
“Dikamarnya Non.”
“Oke, biar saya kesana.” kata Nabila bangkit dari duduknya. “Guys gue tinggal bentar yaa.” Nita dan Abel mengangguk, dia tau Nabila sangat peduli pada orang lain bahkan pembantu sekalipun.
Setelah pamit pada dua sahabatnya Nabila menuju kamar Bi Sumi di ikuti oleh Bi Ijah dan Bi Ani. Dan benar ternyata Flu Bi Sumi sudah mendingan, jadi Nabila meminta Bi Sumi untuk istirahat 2 hari tanpa perlu membatu pekerjaan rumah dulu, Bi Ani dan Bi Ijah menyetujui apa yang dikatakan Nabila. Dengan begitu Bi Sumi bisa sembuh lebih cepat. Kemudian Nabila memberi perintah pada Bi Ani untuk memasak makan malam yang enak.
Nabila kembali keruang keluarga untuk mengerjakan tugas. Saat hampir magrib tugas baru selesai, Nabila mengajak kedua sahabatnya ke kamar tamu agar mereka bisa membersihkan diri. Sementara Nabila membersihkan diri di kamar. Saat tiba jam Makan malam, mereka bertiga menikmati makan malam dengan lahap. Sehabis makan mereka bertiga menuju kamar tamu. Malam ini Nabila akan tidur di ruang tamu bersama kedua sahabatnya.
Drttt pesan masuk di ponsel Nabila, lagi-lagi Revan yang mengirim pesan.
Isi pesan.
✉️Revan : Selamat malam Nabila 😊
Nabila membaca sekilas pesan dari Revan kemudian mengembalikan ponselnya di nakas sebelah tempat tidur.
Nita menatap aneh, melihat Nabila seakan tidak senang dengan apa yang baru saja dilihatnya. “Kenapa Bil?,”
“Gak papa,” jawab Nabila.
Abel tidak percaya dengan jawaban Nabila, “Emang lo pikir bisa bohongin kita Bil?!.”
Menghela nafasnya, “Guys sebenarnya gue bingung kenapa Kak Revan bisa punya nomor whatshapp gue.” ucap Nabila.
“Sorry Bil, sebenarnya gue yang kasih, waktu itu gue gak tau lo udah Nikah. Kalo gue tau, gue gak bakalan kasih nomor whatshap Lo.” ujar Abel menjelaskan.
Nita memperhatikan raut muka Nabila, dia siap menengahi jika saja Nabila marah pada Abel. Tapi ternyata tidak, Nabila malah menyenderkan kepalanya pada tempat tidur dengan santai. “ Apa dia gangguin lo Bil?,” tanya Nita.
“Hm.. Jadi lo Bel yang kasih nomor gue, pantes aja kok dia bisa dapet nomor gue, sementara gak banyak yang punya nomor pribadi gue. Gue sih gak marah Bel, udah terlanjur juga mau diapain, tapi gue bingung dia terus-terusan whatshap gue.”
__ADS_1
Abel mendekat ke arah Nabila, “Terus lo bales nggak?”
“Ya nggak lah, gue juga udah punya suami. Gak mungkin dong gue whatshap an sama cowok lain!” tegas Nabila.
Nita setuju dengan Nabila, bagaimanapun Nabila tidak boleh membalas Whatshap Revan, karena tujuan Revan sangat jelas ingin mendekati Nabila. “Bil gimana kalo lo jujur aja sama Revan, kalo lo udah bersuami,”
“Gue setuju sama Nita,”
“Gue juga maunya gitu guys, tapi gimana cara ngomongnya.”
“Hmm biar kupikirkan,” ucap Abel.
Abel dan Nita memberi wejangan pada Nabila, Nabila masih sangat polos dalam hal percintaan. Jangan sampai dia mengambil langkah yang salah. Apalagi sampai mempengaruhi rumah tangganya dengan Adam. Abel berjanji akan membantu memberi tahu Revan jika Nabila sudah bersuami. Dengan begitu Revan tidak akan mengganggu ataupun berharap lebih pada Nabila.
Malam itu mereka bertiga tidur di kamar tamu, mereka tidur hingga larut karena bercerita. Nabila bahkan sampai lupa untuk menghubungi suaminya.
***Hotel Ibsy Bali***
“Tio!”
“Ia, Tuan,” Tio sigap berdiri di samping sofa siap menerima perintah dari Adam.
Adam menunjuk kedua gadis yang tidak lain adalah sahabat Nabila, “Kamu cari tau identitas mereka, kalo tidak salah namanya Abel dan Nita,”
“Abel yang mana Tuan, dan Nita yang mana?”tanya Tio.
Adam menyerahkan laptopnya ke Tio, “Coba kamu lihat sendiri,” ucap Adam. Setelah itu dia memeriksa ponselnya, tidak ada pesan ataupun panggilan dari Nabila.
Apa dia melupakan suaminya, hanya karena sudah ada sahabatnya? Adam menuju tempat tidur untuk berbaring, sementara Tio fokus mengamati video CCTV.
__ADS_1
Pagi harinya Adam meninjau Kantor Cabang bersama Tio. Beberapa pimpinan Cabang nampak menyambut Adam di lobi, semua karyawan menunduk hormat saat kedatangan Adam. Adam langsung menuju lantai paling atas, dimana ruangan Adam berada. Setiap kantor cabang memang mempunyai ruangan khusus untuk Presdirnya. Saat di lift menuju ruang Presdir, salah satu pimpinan sudah menjelaskan secara singkat masalah yang terjadi. Seketika itu pula raut muka Adam berubah sangar dan garang, aura membunuh terlihat di wajah Adam.
“Tolong persiapan, 5 menit lagi kita meeting!” Tegas Adam dengan nada seram.
“Baik, Pak.” ucap salah satu pimpinan cabang.
Adam masuk keruangannya melihat sekeliling sebentar, lalu berjalan ke ruang meeting. Dan meeting yang panjang serta menegangkan di mulai.
***Kampus Nabila***
Hari ini mereka bertiga berangkat dengan menggunakan mobil Abel, Nabila sedang malas untuk menyetir sendiri. Pulang nanti mungkin dia akan meminta bantuan Pak Slamet untuk menjemputnya.
“Kenapa lo ra?” tanya Abel melihat muka malas Nabila.
“Bete gue, Mas Adam gak kasih kabar dari Semalem.” ucap Nabila cemberut memperhatikan layar ponselnya.
Nita pun geleng-geleng kepala mendengar ucapan sang sahabat, “Bila sayang kalau suami lo nggak ngabarin, kan lo bisa ngabarin lebih dulu. Mungkin aja suami lo disana sibuk dengan kerjaanya jadi gak sempet ngabarin lo,” tutur Nita dengan lembut.
Abel yang masih fokus dengan kemudinya pun ikut menimbrung, “Bener kata Nita ra, bagaimanapun suami lo kan pengusaha jadi banyak sibuknya,”
Bener juga kata mereka. Gumam bila.
“Jadi, gue harus ngabarin duluan?,”
“Iyaaaa...,” tegas kedua sahabatnya.
Sampai di parkiran Abel memarkir mobilnya, mereka bertiga turun dan berjalan menuju ruang kelas. Hari ini kuliah hanya sampai jam 13:00, setelah itu Nita akan bekerja di cafe Bila, dan Bila juga mau membantu di Toko kue miliknya. Sedangkan Abel setelah pulang kuliah dia ada acara dengan Kak Caca. Jadi dia langsung pulang kerumahnya.
Cafe dan Toko kue sangat ramai.Bila jadi tidak ingat untuk menghubungi Adam, karena dia sangat sibuk membantu di cafe.
__ADS_1
Mungkin aku butuh karyawan tambahan. Bila memperhatikan suasana cafenya, terlihat beberapa karyawan lalu lalang untuk melayani pengunjung cafe, mereka terlihat kelelahan. Nita pun begitu, tapi meskipun terlihat lelah Nita masih sempat untuk selalu tersenyum pada pengunjung cafe.
Bersambung...