
“Selamat datang Tuan.” Ucap Bodyguard yang berjaga di depan pintu masuk bar. Daniel hanya mengangguk.
Lelaki itu membawa Abel ke ruangan pribadi. Dalam perjalanan ke ruangan itu Daniel menyapa beberapa orang yang ia kenal.
“Kenapa kau membawaku ke ruangan pribadi?” Gerutu Abel seraya melepaskan tangannya yang sedari tadi memegang lengan Daniel.
“Aku mau memata-matai Adam ke sini bukan untuk kencan denganmu.” Abel masih menggerutu, ia merebahkan tubuhnya dengan kasar di sofa.
“Aku tau kau kesini menjadi sebagai detektif Conan, tapi tidak ada salahnya berkencan denganku sebentar.” Daniel duduk di sebelah Abel dengan santainya.
“Kau sungguh mengacau saja.” Abel bangkit berdiri.
“Mau kemana?” Daniel menahan lengan Abel.
“Bisa kemana lagi, mencari mas Adam lah.” Jawab Abel menepis tangan Daniel namun Daniel malah semakin erat menggenggam tangan Abel.
“Lepaskan!”
“Duduklah, aku beritahu sesuatu.” Ucap Daniel lembut.
“Aku harus mencari mas Adam, Niel. Mengertilah, dan lepaskan tanganku!” Abel menunjuk tangannya.
“Kau bisa mengawasinya dari sini.” Daniel masih tidak melepaskan tangan Abel.
“Jangan ngacau, bagaimana aku bisa mengawasinya dari sini?” Abel terlihat celinguk an memandangi ruangan yang lebih mirip room karaoke. Bagaimana Abel bisa mengawasi Adam dari ruangan itu.
“Duduklah, aku akan memberitahu mu caranya.” Tangan kiri Daniel menepuk sofa di sebelahnya. Ia juga melepaskan tangannya yang semula menggenggam tangan Abel.
“Awas saja kau membohongiku.” Abel beringsut kembali duduk di sebelah Daniel.
“Kau mau minum apa?” Tanya Daniel.
“Aku mau memata-matai mas Adam kesini bukan mau minum.” Cebik Abel.
“Kita bisa mengawasinya sambil minum.” Ujar Daniel.
“Baiklah, aku mau orange jus.” Jawab Abel yang membuat Daniel melongo seketika.
“Kenapa?Ada yang salah?” Abel heran melihat ekspresi Daniel.
“Sayang, kau tidak mau minum wine atau sejenisnya?Kau yakin minum jus?” Tanya Daniel serius.
“Aku bukan sayangmu.”
“Baiklah, aku ralat Abel kau yakin mau minum orange jus?” Abel pun mengangguk.
Terpaksa Daniel memesan orange jus dan wine untuknya. Tidak butuh waktu lama pesanan Daniel tiba.
__ADS_1
“Sudah datang, kan, minumannya?” Tanya Abel.
Daniel mengangguk.
“Lalu katakan padaku bagaimana cara mengawasi mas Adam dari sini?” Abel sudah tidak sabar. Ia tidak mau melewatkan sedikit pun hal yang dilakukan Adam dan perempuan yang dibawanya.
“Iyaa,” Daniel menyalakan layar diruangan itu. Munculah video Adam sedang berada di sebuah ruangan pribadi dengan perempuan itu. Disana juga tersaji minuman beralkohol di atas meja lengkap dengan camilannya.
Abel yang melihat layar itu membelalak kan matanya. “Mas Adam!” Abel berdecak kesal. Ia juga mengepalkan tangannya.
“Hei, tenanglah. Kau bahkan belum melihat akhirnya, kenapa kau terburu-buru marah.” Daniel menenangkan Abel.
“Aku ku datangi mereka, ku cabik-cabik perempuan itu lalu ku buang untuk makan kelinci.” Abel kesal ia meremas-remas lengan kemeja Daniel mempraktikkan bagaimana ia akan mencabik-cantik Tasya.
“Baiklah, baiklah, lakukan itu dengan perempuan itu. Jangan jadikan aku korbanmu.” Keluh Daniel merasakan beberapa cubitan di lengannya. Ternyata Abel meremas lengan kemeja Daniel cukup keras hingga terjadi cubitan tak sengaja.
“Benar-benar membuatku jijik saja, apa dia tidak punya uang untuk membeli baju yang layak?Kenapa dia mengenakan baju kurang bahan begitu?” Celoteh Abel merasa jijik dengan penampilan Tasya.
“Itu bukan kurang bahan Abel.” Daniel menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lalu?”
“Itu seksi.”
“Jujurlah padaku.” Abel tiba-tiba mendekat pada Daniel hingga bahu mereka saling berdempet.
“Apa?”
“Aku lelaki normal Abel, jika disuguhi penampilan seksi seperti itu, kami para lelaki suka. Namun, kami tidak suka pasangan kami berpenampilan seperti itu.” Ucap Daniel jujur.
“Kalian suka dengan wanita seksi, lalu mengapa kalian tidak mau melihat pasangan kalian berpenampilan seperti itu?” Tanya Abel sarkastis.
“Abel, kami tidak suka melihat lelaki lain memandang pasangan kami dengan tatapan nafsu.” Ucap Daniel.
“Tapi kau suka melihat perempuan lain yang seksi dengan tatapan nafsu. Cih, dasar buaya.” Ucap Abel.
Skakmat..
Daniel tidak bisa berkata-kata lagi. Apa yang diucapkan Abel benar.
“Aku ralat, buaya tidak cocok untukmu.” Ucap Abel lembut.
“Nah, itu baru benar. Aku memang bukan buaya, lalu apa yang cocok untuk ku, Bel?” Daniel senang Abel meralat ucapannya yang mengatai Daniel buaya.
“Aligator!” Jawab Abel santai.
Daniel bukannya senang ia malah melongo lagi mendengar ucapan Abel. Ia bersyukur Abel manarik ucapannya yang mengatakan Daniel seorang buaya. Namun, perempuan itu kini mengatai Daniel aligator. Lalu apa bedanya dengan buaya?Buaya dan aligator, mereka masih saudara an.
__ADS_1
“Sama aja Abel, malah lebih parah.” Daniel menarik hidung Abel gemas. Baru kali ini dirinya di katai aligator oleh seorang perempuan.
“Jangan tarik hidungku, aku bukan pinokio. Aku tidak suka berbohong, hidungku tidak akan tambah mancung jika kau menariknya.” Cebik Abel.
“Hih.” Daniel benar-benar merasa gemas pada Abel.
Abel pun fokus pada layar yang menunjukan aktivitas Adam dan Tasya saat ini. Sementara Daniel, ia mencuri-curi pandang pada Abel seraya meminum wine nya.
“Berhenti melirikku, kau bisa jatuh cinta padaku.” Abel menyadari dari tadi Daniel mencuri-curi pandang padanya.
“Bagaimana jika aku sudah jatuh cinta padamu?” Tanya Daniel menatap Abel sangat dalam. Abel masih fokus menatap depan ke arah layar.
“Ya mau bagaimana lagi, menikah saja. Karna pacaran hanya akan memperbanyak dosa.” Jawab Abel santai. Perempuan itu mengira Daniel hanya bercanda. Padahal Daniel serius saat mengucapkan telah jatuh cinta pada Abel.
“Baiklah, persiapkan dirimu.”
“Oke.”
Hening..
Hening..
Hening..
Untuk beberapa saat ruangan itu hening. Abel maupun Daniel tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“Em, kak Daniel.” Ucap Abel tiba-tiba.
“Kak?” Daniel mengernyit heran.
“Kau lebih tua dariku, kan?Aku harus menghormati orang yang lebih tua.” Daniel pun mengangguk setuju dengan ucapan Abel. Lagi pula dipanggil dengan sebutan kak oleh Abel tidaklah buruk.
“Katakan, kau mau apa?” Daniel merasa panggilan kak dari Abel bukan hanya sekedar panggilan. Perempuan itu pasti menginginkan sesuatu.
“Aku lapar.” Abel mengelus perutnya. “Ada cacing sedang demo di dalam perutku.” Keluh Abel.
Daniel hanya bisa geleng-geleng kepala lagi. “Padahal kau belum lama makannya, kemana perginya semua makanan yang kau makan tadi?” Daniel masih ingat, ia dan Abel sudah makan saat akan mengintai Adam.
“Kak, pencernaanku itu sangat sehat. Semua makanan yang sebelumnya sudah tercerna dengan baik, dan sudah aku gunakan sepenuhnya untuk kekuatanku. Kali ini aku sudah lapar.” Ucap Abel memelas.
“Memang kapan kau menggunakan kekuatanmu?” Tanya Daniel heran.
“Ini sekarang, aku sedang menggunakan kekuatanku untuk fokus menatap video mas Adam dan perempuan itu.” Jawab Abel santai.
“Astaga Abel.” Daniel hanya bisa memijit pelipisnya. Sungguh perempuan yang sekarang disebelahnya ini terlalu banyak maunya. Selain itu juga cerewet.
.
__ADS_1
.
.