanya tersenyum pura-pura tidak peka dengan keinginan Rangga.
“Pak Slamet emang udah di tugaskan mas Adam untuk antar jemput aku kemanapun kak, dan, emang sudah jam nya aku pulang makanya pak Slamet jemput.” Jawab Nabila lembut. Biar Rangga tau saja jika Adam tidak ada Nabila tidak akan pernah pergi bersama lelaki selain Adam dan Yoga. Karna ada sopir pribadi yang sudah di siapkan Adam untuk mengantarnya kemana-mana.
“Mau pulang sekarang non?” Tanya pak Slamet yang baru saja sampai di sebelah Nabila.
Nabila pun mengangguk.
“Mampir ke taman dulu beli cilok ya pak!” Jawab Nabila.
“Iya non, tadi tuan juga sudah telepon saya disuruh antar non ke taman dulu baru pulang.” Sahut pak Slamet. Sepertinya Adam menghubungi pak Slamet setelah mendapat telepon dari Nabila.
“Oke deh, saya ambil tas di atas dulu pak.”
Nabila meninggalkan Rangga dan pak Slamet. Sementara Rangga membayar Bil nya.
“Maaf Bil, aku nggak bisa temenin kamu ke taman. Aku baru saja dapat telepon penting dari kantor dan aku harus kesana sekarang.” Ucap Rangga saat Nabila sudah kembali setelah mengambil tas.
__ADS_1
“Oh.. iya gak papa, kak. Lagi pula Bila sama pak Slamet.” Ucap Nabila lega.
“Sekali lagi maaf ya, lain kali aku temenin beli cilok.” Ujar Rangga merasa bersalah.
Padahal ia semangat pergi ke taman membeli cilok bersama Nabila meskipun memakai mobil sendiri-sendiri, setidaknya ia bisa mengobrol berduaan dengan Nabila saat berjalan menuju penjual cilok. Namun, ternyata perusahaan nya sedang mendapat masalah. Ia harus kembali ke kantor saat itu juga.
“Nggak papa kak, santai aja.”
***
Sampai di taman Nabila membeli cilok beberapa bungkus. Ia makan cilok itu di perjalanan pulang ke rumahnya. Nabila hanya sebentar di taman. Ia tidak mau berlama-lama di taman yang penuh dengan pasangan muda-mudi bermesraan.
“Makasih ya pak sudah jemput saya tepat waktu.” Ucap Nabila pada pak Slamet.
“Sama-sama non, sudah menjadi tanggung jawab saya non.”
Ini yang pak Slamet sukai dari Nabila dan suaminya. Mereka selalu menghargai kerja bawahan mereka.
“Ini kue pak, nanti di makan sama yang lainnya ya pak!” Menyerahkan bungkusan berisi kue yang ia bawa dari toko kue miliknya. Kebetulan tadi toko kue miliknya mendapat pesanan yang banyak, dan ada sisa sedikit karna kue tutup siang makanya Nabila membawa kue-kue itu pulang ke rumahnya.
“Makasih non.” Nabila pun mengangguk dan menuju kamarnya.
Ia lalu membersihkan diri. Setelah membersihkan diri Nabila menonton televisi di kamarnya. Ia malas turun ke ruang keluarga karna tidak ada teman. Yoga juga belum pulang.
Nabila menoleh ke arah pintu. “Ada apa Bi?”
“Ada non Nita sama tuan Riko, non.” Jawab Bi Ijah.
Nabila mengernyit heran. Tumben pasangan pengantin baru itu datang tanpa pemberitahuan. “Suruh ke ruang keluarga saja, Bi. Saya turun sebentar lagi.” Ucapnya pada Bi Ijah.
“Baik, non.” Bi Ijah pun kembali untuk menemui Nita dan Riko agar menunggu majikannya di ruang keluarga.
Nabila berjalan menuju ruang keluarga untuk menemui sahabatnya dan sahabat suaminya itu.
“Ehem..” dehem Nabila melihat Nita yang sedang bermanja-manja dengan suaminya. Nita terlihat bergelanyut di lengan Riko sembari tertawa, mereka seperti sedang membicarakan hal yang membahagiakan.
Nita dan Riko pun menatap nyonya rumah ketika mendengar suara Nabila. Nita langsung melepaskan lengan suaminya dan berdiri menghampiri Nabila. Kedua sahabat itu akhrinya berpelukan.
“Aku kangen banged sama kamu.” Ucap Nita pada Nabila.
__ADS_1
“Aku lebih kangen.” Sahut Nabila.
“Aku sangat kangen.” Ucap Nita tidak mau kalah.
“Aku lebih sangat kangen sekali.” Balas Nabila tak kalah juga.
Memang ya mereka berdua tidak ada yang mau mengalah. Riko hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah keduanya.
Nabila mengajak Nita untuk duduk di sofa.
“Tumben kalian ke sini tanpa kasih tau dulu.”
“Iyaa.. serba mendadak sih.” Jawab Nita.
“Jadi gini Bil, aku ada kerjaan di luar negeri lumayan lama, dan aku nggak bisa ninggalin Nita di apartemen sendiri. Aku juga gak bisa tinggalin Nita di rumah mama karna mama juga lagi di luar negeri-.” Ucap Riko yang langsung di potong oleh Nabila sebelum Riko menyelesaikan perkataannya.
“Jadi, kamu mau nitipin Nita disini?Boleh lah, boleh banged. Lama juga ngggak papa.” Sahut Nabila cepat, perempuan itu bisa menebak apa yang ingin Riko katakan.
Riko pun menghela nafas lega. Sudah ia duga, istri sahabatnya yang juga sahabat istrinya itu pasti akan menyambut Nita dengan senang hati.
“Makasih ya, aku bakal segera jemput Nita setelah pekerjaan ku selesai.” Ujar Riko.
“Mas Riko nggak perlu buru-buru kok, aku nggak papa di rumah Nabila dulu.” Sahut Nita.
“Jadi, kamu senang Nit kalau aku di luar negeri nya lama?” Riko mengernyit.
“Eng..nggak, bukan gitu maksudku, maksudnya mas Riko selesai in pekerjaan mas dengan terliti dan mendetail jangan terburu-buru takutnya kalau terburu-buru hasilnya nggak maksimal.” Balas Nita nyengir.
Yah, dia memang senang sih ditinggal Riko keluar negeri karna bisa menginap di rumah Nabila. Ia sudah lama tidak bertemu Nabila tentunya banyak hal yang ingin ia ceritakan pada sahabat baiknya itu.
“Betul kata Nita, mas.” Nabila menimpali.
“Baiklah, kalau gitu aku titip Nita ya, Bil!” Riko beranjak berdiri. Diikuti Nabila dan Nita.
“Loh, mas Riko langsung berangkat?” Tanya Nabila. Riko pun mengangguk.
Nabila dan Nita mengantar Riko sampai ke depan pintu utama. Riko pergi ke luar negeri bersama asistennya.
.
__ADS_1
.
.