
Di kampus Nabila dan Abel sudah menunggu kedatangan Nita. Nabila sendiri mondar-mandir di depan ruang kelas menunggu Nita yang tak kunjung kelihatan batang hidungnya.
“Bil lu lagi latian jadi model?Jalan kesana kemari kaya lagi latian cat walk aja.” Abel menunjuk kesana kemari arah yang digunakan Nabila untuk mondar mandir.
Nabila melangkahkan kakinya mendekati Abel yang duduk di kursi tunggu. “Gue kepikiran Nita, kemana sih dia nggak dateng-dateng.”
“Noh yang ditunggu udah dateng.” Kata Abel menunjuk Nita yang berjalan dengan santainya kearah Nabila dan Abel.
Nabila tidak sabar menunggu Nita, ia pun berlari menghampiri Nita. “Are you Okay?” Tanya Nabila memeluk Nita. Nabila sangat mengkhawatirkan Nita yang kemarin bolos, apalagi Nita masih berduka.
“I’m fine.” Membalas pelukan Nita. Padahal dalam hatinya perempuan itu sedang tidak baik-baik saja.
Melepaskan pelukannya dan menggandeng lengan Nita berjalan ke arah Abel. “Lain kali kabari kita kalau mau bolos, kita kan bisa ikutan?” Ucap Nabila.
“Gue setuju, pen banged bolos.” Sahut Abel.
Ketiga perempuan itu sudah duduk sebaris di kursi depan kelas mereka.
“Maaf aku lupa mengabari kalian.” Tutur Nita.
“Dimaafkan.” Balas Nabila.
__ADS_1
Abel menggelengkan kepalanya dan dada dengan tangan kanannya pertanda tidak setuju. “Tidak semudah itu Ferguso, jika ingin dimaafkan harus traktir mang cilok depan cafe Nabila dulu.” Ucap Abel.
Nabila memutar bola matanya malas, bisa-bisanya yang ada dipikirkan Abel hanya makanan, makanan dan makanan. Tapi meskipun banyak makan, tubuh Abel tetap ideal bahkan bisa dikatakan body goals.
“Iya..iya gue traktir se gerobaknya juga kalo perlu.” Jawab Nita dengan senyum.
***
Nabil duduk di kursi rias kamarnya. “Mas, Nita kaya aneh deh.” Ucap Nabila seraya mengoleskan lotion ke tangan dan kakinya.
“Aneh gimana sayang?” Tanya Adam yang masih fokus dengan laptop di pangkuannya. Adam sedang duduk bersandar punggung ranjang dengan kaki berselonjor dan memangku laptop. Lelaki itu memutuskan untuk bekerja di dalam kamarnya ia beralasan merindukan istrinya, dan tidak bisa jauh dari istrinya.
Nabila beralih memakai krim malam du bagian wajahnya, ia menepuk nepuk lembut bagian wajahnya agar krim yang baru aja uA aplikasikan pada wajahnya bisa mendesak ke wajah. “Aneh aja, kaya menyembunyikan sesuatu.”
“Dia menjadi lebih pendiam, dan kadang-kadang melamun gitu. Aku khawatir deh.” Ucap Nabila. Perempuan itu telah selesai dengan perawatan sebelum tidurnya. Ia berjalan menuju ranjang dan merangkak naik ke ranjang.
Adam menepuk bahu kirinya agar istrinya yang baru saja naik ke ranjang itu bisa bersandar di bahunya. “Coba kamu tanya aja kalau kamu khawatir.”
Menyenderkan kepalanya di bahu sebelah kiri Adam. “Udah tapi dia bilang baik-baik aja.”
Adam mengelus elus rambut Nabila dengan tangan kirinya. “Mungkin dia masih butuh waktu. Dia akan menceritakan masalahnya saat udah siap.” Tutur Adam
__ADS_1
“Mas yakin?” Nabila mendongak ke arah Adam.
“He’m yakin..cup.” Menundukkan kepala dan mengcup bibir Nabila sekilas.
“Nggak kerasa.” Cebik Nabila.
“Hahaha, dasar kamu.” Adam kembali mundukan kepalanya dan mengecup bibir Nabila lagi dan lagi sampai perempuan itu protes
“Stop, waktunya tidur.” Kata Nabila menutup bibirnya dengan telapak tangannya.
“Baiklah.” Adam mengajak Nabila untuk berbaring. Perempuan itu berbaring dengan kepala bertumpu lengan Adam. Lalu Adam dengan tangan kanannya mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.
“Selamat tidur istriku.” Mengcup pucuk kepala Nabila.
“Selamat tidur juga, suamiku.” Memiringkan tubuhnya menghadap Adam dan memeluknya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..