
Abel terburu-buru menuju rumah sakit usia mendapat kabar dari Raka bahwa suaminya jatuh tidak sadarkan diri ketika berkunjung ke kantor Raka. Langkahnya tergopoh-gopoh menelusuri sepanjang koridor rumah sakit menuju ruangan dimana suaminya di rawat.
Kamar Elizabeth 404 di ruang itu lah suaminya di rawat. Sampai di depan pintu ruangan suaminya di rawat, Abel menghentikan langkahnya dan mengatur pernafasannya hingga stabil. Tangan kanannya menyetuh gagang pintu lalu di dorongnya gagang pintu itu hingga terbuka lah pintu ruangan itu. Dilihatnya Daniel terbaring lemas dengan kedua mata terpejam.
Dua pasang mata yang sedang mengawasi Daniel pun menoleh mendapati pergerakan Abel. “Kamu udah datang?” Pertanyaan Ayu lontarkan pada Abel yang langsung di angguki Abel. “Mas Daniel kok bisa pingsan, mbak?” Tanya balik Abel mendekati Daniel dan langsung menggenggam tangan suaminya.
“Mungkin kecapekan, Bel.” Jawab Ayu.
Raka pun ikut menimpali ucapan istrinya, “kata dokter juga kecapekan, hanya butuh istirahat beberapa hari saja.” Abel menoleh dan mendengarkan dengan seksama ucapan Raka. Abel mengangguk mengerti, “Terimakasih mbak Ayu dan pak Raka sudah mengatar mas Daniel ke rumah sakit.” Ucapnya tulus.
“Kamu kayak sama siapa aja sih, Bel. Karena kamu udah disini aku sama mas Raka pamit ya, anak-anak lagi lumayan rewel soalnya.” Kata Ayu.
“Sekali lagi makasih mbak, pak Raka.”
Ayu dan Raka pamit pulang. Tinggallah Abel sendiri duduk di sebelah brankar suaminya. Daniel yang selama ini Abel kenal kuat dan jarang sekali merasakan sakit kini terbaring lemah di hadapannya.
“Bee?” Terjadi pergerakan dari kedua mata Daniel. Lelaki itu mengerjapkan matanya dan menggerakan lengan tangan kanannya hingga akhirnya kedua mata nya terbuka sempurna.
“Ini dimana?”
“Di rumah sakit, Bee. Kamu tadi pingsan di kantor pak Raka.” Jawab Abel membantu Daniel yang berusaha mengubah posisi tidurannya menjadi setengah duduk. Abel mengganjal bagian punggung Daniel dengan bantal. “Aku panggilkan dokter sebentar ya!” Daniel mengangguk.
Ucapan dokter pun sama dengan apa yang di ucapkan Raka sebelumnya. Daniel hanya kelelahan dan disarankan untuk beristirahat selama beberapa hari juga memakan-makanan yang bergizi.
“Ya ampun, Niel. Mama shock tau nggak waktu Caca bilang kamu masuk rumah sakit. Mama langsung kesini ninggalin temen-temen arisan mama.” Heboh mama Lila begitu tiba dirumah sakit. Mama Lila yang di kabari oleh Caca jika menantunya masuk rumah sakit langsung meninggalkan acara arisan sosialita nya dan langsung menuju rumah sakit. Sementara Abel geleng-geleng kepala melihat mama nya yang selalu saja heboh itu.
“Maaf, ya ma. Mama jadi khawatir.”
__ADS_1
Caca melenggang santai di belakang mama Lila dan langsung menyandarkan bokongnya di sofa panjang ruangan itu. “Kata dokter kenapa?” Tanya Caca.
“Kecapekan aja sih kak.” Jawab Abel.
“Tu ‘kan, mama bilang juga apa. Kalian itu harusnya punya asisten rumah tangga sama sopir, biar ada yang bantu. Untung kamu sakitnya udah sampai Jakarta, kalau masih di Surabaya ‘kan jadi pikiran.” Cerocos mama Lila.
“Iya, ma, iya. Besok kita cari asisten rumah tangga. Iya ‘kan, mas?” Menoleh pada Daniel. Daniel mengangguk setuju-setuju saja.
“Harus itu.”
Dua hari di rawat, Daniel pun di perbolehkan pulang oleh dokter. Namun, masih harus istirahat selama beberapa hari. Lelaki itu pun terpaksa mengurus pekerjaan dari rumah termasuk menandatangani berkas-berkas penting maupun menerima laporan harian dari firma hukum dan perusahaannya.
“Saya Sely. Bu.”
“Sekertaris barunya mas Daniel?” Tebak Abel.
“Oalah, masuk-masuk, mba. Suami saya udah nunggu dari tadi.”
“Baik. Bu.”
Sely mengikuti langkah kaki Abel yang membawa nya menuju ruang kerja Daniel.
Tok..tok.. Abel mengetuk pintu ruang kerja suaminya yang tidak ditutup rapat. Daniel menoleh ke arah pintu dan melihat Abel berdiri disana.
“Ada sekertaris kamu.” Ucap Abel.
“Suruh masuk saja.”
__ADS_1
Abel menoleh pada Sely yang berdiri di belakangnya. “Masuk saja, mbak. Saya tinggal ke dapur dulu. Maklum tadi lagi masak.”
“Baik,bu.”
Dapur Abel merasa ada yang sesuatu yang janggal. Namun. Apa? Dia menebak-nebak apa yang salah dan tidak menemukan jawaban sama sekali.
“Astaga, Abel.” Tempe garit yang baru saja ia goreng menjadi gosong karena Abel sibuk melamun. “Gak bisa dimakan ini.” Gumam Abel menatap tempat gosong yang terlihat mengenaskan. Wujud nya hitam dan bau.
“Kenapa sayang?” Entah kapan datangnya Daniel sudah berdiri di belakang Abel sembari menatap tempe gosong didalam piring yang juga masih di tatap oleh Abel. “Gosong?” Tanya Daniel dengan senyuman mengejek.
“Udah tau pake nanya.” Ketus Abel merasa kesal.
“Iya maap. Kalau gosong nggak usah dimakan, sayang.” Ujar Daniel.
“Siapa juga yang mau makan tempe gosong.”
“Salah lagi.”
Abel teringat pada sekertaris Daniel, “mbak Sely udah pulang?” Tanya Abel.
“Belum. Saya suruh dia mengerjakan beberapa file.” Jawab Daniel.
“Diruang kerja kamu?”
.
.
__ADS_1
.